Standard

KULIAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN 4 Mei 2016

MATERI KULIAH DENGAN SISTEM TANYA JAWAB

TUGAS INDIVIDU

  • Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan jelas, singkat tetapi lengkap/padat !
  • Jawaban saudara kemudian dikirim via e-mail  ke tjipto.subadi@ums.ac.id  
  • Paling lambat Rabu 11 Mei 2016. Jam 24.00.
  1. Jelaskan beberapa pengertian Hak Asasi Manusia ! Kemudian bagaimana menurut pendapat sdr?
  2. Jelaskan dua makna yang terkadung dalam Hak Asasi Manusia, kaitkan dengan pandangan Davitson !
  3. Sebut dan jelaskan pembagian Hak Asasi Mausia !
  4. Sebut dan jelaskan generasi perkembangan HAM di dunia internasional !
  5. Jelaskan secara singkat tiga tema generasi HAM menurut revolusi Perancis !
  6. Menurut saudara bagaimana penegakkan HAM di Indonesia?
  7. Ceritakan secara singkat sejarah HAM !
  8. Ceritakan pula secara singkat perkembangan HAM !
  9. Bagaimana pandangan Islam tentang HAM ?  tulis dasar-dasar (dalil) Al Qurannya !
  10. Jelaskan pula HAM dalam perspektif agama !
Standard

Laporan Penelitian 2005. MIGRSI MASYARAKAT DESA TEGALOMBO SRAGEN (Kajian Migrasi Sirkuler dari Perspektif Fenomenologi)

LAPORAN PENELITIAN

MIGRASI MASYRAKAT DESA TEGALOMBO SRAGEN

(Kajian Migrasi Sirkulerdari Perspektif Fenomenologi)

Peneliti

FAKUTLAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2005

KATA PENGANTAR

 

Pertama-tama peneliti panjatkan puji syukur kehadirat Allah Yang Maha Pengasih tak pilih kasih dan Maha Penyayang tak pilih sayang, atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penelitian ini dapat diselesaikan. Penelitian ini tidak akan selesai apabila tidak mendapatkan bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini, peneliti ingin menyampaikan terima kasih kepada:

Yang kami hormati Pemerintah c.q Mentri Pendidikan Nasional, yang telah memberi kesempatan peneliti untuk memperoleh biaya penelitian dari BPPS yang sangat membantu dan meringankan beban keuangan peneliti.

Yang kami hormati Kopertis Wilayah Jawa Tengah yang telah memperi rekomendasi dan kemudahan peneliti untuk mengajuan permohonan biaya penelitian ini samapai mendapat persetujuan.

Terima kasih tak terhingga juga peneliti sampaikan kepada Bapak Prof. Drs. H. Dochak Latief selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada peneliti.

Kepada sahabat-sahabat dosen FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta yang telah memperikan masukan melalui diskusi rutin yang bisa menambah khasanah akademik penelitian ini.

Penelitian ini pasti ada kekurangan, oleh karena itu kepada semua pihak diharapkan memberikan kritik yang konstruktif demi kesempurnaan penelitian ini pada masa-masa yang akan datang. Semoga penelitian ini bermanfaat, amien ya robbal ‘alamien.

 

 

                                                                                                                                                                           Surakarta  Januari 2005

                                                                                                                                                                             Peneliti

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                             Dr. Tjipto Subadi

 

 

 MIGRASI MASYRAKAT DESA TEGALOMBO SRAGEN

(Kajian Migrasi Sirkulerdari Perspektif Fenomenologi)

Peneliti

TJIPTO SUBADI

Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Surakarta

Jl. A. Yani. Tromol Pos 1 Pabelan Surakarta

Email: tjiptosubadi@yahoo.com

 

ABSTRAK

 Secara umum penelitian ini bertujuan memahami fenomena boro sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial dari proses dan makna yang dilihat sebagai realitas subjektif. Sedangkan secara khusus bertujuan (1) memahami dan memperoleh pengetahuan sosial yang sistematis mengenai; alasan yang mendasari tindakan mereka melakukan boro, konstruksi sosial proses boro dan maknanya sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial oleh pelaku boro itu sendiri (2) memodifikasi teori migrasi kuanlitatif Averett S. Lee sebagai realitas objektif menjadi teori migrasi kualitatif sebagai realitas subjektif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang berfokus pada analisis pemahaman dan pemaknaan, paradigmanya definisi sosial yang bergerak pada kajian mikro. Metode analisis data menggunakan first order understanding yakni meminta peneliti aliran ini menanyakan kepada subjek penelitian guna mendapatkan penjelasan yang benar, informasi inilah yang disebut eksternalisasi menurut pemahaman Berger. Selanjutnya peneliti melakukan second order understanding yakni peneliti memberikan interpretasi terhadap interpretasi subjek penelitian guna memperoleh suatu makna baru mengenai alasan yang mendasari tindakan mereka melakukan boro, konstruksi sosial proses boro dan maknanya, informasi inilah yang disebut objektivasi menurut pemahaman Berger. Penelitian ini menghasilakan temuan; (1) boro dilakukan oleh kelompok masyarakat kuli setengah kenceng, boro ini memiliki konstruksi sosial yang beragam berkaitan dengan alasan yang mendasari tindakan mereka melakukan boro. Pada satu sisi boro bertindak karena alasan ekonomi, pada sisi lain boro bertindak karena alasan non ekonomi, mereka melakukan boro karena kesadaran jaringan sosial dan kesadaran jaminan sosial. (2) Proses boro menganut sistem siklus dan hubungan sepesukuan. Boro memiliki banyak makna, selain makna ekonomi boro juga memiliki makna non-ekonomi seperti; makna kesadaran jaringan sosial dan kesadaran jaminan sosial, kesadaran religiusitas, makna kesadaran ilmu pengetahuan dan status sosial. (3) Boro untuk memperbaiki kondisi perekonomian keluarga menunjukkan makna ekonomi dalam boro, sedangkan boro karena keyakinan agama menunjukkan makna kesadaran religiusitas dalam boro, boro karena hubungan kekerabatan antara boro lama dengan boro baru menunjukkan makna kesadaran jaringan sosial dalam boro, dan boro karena pertimbangan keamanan dan kesehatan keluarga yang ditinggalkan menunjukkan makna kesadaran jaminan sosial dalam boro. boro ingin mencari pengalaman menunjukkan makna kesadaran ilmu pengetahuan dan status sosial dalam boro.

 

Keywoeds : Boro, migrasi, banyak makna, first and order understanding

 

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL  ………………………………………………………….    i

HALAMAN PENGESAHAN ………………………………………………        ii

KATA PENGANTAR …………………………………………………………  iii

ABSTRAK ……………………………………………………………………..   iv

DAFTAR ISI …………………………………………………………………..         v

BAB I  PENDAHULUAN ……………………………………………………..   1

A. Latar Belakang Masalah ……………………………………………    1

B. Rumusan Masalah …………………………………………………..    3

C. Tujuan Penelitian …………………………………………………..     4

D. Manfaat Penelitian …………………………………………………     4

BAB II PENDEKATAN TEORITIK ………………………………………….       6

A. Teori Migrasi Everett S. Lee ……………………………………….    6

B. Kritik Teori Migrasi Lee ……………………………………………     9

C. Fenomenologi yang Digunakan ……………………………………    10

D. Penggunaan Fenomenologi untuk Memahami Migrasi ……………    11

BAB III METODE PENELITIAN …………………………………………….     12

A. Pendekatan Studi …………………………………………………..   12

B. Pemilihan Lokasi Penelitian……………………………………….     12

C. Strategi dan Teknik Penelitian …………………………………….    13

D. Metode Pengumpulan Data ……………………………………….   18

E. Teknik Analisis Data ………………………………………………   22

F. Keabsahan Data ……………………………………………………   26

BAB IV ANALISIS ASPEK WILAYAH …………………………………….     28

A. Wilayah Jawa Tengah …………………………………………….    28

B. Wilayah Kabupaten Sragen ……………………………………….     29

C. Siklus Aktivitas Pertanian dan Kemiskinan ………………………     36

D. Diskripsi Lokasi Penelitian ……………………………………….      38

BAB V  ANALISIS PROSES MIGRASI SIRKULER ………………………       42

A. Fisrt Order Understanding ……………………………………….    43

1.  Struktur Masyrakat Desa ……………………………………..      43

2.  Proses Migrasi Sirkuler Masyarakat Desa …………………….      45

3.  Efek Migrasi Sirkuler …………………………………………      65

B. Second Order Understanding …………………………………….      70

BAB VI ANALISIS MAKNA MIGRASI SIRKULER ……………………..   75

A. First Order Understanding ………………………………………..    76

1. Migrasi Sirkuler Ingin Merubah Nasib ………………………..         77

2. Migrasi Sirkuler Ingin Mencari Ilmu ………………………….         81

3. Migrasi Sirkuler Ingin Meningkatkan Status Sosial …………..         84

B. Second Order Understanding ……………………………………..     87

BAB VII PEMBAHASAN MIGRASI SIRKULER …………………………  90

A. Struktur Masyarakat Desa Tegalombo …………………………..       90

B. Migran Sirkuler Masyarakat Desa ………………………………..      91

C. Pemahaman Migran Sirkuler Terhadap Proses Migrasi …………..      92

D. RumusanTeori yang Dihasilkan dari…………………..………….      104

1. Proses Migrasi Sirkuler………………………………………..      104

2. Makna Migrasi Sirkuler ……………………………………….     106

BAB VIII KESIMPULAN DAN SARAN …………………………………… 109

A. Kesimpulan ………………………………………………………..    109

B. Saran-saran ………………………………………………………..     115

Daftar Putaka

BAB I    PENDAHULUAN

 

  1.  Latar Belakang Masalah

Secara formal  migrasi penduduk di Indonesia telah dimulai pada tahun 1905 dengan motif memenuhi permintaan akan kebutuhan pekerjaan perkebunan. Pemerintah Belanda waktu itu telah memindahkan 155 Kepala Keluarga dari Jawa ke Gedong Tataan Sumatra Selatan (Mantra, 1988: 160).

Di Jawa Tengah, berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 1980 menunjukkan bahwa migrasi ke luar Jawa sebanyak 2.402.557 jiwa dan migrasi masuk ke Jawa sebanyak 1.804.115 jiwa. Sedangkan pada tahun 1990, migrasi ke luar Jawa sebanyak 3.416.923 jiwa dan migrasi masuk ke Jawa 3.058.725 jiwa (Firman, 1994: 6). Pada tahun 2002 terdapat eksodan sejumlah 6.536 KK (25.239 jiwa) di Jawa Tengah.

Data migrasi di pedesaan Jawa Tengah, misalnya data yang penulis peroleh dari desa Tegalombo (Sragen) tahun 2002 adalah; 3 orang ke Batam, 3 orang ke Kalimantan, 111 orang ke Sumatra, 2 orang ke Malaysia, dan 3 orang ke Taiwan. (dalam tulisan ini migrasi disebut migrasi sirkuler)

Fenomena migrasi sirkuler yang dilakukan oleh sebagian penduduk di desa Tegalombo tidak dilakukan oleh seluruh anggota keluarga. Jika pelaku migrsi suami maka istri dan anak-anak tinggal di rumah (desa) atau jika yang migrasi istri maka suami dan anak-anak tinggal di rumah (desa), begitu juga jika yang migrsi anak, ayah dan ibu tinggal di rumah (desa). Pelaku migrsi ini pada saat tertentu kembali ke desa Tegalombo dan melakukan aktivitas sosial sebagaimana anggota masyarakat lainnya. Kemudian setelah kurun waktu tertentu (1-2 minggu) mereka kembali ke daerah migran lagi. Begitu seterusnya migrasi dilakukan oleh masyarakat desa Tegalombo.

Ada banyak hal yang menarik seputar fenomena migrasi di desa Tegalombo. Pertama, jumlah migran dari tahun ke tahun cenderung meningkat, pada tahun 1990 terdapat 47 orang dan pada tahun 2000 jumlah tersebut menjadi 122 orang, yang berarti ada kenaikan 200% lebih. Padahal pada beberapa tahun terakhir ini, perkembangan industrialisasi di daerah penelitian (Sragen) cukup menjanjikan sebagai upaya pemerintah di bidang tenaga kerja. Kedua, migrasi diikuti dengan perpindahan pekerjaan dari buruh tani ke pedagang. Ketiga, fenomena migrsi yang lebih menarik adalah migrasi untuk mencari pengalaman, demi anak-anak, ingin meningkatkan status sosial di desa dan sebagainya, ini berarti bahwa migrasi memiliki makna lain selain kepentingan ekonomi.

Dominasi faktor ekonomi dianggap sebagai penyebab utama seseorang bermigrasi, seperti penelitian Todaro (1992) yang populer dengan studi mobilitas desa-kota melihat kesenjangan distribusi geografis dari faktor-faktor produksi (tenaga kerja, modal, sumber daya alam, dan tanah) sebagai apriori yang diberikan dan mengasumsikan kesenjangan pengupahan sebagai faktor yang menentukan. Akibat dari kesenjangan pengupahan tersebut menurut Todaro terjadi mobilitas tenaga kerja dari daerah yang berlimpah tenaga kerjanya dengan modal rendah ke daerah dimana tenaga kerjanya jarang dengan modal yang berlimpah. Dengan asumsi bahwa faktor-faktor sumber daya alam terdistribusi merata. Pendekatan ini mengasumsikan pola bentuk ekonomi rasional sebagai pilihan para migran yang menyebabkan adanya transfer tenaga kerja.

Penelitian lain adalah penelitian Hugo (1982), yang juga menyoroti dampak migrasi terhadap perekonomian keluarga. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa besarnya remitan migran akan menentukan tingkat kesejahteraan suatu rumah tangga. Kebanyakan remitan dari migran untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok, disimpulkan bahwa 40% remitan dari migran  dipergunakan untuk membeli beras, sedangkan 60% dari remitan untuk biaya pendidikan saudara dan anak-anaknya.

Penelitian Mantra dan Sumantri (1988), berkesimpulan bahwa perpindahan penduduk di daerah penelitian mempunyai peranan cukup besar di dalam mengubah kehidupan ekonomi daerah pedesaan. Juga dalam penelitiannya terhadap perantau Minangkabau, menghasilkan bahwa dari segi ekonomi merantau memperhatikan efek positif sebagai sumber tambahan ekonomi keluarga.

Penelitian Mulyantoro (1991) tentang Migran Asal Lamongan dan Keadaan Ekonominya diperoleh temuan bahwa Kota Kupang menjadi faktor penarik utama migran asal Lamongan karena penghasilan dan pendapatan yang lebih besar. Sedangkan faktor pendorong migran (di daerah asal) adalah penghasilan rendah, tidak memiliki lahan pertanian, tidak ada lapangan kerja. Adapun faktor penarik (di daerah tujuan) adalah penghasilan besar, mudah mencari pekerjaan, persaingan belum banyak.

Dari beberapa hasil penelitian yang diuraikan di atas, menjelaskan bahwa faktor ekonomilah yang menjadi penyebab utama seseorang melakukan migrasi. Penelitian-penelitian tersebut mengabaikan faktor lain selain faktor ekonomi. Di samping itu penelitian-penelitian tersebut di atas  menggunakan metode kuantitatif yang hanya melihat fenomenologi sebagai realitas objektif, padahal migrasi di samping sebagai mobilitas penduduk juga sebagai fenomena sosial, yang di dalamnya ada pengalaman manusia yaitu makna migrasi dan prosesnya belum dikaji, makna dan proses migrasi ini juga bisa dikaji secara kualitatif yang dilihat sebagai realitas subjektif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi.

B.       Rumusan Masalah

Permasalahan utama yang menjadi fokus penelitian ini adalah; (1) bagaimana struktur masyarakat desa di desa penlitian? (2) siapakah pelaku migrasi sirkuler di desa Tegalombo? mengapa mereka melakukan migrasi sirkuler? (3) bagaimana konstruksi sosial proses migrasi sirkuler sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial, (4) bagaimana konstruksi sosial makna migrasi sirkuler oleh pelaku migrasi sirkuler?

  1. C.      Tujuan Penelitian

Secara umum penelitian ini bertujuan; memahami fenomena migrasi sirkuler sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial dari proses dan makna yang dilihat sebagai realitas subjektif. Secara khusus penelitian  ini bertujuan; (1) memahami struktur masyarakat desa di desa penlitian (2) memahami pelaku migrasi sirkuler di desa Tegalombo? memahami sebab-sebab mereka melakukan migrasi sirkuler (3) memahami konstruksi sosial proses migrasi sirkuler sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial, dan (4) memahami konstruksi sosial makna migrasi sirkuler oleh pelaku migrasi sirkuler?

  1. D.      Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah; (1) Secara teoritis, penelitian ini bermanfaat memberikan sumbangan ilmu pengetahuan sosial tentang; struktur masyarakat desa,  pelaku migrasi sirkuler di desa Tegalombo, sebab-sebab mereka melakukan migrasi sirkuler, konstruksi sosial proses migrasi sirkuler sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial, dan konstruksi sosial makna migrasi sirkuler oleh pelaku migrasi sirkuler? (2) Secara praktis, penelitian ini bermanfaat memberikan sumbangan pemikiran bagi pemerintah dalam menyusun strategi kebijakan penataan kependudukan, strategi dalam menciptakan kesempatan kerja dan pengembangannya yakni sistem informasi kesempatan kerja, jaringan sosial dan jaminan sosial daerah potensi migrasi sirkuler kepada calon-calon migrasi sirkuler (masyarakat pedesaan) dalam menghadapi persoalan ketenaga kerjaan, persoalan mobilitas penduduk dan gejala sosial bagi masyarakat pedesaan.   Hal ini mengingat masalah menciptakan kesempatan kerja dan pengembangannya di Indonesia sangat mendesak lebih-lebih dalam menghadapi krisis ekonomi yang berkepanjangan, dalam hal ini isyarat dari Mc. Gee, dalam Abu-Lughod dan Hay eds., dalam Sutomo, (1993: 16) bahwa di masa mendatang kebanyakan negara berkembang terutama yang penduduknya cukup besar seperti India dan Indonesia akan menghadapi masalah genting, kecuali bila berhasil dalam menyusun strategi dalam menciptakan kesempatan kerja dan pengembangannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PENDEKATAN TEORITIK

 

  1. A.    Teori Migrasi Everett S. Lee

Mobilitas penduduk dari desa ke kota baik yang permanen (migrasi) maupun yang non-permanen (sirkulasi), pada hakekatnya memiliki kesamaan terutama tentang daya dorong dan dalam hal proses pengambilan keputusan untuk melakukan mobilitas (Mantra, 1987: 140-144;). Ketetapan menjadi migran permanen atau non-permanan tersebut sangat tergantung pada kemampuan kota dalam mengembangkan  industrialisasi (Mc.Gee, 1977: dalam Abu-Lughod dan Hay, eds., 1977: 209-211; dalam Sutomo 1993: 22) termasuk di dalamnya kesempatan kerja sektor perdagangan, dan sektor-sektor yang lain. Suatu mobilitas akan terjadi apabila individu memutuskan lebih baik pindah dari pada menetap tinggal karena kepindahan tersebut dirasa akan lebih menimbulkan keuntungan. Untuk menjelaskan mekanisme migrasi perlu dikaitkan dengan proses pengambilan keputusan. Konsep yang paling membantu untuk memahami mekanisme tersebut adalah teori dorong-tarik (push-pull theory).

Teori dorong-tarik (push-pull theory) mengasumsikan bahwa setiap fenomena  migrasi selalu berkaitan dengan daerah asal, daerah tujuan, dan bermacam-macam rintangan yang menghambat. Menurut Lee ada empat faktor yang berpengaruh orang mengambil keputusan untuk melakukan migrasi, yaitu; (1) Faktor-faktor yang terdapat di daerah asal,(2) faktor-faktor di daerah tujuan, (3) faktor rintangan, dan (4) faktor pribadi.

Faktor-faktor di daerah asal dan daerah tujuan dapat bersifat positif, negatif atau bersifat netral. Faktor-faktor di daerah asal dikatakan positif kalau sifatnya mendorong migran, negatif kalau menghambat migran, dan netral kalau tidak berpengaruh terhadap migran. Sedangkan faktor-faktor di daerah tujuan dikatakan positif jika menarik calon migran, negatif kalau menghambat masuknya calon migran, dan netral kalau tidak berpengaruh terhadap migran (Lee, 1966, diterjemahkan oleh Daeng, ditinjau kembali oleh Mantra, 1987: 5).

Dari keempat kelompok faktor tersebut yang terutama adalah faktor pribadi, karena pada akhirnya keputusan bermigrasi atau tidak bermigrasi tergantung kepada yang bersangkutan. Apakah sesuatu faktor bersifat positif, negatif, atau netral dan seberapa jauh mendorong, menghambat, atau menarik calon migran bergantung kapada pribadi yang  mempersepsikannya.

Lee menjelaskan bahwa tiga hal yang pertama dari faktor-faktor tersebut secara skematis terlihat pada gambar 2.1. Dalam setiap daerah banyak sekali faktor yang mempengaruhi orang menetap di situ atau menarik orang untuk pindah ke situ ada pula faktor-faktor lain yang memaksa mereka meninggalkan daerah itu.

 

+ 0 – + + 0 – + 0                                     – - + 0 + 0  0

- – + 0 – + 0 – - 0                                     – - + 0 + 0  0

- + 0 – +0 – 0+ 0                                                – +0-+0—0+0

- 0 -+ 0 – - + 0-+    Penghalang Antara     +0-+0–+0-+

- – + 0 – + 0 – - 0                                     – -+ 0 – +0—0

Faktor daerah asal                              Faktor daerah tujuan

 

Gambar 2.1. Teori Dorong-tarik (Push-Pull Theory) Lee

Faktor-faktor itu terlihat dalam diagram sebagai tanda + (positif) dan – (negatif), faktor lain yang ditunjukkan dengan tanda 0 (netral) ialah faktor yang pada dasarnya tidak ada pengaruhnya sama sekali pada penduduk. Beberapa faktor itu mempunyai pengaruh yang sama terhadap beberapa orang, sedangkan ada faktor yang mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap seseorang.

Pada gambar 2.1 tersebut di atas dapat dijelaskan bahwa orang akan membuat kalkulasi kualifikasi faktor-faktor (+) dan faktor-faktor (-) untuk menentukan sesuatu daerah memuaskan atau tidak sehingga diperoleh nilai kefaedahan (place utility) daerah tersebut. Proses mobilitas akan terjadi apabila neraca perbandingan faktor-faktor tersebut menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh pada keinginan berpindah lebih banyak dari pada faktor-faktor yang berpengaruh pada penghambat. Kedua faktor tersebut mempunyai peran yang berbeda dalam proses mobilitas.

Faktor-faktor (+) di daerah asal berpengaruh sebagai penahan agar seseorang tetap tinggal di daerahnya, faktor-faktor (-) di daerah asal berpengaruh sebagai pendorong  (push factors) agar seseorang pindah ke daerah lain, sebaliknya faktor-faktor (+) di daerah tujuan berpengaruh sebagai penarik (pull factors) agar seseorang melakukan pindah ke daerah tersebut, faktor-faktor (-) di daerah tujuan berpengaruh agar seseorang tidak datang di daerah tersebut, faktor-faktor (0) baik di daerah asal maupun di daerah tujuan merupakan faktor netral (neutral factors) yang berarti tidak berpengaruh dalam proses mobilitas.

Kesimpulan yang diambil dari penelitian migrasi Lee ini adalah: (1) Migrasi berkait erat dengan jarak, (2) Migrasi bertahap, (3) Migrasi arus dan migrasi arus balik. (4) Terdapat perbedaan antara desa dan kota mengenai kecendungan melakukan migrasi. (5) Wanita lebih suka bermigrasi ke daerah-daerah yang dekat. (6) Mengikat teknologi dengan migrasi. (7) Motif ekonomi merupakan dorongan utama orang bermigrasi.

  1. Kritik Teori Migrasi Lee

Penelitian migrasi Lee ini hanya didsarkan atas fenomena objektif (material) dan hubungan kausal daerah asal dan daerah tujuan, dan tidak sampai memahami migrasi sebagai fenomena subjektif (non materi) seperti proses dan makna dalam arti tidak sampai pada kajian alasan dibalik tindakan

Penelitian Lee ini melihat dorongan utama bermigrasi adalah dorongan ekonomi, belum sampai pada kajian soiologis. Padahal motif ekonomi dan dorongan sosiologi orang melakukan migrasi sangat erat hubungannya.

Pdahal penelitian migrasi dapat dijelaskan sebagai fenomena subjektif (non materi) dan tidak semata didasarkan pertimbanganekonomi rasional atau kesenjangan hubungan desa-kota (daerah asal-tujuan). Berbagai faktor non ekonomi menjadi faktor pendorong migrasi masyarakat desa. Banyak faktor yang tidak disebut oleh Lee sebagai faktor pendorong migrasi tetapi justru menjadi faktor penting mendorong migrasi oleh masyarakat desa. Faktor non materi yang mempengaruhi migrasi antara lain; (1) hubungan kekeluargaan (kekrabatan) yang terjalin dalam masyarakat. Migrasi dilakukan dengan mengikuti anggota keluarga yang telah melakukan migrasi atau diajak oleh anggota keluarga yang telah berhasil di daerah migrasi, (2) Keinginan untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan, (3) kesadaran akan jaringan, ajaran agama (religiusitas), dan status sosial

D.    Fenomenologi yang Digunakan

Fenomenologi yang digunakan adalah fenomenologi Berger.  Fenomenologi Berger dalam penelitian ini, untuk mengkaji pengetahuan pemahaman tentang pemahaman para migran terhadap makna migrasi dan prosesnya sebagai realitas subjektif, dengan pertimbangan bahwa: pendekatan ini dengan paradigma definisi sosial yang bergerak pada kajian mikro akan memberi peluang individu sebagai subjek penelitian melakukan interpretasi, dan kemudian peneliti melakukan interpretasi terhadap interpretasi itu sampai mendapatkan pengetahuan tentang makna migrasi.

Berger menyebutnya dengan first order understanding (meminta peneliti untuk menanyakan kepada pihak yang diteliti guna mendapatkan penjelasan yang benar), dan second order understanding (dalam hal ini peneliti memberikan penjelasan dan interpretasi terhadap interpretasi itu sampai memperoleh suatu makna yang baru) sebagaimana telah dijelaskan di atas.

Selain itu penggunaan perspektif ini tidak bisa lepas dari pandangan moralnya, baik taraf mengamati, menghimpun data, menganalisis, ataupun dalam membuat kesimpulan. Tidak dapat lepas, bukan berarti keterpaksaan, melainkan adanya makna etika. Perspektif fenomenologi bukan hendak menampilkan teori dan konseptualisasi yang sekedar berisi anjuran atau imperatif, melainkan mengangkat makna etika dalam berteori dan berkonsep.

E.     Penggunaan Fenomenologi untuk Memahami Migrasi

Perspektif fenomenologi ini digunakan untuk memahami pemahaman para migran terhadap makna migrasi dan prosesnya. Pemahaman tentang pemahaman ini diharapkan menghasilkan suatu temuan yang dapat memperbaiki teori tentang migrasi. Penggunaan fenomenologi juga untuk memahami makna migrasi dan prosesnya sebagai kebenaran empirik etik yang memerlukan akalbudi untuk melacak dan menjelaskan serta berargumentasi. Akalbudi disini mengandung makna bahwa kita perlu menggunakan kriteria lebih tinggi lagi dari sekedar truth or false (benar atau salah) (Muhadjir, 1996: 83). Nilai moral yang digunakan pendekatan ini tidak terbatas pada nilai moral tunggal yaitu truth or false. Tetapi nilai moral yang digunakan pada pendekatan ini mengacu pada nilai moral ganda yang herarkik yang berarti ada kebermaknaan tindakan.

Berikutnya penggunaan fenomenologi ini terkait dengan suatu alasan dari kebermaknaan tindakan untuk status konstruksi sosial bahwa suatu aksi itu diilhami makna subjektif.

Aksi migrasi juga diilhami makna subjektif, dan aksi migrasi ini tidak sekedar gerakan fisik (mobilitas fisik) tetapi juga memiliki sesuatu inside (kedalaman) yang terdiri dari proses mental pelaku migrasi. Oleh karena itu penggunaan fenomenologi untuk memahami aksi migrasi bukan dilihat dari aspek materi tetapi dari aspek non materi, bukan dari aspek dampak tetapi dari aspek proses, bukan realitas objektif tetapi dari realitas subjektif, dan bukan dari perspektif positivistik tetapi dari perspektif fenomenologi.

 

BAB III

METODE PENELITIAN

 

  1. A.      Pendekatan Studi

Untuk mencapai tujuan penelitian yang telah dirumuskan pada bab pendahuluan, pendekatan yang digunakan adalah perspektif fenomenologi dengan paradigma definisi sosial yang bergerak pada kajian mikro. Perspektif fenomenologi dengan paradigma definisi sosial ini akan memberi peluang individu sebagai subjek penelitian melakukan interpretasi, dan kemudian peneliti melakukan interpretasi terhadap interpretasi itu sampai mendapatkan pengetahuan tentang proses dan makna migrsi sirkuler, dalam hal ini Berger menyebutnya dengan first order understanding dan second order understanding.

Penelitian ini juga menggunakan metode kualitatif, dengan alasan karena penelitian ini berfokus pada analisis pemahaman dan pemaknaan. Melalui metode kualitatif ini, realitas sosial yang hendak dikaji adalah realitas subjektif berupa pemahaman dan pemaknaan, melalui metode ini peneliti meminta interpretasi subjek penelitian, kemudian peneliti melakukan interpretasi terhadap interpretasi subjek penelitian itu sampai mendapatkan makna. Metode penelitian kualitatif ini berupaya menelaah esensi, memberi makna pada migrasi sirkuler dan prosesnya di desa Tegalombo.

  1. B.       Pemilihan Lokasi Penelitian

Tegalombo dipilih sebagai lokasi penelitian dengan alasan di desa ini ada fenomena migrasi sirkuler, 3 orang ke Batam, 3 orang ke Kalimantan, 111 orang ke Sumatra, dan 5 orang Malaysia. Dengan pemilihan daerah penelitian ini peneiti dapat memahami proses migrasi sirkuler dan maknanya sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial dari realitas subjektif.

Untuk membatasi migran sirkuler yang dijadikan subjek penelitian, maka semua migran sirkuler di desa penelitian ini sebagai populasi. Sedangkan sampel yang dipilih sebagai subjek penelitian (informan) atas dasar pertimbangan kualitas keterandalan sang informan ini sebagai sumber yang sungguh informatif. Informan dipilih secara purposif (bukan secara acak), yaitu atas dasar apa yang peneliti ketahui tentang variasi-variasi yang ada atau elemen-elemen yang ada. Dalam hubungan ini, maka dalam proses pengumpulan data tentang suatu topik, bila variasi informasi tidak muncul maka peneliti tidak perlu lagi melanjutkannya dan kemudian mencari informasi  (informan) baru, artinya jumlah informan bisa sangat sedikit (beberapa orang saja), tetapi bisa juga sangat banyak. Hal itu sangat tergantung pada; (1) pemilihan informan itu sendiri, dan (2) kompleksitas dan keragaman fenomena yang diteliti.

Setelah ditentukan informan penelitian sebagai subjek penelitian, untuk memperlancar peneliti dalam pengambilan data, dibutuhkan informan lain yang dianggap memiliki/kaya informasi, dan  dapat memberikan informasi yang benar, yaitu  tetangga migran sirkuler, pimpinan formal, seperti Kepala Desa, Ketua RT dan RW, pimpinan informal, seperti pemuka agama, tokoh masyarakat.

  1. C.      Strategi dan Taktik Penelitian

Strategi dan taktik penelitian yang digunakan adalah:

Pertama-tama peneliti berusaha mengenal kondisi desa penelitian yang telah ditetapkan baik secara geografis, keadaan ekonomi, sosial, budaya dan adat-istiadat masyarakat serta keadaan pelaku migrasi sirkuler dan keluarganya di desa Tegalombo. Strategi dan taktik penelitian ini hanya dapat diperoleh jika peneliti sebelumnya telah menyatu dan mampu berinteraksi dengan masyarakat setempat (informan penelitian), maka langkah yang ditempuh berikutnya adalah: penciptaan “rapport”.

Menurut Faisal (1990) penciptaan rapport ini merupakan prasyarat yang amat penting. Peneliti tidak akan dapat berharap untuk memperoleh informasi secara produktif dari informan apabila tidak tercipta hubungan harmonis yang saling mempercayai antara pihak peneliti dengan pihak yang diteliti. Terciptanya hubungan harmonis satu dengan yang lain saling mempercayai, tanpa kecurigaan apapun untuk saling membuka diri, merupakan permasalahan yang berkaitan dengan penciptaan rapport (Faisal, 1990: 53-54).

Selanjutnya peneliti melakukan pengumpulan data penelitian kualitatif dengan langkah-langkah sebagai berikut:   

Pertama, pada awal penelitian pendahuluan peneliti mengontrak sebuah rumah sederhana untuk ditempati peneliti. Dengan cara ini peneliti bisa berinteraksi dengan masyarakat dalam segala aktivitasnya, misalnya; mendatangi undangan manten, syukuran kelahiran anak, melayat, gotong royong kampung, ikut ronda, mendatangi orang sakit, membantu mencarikan obat dan lain sebagainya.

Dengan telah diterimanya peneliti  di masyarakat, maka langkah selanjutnya peneliti mendatangi warga masyarakat yang ada, seperti; mbah Wiro, mbah Wongso, Tukimin (sesepuh/tokoh masyarakat), Sri Hartini (Sekretaris Desa), Padmo (Kaur Kesra), dan Sudarna, Jumari, Salimin, Sunarto, Priyo Hartono, Supardi, Supadi, Suyanto (pelaku migran sirkuler), dan pelaku migran sirkuler yang lain; Sarmidi dan Samijo. Demikian sebaliknya peneliti setiap saat dapat menerima kunjungan mereka.

 

Kedua, langkah berikutnya, peneliti segera melanjutkan berkonsultasi kepada Kepala Desa menyampaikan keinginan akan mengadakan penelitian disertasi dan sekaligus memohon bantuannya agar penelitian berjalan dengan lancar. Selanjutnya, peneliti segera mengadakan pencatatan data-data keadaan geografis desa Tegalombo, dan data-data lainnyayang dibutuhkan dalam penelitian ini.

Ketiga, langkah selanjutnya peneliti menemui beberapa informan dan ditambah informan yang lain, yang memiliki karakteristik sebagai informan yang bisa memberikan informasi berkaitan dengan struktur masyarakat desa Tegalombo, proses migrasi sirkuler, dan efeknya. Maka hal yang harus dilakukan terlebih dulu adalah peneliti menemui perangkat desa lagi, guna menanyakan kembali; bagaimana struktur masyarakat desa Tegalombo? Pertanyaan berikutnya adalah siapa diantara penduduk desa Tegalombo ini yang pertama kali melakukan mugrasi sirkuler ke Sumatra (sebagai perintis)? dan siapa saja yang bisa di temui untuk mendapatkan data tentang proses migrasi sirkuler?

Untuk mendapatkan informasi mengenai hal ini, peneliti berusaha menemui beberapa orang perangkat desa, Ketua RW dan RT,  dan beberapa tokoh masyarakat serta beberapa keluarga migran sirkuler. Hal ini peneliti lakukan guna cross check data untuk mendapatkan informasi yang sebenarnya mengenai struktur masyarakat, perintis migrasi sirkuler dan data  yang lain.

Adapun pertanyaan-pertanyaan yang digunakan untuk bahan wawancara dalam rangkan mendapatkan informasi struktur masyarakat dan  proses migrasi sirkuler, antara lain sebagai berikut:

 

  1. Bagaimana struktur masyarakat di desa Tegalombo ini?
  2. Siapa warga desa Tegalombo yang melakukan migrasi sirkuler?
  3. Kemana saja mereka melakukan?
  4. Siapa diantara bapak-bapak yang bisa disebut sebagai perintis migrasi sirkuler desa Tegalombo ini?
  5. Apa aktivitas, dan pekerjaan bapak sebelum bapak melakukan migrasi?
  6. Bagaimana prosesnya bapak melakukan?
  7. Bagaimana peran istri ?

Beberapa pertanyaan tersebut di atas belum cukup untuk menjawab permasalahan penelitian, oleh karena itu diperlukan pertanyaan lain yang mampu menggali permasalahan lebih mendalam sebagai berikut: (1) siapakah pelaku migrasi sirkuler sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial di desa Tegalombo, mengapa mereka bermigrasi, bagaimana pelaku migrasi mengkonstruksikan alasan yang mendasari tindakan mereka melakukan migrasi sirkuler? (2) bagaimana konstruksi sosial proses migrasi sirkuler sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial, apakah ada keterkaitan antara proses migrasi itu itu dengan kesadaran akan jaringan sosial, apakah juga ada keterkaitan antara proses migrasi sirkuler dengan jaminan sosial seperti jaminan keamanan, kesehatan terhadap keluarga (istri dan anak-anak) yang ditinggalkan?

Keempat, langkah selanjutnya peneliti bertemu beberapa informan antara lain; Sudarna (perintis migrasi sirkuler) dan beberapa orang yang memiliki karakteristik sebagai pelaku migrasi sirkuler itu yakni; Sudarna, Jumari, Sunarto, Priyo Hartono, Supadi, Supardi, dan pelaku yang lain; Sarmidi dan Samijo, serta keluarganya, untuk mengadakan wawancara mendalam berikutnya dalam upaya menggali informasi lebih mendalam. Wawancara dengan mereka itu tidak hanya sekali dua kali, tetapi peneliti lakukan beberapa kali sampai peneliti bisa mendapatkan informasi yang benar dan sampai peneliti bisa menyusun laporan disertasi ini,

Kelima, dalam langkah ini peneliti mengadakan wawancara mendalam kepada pelaku migrasi sirkuler tentang makna migrasi sirkuler. Dalam langkah ini juga  peneliti lakukan untuk mengkaji migrasi sirkuler dari realitas subjektif, ada makna apa migran melakukan migrasi? Bagiamana makna migrasi bagi migran itu sendiri? Adapun pertanyaanya sebagai berikut:

  1. Mengapa bapak melakukan migrasi sirkuler?
  2. Ada makna apa bapak melakukan migrasi sirkuler?
  3. Bagaimana makna migrasi sirkuler bagi migran?
  4. Bagaimana maknanya migrasi demi anak-anak?
  5. Bagaimana maknanya migrasi mencari ilmu?
  6. Bagaimana maknanya migrasi meningkatkan status sosial seseorang di desanya?
  7. Bagaimana maknanya migrasi merubah nasib?
  8. Bagaimana efek migrasi sirkuler terhadap lingkungan, tenaga kerja, dan kehidupan masyarakat?

Pertanyaan-pertanyaan itu juga belum cukup untuk menjawab permasalahan penelitian berkaitan dengan makna migrasi, maka selanjutnya peneliti menyampaikan pertanyaan kepada subjek penelitian, bagaimana konstruksi sosial makna migrasi sirkuler sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial bagi migran itu sendiri?

Wawancara mendalam tersebut peneliti lakukan tidak hanya sekali tetapi peneliti lakukan beberapa kali dalam kurun waktu selama 6 bulan. Hal ini peneliti lakukan untuk mendapatkan data yang benar dan data yang bisa  dipertanggungjawabkan secara ilmiah sampai peneliti dapat membuat laporan disertasi ini secara tertulis.

Setelah laporan penelitian ini secara tertulis selesai, peneliti masih melanjutkan komunikasi dengan informan tersebut untuk pengecekan kebenaran data tersebut di atas, peneliti bertemu lagi dengan informan yakni Sudarna, Jumari, Priyo Hartono, Supadi, Supardi dan beberapa pelaku migrasi sirkuler yang lain.

Untuk memperkaya data dan validitas data maka selain mendapatkan informasi data dari pelaku migrasi sirkuler tersebut di atas peneliti juga bertemu dengan perangkat desa dan tokoh masyarakat.  Dalam hal ini peneliti juga bertemu dan memperoleh informasi dari ibu Sekretaris Desa dimana suaminya sampai sekarang masih boro ke Sumatera. Langkah ini terus dikembangkan sampai diperoleh gambaran yang benar tentang proses dan makna migrasisirkuler. Setelah diperoleh kebenaran data, dan informasi yang  ada kaitannya dengan migrasi sirkuler tersebut di atas, peneliti masih perlu  harus melakukan pengecekan data sampai diperoleh data yang benar sampai bisa menyusun laporan penelitian ini dengan benar.

  1. D.    Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan langsung terjun ke kancah terutama untuk mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan mobilitas migrasi sirkuler di Sragen, khusus di desa Tegalombo dihimpun data yang lebih detail, untuk  itu  dibutuhkan  metode  (1)  observasi  dan  dokumentasi, (2) wawancara mendalam.

  1. 1.      Metode Observasi dan Dokumentasi

Observasi dan dokumentasi ini digunakan untuk mempertahankan kebenaran ilmiah, sebagaimana ditegaskan oleh Gordon (1991), bahwa; “dasar-dasar pembatasan secara luas diterima oleh ilmuwan itu sendiri adalah kesaksian empirik, sebuah pernyataan adalah ilmiah jika diuji oleh observasi dan eksperimen (Gordon, 1991).

Observasi dan Dokumentasi dalam suatu penelitian kualitatif lazimnya berkaitan dengan situasi sosial tertentu. Setiap situasi sosial setidaknya mempunyai tiga elemen utama, yaitu: (1) lokasi/fisik tempat suatu situasi sosial itu berlangsung (2) manusia-manusia pelaku atau actors yang menduduki status/posisi tertentu dan memainkan peranan-peranan tertentu, dan (3) kegiatan atau aktivitas peran pelaku pada lokasi/ tempat berlangsungnya sesuatu situasi sosial.

Metode observasi dan dokumentasi ini digunakan dalam rangka mengumpulkan data yang memberikan gambaran tentang situasi setempat atau social setting yang menjadi konteks mobilitas migrasi sirkuler. Social setting diperoleh melalui observasi dan dokumentasi yaitu melihat data lapangan dan mendengar informasi dari informan, dan cerita warga setempat.

Metode observasi ini peneliti gunakan untuk memperoleh data yang berkaitan dengan: Aspek wilayah yang meliputi (1) potensi daerah yang dapat dikembangkan (2) siklus aktivitas pertanian dan kemiskinan (3)  analisis  pasar  kerja  (4)  lowongan  kerja  dan  penempatan  kerja (5) deskripsi ringkas lokasi penelitian.

Sedangkan Metode dokumentasi, digunakan untuk memperoleh data-data antara lain: (1) keadaan geografis daerah penelitian, (2) data jumlah pelaku migrasi sirkuler,  (3) data pribadi pelaku migrasi sirkuler, dan  catatan-catatan lainnya yang relevan dengan  permasalahan penelitian.

Relevansi penggunaan metode observasi dan dokumentasi dengan permasalahan adalah, dalam rangka peneliti memperoleh data pelengkap, metode ini digunakan juga untuk mencocokkan beberapa informasi dengan data yang ada di lapangan.

  1. 2.       Metode Wawancara Mendalam

Wawancara ini peneliti gunakan dalam situasi dialogis maupun wawancara mendalam (in-depth) dengan subjek penelitian (pelaku migrasi sirkuler) secara bertahap. Pertama, kepada Sudarna (perintis migrasi sirkuler), Jumari (migran yang sukses), Sunarto (migran berdagang kain), Priyo Hartono (migran suami Carik  Desa), Supadi (migran yang berhasil menyekolahkan anak-anaknya), Supardi (migran yang anaknya menjadi Sarjana). Kedua, peneliti wawancara dengan pelaku migrasi sirkuler yang sukses dan merintis usaha mebeler di desanya yakni Sarmidi dan Samijo. Ketiga, peneliti juga wawancara dengan tokoh masyarakat dan sesepuh desa yakni  Sri Hartini, dan Supatmo (perangkat desa) dan kepada informan lain yang bisa memberikan informasi tentang proses dan makna migrasi. Keempat, peneliti wawancara dengan pelaku migrasi yang tidak sukses (Dalimin)  dan pelaku migrasi yang gagal (Sungadi).

Peneliti melakukan wawancara mendalam dengan subjek penelitian tersebut dengan alasan karena penelitian ini ingin memperoleh realitas senyatanya (emic-factors), karena itu peneliti harus memperoleh data langsung dari subjek penelitian agar diperoleh data yang benar dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Hasil dari wawancara mendalam tersebut kemudian berikutnya dilakukan transkripsi, dan pemahaman agar ada kejelasan perbedaan antara bahasa sehari-hari dengan bahasa literatur sehingga dapat diperoleh bahasa ilmiah yang tepat.

Dalam pelaksanaanya, peneliti menyampaikan beberapa pertanyaan kepada informan penelitian tentang hal-hal yang berkaitan struktur masyarakat desa Tegalombo, proses migrasi sirkuler, dan makna nya, antara lain: Bagaimana srtuktur masyarakar desa Tegalombo dan bagaimana cara mengelompokkannya ? Siapa warga desa Tegalombo yang melakukan migrasi sirkuler? Kemana saja mereka melakukan? Siapa diantara bapak-bapak yang bisa disebut sebagai perintis migrasi sirkuler desa Tegalombo ini? Apa aktivitas, dan pekerjaan bapak sebelumnya? Bagaimana prosesnya ? Mengapa bapak melakukan? Ada makna apa bapak melakukan migrasi? Bagaimana makna migrasi bagi bapak? Bagaimana maknanya migrasi sirkuler demi anak-anak? Bagaimana maknanya, migrasi sirkuler mencari ilmu? Bagaimana maknanya, migrasi sirkuler meningkatkan status sosial seseorang di desanya? Bagaimana maknanya migrasi sirkuler merubah nasib? Bagaimana efeknya terhadap lingkungan, tenaga kerja, dan kehidupan masyarakat?

Selain pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, masih ada beberapa pertanyaan yang lebih terfokus untuk menjawab permasalahan penelitian ini, antara lain (1) siapakah pelaku migrasi sirkuler sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial di desa Tegalombo, mengapa mereka bermigrasi, bagaimana migran mengkonstruksikan alasan yang mendasari tindakan mereka melakukan migrasi? (2) bagaimana konstruksi sosial proses migrasi sirkuler sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial, apakah ada keterkaitan antara proses migrasi itu dengan kesadaran akan jaringan sosial, apakah juga ada keterkaitan antara proses migrasi dengan jaminan sosial seperti jaminan keamanan, kesehatan terhadap keluarga (istri dan anak-anak) yang ditinggalkan?(3) bagaimana konstruksi sosial makna migrasi sebagai mobilitas dan gejala sosial bagi migran itu sendiri.

  1. E.     Teknik Analisis Data

Pada tahap analisis data ini menurut Dilthey, sebagaimana dikemukakan juga oleh pemikir fenomenologi, mengatakan bahwa peristiwa sejarah dapat dipahami dalam tiga proses yaitu: (1) memahami sudut pandang atau gagasan para pelaku asli; (2) memahami arti atau makna kegiatan-kegiatan mereka pada hal-hal yang secara langsung berhubungan dengan peristiwa sejarah; dan (3) menilai peristiwa-peristiwa tersebut berdasarkan gagasan yang berlaku pada saat sejarawan itu hidup. Proses (1) dan (2) merupakan fist order understanding dan proses (3) merupakan second order understanding.

Perspektif fenomenologi untuk memperoleh first order underdstanding adalah:

Pertama, meminta peneliti aliran ini untuk menanyakan kepada pihak yang diteliti guna mendapatkan penjelasan yang benar terkait dengan; (1) bagaimana struktur masyarakat desa Tegalombo? (2) siapakah pelaku migrasi sirkuler sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial di desa Tegalombo, mengapa mereka bermigrasi?

Kedua, informasi-informasi itu belum cukup bagi peneliti, maka selanjutnya peneliti harus menanyakan lebih lanjut; (1) bagaimana migran mengkonstruksikan alasan yang mendasari tindakan mereka melakukan migrasi? (2) bagaimana konstruksi sosial proses migrasi sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial, apakah ada keterkaitan antara proses migrasi itu dengan kesadaran akan jaringan sosial, apakah juga ada keterkaitan antara proses migrasi dengan jaminan sosial seperti jaminan keamanan, kesehatan terhadap keluarga (istri dan anak-anak) yang ditinggalkan? dan (3) bagaimana konstruksi sosial makna migrasi sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial bagi pelaku migrasi itu sendiri?

First order underdstanding, jika pihak yang diteliti itu mengatakan, migrasi demi anak-anak, maka informasi tersebut belum cukup bagi peneliti. Peneliti harus menanyakan kembali bagaimana ia bermigrasi demi anak-anak, mengapa migrasi demi anak-anak dan bagaimana maknanya migrasi demi anak-anak. Begitu juga informasi dari informan bahwa migrasi ingin mencari pengalaman/ilmu, migrasi ingin merubah nasib. Informasi-informasi itu belum cukup bagi peneliti, maka berikutnya peneliti harus menanyakan kembali, bagaimana ia melakukan migrasi?  mengapa melakukan migrasi? Apa yang mendorong melakukan migrasi? bagaimana maknanya bagi mereka? bagaimana konstruksi sosial proses dan makna migrasi sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial bagi pelaku migrasi itu sendiri?

Beberapa pertanyaan di atas perlu disampaikan untuk memperoleh informasi tentang fenomena migrasi sirkuler yang dilihat sebagai realitas subjektif. Informasi seperti inilah yang disebut ekternalisasi menurut pandangan Berger.

Ketiga, informasi-informasi itu belum cukup untuk menjawab permasalahan penelitian ini, kemudian peneliti berkewajiban untuk melakukan rekonstruksi dan interpretasi agar informasi yang satu dapat dijelaskan dalam pertaliannya dengan informasi yang lain sehingga akan diperoleh suatu makna yang baru. Makna yang baru inilah yang disebut second order understanding dalam fenomenologi atau objektivasi menurut pemahaman Berger.

Teknis  analisis data tersebut dilakukan di lapangan atau bahkan bersamaan dengan proses pengumpulan data dan sesudahnya. Menurut Milles (1992) ada dua  hal yang penting dalam analisis tersebut;  Pertama, analisis data yang muncul berwujud kata-kata dan bukan rangkaian angka. Data itu mungkin telah dikumpulkan dalam aneka macam cara (observasi, wawancara, intisari dokumen, pita rekaman), dan yang biasanya “diproses” kira-kira sebelum siap digunakan (melalui pencatatan, pengetikan, penyuntingan, atau alih tulis, tetapi analisis ini tetap menggunakan kata-kata, yang biasanya disusun ke dalam teks yang diperlukan. Kedua, analisis ini terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu; reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan/verifikasi (Miles dan Huberman, 1992:15-21).

Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data “kasar” yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan, dalam hal ini peneliti mencatat hasil wawancara dengan informan berkaitan dengan struktur masyarakat, pelaku igrasi sirkuler,  prosesnya, dan maknanya, bagaimana makna migrasi bagi migran itu sendiri? bagaimana maknanya, migrasi demi anak-anak? bagaimana maknanya, migrasi mencari ilmu? bagaimana maknanya, migrasi meningkatkan status sosial seseorang di desanya? bagaimana maknanya migrasi merubah nasib? bagaimana efek migrasi terhadap lingkungan, tenaga kerja, dan kehidupan masyarakat? bagaimana pelaku migrasi mengkonstruksikan alasan yang mendasari tindakan mereka melakukan migrasi? bagaimana konstruksi sosial proses migrasi sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial, apakah ada keterkaitan antara proses migrasi itu dengan kesadaran akan jaringan sosial, apakah juga ada keterkaitan antara proses migrasi dengan jaminan sosial seperti jaminan keamanan, kesehatan terhadap keluarga (istri dan anak-anak) yang ditinggalkan? dan bagaimana konstruksi sosial makna migrasi sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial bagi pelaku migrasi itu sendiri?

Alur penting yang kedua dari kegiatan analisis data adalah penyajian data. Penyajian data di sini sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian data ini berbentuk teks naratif, teks dalam bentuk catatan-catatan hasil wawancara dengan informan penelitian sebagai informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan tentang fenomena migrasi sirkuler tersebut di atas.

Kegiatan analisis ketiga yang penting adalah menarik kesimpulan dan verifikasi. Dari permulaan pengumpulan data, seseorang penganalisis (peneliti) mulai mencari makna migrasi sirkuler dan prosesnya. Dengan demikian, aktifitas analisis merupakan proses interaksi antara ketiga langkah analisis data tersebut, dan merupakan proses siklus sampai kegiatan penelitian selesai.

F. Keabsahan Data

Data merupakan fakta atau bahan-bahan keterangan yang penting dalam penelitian. Sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan (aktivitas), dan selebihnya, seperti dokumen (yang merupakan data tambahan).

Kesalahan data berarti dapat dipastikan menghasilkan kesalahan hasil penelitian. Karena begitu pentingnya data dalam penelitian kualitatif, maka keabsahan data perlu diperoleh melalui teknik pemeriksaan keabsahan, seperti disarankan oleh Lincoln dan Guba, yang meliputi: kredibilitas (credibility), transferabilitas (transferability), dependabilitas (dependability), konfirmabilitas (confirmability) (Lincoln, dan Guba, 1985: 298-331).

Adapun penerapannya dalam praktek adalah bahwa untuk memenuhi nilai kebenaran penelitian yang berkaitan dengan fenomena migrasi sirkuler (proses dan maknanya) maka hasil penelitian ini harus dapat dipercaya oleh semua pembaca dan dari responden sebagai informan secara kritis, maka paling tidak ada beberapa  teknik yang diajukan, yaitu:

Pertama, perpanjangan kehadiran penelitian, dalam hal ini peneliti memperpanjang waktu di dalam mencari data di lapangan, mengadakan wawancara mendalam kepada (Sudarna) sebagai perintis migrasi sirkuler dan kepada migran yang lain tidak hanya dilakukan satu kali tetapi peneliti lakukan berulang kali, berhari-hari, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Hal ini peneliti lakukan dengan tujuan untuk memperoleh data yang benar, perlu diadakan ceking data sampai mendapatkan data yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Selanjutnya harus dilakukan pengamatan secara terus-menerus termasuk kegiatan pengecekkan data melalui informan lain untuk menanyakan kebenaran informasi dari Sudarna tersebut dan data yang lain yang penting. Dan kemudian data yang benar tersebut dilakukan triangulasi. Kebenaran data juga bisa diuji melalui diskusi dengan teman-teman sejawat, diskusi ini di samping sebagai koreksi terhadap kebenaran data yang merupakan hasil dari interpretasi informan penelitian juga untuk mencari kebenaran bahasa ilmiah dalam interpretasi terhadap interpretasi tersebut. Kemudian dilakukan analisis kasus negatif, pengecekan atas cakupan  referensi, dan pengecekan informan.

Kriteria kedua, untuk memenuhi kriteria bahwa; hasil penelitian yang berkaitan dengan fenomena migrasi yang dilihat sebagai realitas subjektif  dari perspektif fenomenologi, dapat diaplikasikan atau ditransfer kepada konteks atau setting lain yang memiliki tipologi yang sama.

Kriteria ketiga, digunakan untuk menilai apakah proses penelitian kualitatif bermutu atau tidak, dengan melakukan evaluasi apakah si peneliti sudah cukup hati-hati dalam mencari data, terjadi bias atau tidak? apakah membuat kesalahan dalam mengkonseptualisasikan rencana penelitiannya, pengumpulan datanya dan, penginterpretasiannya.

Sedangkan kriteria keempat, untuk menilai mutu tidaknya hasil penelitian, jika dependabilitas digunakan untuk menilai kualitas dari proses yang ditempuh oleh peneliti, maka konfirmabilitas digunakan untuk menilai kualitas hasil penelitian itu sendiri, dengan tekanan pertanyaan apakah data dan informasi, serta interpretasi dan lainnya didukung oleh materi yang cukup.

 

Standard

SEMINAR INTERNASIONAL

AN IMPACT OF ECONOMIC GLOBALIZATION ON THE  INDONESIAN INDUSTRIALIZATION PERFORMANCE

Tjipto Subadi, Didit Purnomo & Zainal Arifin

Economics School
School Of Trainer And Training Education
Muhammadiyah University Of Surakarta
Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Kartasura
Phone (0271) 717417,719483 Fax : 715448 Surakarta Central Java Indonesia

ABSTRACT
In globalization era, a process of long-term economic development can causes a change in a country’s economic structure. Indonesia, for example, has transformed from economy dominated by an agricultural sector to economic modern dominated by an industrial sector with dynamic increasing returns to scale as a main drive for economic growth. A manufacturing industrial sector as a characteristic of the Indonesian modern economy is not optimal. A manufacturing industry sector phenomenon in developed countries, included in Indonesia, is relatively underdeveloped. This results from such factors as low-skilled human  resources and low technology. Such a condition is greatly influenced by low-structural aspect such as dependence on high import, limited export and market, regional concentration, middle-sized technology industry, and low technology industry development; and low-organizational aspect such as underdeveloped-small-sized industry that consequently produces relatively small added-value, low capacity in technology transfer and development, and low human resource. The Indonesian manufacturing industrial performance makes export development and quality and
competitive export low. As a solution to the problem, it is necessary to develop such components as labor force efficiency, labor force’s education, organizational performance, financial-organizational performance, government policy evaluation, and accessibility to international trade. These will significantly affect an increase in economic growth and competitive export as a result of empowering a manufacturing industrial performance. Accordingly, for planning the future development, it needs to find an alternative industrialization strategy for developing a manufacturing industrial sector in this country. This strategy must increase an economic added-value, economic efficiency, and fall any dependence on import.

Fields of Research: Manufacturing industry, labor force, competitive export

1. INTRODUCTION
In recent years, many economists and critics think that globalization is a historical certainty; therefore, people throughout the world must face it. The idea is coined as a reaction to a few of economists who concern about developing uncertain global economy and that subject to any instability. It is primarily a consequence of increasingly wild global economy whereas all the countries do not have a strongly competitive potency for facing a global finance that can easily penetrate a boundary of county territory, and greatly makes a country difficult to control it.

Globalization era can change a pattern of the businessman’s behavior in production process, economic structure and a government’s economic policy. A change in production process can cover the use of production factors efficiently and intently and expand a trade and investment in tradable sectors, and nationally competitive industries. A change in economic structure may include a change in economic sector and traditionally-orientated sector to modern sector. This development can make any implication to a change in a policy of firm’s micro economy, macro economy, market, etc.

Globalization explains two main points: first, it describes a process of integrating global market into borderless market; and second, it plays a role in making an economy more efficiently and soundly toward developing people throughout the world. It means that according to the proponents of globalization, there will not be o option for all countries to be in the era if they leave behind or get isolated in increasingly-advanced global economy.

Globalization can cause a new challenge and chance for a development process in Indonesia. In such an era, businessmen will be more increasingly competitive. Consequently, each businessman must apply and implement a properly competitive strategy effectively and efficiently (Kuncoro, 2004). In this context, it must be necessary to employ a modern ‘war strategy.’ For achieving any successfulness in competition, it needs three points (D’Aveni, 1995): 1) a vision of change and interference; 2) a capability by keeping and developing a flexible and fast capacity for making a response to changes; and 3) a tactic influencing a competitor’s strategy and goal (Syamsiah Badruddin: 2009).

2. LITERATURE REVIEW
A process of developing a country’s economy is frequently termed as a process of structural transformation. This development process is remarked by change in sector contribution to national output as a consequence of shift in national labor force from industrial to service sectors. The service sector is said to be the highest stage of economic development process (Arief, 1998).

A development conception does not really need to be related to spatial aspects. In most cases, however, a development that is frequently formulated based on economic consideration is really favorable. This is reflected by such advanced countries as
Singapore, Hong Kong, and Australia. The economic policy of the countries is generally formulated conceptually in consideration with accountably socio-politic and environmental aspects. Therefore, an economic policy can be described transparently and fairly and it meets planning requirements. In the social aspect, people aspiration and social capital must be considered and kept, and their function must be developed. In terms of the environmental aspect, an aspect of natural capital must be preserved for human beings’ welfare. The most important thing, but, is a decision taking must be running well and free from a variety of moral hazard highly subject to vested interest and rent seeking. Thus, the outcomes of development can fairly be helpful for people across interregion and inter-generation. Empirically, the implication of spatial analysis aspect as stated above is less relevant (Nugroho and Rochmin Dahuri, 2004).

As stated by Tambunan (2001) in reference to a research by Chenery’s and Syrquin’s (1975) on a economic-structural transformation, in line with the raise of income per-capita, a country’s economy will shift from agricultural sector to industrial sector. This transformation can be seen from a value of aggregate output or added value for each sector in establishing gross domestic products (PDB). In a long term, the change shows a pattern of economic structure.

3. DATA AND METHODOLOGY
This article is an empiric study where the data used were secondary, including literatures and journals. The data were descriptively analyzed. Finding and Discussion A decision taking of industrial strategy needs a deep analysis internally and externally. There are two points in consideration: 1) industrial condition and its competitor; and 2) a firm’s capability to compete, resources, internal strength and weakness, and market positioning.

Tambunan (2001: 67-70) states that a manufacturing industrial sector in Indonesia also has a lot of problems, including technology and human resources. In comparison with other developed countries, primarily low-income countries or lower-industrial development countries, for example, Africa, South Asia (except India), and few of Central America, Indonesia has a potency or development of technology and qualified human resources.

In the study of a manufacturing industrial sector, UNIDO (2000) tries to classify the problems of sectors into two categories: 1) structural weakness and 2) organizational weakness.
a. Structural Weakness
The structural weaknesses are as follows:
1) export basis and limited market
2) dependence on high import
3) no middle-sized technological industry
4) regional concentration
b. Organizational Weakness
The organizational weaknesses are as follows:
1) underdeveloped small- and middle-sized Industry
2) market concentration
3) low capacity in transferring and developing teechology
4) low human resources

In their study, Setyawan and Patkhurrohman (2004) stated that nowadays Indonesia faces a serious-economic problem in relation to a low-growth export. It is due to ambiguity of industrialization policy. It is suggested that the policy be establishing an industry in relevant to the Indonesian economic potency. Establishing an industry, however, needs to consider several things: first, can its products be sold internationally? It will not be useful to develop an industry if its products are not sold. Second, is a newly-established industry needs a protection? Providing any protection to an industry is contrary with a free trade principle. In their research, Zhu and Trefler (2004) stated that any protection for an infant industry in a developed country is due to a very low-technological advance in comparison with advanced countries. Third, an industrialization policy is related to a country’s investment policy. This policy is essential to build a strategic partner with an investor. In their study, Ellis and Fausten (2004) found that the classification of foreign investment industry is dependent on what the strategic partner is.

In a view of a majority of countries, industrialization is greatly needed to ensure an economic growth. A lot of countries, in fact, state that there is no economy that merely relies on primary sectors to be able to reach a high income per capita, including Indonesia. Since a five-year development 1 (1969), Indonesia has done any industrialization. From 1969 to 1997 economic crisis, an income per capita in Indonesian people had highly raised annually. If the country merely had relied on agricultural and oil and gas sectors, Indonesian with 200 million people would have never achieved a 7% economic growth and an income per capita above US$1,000 in the mid of 1997. Industrialization is a logical stage in a process of change in an economic structure. This step is historically actualized by an increase in contribution to a manufacturing industrial sector in consumer demand, production, export, and work opportunity (Tambunan, 2001).

A result of annual survey by WFF (2007), published in The Global Competitiveness Report in 2007-2008 showed that from 131 countries in the research samples, Indonesia is in the ninety-third rank in terms of the following question: could the entrepreneurs (respondents) relied on police services for protecting their businesses from criminality (see Table below). The instability of a country may be a serious problem for an entrepreneur (if it does not cause a civil war), but a problem of criminality and unclear Act that protects a businessman’s rights in transactions of land trade and business dispute strongly disturbs or makes investors anxious to invest their capital in the country.

Ranks                                                      Countries
1                                                                Finland
2                                                                Denmark
3                                                                German
4                                                                Singapore
5                                                                Swiss
6                                                                Irish
7                                                                Hong Kong SAR
8                                                                Norway
9                                                                Austria
10                                                              Arabic Emirate Union
93                                                              Indonesia
131                                                            Venezuela

A result of survey by World Bank reported a number of interferences in a process of beginning an investment business in Indonesia, including a procedure, time and cost for a business. In general, the rank of ease for running a business was increasingly better, from the 133rd in 1996 to 123rd in 1997. In comparison with the ASEAN other countries, however, it was much worse. The country would be better in rank than Lesotho, Algeria, and Egypt. The most serious problem for running a business is a process of beginning a business that averagely take 105 days. It takes longer time than such countries as Singapore (5 days), Malaysia (24 days), Thailand (33 days), Vietnam (50 days), and Philippine (58 days). In this group, Indonesia is in the 168th of 178 countries.

Several issues in license in Indonesia can be classified into the following. First, an overlapping policy and less consistent makes an uncertainty for running a business. A lot of rules and regulations and inconsistency frequently reflect an unclearness of Act and cost; therefore, it is very difficult to rationally predict a profit in running a business. Second, many organizations without coordination ultimately makes an inefficient bureaucracy. A bad coordination among departments has been one of the classical problems in Indonesia.

Third, corruption directly results in an economy with a high cost. Ironically, Rustiani (2008) stated that the corruption always takes place in every public service, particularly license. Furthermore, she stated that a license structure of business in Indonesia has been a regime. This structure makes the Indonesian license take more time and be the most expensive in the world. Her arguments refer to a study by Asian Foundation in 5 municipalities/regencies in Indonesia, indicating that the length of time for HO, TDP, and SIUP takes 107 days with a cost of Rp. 931,000.

Actually, the Indonesian government has improved an investment climate at home. One of the real actions is issuing a new Act of investments, or generally termed as UU PMA No. 25, 2007. This Act has covered all essential aspects (including a service, coordination, facility, investors’ rights and obligation, labor force, and sectors that can be reached by investors) closely related to rise an investment by the government and an certainty for making an investment by investors or entrepreneurs.

In addition to a bad infrastructure, an inefficient government bureaucracy can also result in a serious problem in s business. The Indonesian institution is low in quality. Referring to a finding of survey on corruption perception by International Transparency, Indonesia positioned the 134th rank as the most corrupted of 163 countries in the world (BI, 2008). It is due to an increasingly bad coordination between central government and regional government for running a regional autonomy. Many government rule and regulations and Presidential decree can not work effectively because between central government and regional government has an interest in investing a capital in the region.

Whether this problem comes into being or there is no coordination central government and regional government is technically due to further statements, including in Article 11 of Act No 22 about Regional Government, and regional capital investment that can impact on an inefficiency in business license. Because of an unclear guide, the central government and regional government will be different from understanding an authority in regional capital investment. The bad coordination between the two governments has been a disincentive factor in growing an investment in the region. In addition, the bad coordination among the regional governments has resulted in a high economic cost. It is clearly due to the lack in vision and same understanding between central government and regional government or among the regional governments in relation to development or importance of investment. According to Astuti and Astono (2007), the bad coordination between the two governments is due to the following: in particular, the regional government frequently makes a policy that deviates from a fixed rule. Accordingly, it understands every policy differently when this is realized by an entrepreneur.

4. CONCLUSION AND IMPLICATION
A manufacturing-industrial performance in Indonesia shows a low export development and low competition. As a solution to the problem, it is necessary to develop such components as labor force efficiency, labor force’s education, organizational  performance, financial-organizational performance, government policy evaluation, and accessibility to international trade. These will significantly affect an increase in economic growth and competitive export as a result of empowering a manufacturing industrial performance. Accordingly, for planning the future development, it needs to find an alternative industrialization strategy for developing a manufacturing industrial sector in this country. This strategy must increase an economic added-value, economic efficiency, and fall any dependence on import.

5. REFERENCES
Arief, Sritua. 1998. Pembangunanisme dan Ekonomi Indonesia: Pemberdayan Rakyat dalam Arus Globalisasi. Zaman Wacana Mulia.

Blonigen, Bruce A, Christopher J Ellis dan Dietrich Fausten (2004). Industrial Groupings and Foreign Direct Investment. Journal of International Economics 65, pp 75-91.

Setyawan, Anton Agus dan Fatkhurrohman. 2004. Investasi, Ekspor Dan Masalah De Industrialisasi di Indonesia. Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol.5 No.2, Desember 2004.

Tambunan, Tulus. 2001. Industrialisasi di Negara Sedang Berkembang: Kasus di Indonesia. Ghalia Indonesia.

Thompson, Athur A., dan A.J. Strickland III, 2003, Strategic Management: Concepts and Cases, New York: McGraw-Hill, Irwin.

Zhu, Susan Chun dan Daniel Trefler (2004). Trade and Inequality in Developing Countries: A General Equilibrium Analysis, Journal of International Economics 65, pp 21-48.

 

 

Standard

SEMINAR NASIONAL “Menyongsong Implementasi Permeneg. PAN&RB Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya”

PENGEMBANGAN KEPROFESIAN GURU

MELALUI PUBLIKASI ILMIAH DAN  KARYA INOVATIF

Tjipto Subadi 1)

1) Dosen Pendidikan Geografi FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta

Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Kartasuta Surakarta 57102

e-mail: tjipto.subadi@ums.ac.id

HP. 0816652241

Abstrak

 Tujuan tulisan ini akan mengkaji dan mendeskripsikan strategi menyusunan artikel ilmiah untuk publikasi jurnal Nasional. Metode: 1) Kegiatan pendahuluan, yaitu membuat proposal penelitian yang didesain untuk skim penelitian hibah kompetitif. 2) Kegiatan inti, kegiatan inti ini terdiri dari kegiatan penelitian dan penulisan artikel ilmiah untuk dipublikasikan pada jurnal Nasional. 3) Kegiatan penelusuran (mencari) jurnal yang tidak abal-abal. 4) Kegiatan pengiriman artikal pada jurnal tersebut. Kesimpulan: artikel ilmiah adalah tulisan ilmiah yang memenuhi persyaratan minimal sebagai tulisan ilmiah yang beriputasi ilmiah., persyaratan itu antara lain: Judul artikel yang baik bersifat ringkas, informatif dan deskriptif. Nama dan Alamat Penulis. Identitas penulis dan alamat e-mail. Abstrak dan Kata Kunci (Abstract and Keywords). Pendahuluan (Introduction) yang memuat latar belakang permasalahan/konsep/hasil penelitian sebelumnya, Metode (Methods). Hasil dan Pembahasan (Results and Discussion). Simpulan dan Saran (Conclusion and Suggestion) ucapan Terimakasih (Acknowledgement). Daftar Pustaka (References. Lampiran-lampiran

Kata Kunci: Strategi, menyusun, karya, ilmiah, publikasi, jurnal, internasonal

Pendahuluan

Publikasi karya ilmiah guru meliputi: Laporan hasil penelitian yang diseminarkan di sekolahnya, disimpan di perpustakaan; Tinjauan ilmiah yang tidak diterbitkan,  disimpan di perpustakaan; Artikel Ilmiah Populer yang dimuat di media masa tingkat nasional/provinsi; Artikel Ilmiah yang dimuat di jurnal tingkat nasional/propvinsi/kabupaten/kota; Buku  pelajaran yang lolos BSNP/ber-ISBN/belum ber-ISBN; Modul/diktat tingkat Provinsi/kota/kabupaten/ sekolah/madrasah; Buku pendidikan ber-ISBN/belum ber-ISBN; Karya hasil terjemahan; Buku pedoman guru (rencana kegiatan guru tahunan)

Sedangkan karya inovatif yang dapat diajukan sebagai angka kredit adalah: Menemukan teknologi tepat guna; Menemukan/menciptakan karya seni; Membuat/memodifikasi alat       pelajaran/peraga/praktikum; dan Mengikuti pengembangan penyusunan standar, pedoman, soal dan sejenisnya. Guru juga dituntut memiliki kemampuan menulis karya ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal nasional.

Karya lmiah (scientific paper) merupakan publikasi tertulis dan diterbitkan, menjelaskan hasil dari research yang telah dilakukan oleh ilmuan dengan memenuhi kaidah dan etika akademik. Publikasi karya ilmiah yang dimaksud dalam tulisan ini adalah merupakan salah satu indikator utama kinerja guru.

Tuntutan pemerintah kepada guru agar menulis artikel yang dipublikasikan pada jurnal/media masa lain juga berlaku pada dosen disuatu Perguruan Tinggi, sebab hal ini menjadi indikator Perguruan Tinggi apakah Perguruan Tinggi itu termasuk Perguruan Tinggi yang berkualitas atau tidak?

Rendahnya produktivitas publikasi Perguruan Tinggi di Indonesia mendorong Dirjen DIKTI mengeluarkan surat edaran nomor 152/E/T/2012 yang mewajibkan mahasiswa di semua strata untuk mempublikasikan karya ilmiahnya. Sejalan dengan kebutuhan publikasi tersebut, saat ini banyak sekali kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh berbagai pihak untuk memenuhi kewajiban publikasinya. Kecurangan tersebut bisa berada pada proses penulisan dengan cara melakukan tindakan plagiasi maupun pada proses publikasinya dengan cara melakukan publikasi di jurnal yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kredibilitasnya atau sering disebut sebagai jurnal abal-abal. Dalam rangka menjaga etika dalam publikasi karya ilmiah tersebut, diterbitkan Permendiknas nomor 17 tahun 2010 yang mengatur mengenai tindakan plagiasi, dimana pihak Perguruan Tinggi berwenang melakukan penyelidikan jika ditenggarai ada plagiasi di Perguruan Tinggi tersebut. Selain itu masih banyak regulasi dan pedoman untuk mengantisipasi publikasi civitas akademika di jurnal abal-abal. Sumber, http:// seminar. unej.ac.id/ index.php/PPPA/PPPA-2014

Dalam menunjang kerja professional seorang dosen selain mengajar, ia harus melakukan pengabdian kepada masyarakat dan aktifitas akademik lain yaitu penelitian. Itulah sebabnya pmerintah mewajibkan Perguruan tinggi menyelenggarakan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat disamping melaksanakan pendidikan sebagaimana diamanahkan oleh Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 20. Sejalan dengan kewajiban tersebut, Undang-undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi Pasal 45 menegaskan bahwa penelitian di Perguruan Tinggi diarahkan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan daya saing  bangsa. Dalam pasal tersebut juga ditegaskan bahwa pengabdian kepada masyarakat  merupakan kegiatan civitas akademika dalam mengamalkan dan membudayakan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. (Panduan Pelaksanaan  Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat Di Perguruan Tinggi Edisi IX. Halaman 1)

Data Times Higher Education Supplement (THES) pada tahun 2008 menunjukkan bahwa hanya 3 Perguruan Tinggi di Indonesia (UI, ITB, dan UGM) yang masuk dalam peringkat 500 tertinggi di dunia. Data tahun 2006 menunjukkan UI menduduki peringkat 250, turun menjadi 395 pada tahun berikutnya. ITB menduduki peringkat 258 pada tahun 2006 dan turun menjadi 369, dan UGM dari peringkat 270 menjadi 360. Mundurnya peringkat oleh ke-3 Perguruan Tinggi tersebut harus dikhawatirkan. 2) Rendahnya publikasi ilmiah para dosen di Perguruan Tinggi di Indonesia diduga disebabkan oleh rendahnya kemampuan atau mungkin juga rendahnya dorongan para dosen untuk menuliskan hasil penelitiannya di jurnal ilmiah bereputasi Internasional, padahal skim penelitian kompetitif yang didanani Dikti seperti: Hibah Bersaing, Penelitian Fundamental, dan Hibah Tim Pascasarjana secara jelas menuntut output penelitian dalam bentuk publikasi ilmiah pada jurnal bereputasi Internasional. (Sumber: https://mishbahulmunir.wordpress.com/2009/05/25/….)

Kinerja publikasi ilmiah oleh guru di Indonesia masih tergolong kurang jika disbanding dengan Negara lain. Jumlah publikasi di jurnal masih sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlah guru yang ada. Oleh karena itu perlu dilakukan akselerasi jumlah publikasi tersebut.

Permasalahnya rendahnya jumlah publikasi oleh guru di Indonesia disebabkan  kemampuan menulis yang masih lemah, pengetahuan tentang tata cara publikasi pada jurnal yang masih kurang, serta motivasi menulis yang masih kurang. Solusinya adalah dilakukan seminar dan workshop (pelatihan) PENGEMBANGAN KEPROFESIAN GURU MELALUI PUBLIKASI ILMIAH DAN  KARYA INOVATIF

Jenis Kontribusi

Jenis konstribusi penulisan karya ilmiah untuk publikasi jurnal diarahkan pada pemilihan judul, antara lain; judul tidak harus persis (sama) dengan judul penlitian, jenis kontribusi yang tidak kalah penting adalah artikel asli (original paper),  ulasan (telaah pustaka, tren riset), proses koreksi yang ketat oleh editorial, karya ilmiah merupakan hasil penelitian yang merupakan laporan temu ilmiah yang dilengkapi dengan timbangan buku dan panduan panduan penulisan.

Ada prasyarat mutlak, yaitu ada hasil penelitian yang sudah dirancang dan dilakukan dengan benar, dianalisis dengan baik dan benar, data telah disederhanakan dalam bentuk tabel atau grafik, sudah dikuasai dan dibahas, sudah menghasilkan simpulan, dan sudah menemukan implikasi.

Yang tidak kalah penting untuk diperhatikan bahwa karya ilmiah harus bebas dari plagiat. Untuk menghindari penjiplakan, sebaiknya penulis selalu menyebutkan sumbernya apabila artikel itu menggunakan gagasan, pendapat, dan teori orang lain. Termasuk hal itu fakta, statistik, gambar, foto, lukisa, dan informasi apapun yang bukan merupakan pengetahuan umum, kutipan dari tuturan atau tulisan orang lain, itu semua harus mencantumkan sumber dari mana dikutip.

Menteri Pendidikan Nasional Jerman Anette Schavan, menghadapi dugaan bahwa sebagian dari tesisnya merupakan plagiat. Schavan diduga telah mencantumkan kutipan hasil penelitian Sigmund Freud yang diklaimnya melalui sumber asli. Padahal penulis ini mendapatkan kutipan tersebut dari literatur lain yang mengutip Freud. Artinya, Schavan mengutip Freud dari sumber sekunder. Sumber: http://krjogja.com/read/129058/mendiknas-jerman-terlibat-kasus-plagiat.kr

Presiden Hongaria Pal Schmitt meletakkan jabatan pada Senin (2/4/2012) setelah gelar doktornya pada 1992 dicabut sesudah adanya pernyataan ia menjiplak sebagian dari disertasi setebal 200 halaman. Sumber:http://internasional.kompas.com/read/2012/04/03/07454695/  Presiden.Hongaria.Mundur.karena.Kasus.Plagiat Presiden Hongaria Mundur karena Kasus Plagiat Terkait. Harian Kompas dalam Kompas.Com memaparkan Presiden Hongaria Pal Schmitt meletakkan jabatan pada Senin (2/4/2012) setelah gelar doktornya pada 1992 dicabut sesudah adanya pernyataan ia menjiplak sebagian dari disertasi setebal 200 halaman.

Fenomena plagiasi kasus pelanggaran etika karya ilmiah. Republika.co.id, Jakarta mencatat;  Selama setahun terakhir ini, tepatnya sepanjang 2012 hingga pertengahan 2013, lebih dari 100 dosen setingkat lektor, lektor kepala, dan guru besar, di Indonesia tertangkap melakukan plagiarisme (penjiplakan). Akibatnya, dua dosen dipecat dan empat lainnya diturunkan pangkat jabatannya.  Di kurun waktu yang sama, sekitar 400 perguran tinggi swasta (PTS) diketahui telah melakukan pemalsuan data serta dokumen.Tempo.co/red/news/2012/03/03 juga mencatat satu dari tiga orang dosen bergelar doktor yang dikenai sanksi oleh Universitasnya karena kasus plagiat mengaku teledor. “Tidak ada unsur kesengajaan pencontekan tanpa sumber,” kata lewat pesan pendek kepada Tempo, Jumat malam 2 Maret 2012.

Telaah Bestari

Artkel yang baik disarankan memperhatikan telaah bestari, biasanya penelaahan oleh Mitra Bestari (1) yang biasanya diarahkan pada menjawab pertanyaan, Apakah telah menggunakan bahasa Indonesia/ Inggris yang baik & benar? Apakah judul naskah cukup ringkas dan dapat melukiskan isi makalah dengan jelas? Apakah abstrak telah merangkum secara singkat dan jelas tentang; tujuan, metode yang digunakan, apakah sudah ada simpulan penelitian? Apakah pendahuluan sudah menguraikan secara jelas tentang; masalah & ruang lingkup, hipotesis (jika ada)? Apakah cara pendekatan penyelesaian masalah, hasil yang diharapkan, tata kerja telah ditulis secara jelas sehingga percobaan tersebut dapat diulang? (Setiati Achmadi. Materi TOT Nasional, Dikti 2013)

Penelaahan oleh Mitra Bestari (2) yang biasanya diarahkan pada pertanyaan Apakah hasil dan pembahasan disusun secara rinci? 1) Apakah data yang disajikan telah diolah, dituangkan dalam bentuk tabel atau gambar, serta diberi keterangan yang mudah dipahami? 2) Apakah pada bagian pembahasan terlihat adanya kaitan antara hasil yang diperoleh dan konsep dasar dan atau hipotesis? 3) Apakah ada kesesuaian atau pertentangan dengan hasil litbang lain? (4) Apakah sudah ada implikasi hasil litbang baik teoretis maupun penerapan? Apakah simpulan berisi secara singkat dan jelas tentang; a) esensi hasil litbang, b) penalaran penulis secara logis dan jujur berdasarkan fakta yang diperoleh? Apakah daftar pustaka sudah ditulis benar sesuai dengan petunjuk? kemutakhiran pustaka rujukan? keprimeran pustaka rujukan? (Setiati Achmadi. Materi TON Nasional, Dikti 2013)

 

Prinsip Penyuntingan

Artikel yang baik selalu memperhatikan prinsip penyuntungan, prinsip penyuntingan ini antara lain; dilkukan dengan hati-hati, tdak boleh membuat perubahan hanya semata-mata karena ingin mengubah atau karena gaya yang disukai. Gunakan pensil hitam lunak, bukan pena berwarna, dan selalu siapkan karet penghapus. Jika ada kesangsian mengenai pilihan kata yang lebih baik dari anda atau dari penulis-gunakan yang dari penulis. Sesungguhnya, naskah adalah milik penulis, bukan milik anda.

Mekalukan penyuntingan makro, masalah penting yang harus diperhatikan dalam menyusun artikel ilmiah untuk publikasi jurnal ilmiah antara lain; menyusun ulang (reorganisasi) naskah, memperbaiki hubungan antara kalimat dan paragraf, mengefektifkaan kalimat yang panjang lebar, memberi tajuk (heading), ringkasan, dan rambu (guidepost) lain bagi pembaca, menulis ulang pendahuluan dan penutupan, mengecek logika, memendekkan panjang naskah, mengubah nada (tone), mengubah kalimat pasif menjadi aktif (umumnya dalam naskah berbahasa Inggris), menemukan kata konkret untuk generalisasi, mengganti kata yang rumit dengan kata sederhana, dengan kata lain, memasukkan aturan keterbacaan teks.

Melakukan penyuntingan mikro, membetulkan kesalahan tata bahasa, ejaan, tanda baca, memperbaiki kesalahan dalam fakta, apakah angka muncul sebagai digit atau kata (“11” atau “sebelas”, “March 11, 2002” atau “11 March 2002”, “DNA” atau “asam deoksinukleat”), menyesuaikan dengan gaya selingkung yang sudah mapan, misalnya; keterangan dan fon pada gambar.

Ketentuan Judul

Penulis harus memperhatikan jumlah kata (15–25?), memerikan isi artikel dengan cermat, memerikan subjek penelitian dengan ringkas, hindari singkatan, rumus, dan jargon, biasanya tidak mengandung kata kerja dan singkatan, mudah dipahami, mengandung kata kunci à mempermudah sistem penelusuran dan indeks subyek, perlu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, contoh pemuatan kata yang tidak penting: “Pengalaman dari Praktik Sehari-hari …”; “Beberapa Faktor yang Menentukan …”; “Analisis …”; “Studi Kasus …”; “Pengaruh …”

Penulisan Abstrak

Abstrak ditulis secara singkat atau pendek (»200 kata), sesuai dengan kebijakan berkala, biasanya hanya 1 paragraf, ditulis dengan kalimat penuh, bukan telegram, dapat berdiri sendiri jika dipisahkan dari makalahnya à jadi, unsur harus lengkap: tujuan penelitian, ringkasan metode, simpulan utama, dan kata kunci.  Abstrak dalam bahasa Inggris Þ jangkauan pembaca akan lebih luas; wajib untuk jurnal berakreditasi. Hal yang hrs dihindari dalam abstrak; abstrak tidak mencantumkan tabel, ilustrasi, rujukan, singkatan dan akronim yang tidak dijelaskan, tidak memuat informasi atau simpulan yang tidak ada dalam naskah.

Pendahuluan/Penulisan Latar Balakang

Pendahuluan berisi uraian masalah atau alasan penelitian, pernyataan logis yang mengarah ke hipotesis atau tema pokok, status ilmiah dewasa ini , hipotesis (kalau ada) dinyatakan dengan jelas, hipotesis tidak selalu tersurat, panjang tidak lebih dari 2 halaman ketik atau 2-3 paragraf, mungkin tidak semua masalah yang akan diatasi, cara pendekatan atau memecahkan masalah, tidak perlu dalam bentuk kalimat tanya, sering mengacu pustaka yang menjadi landasan atau alasan penelitian, hasil yang diharapkan

 

Metode.

Metode dirumuskan secara cermati: tak ada kerancuan dalam singkatan atau nama, semua kuantitas dalam satuan baku, semua bahan kimia dinyatakan secara spesifik agar peneliti lain dapat mengulanginya dengan tepat, setiap langkah dinyatakan, termasuk jumlah ulangan, semua teknik/prosedur dinyatakan (sebut nama jika bakuan, atau uraian jika prosedur baru atau dimodifikasi), tak ada hal yang tidak berkaitan dengan hasilnya kemudian, tak ada remeh-temeh yang dapat membingungkan pembaca, uraian cukup terperinci (bahan-penarikan, misalnya dalam  analisis – pengolahan data) sehingga keterulangan hasil dapat dijamin, hindari bentuk kalimat perintah dalam menguraikan prosedur. Diskripsi yang kurang baik: Penelitian ini merupakan penelitian bersifat “deskriptif”. Penelitian deskriptif ialah … atau …Penelitian ini menggunakan responden. Responden ialah … alat seperti gunting, gelas ukur, pensil, … ® tak perlu ditulis, tetapi perincilah peralatan analitis (bahkan sampai ke tipe).

 

Hasil Penelitian

Dalam penulisan hasil penelitian ada keberanian peneliti untuk melakukan tindakan. Pangkas: pengulangan prosedur, pengulangan data, data yang tidak berkait langsung dengan tujuan penelitian, gambar yang tidak perlu atau tidak diacu, kata-kata yang tidak perlu, misalnya “Tabel 5 menunjukkan …” tetapi  “… (Tabel 5)”… Yang Diperhatikan adalah hasil disajikan secara bersistem Þ lihat ‘tujuan penelitian’ atau hipotesis, hasil didukung oleh olahan data dan ilustrasi yang baik, jangan menarasikan angka dalam tabel atau ilustrasi.

 

Pembahasan

Pembahasan penelitian berisi bahasan hasil penelitian sendiri, dibandingkan /dihubungkan dengan penelitian lain yang sejenis. Pastikan bahwa penulis telah melakukan pembahasan berurut sesuai dengan urutan dalam tujuan, menangani setiap tujuan penelitian yang hendak dicapai, semua hal yang dibahas sudah dijelaskan lebih dulu, tidak ada yang tiba-tiba muncul, hindari perincian yang tidak perlu atau pengulangan dari bagian-bagian sebelumnya, tafsirkan hasilnya dan sarankan implikasinya untuk penelitian y.a.d. Perhatikan pertanyaan-pertanyaan ini dalam pembahasan; tercerminkah kecendekiaan penulis? logiskah argumentasi penulis? bagaimana penulis mengaitkan dengan pendapat atau hasil penelitian lain? bagaimana mengaitkan antara hasil yang diperoleh dan konsep dasar dan atau hipotesis? adakah implikasi hasil penelitian baik teoretis maupun penerapan? bermanfaatkah tafsiran penulis? adakah keterbatasan temuan? adakah spekulasi yang berlebihan? apakah pendapat penulis terkemas dalam paragraf yang baik?

 

Kesimpulan dan Saran

Apakah simpulan dituliskan secara kritis? Cermat? Logis dan jujur berdasarkan fakta yang diperoleh? Simpulan bukan rangkuman hasil, Apakah generalisasi dibuat dengan hati-hati? Apakah saran berkait dengan pelaksanaan atau hasil penelitian? Apakah saran terkesan mengada-ada?

 

Catatan Kaki atau Catatan Akhir

Jika penilis akan menggunakan catatan kaki hendaknya dinyatakan dengan angka (1, 2) huruf (a, b), atau lambang (*, #),  dapat digunakan untuk informasi penting seperti alamat penulis, alamat penulis korespondensi, hapus catatan kaki yang tidak berkaitan atau tidak menambah argumen, dan sedapat-dapatnya hindari catatan kaki dalam teks karena dapat mengganggu konsentrasi pembaca.

 

 

Ucapan Terima Kasih

Apakah ucapan terima kasih disampaikan kepada pihak yang pantas? kepada lembaga atau orang yang benar-benar membantu penelitian, kepada pemberi dana, fasilitas, bahan, atau saran, juga untuk pernyataan apabila makalah merupakan bagian dari tesis/disertasi. Apakah terima kasih diungkapkan secara wajar?

 

 

Daftar Pustaka.

Dalam hal daftar pustaka ada keragaman dalam penyusunan daftar pustaka ; lihat aturan jurnal, perhatikan singkatan untuk nama jurnal: Phys. (= Physics), Biol. (= Biology) , jumlah pustaka tidak perlu banyak, yang penting: mutu acuan (primer, mutakhir, relevan), tulis nama dengan lengkap (nama depan dan nama belakang) di Daftar Pustaka, nama penerbit dan satu nama kota: New York: Academic Press. Kata kunci: ABC (accurate, brief, clear) akurat, singkat, jelas.

 

Penulisan Refenasi.

Nama pengarang lengkap supaya mudah diidentifikasi (kalau diminta, baru gunakan singkatan nama depan), urutan nama penulis harus disepakati, majalah Nature 352:187, 18 Juli 1991: sistem skor untuk menentukan posisi urutan kepengarangan, tak perlu gelar akademik, cantumkan nama (-nama) yang benar-benar penulis, tetapkan siapa penulis korespondensi (diberi tanda), penyunting dapat meminta konfirmasi dari semua penulis, Taat asas dalam menuliskan nama, khususnya mereka yang tidak memiliki nama keluarga (Contoh : Tjipto Mangun Kusumaà Jangan: Tjipto MK, tetapi : Tjipto M Kusuma, atau TM Kusuma  Þ nama akan terindeks dalam nama penulis: abjad dan urutan yang berbeda-beda Þ merugikan penulis.

 

 

DAFTAR PUSTAKA       

 

Agus Sigit.2012. Mendiknas Jerman Terlibat Kasus Plagiat?. Yogyakarta: Kedaulatan Rakyat.

Sumber: http://krjogja.com/read/129058/mendiknas-jerman-terlibat-kasus-plagiat.kr.

 

Aris Sanyoto. 2013. Etika Penulisan Ilmiah. Pelatihan Penulisan Ilmiah. Balai Diklat-2013 (Naskah tidak diterbitkan)

 

Dikti. 2014. Panduan Pelaksanaan  Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat Di Perguruan Tinggi Edisi IX.  Jakarta: Dikti Halaman 1

 

DPPM UII. 2009. Bagaimana Cara Menulis Artikel Ilmiah untuk di Publikasi di Jurnal Internasional? Ygyakarta: DPPM UII Membuat Pelatihannya, 10 Juni 2009. Pelatihan Penulisan Artikel Ilmiah untuk Publikasi Jurnal Internasional DPPM UII.

 

Neville C. Plagiarism. Dalam: The complete guide to referencing and avoiding Plagiarism. New York: Open University Press, the McGraw-Hill; 2007. p. 27-41.

 

News Interational. 2012. Presiden Hongaria Mundur karena Kasus Plagiat. (dalam Budapest, Kompas.com). Selasa, 3 April 2012. 07:45 WIB. Sumber:http://internasional.kompas.com/  read/2012/04/03/07454695/  Presiden.Hongaria.Mundur.karena.Kasus.Plagiat.

 

Rifai, Mien A. Pegangan Gaya Penulisan, Penyuntingan dan Penerbitan Karya Ilmiah Indonesia. Yogyakarta:Gadjah Mada University Press; cet. 4. 2004.

 

Suryono, Isnani A.S. “Plagiarisme dalam Penulisan Makalah Ilmiah”. Naskah tidak diterbitkan.

Setiati Achmadi. 2013. Materi TON Nasional, Dikti 2013. (Materi tidak diterbitkan)

 

UN. Jember. 2014. Pelatihan dan Pendampingan Penulisan Artikel pada Jurnal dan Konferensi Ilmiah. Kampus Tegalboto Universitas Jember. December 1, 2014 – December 1, 2014.

DPPM UII. 2009. Pelatihan Penulisan Artikel Ilmiah untuk Publikasi Jurnal Internasional.

 

 

Standard

TUGAS INDIVIDUAL INOVASI PENDIDIKAN (Prodi: PBSI FKIP-UMS) Smt Gnp 2014/2015

TUGAS INDIVIDUAL

Mata Kuliah : Inovasi Pendidikan

Dosen           : Dr. Tjipto Subadi, M.Si

Fak/Prodi/PT: FKIP/PBSI/UMS

Semester/th.  : Genap 2014/2015

 Translate to Indonesia

 

 A. Educational Innovation

Talking about innovation can be not only a reason of discussing but also a very important and interesting topic to confer about in any area given that everybody is always trying to innovate their lives in order to simplify and improve their tasks within their daily living, it means innovation is a useful tool in every single field in which people are involved and obviously some of the most important one is the educational field, since education is part of the living process practically for everybody and it means people are going to increase their skills in the same way education also increase its level, and the best way of increasing is innovating in each step and process related to the educational purpose in which every single person is involved, however there is a significant question to take into account. Is innovation the use and implementation of new technology? Definitely technology in an isolated way is not as functional as it can be expected if there is not a satisfactory preparation for those who are in charge of the educational process, for this reason education is not going to be innovated if teachers are not innovated first, or if the innovation process is not successful or appropriated or even worst if it is not included within the syllabus taught in the different educational issues.

Currently there are many teachers who really want to improve or innovate the education process, and some of them in certain institutions have the necessary tools to do it, those tools mean mainly technology, in Costa Rica there are the famous Promece High School which nowadays are named Innovation Institutions, these institutions are supplied with important technological equipment such as lap tops, projectors, smart boards, innovating software and others. Supposedly learners who study in those kinds of High Schools have a very well and innovating educational process given that the material those institutions posses is very sophisticated. It means a second language learning must be more successful than other ones in which there are not those kinds of material, but it does not happen as well as it suppose to, there is an easy explanation and also a new question. Why learning a second language process is not flourishing if software, technology and teachers are appropriated to the process? The explanation to this interrogation is that maybe teachers or at least most of them are not well prepared to use this kind of technology and consequently they are not able to innovate even their own way of working or learning, on the other hand it does not mean that technology is the only way to innovate, however it is the best way to create and obtain new ideas to use in class with students in order to get them more interested in the learning process than using the same traditional process in which the teaches is the only knowledge carrier, besides it has been demonstrated through time that this way of teaching is not the most proper for the learning process. Nonetheless it is not always the teachers fault because they cannot teach something they have not learned, and inventing or improvising due to lack of knowledge is not a good solution. The government should encourage teachers institutions and students not only through the implementation of technological material but also training teachers about the accurate use of the equipment, given that at the end it is much easiest to take advantage of innovation when the first innovated piece of the educational process is the teacher, because technology without knowledge would be as uselessness as having a library but with no books.

The syllabus is the other responsible of using technology inappropriately in the educational institutions, in the same way it does not allow students to be innovated given that syllabus for many subjects have not changed in many years, for instance the English syllabus in Costa Rica has been the same for almost 10 years, and does not include innovation basically at all. So, the coherence among learning a second language process, teachers preparation, students interest, innovation, technology and instructions is not functioning properly, if the government really wants to innovate education it has to start innovating the syllabus in which are immerse the instructions which teachers as guides will be transmitting to their students in order to sophisticate their ideas as their ways of thinking with the only purpose of obtaining a real innovation in educative system that sooner or later will become an innovating country.
Innovation in education is not as simple as buying sophisticated equipment and take it to the educative institutions, it is extremely necessary to have innovated teachers who are not going to develop an innovated educative process only if high technology is present, an innovative teacher is that one who is periodically presenting their students new activities to make easier, interesting and better their knowledge acquisition and teaches their students also the importance to keep always looking for their best option to make more efficient their learning, but it is almost impossible for a body to function properly if the head does not do it well, it means modifications in the syllabus is so important either in English as any other language taught, and the rest of the subjects.

Sumber: http://jporrasba.blogspot.com/2010/06/educational-innovation.html

B.  Diffusion of Innovations is a theory of how, why, and at what rate new ideas and technology spread through cultures. The concept was first studied by the French sociologist Gabriel Tarde (1890) and by German and Austrian anthropologists such as Friedrich Ratzel and Leo Frobenius.[1] Its basic epidemiological or internal-influence form was formulated by H. Earl Pemberton[2], who provided examples of institutional diffusion such as postage stamps and compulsory school laws.

Diffusion of innovation theory seeks to explain the spread of new ideas. First developed in the early 1950s using research in rural sociology, it continues to be widely used. Rogers proposed 4 main elements that influence the spread of a new idea: the innovation, communication channels, time, and a social system. That is, diffusion is the process by which an innovation is communicated through certain channels over time among the members of a social system. Individuals progress through 5 stages: knowledge, persuasion, decision, implementation, and confirmation. If the innovation is adopted, it spreads via various communication channels. During communication, the idea is rarely evaluated from a scientific standpoint; rather, subjective perceptions of the innovation influence diffusion. The process occurs over time. Finally, social systems determine diffusion, norms on diffusion, roles of opinion leaders and change agents, types of innovation decisions, and innovation consequences. To use Rogers’ model in health requires us to assume that the innovation in classical diffusion theory is equivalent to scientific research findings in the context of practice, an assumption that has not been rigorously tested.[3]

The origins of the diffusion of innovations theory are varied and span across multiple disciplines. Rogers identifies six main traditions that impacted diffusion research: anthropology, early sociology, rural sociology, education, industrial, and medical sociology. The diffusion of innovation theory has been largely influenced by the work of rural sociologists [4]. In the book Diffusion of Innovations, Rogers synthesizes research from over 508 diffusion studies and produces a theory for the adoption of innovations among individuals and organization.

Elements

The key elements in diffusion research are: Elements

Element

Definition

Innovation Rogers defines an innovation as “an idea, practice, or object that is perceived as new by an individual or other unit of adoption” [5].
Communication channels A communication channel is “the means by which messages get from one individual to another” [6].
Time “The innovation-decision period is the length of time required to pass through the innovation-decision process” [7]. “Rate of adoption is the relative speed with which an innovation is adopted by members of a social system” [8].
Social system “A social system is defined as a set of interrelated units that are engaged in joint problem solving to accomplish a common goal” [9].

Decisions

Two factors determine what type a particular decision is :

Whether the decision is made freely and implemented voluntarily, Who makes the decision.

Based on these considerations, three types of innovation-decisions have been identified within diffusion of innovations.

Type

Definition

Optional Innovation-Decision This decision is made by an individual who is in some way distinguished from others in a social system.
Collective Innovation-Decision This decision is made collectively by all individuals of a social system.
Authority Innovation-Decision This decision is made for the entire social system by few individuals in positions of influence or power.

Mechanism

Diffusion of an innovation occurs through a five–step process. This process is a type of decision-making. It occurs through a series of communication channels over a period of time among the members of a similar social system. Ryan and Gross first indicated the identification of adoption as a process in 1943 (Rogers 1962, p. 79). Rogers categorizes the five stages (steps) as: awareness, interest, evaluation, trial, and adoption. An individual might reject an innovation at any time during or after the adoption process. In later editions of the Diffusion of Innovations Rogers changes the terminology of the five stages to: knowledge, persuasion, decision, implementation, and confirmation. However the descriptions of the categories have remained similar throughout the editions.

Five stages of the adoption process

Stage

Definition

Knowledge In this stage the individual is first exposed to an innovation but lacks information about the innovation. During this stage of the process the individual has not been inspired to find more information about the innovation.
Persuasion In this stage the individual is interested in the innovation and actively seeks information/detail about the innovation.
Decision In this stage the individual takes the concept of the innovation and weighs the advantages/disadvantages of using the innovation and decides whether to adopt or reject the innovation. Due to the individualistic nature of this stage Rogers notes that it is the most difficult stage to acquire empirical evidence (Rogers 1964, p. 83).
Implementation In this stage the individual employs the innovation to a varying degree depending on the situation. During this stage the individual determines the usefulness of the innovation and may search for further information about it.
Confirmation Although the name of this stage may be misleading, in this stage the individual finalizes their decision to continue using the innovation and may use the innovation to its fullest potential.

Rates of adoption

The rate of adoption is defined as: the relative speed with which members of a social system adopt an innovation. It is usually measured by the length of time required for a certain percentage of the members of a social system to adopt an innovation (Rogers 1962, p. 134). The rates of adoption for innovations are determined by an individual’s adopter category. In general individuals who first adopt an innovation require a shorter adoption period (adoption process) than late adopters.

Within the rate of adoption there is a point at which an innovation reaches critical mass. This is a point in time within the adoption curve that enough individuals have adopted an innovation in order that the continued adoption of the innovation is self-sustaining. In describing how an innovation reaches critical mass, Rogers outlines several strategies in order to help an innovation reach this stage. These strategies are: have an innovation adopted by a highly respected individual within a social network, creating an instinctive desire for a specific innovation. Inject an innovation into a group of individuals who would readily use an innovation, and provide positive reactions and benefits for early adopters of an innovation.

Characteristics

Rogers defines several intrinsic characteristics of innovations that influence an individual’s decision to adopt or reject an innovation. The relative advantage is how improved an innovation is over the previous generation. Compatibility is the second characteristic, the level of compatibility that an innovation has to be assimilated into an individual’s life. The complexity of an innovation is a significant factor in whether it is adopted by an individual. If the innovation is too difficult to use an individual will not likely adopt it. The fourth characteristic, trialability, determines how easily an innovation may be experimented with as it is being adopted. If a user has a hard time using and trying an innovation this individual will be less likely to adopt it. The final characteristic, observability, is the extent that an innovation is visible to others. An innovation that is more visible will drive communication among the individual’s peers and personal networks and will in turn create more positive or negative reactions.

Adopter categories

Rogers defines an adopter category as a classification of individuals within a social system on the basis of innovativeness. In the book Diffusion of Innovations, Rogers suggests a total of five categories of adopters in order to standardize the usage of adopter categories in diffusion research. The adoption of an innovation follows an S curve when plotted over a length of time.[10] The categories of adopters are: innovators, early adopters, early majority, late majority, and laggards (Rogers 1962, p. 150)

Adopter category

Definition

Innovators Innovators are the first individuals to adopt an innovation. Innovators are willing to take risks, youngest in age, have the highest social class, have great financial lucidity, very social and have closest contact to scientific sources and interaction with other innovators. Risk tolerance has them adopting technologies which may ultimately fail. Financial resources help absorb these failures. (Rogers 1962 5th ed, p. 282)
Early Adopters This is the second fastest category of individuals who adopt an innovation. These individuals have the highest degree of opinion leadership among the other adopter categories. Early adopters are typically younger in age, have a higher social status, have more financial lucidity, advanced education, and are more socially forward than late adopters. More discrete in adoption choices than innovators. Realize judicious choice of adoption will help them maintain central communication position (Rogers 1962 5th ed, p. 283).
Early Majority Individuals in this category adopt an innovation after a varying degree of time. This time of adoption is significantly longer than the innovators and early adopters. Early Majority tend to be slower in the adoption process, have above average social status, contact with early adopters, and seldom hold positions of opinion leadership in a system (Rogers 1962 5th ed, p. 283)
Late Majority Individuals in this category will adopt an innovation after the average member of the society. These individuals approach an innovation with a high degree of skepticism and after the majority of society has adopted the innovation. Late Majority are typically skeptical about an innovation, have below average social status, very little financial lucidity, in contact with others in late majority and early majority, very little opinion leadership.
Laggards Individuals in this category are the last to adopt an innovation. Unlike some of the previous categories, individuals in this category show little to no opinion leadership. These individuals typically have an aversion to change-agents and tend to be advanced in age. Laggards typically tend to be focused on “traditions”, likely to have lowest social status, lowest financial fluidity, be oldest of all other adopters, in contact with only family and close friends, very little to no opinion leadership.

Heterophily and communication channels

Lazarsfeld and Merton first called attention to the principles of homophily and its opposite, heterophily [11]. Using their definition, Rogers defines homophily as “the degree to which pairs of individuals who interact are similar in certain attributes, such as beliefs, education, social status, and the like” [12]. When given the choice, individuals usually choose to interact with someone similar to him or herself [13]. Furthermore, homophilous individuals engage in more effective communication because their similarities lead to greater knowledge gain as well as attitude or behavior change [14]. However, most participants in the diffusion of innovations are heterophilous, meaning they speak different languages, so to speak [15]. The problem is that diffusion requires a certain degree of heterophily; if two individuals are identical, no diffusion occurs because no new information can be exchanged [16]. Therefore, an ideal situation would involve two individuals who are homophilous in every way, except in knowledge of the innovation [17].

Opinion leaders within a social system

Throughout the diffusion process there is evidence that not all individuals exert an equal amount of influence over all individuals. In this sense there are Opinion Leaders, leaders who are influential in spreading either positive or negative information about an innovation. Rogers relies on the ideas of Katz & Lazarsfeld and the two-step flow theory in developing his ideas on the influence of Opinion Leaders in the diffusion process [18] Opinion Leaders have the most influence during the evaluation stage of the innovation-decision process and late adopters (Rogers 1964, p. 219). In addition opinion leaders have a set of characteristics that set them apart from their followers and other individuals. Opinion Leaders typically have greater exposure to the mass media, more cosmopolitan, greater contact with change agents, more social experience and exposure, higher socioeconomic status, and are more innovative.

Organizations

Innovations are often adopted by organizations through two types of innovation-decisions: collective innovation decisions and authority innovation decisions. The collection-innovation decision occurs when the adoption of an innovation has been made by a consensus among the members of an organization. The authority-innovation decision occurs when the adoption of an innovation has been made by very few individuals with high positions of power within an organization (Rogers 2005, p. 403). Unlike the optional innovation decision process, these innovation-decision processes only occur within an organization or hierarchical group. Within the innovation decision process in an organization there are certain individuals termed “champions” who stand behind an innovation and break through any opposition that the innovation may have caused. The champion within the diffusion of innovation theory plays a very similar role as to the champion used within the efficiency business model Six Sigma. The innovation process within an organization contains five stages that are slightly similar to the innovation-decision process that individuals undertake. These stages are: agenda-setting, matching, redefining/restructuring, clarifying, routinizing.

Consequences of adoption

There are both positive and negative outcomes when an individual or organization chooses to adopt a particular innovation. Rogers states that this is an area that needs further research because of the biased positive attitude that is associated with the adoption of a new innovation (Rogers 2005, p. 470). In the Diffusion of Innovation, Rogers lists three categories for consequences: desirable vs. undesirable, direct vs. indirect, and anticipated vs. unanticipated.

In her article, “Integrating Models of Diffusion of Innovations,” Barbara Wejnert details two categories for consequences: public vs. private and benefits vs. costs.

Public vs. Private

Public consequences refer to the impact of an innovation on those other than the actor, while private consequences refer to the impact on the actor itself [19]. Public consequences usually involve collective actors, such as countries, states, organizations, or social movements [20]. The results are usually concerned with issues of societal well-being [21]. Private consequences usually involve individuals or small collective entities, such as a community [22]. The innovations are usually concerned with the improvement of quality of life or the reform of organizational or social structures [23].

Benefits vs. Costs

The benefits of an innovation obviously refer to the positive consequences, while the costs refer to the negative [24]. Costs may be monetary or nonmonetary, direct or indirect [25]. Direct costs are usually related to financial uncertainty and the economic state of the actor [26]. Indirect costs are more difficult to identify [27]. An example would be the need to buy a new kind of fertilizer to use innovative seeds [28]. Indirect costs may also be social, such as social conflict caused by innovation [29].

Criticism

Much of the evidence for the diffusion of innovations gathered by Rogers comes from agricultural methods and medical practice.

Various computer models have been developed in order to simulate the diffusion of innovations. Veneris[30] [31] developed a systems dynamics computer model which takes into account various diffusion patterns modeled via differential equations.

There are a number of criticisms of the model which make it less than useful for managers. First, technologies are not static. There is continual innovation in order to attract new adopters all along the S-curve. The S-curve does not just ‘happen’. Instead, the s-curve can be seen as being made up of a series of ‘bell curves’ of different sections of a population adopting different versions of a generic innovation.

Rogers has placed the contributions and criticisms of diffusion research into four categories: pro-innovation bias, individual-blame bias, recall problem, and issues of equality [32]equality

Electronic communication social networks

Prior to the introduction of the Internet, it was argued that social networks had a crucial role in the diffusion of innovation particularly Tacit knowledge in the book The IRG Solution – hierarchical incompetence and how to overcome it. The book argued that the widespread adoption of computer networks of individuals would lead to the much better diffusion of innovations, and with greater understanding of their possible shortcomings, and the identification of needed innovations that would not have otherwise occurred – the Relevance paradox.

References

  1. ^ see the article on Trans-cultural diffusion or Roland Burrage Dixon (1928): The Building of Cultures.
  2. ^ Pemberton, H. E. (1936) ‘The Curve of Culture Diffusion Rate’, American Sociological Review, 1 (4): 547-556.
  3. ^ “A Guide to Knowledge Translation Theory”
  4. ^ Ryan (1943), see above.
  5. ^ (Rogers, 1983. p. 11)
  6. ^ (Rogers, 1983. p. 17)
  7. ^ (Rogers 1983, p. 21)
  8. ^ (Rogers, 1983. p. 21, 23)
  9. ^ (Rogers, 1983. p. 24)
  10. ^ J. C. Fisher and R. H. Pry , “A Simple Substitution Model of Technological Change”, Technological Forecasting & Social Change, vol. 3, no. 1 (1971)
  11. ^ (Rogers, 1983. p. 18)
  12. ^ (Rogers, 1983. p. 18)
  13. ^ (Rogers, 1983. p. 19)
  14. ^ (Rogers, 1983. p. 19)
  15. ^ (Rogers, 1983. p. 19)
  16. ^ (Rogers, 1983. p. 19)
  17. ^ (Rogers, 1983. p. 19)
  18. ^ Katz, Elihu & Lazarsfeld, Paul (1955). Personal influence: The part played by people in the flow of mass communications, Glencoe: Free Press
  19. ^ (Wejnert, “Integrating Models of Diffusion of Innovations,” p. 299)
  20. ^ (Wejnert, “Integrating Models of Diffusion of Innovations,” p. 299)
  21. ^ (Wejnert, “Integrating Models of Diffusion of Innovations,” p. 299)
  22. ^ (Wejnert, “Integrating Models of Diffusion of Innovations,” p. 299)
  23. ^ (Wejnert, “Integrating Models of Diffusion of Innovations,” p. 299)
  24. ^ (Wejnert, “Integrating Models of Diffusion of Innovations,” p. 301)
  25. ^ (Wejnert, “Integrating Models of Diffusion of Innovations,” p. 301)
  26. ^ (Wejnert, “Integrating Models of Diffusion of Innovations,” p. 301)
  27. ^ (Wejnert, “Integrating Models of Diffusion of Innovations,” p. 301)
  28. ^ (Wejnert, “Integrating Models of Diffusion of Innovations,” p. 301)
  29. ^ (Wejnert, “Integrating Models of Diffusion of Innovations,” p. 301)
  30. ^ Veneris, Yannis (1984). The Informational Revolution, Cybernetics and Urban Modelling, PhD Thesis. University of Newcastle upon Tyne, UK.
  31. ^ Veneris, Yannis (1990). “Modeling the transition from the Industrial to the Informational Revolution”. Environment and Planning A 22 (3): 399-416. doi:10.1068/a220399.
  32. ^ Rogers, E. M. (2003). Diffusion of innovations (5th ed.). New York, NY: Free Press.

Educational Innovation / Inovasi Pendidikan

The Collision of Education, Innovation, Teaching, Learning, Imagination, Ideation, Ideas, Creativity, Collaboration, Professional Learning Communities.

Educational Innovations’ science products make science Super! Wow! Neat!, turning simple scientific lesson plans into memorable experiences for students of all ages and all scientific disciplines, including Life Science, Earth Science, Chemistry, Forensic Science, Physics and Space!

Teacher owned and operated, Educational Innovations is where teachers and parents have turned for over 12 years to find innovative, unique, and safe science products for all science classrooms: elementary science, K-12 science and College science education projects… not to mention science teacher workshops for staff development.

Sumber: en.wikipedia.org/…/Diffusion_of_innovations

 

Standard

ISLAM DAN KEPEMIMPINAN NASIONAL

Islam dan Kepemimpinan Nasional

 Oleh: TjiptoSubadi

 Setelah melantik 34 menteri dalam Kabinet Kerja, Presiden Jokowi, Wapres Muhammad Jusuf Kalla dan para menteri bergerak cepat untuk mewujudkan berbagai program kerja bagi kesejahteraan rakyat, salah satunya adalah diluncurkannya KIP, KIS dan KKS. Selain itu para anggota kabinet sama mencontoh Presiden Jokowi yang dikenal suka blusukan, mereka sama blusukan di berbagai tempat yang menjadi wilayah kerjanya, meskipun terjadi pro-kontra fenomena blusukan oleh para pejabat ini secara soiologis bisa memberikan pengaruh positif dan menjadi pendidikan masyarakat, karena bagi pemimpin blusukan adalah kekuatan politik untuk mendominasi masyarakat.

Tentu saja sistim blusukan itu positif jika diniati untuk mensejahterakan rakyat seperti yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab, Umar bin Khattab melakukan blusukan bukan untuk pencitraan diri atau lagi menjadi trend para pejabat tinggi negara. Blusukaan itu bukanlah sistim baru, sebab sudah sering dilakukan Khalifah Umar bin Khattab 15 abad lalu di Ibu kota Madinah. Dimana waktu itu Khalifah Umar sering blusukan pada malam hari dengan ditemani budaknya, untuk mengontrol kondisi rakyatnya di Madinah sebagai rasa tanggung jawab atas kepemimpinan yang dipikulkan kepundaknya.

Maka tidaklah mengherankan jika Khalifah Umar dinilai sebagai salah seorang pemimpin yang berhasil di dunia. Bayangkan, dibawah kepemimpinannya selama 10 tahun, Khalifah Umar berhasil menaklukkan dua super power dunia di abad 7 masehi, yakni imperium Romawi Timur dan Persia. Pada masa kepemimpinan Khalifah Umar wilayah kekuasaan Kekhalifahaan Islam meluas hingga seperenam belahan dunia, rakyatnya semakin sejahtera, hukum ditegakkan dan semua penganut agama selain Islam dijamin bebas melaksanakan ibadahnya dengan dilindungi negara. Kesuksesan Khalifah Umar dalam memimpin Negara jelas tidak bisa dilepaskan dari didikan dan gemblengan guru politiknya, Nabi Muhammad Saw.

Kepemimpinan Islam

 Seorang pemempin hendaknya mengambil pelajaran dari peristiwa perintah sholat lima waktu dalam  Israk Mikraj, yang mengandung beberapa aspek penting dalam kehidupan umat manusia, baik habluminallah (hubungan vertikal dengan Allah Swt) seperti perintah menjalankan kewajiban sholat lima waktu, maupun  habluminanaas (hubungan horisontal dengan umat manusia) seperti masalah kepemimpinan. Makna dari sholat itu sendiri juga mengandung dimensi kepemimpinan.

Makna dari Sholat  itu terdapat dalam kitab Qira’ah Siyasiyah Li Sirah Nabawiyah, Syekh Muhammad Rawwas Qal’ah Jie, Guru Besar Universitas Kuwait menjelaskan, terdapat tiga dimensi politik dan kepemimpinan dalam peristiwa Israk Mikraj Nabi Muhammad Saw.

Pertama, dimensi kepemimpinan dunia. Pasalnya, kepemimpinan dunia sebelum terjadinya peristiwa Israk Mikraj berada ditangan bangsa Yahudi Israel. Sebab dua agama Samawi sebelumnya yakni Yahudi dan Nasrani diturunkan dan menjadi agama bangsa Israel. Tetapi para pengemban agama tersebut sudah tidak layak lagi untuk memimpin dunia karena mereka telah mendistorsi agamanya dan mengganti petunjuk-petunjuknya. Sehingga harus ada agama baru yang lurus dengan orang-orang yang bersih dan terpercaya untuk menggantikan dua agama sebelumnya dan menggantikan posisi bangsa Yahudi Israel dalam memimpin dunia.

Maka kehadiran Nabi Muhammad Saw di Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis dalam peristiwa Israk Mikraj menjadi pertanda bahwa agama Islam yang dibawanya dan umat Islam yang dipimpinnya bakal memegang tampuk kepemimpinan dengan membawa dunia pada rahmatan lil alamin. Itu sudah terbukti hingga seribu tahun kemudian sampai datangnya impelialisme Barat yang menjajah negeri-negeri Islam.

Kedua, dimensi kepemimpinan ideologis. Rasulullah Muhammad Saw menjadi imam ketika sholat bersama para Nabi dan Rasul  sebelumnya di Masjidil Aqsha. Hal itu menunjukkan Nabi Muhammad Saw  adalah pemimpin para Nabi dan Rasul yang mayoritas berasal dari bangsa Yahudi Israel tersebut. Sehingga telah terjadi pergeseran kepemimpinan dunia dari bangsa Yahudi Israel kepada umat Islam pengikut Nabi Muhammad Saw.

Ketiga, dimensi kekuasaan. Perjalanan Israk Mikraj Nabi Muhammad Saw dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis  Palestina, menunjukkan wilayah Palestina yang saat itu menjadi wilayah Romawi Timur (Kekaisaran Bizantium), kelak akan menjadi wilayah kekuasaan Islam.

KepemimpinanNasional

 Indonesia dengan jumlah penduduk Islam terbesar di dunia, memang memerlukan kepemimpinan kuat sekaligus memiliki sifat dan karakter Kenabian. Sebab jika tidak, lambat atau cepat virus disintegrasi bangsa akan menyebar sehingga dikhawatirkan akan mampu memecah belah NKRI.

Tanda-tanda kearah itu sudah semakin tampak dengan munculnya bebrapa permasalahan bangsa, yang antara lain; disorientasi dan kurang dihayatinya nilai-nilai Pancasila, keterbatasan perangkat kebijakan terpadu dalam mewujudkan nilai-nilai pancasila, bergesernya nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, memudarnya kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa, melemahnya kemandirian bangsa, ancaman disintegrasi bangsa. Permasalahan bangsa yang sangat memprihatinkan munculnya dua kubu KMP dan KIH yang saling berhadapan di DPR RI, yang juga dikhawatirkan akan juga mampu memecah belah NKRI sementara masyarakat belum sepenuhnya berhasil melepaskan dari ekses negatif Pilpres yang sempat membelah kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia.

Oleh karena itu sifat kepemimpinan Nabi tersebut menjadi sangat penting untuk dimiliki sekaligus diimplementasikan kedalam sikap dan tindakan para pemimpin nasional, ke empat sifat kepemimpinan tersebut adalah: Pertama, seorang pemimpin bangsa Indonesia harus memiliki sifat shiddiq (jujur). Seorang pemimpin bangsa harus tahan terhadap godaan duniawi berupa harta benda yang melimpah, sehingga memiliki pembawaan kehidupan zuhud, seperti yang dicontohkan oleh Khalifah Umar bin Khattab, meski berhasil menguasai Romawi dan Persia yang kaya raya, namun kehidupan sehari-harinya tetap sederhana bagai rakyat jelata. Juga Khalifah Umar bin Abdul Aziz, sebelum jadi Khalifah di era Dinasti Bani Umayah, berprofesi sebagai pedagang berlian dengan kekayaan 400.000 dinar, namun setelah tiga tahun menjabat Khalifah kekayaannya habis tinggal 400 dinar, untuk keperluan Negara dan bangsa sehingga rakyatnya hidup makmur dan sejahtera.

Kedua, seorang pemimpin bangsa Indonesia wajib memiliki sifat amanah termasuk amanah dalam memegang jabatan. Sebab jika tidak, maka dalam diri seorang pemimpin itu akan bersemayam virus munafik, yaitu: jika berjanji mengingkari, jika diberi amanah berkhianat, jika berbicara berbohong. Kalau seorang pemimpin sudah tidak bisa dipegang janjinya, selalu berkhianat serta bohong perkataannya, maka sesungguhnya dia telah memiliki sifat-sifat munafik. Jika negara dipimpin orang munafik, maka tunggulah kehancurannya.

Ketiga, seorang pemimpin bangsa Indonesia wajib memiliki sifat tabligh, yakni selalu menyampaikan kebenaran dan memberi tauladan kebaikan kepada rakyatnya. Jika perkataan dan tindakan seorang pemimpin selalu berlawanan, maka rakyat tidak akan percaya lagi.

Keempat, seorang  pemimpin bangsa Indonesia harus memiliki fathonah (kecerdasan dan kepandaian). Seorang pemimpin wajib cerdas dengan memiliki IQ yang tinggi, sebab jika pemimpin IQ nya pas-pasan, maka dikhawatirkan dia tidak akan mampu memimpin bangsa sebesar, seluas, sekompleks dan seheterogen bangsa Indonesia ini. Apalagi nanti dalam menjalankan policy hubungan internasional yang sangat kompleks dan rumit dengan bangsa-bangsa lain.

Dengan memiliki keempat sifat dan karakter Kenabian itu, maka insya’ Allah pemimpin nasional Indonesia akan mampu memimpin bangsa dan negara dengan jumlah penduduk keempat terbesar di dunia ini menuju negara yang adil, makmur, demokratis, gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo dibawah lindungan Allah Swt. (Sumber Harian Pelita, 12 November 2014)

Penulis: Dr Tjipto Subadi MSi

(Penulis adalah Dosen Prodi Pendidikan Geografi FKIP dan Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta. e-mail: tjipto.subadi@ums.ac.id)

 

 

 

Standard

STRATEGI MENYUSUN KARYA ILMIAH UNTUK PUBLIKASI JURNAL INTERNASIONAL

STRATEGI MENYUSUN KARYA ILMIAH

UNTUK PUBLIKASI JURNAL INTERNASIONAL

Tjipto Subadi 1)

1) Dosen Pendidikan Geografi FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta

Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Kartasuta Surakarta 57102

e-mail: tjipto.subadi@ums.ac.id

HP. 0816652241

 Abstrak

Tujuan tulisan ini akan mengkaji dan mendeskripsikan strategi menyusunan artikel ilmiah untuk publikasi jurnal internasional. Metode: 1) Kegiatan pendahuluan, yaitu membuat proposal penelitian yang didesain untuk skim penelitian hibah kompetitif penelitian kerjasama international dalam rangka publikasi  jurnal internasional. 2) Kegiatan inti, kegiatan inti ini terdiri dari kegiatan penelitian dan penulisan artikel ilmiah untuk dipublikasikan pada jurnal internasional. 3) Kegiatan penelusuran (mencari) jurnal yang tidak abal-abal. 4) Kegiatan pengiriman artikal pada jurnal internasional tersebut. Kesimpulan: artikel ilmiah adalah tulisan ilmiah yang memenuhi persyaratan minimal sebagai tulisan ilmiah yang beriputasi ilmiah., persyaratan itu antara lain: Judul artikel yang baik bersifat ringkas, informatif dan deskriptif. Nama dan Alamat Penulis. Identitas penulis dan alamat e-mail. Abstrak dan Kata Kunci (Abstract and Keywords). Pendahuluan (Introduction) yang memuat latar belakang permasalahan/konsep/hasil penelitian sebelumnya, Metode (Methods). Hasil dan Pembahasan (Results and Discussion). Simpulan dan Saran (Conclusion and Suggestion) ucapan Terimakasih (Acknowledgement). Daftar Pustaka (References. Lampiran-lampiran

Kata Kunci: Strategi, menyusun, Karya ilmiah, publikasi, jurnal, internasonal

 

Pendahuluan

Karya lmiah (scientific paper) merupakan publikasi tertulis dan diterbitkan, menjelaskan hasil dari research yang telah dilakukan oleh ilmuan dengan memenuhi kaidah dan etika akademik. Publikasi karya ilmiah yang dimaksud dalam tulisan ini adalah merupakan salah satu indikator utama kinerja suatu Perguruan Tinggi, sebab hal ini menjadi indikator Perguruan Tinggi apakah Perguruan Tinggi itu termasuk Perguruan Tinggi yang berkualitas atau tidak?

Rendahnya produktivitas publikasi Perguruan Tinggi di Indonesia mendorong Dirjen DIKTI mengeluarkan surat edaran nomor 152/E/T/2012 yang mewajibkan mahasiswa di semua strata untuk mempublikasikan karya ilmiahnya. Sejalan dengan kebutuhan publikasi tersebut, saat ini banyak sekali kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh berbagai pihak untuk memenuhi kewajiban publikasinya. Kecurangan tersebut bisa berada pada proses penulisan dengan cara melakukan tindakan plagiasi maupun pada proses publikasinya dengan cara melakukan publikasi di jurnal yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kredibilitasnya atau sering disebut sebagai jurnal abal-abal. Dalam rangka menjaga etika dalam publikasi karya ilmiah tersebut, diterbitkan Permendiknas nomor 17 tahun 2010 yang mengatur mengenai tindakan plagiasi, dimana pihak Perguruan Tinggi berwenang melakukan penyelidikan jika ditenggarai ada plagiasi di Perguruan Tinggi tersebut. Selain itu masih banyak regulasi dan pedoman untuk mengantisipasi publikasi civitas akademika di jurnal abal-abal. Sumber, http:// seminar. unej.ac.id/ index.php/PPPA/PPPA-2014

Dalam menunjang kerja professional seorang dosen selain mengajar, ia harus melakukan pengabdian kepada masyarakat dan aktifitas akademik lain yaitu penelitian. Itulah sebabnya pmerintah mewajibkan Perguruan tinggi menyelenggarakan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat disamping melaksanakan pendidikan sebagaimana diamanahkan oleh Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 20. Sejalan dengan kewajiban tersebut, Undang-undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi Pasal 45 menegaskan bahwa penelitian di Perguruan Tinggi diarahkan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan daya saing  bangsa. Dalam pasal tersebut juga ditegaskan bahwa pengabdian kepada masyarakat  merupakan kegiatan civitas akademika dalam mengamalkan dan membudayakan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. (Panduan Pelaksanaan  Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat Di Perguruan Tinggi Edisi IX. Halaman 1)

Secara umum tujuan penelitian di Perguruan Tinggi adalah: 1) menghasilkan penelitian yang sesuai dengan prioritas nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah. 2) Menjamin pengembangan penelitian unggulan spesifik berdasarkan keunggulan komparatif dan kompetitif. 3) Mencapai dan meningkatkan mutu sesuai target dan relevansi hasil penelitian bagi masyarakat Indonesia; dan 4) Meningkatkan diseminasi hasil penelitian dan perlindungan HKI secara Nasional dan Internasional, ini artinya hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh dosen akan memiliki arti penting secara akademik kalau dipublikasikan pada jurnal baik Nasional tidak terakreditasi, Nasional tetakreditasi maupun pada jurnal Internasional.

Karena itulah maka perguruan tinggi bertanggung jawab penuh untuk mengawal kegiatan Tri Dhama Perguruan Tinggi-nya masing-masing, sebagaimana di anjurkan oleh Dikti sebagai berikut:  Setiap Perguruan Tinggi diharapkan dapat mengelola penelitian yang memenuhi standar sebagai berikut: a) Standar arah, yaitu kegiatan penelitian yang mengacu kepada Rencana Induk Penelitian (RIP) yang disusun berdasarkan visi dan misi perguruan tinggi; b) Standar proses, yaitu kegiatan penelitian yang direncanakan, dilaksanakan, dikendalikan, dan ditingkatkan sesuai dengan sistem peningkatan mutu penelitian yang berkelanjutan, berdasarkan prinsip otonomi keilmuan dan kebebasan akademik; c) Standar hasil, yaitu hasil penelitian yang memenuhi kaidah ilmiah universal yang baku, didokumentasikan dan didiseminasikan melalui forum ilmiah pada aras nasional maupun internasional, serta dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan etika;  d) Standar kompetensi, yaitu kegiatan penelitian dilakukan oleh peneliti yang kompeten dan sesuai dengan kaidah ilmiah universal; e) Standar pendanaan, yaitu pendanaan penelitian diberikan melalui mekanisme hibah blok, kompetisi, dan mekanisme lain yang didasarkan pada prinsip otonomi dan akuntabilitas  peneliti; f) Standar sarana dan prasarana, yaitu kegiatan penelitian didukung oleh sarana dan prasarana yang mampu menghasilkan temuan ilmiah yang sahih dan dapat diandalkan; dan g) Standar outcome, yaitu kegiatan penelitian harus berdampak positif pada pembangunan bangsa dan negara di berbagai sektor. (Panduan Pelaksanaan  Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat Di Perguruan Tinggi Edisi IX.)

Selanjutnya melalui pemerintah, Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, sering meng-agendakan pelatihan penulisan artikel ilmiah untuk publikasi jurnal Internasional. Pelatihan ini ditujukan untuk menfasilitasi Dosen, Mahasiswa dan Peneliti untuk mempertajam keahliannya dalam penulisan artikel ilmiah untuk publikasi jurnal Internasional. Inisiatif ini dipicu oleh beberapa hal yang wajib menjadi perhatian kalangan akademisi dan praktisi perkembangan pendidikan, diantaranya: 1) Rendahnya publikasi ilmiah peneliti di Perguruan Tinggi di Indonesia di jurnal ilmiah bereputasi Internasional merupakan faktor penting terhalangnya Perguruan Tinggi Indonesia masuk ke world class university.

Data Times Higher Education Supplement (THES) pada tahun 2008 menunjukkan bahwa hanya 3 Perguruan Tinggi di Indonesia (UI, ITB, dan UGM) yang masuk dalam peringkat 500 tertinggi di dunia. Data tahun 2006 menunjukkan UI menduduki peringkat 250, turun menjadi 395 pada tahun berikutnya. ITB menduduki peringkat 258 pada tahun 2006 dan turun menjadi 369, dan UGM dari peringkat 270 menjadi 360. Mundurnya peringkat oleh ke-3 Perguruan Tinggi tersebut harus dikhawatirkan. 2) Rendahnya publikasi ilmiah para dosen di Perguruan Tinggi di Indonesia diduga disebabkan oleh rendahnya kemampuan atau mungkin juga rendahnya dorongan para dosen untuk menuliskan hasil penelitiannya di jurnal ilmiah bereputasi Internasional, padahal skim penelitian kompetitif yang didanani Dikti seperti: Hibah Bersaing, Penelitian Fundamental, dan Hibah Tim Pascasarjana secara jelas menuntut output penelitian dalam bentuk publikasi ilmiah pada jurnal bereputasi Internasional. (Sumber: https://mishbahulmunir.wordpress.com/2009/05/25/….)

Kinerja publikasi ilmiah di Indonesia masih tergolong kurang jika disbanding dengan Negara lain. Jumlah publikasi di jurnal Internasional, jurnal terakreditasi, dan konferensi atau konferensi masih sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlah dosen yang ada. Oleh karena itu perlu dilakukan akselerasi jumlah publikasi tersebut.

Permasalahnya rendahnya jumlah publikasi antara lain adalah kemampuan menulis yang masih lemah, pengetahuan tentang tata cara publikasi pada jurnal dan konferensi secara online yang masih kurang, serta motivasi menulis yang masih kurang. Solusinya adalah dilakukan seminar dan workshop (pelatihan) Strategi Menyusun Karya Ilmiah Untuk Publikasi Jurnal Internasional.

 

Jenis Kontribusi

Jenis konstribusi penulisan karya ilmiah untuk publikasi jurnal internasional diarahkan pada pemilihan judul, antara lain; judul tidak harus persis (sama) dengan judul penlitian, jenis kontribusi yang tidak kalah penting adalah artikel asli (original paper),  ulasan (telaah pustaka, tren riset), proses koreksi yang ketat oleh editorial, karya ilmiah merupakan hasil penelitian yang merupakan laporan temu ilmiah yang dilengkapi dengan timbangan buku dan panduan panduan penulisan.

Ada prasyarat mutlak, yaitu ada hasil penelitian yang sudah dirancang dan dilakukan dengan benar, dianalisis dengan baik dan benar, data telah disederhanakan dalam bentuk tabel atau grafik, sudah dikuasai dan dibahas, sudah menghasilkan simpulan, dan sudah menemukan implikasi.

Yang tidak kalah penting untuk diperhatikan bahwa karya ilmiah harus bebas dari plagiat. Untuk menghindari penjiplakan, sebaiknya penulis selalu menyebutkan sumbernya apabila artikel itu menggunakan gagasan, pendapat, dan teori orang lain. Termasuk hal itu fakta, statistik, gambar, foto, lukisa, dan informasi apapun yang bukan merupakan pengetahuan umum, kutipan dari tuturan atau tulisan orang lain, itu semua harus mencantumkan sumber dari mana dikutip.

Menteri Pendidikan Nasional Jerman Anette Schavan, menghadapi dugaan bahwa sebagian dari tesisnya merupakan plagiat. Schavan diduga telah mencantumkan kutipan hasil penelitian Sigmund Freud yang diklaimnya melalui sumber asli. Padahal penulis ini mendapatkan kutipan tersebut dari literatur lain yang mengutip Freud. Artinya, Schavan mengutip Freud dari sumber sekunder. Sumber: http://krjogja.com/read/129058/mendiknas-jerman-terlibat-kasus-plagiat.kr

Presiden Hongaria Pal Schmitt meletakkan jabatan pada Senin (2/4/2012) setelah gelar doktornya pada 1992 dicabut sesudah adanya pernyataan ia menjiplak sebagian dari disertasi setebal 200 halaman. Sumber:http://internasional.kompas.com/read/2012/04/03/07454695/  Presiden.Hongaria.Mundur.karena.Kasus.Plagiat Presiden Hongaria Mundur karena Kasus Plagiat Terkait. Harian Kompas dalam Kompas.Com memaparkan Presiden Hongaria Pal Schmitt meletakkan jabatan pada Senin (2/4/2012) setelah gelar doktornya pada 1992 dicabut sesudah adanya pernyataan ia menjiplak sebagian dari disertasi setebal 200 halaman.

Fenomena plagiasi kasus pelanggaran etika karya ilmiah. Republika.co.id, Jakarta mencatat;  Selama setahun terakhir ini, tepatnya sepanjang 2012 hingga pertengahan 2013, lebih dari 100 dosen setingkat lektor, lektor kepala, dan guru besar, di Indonesia tertangkap melakukan plagiarisme (penjiplakan). Akibatnya, dua dosen dipecat dan empat lainnya diturunkan pangkat jabatannya.  Di kurun waktu yang sama, sekitar 400 perguran tinggi swasta (PTS) diketahui telah melakukan pemalsuan data serta dokumen.Tempo.co/red/news/2012/03/03 juga mencatat satu dari tiga orang dosen bergelar doktor yang dikenai sanksi oleh Universitasnya karena kasus plagiat mengaku teledor. “Tidak ada unsur kesengajaan pencontekan tanpa sumber,” kata lewat pesan pendek kepada Tempo, Jumat malam 2 Maret 2012.

 

Telaah Bestari

Artkel yang baik disarankan memperhatikan telaah bestari, biasanya penelaahan oleh Mitra Bestari (1) yang biasanya diarahkan pada menjawab pertanyaan, Apakah telah menggunakan bahasa Indonesia/ Inggris yang baik & benar? Apakah judul naskah cukup ringkas dan dapat melukiskan isi makalah dengan jelas? Apakah abstrak telah merangkum secara singkat dan jelas tentang; tujuan, metode yang digunakan, apakah sudah ada simpulan penelitian? Apakah pendahuluan sudah menguraikan secara jelas tentang; masalah & ruang lingkup, hipotesis (jika ada)? Apakah cara pendekatan penyelesaian masalah, hasil yang diharapkan, tata kerja telah ditulis secara jelas sehingga percobaan tersebut dapat diulang? (Setiati Achmadi. Materi TOT Nasional, Dikti 2013)

Penelaahan oleh Mitra Bestari (2) yang biasanya diarahkan pada pertanyaan Apakah hasil dan pembahasan disusun secara rinci? 1) Apakah data yang disajikan telah diolah, dituangkan dalam bentuk tabel atau gambar, serta diberi keterangan yang mudah dipahami? 2) Apakah pada bagian pembahasan terlihat adanya kaitan antara hasil yang diperoleh dan konsep dasar dan atau hipotesis? 3) Apakah ada kesesuaian atau pertentangan dengan hasil litbang lain? (4) Apakah sudah ada implikasi hasil litbang baik teoretis maupun penerapan? Apakah simpulan berisi secara singkat dan jelas tentang; a) esensi hasil litbang, b) penalaran penulis secara logis dan jujur berdasarkan fakta yang diperoleh? Apakah daftar pustaka sudah ditulis benar sesuai dengan petunjuk? kemutakhiran pustaka rujukan? keprimeran pustaka rujukan? (Setiati Achmadi. Materi TON Nasional, Dikti 2013)

 

Prinsip Penyuntingan

Artikel yang baik selalu memperhatikan prinsip penyuntungan, prinsip penyuntingan ini antara lain; dilkukan dengan hati-hati, tdak boleh membuat perubahan hanya semata-mata karena ingin mengubah atau karena gaya yang disukai. Gunakan pensil hitam lunak, bukan pena berwarna, dan selalu siapkan karet penghapus. Jika ada kesangsian mengenai pilihan kata yang lebih baik dari anda atau dari penulis-gunakan yang dari penulis. Sesungguhnya, naskah adalah milik penulis, bukan milik anda.

Mekalukan penyuntingan makro, masalah penting yang harus diperhatikan dalam menyusun artikel ilmiah untuk publikasi jurnal ilmiah antara lain; menyusun ulang (reorganisasi) naskah, memperbaiki hubungan antara kalimat dan paragraf, mengefektifkaan kalimat yang panjang lebar, memberi tajuk (heading), ringkasan, dan rambu (guidepost) lain bagi pembaca, menulis ulang pendahuluan dan penutupan, mengecek logika, memendekkan panjang naskah, mengubah nada (tone), mengubah kalimat pasif menjadi aktif (umumnya dalam naskah berbahasa Inggris), menemukan kata konkret untuk generalisasi, mengganti kata yang rumit dengan kata sederhana, dengan kata lain, memasukkan aturan keterbacaan teks.

Melakukan penyuntingan mikro, membetulkan kesalahan tata bahasa, ejaan, tanda baca, memperbaiki kesalahan dalam fakta, apakah angka muncul sebagai digit atau kata (“11” atau “sebelas”, “March 11, 2002” atau “11 March 2002”, “DNA” atau “asam deoksinukleat”), menyesuaikan dengan gaya selingkung yang sudah mapan, misalnya; keterangan dan fon pada gambar.

 

Ketentuan Judul

Penulis harus memperhatikan jumlah kata (15–25?), memerikan isi artikel dengan cermat, memerikan subjek penelitian dengan ringkas, hindari singkatan, rumus, dan jargon, biasanya tidak mengandung kata kerja dan singkatan, mudah dipahami, mengandung kata kunci à mempermudah sistem penelusuran dan indeks subyek, perlu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, contoh pemuatan kata yang tidak penting: “Pengalaman dari Praktik Sehari-hari …”; “Beberapa Faktor yang Menentukan …”; “Analisis …”; “Studi Kasus …”; “Pengaruh …”

Penulisan Abstrak

Abstrak ditulis secara singkat atau pendek (»200 kata), sesuai dengan kebijakan berkala, biasanya hanya 1 paragraf, ditulis dengan kalimat penuh, bukan telegram, dapat berdiri sendiri jika dipisahkan dari makalahnya à jadi, unsur harus lengkap: tujuan penelitian, ringkasan metode, simpulan utama, dan kata kunci.  Abstrak dalam bahasa Inggris Þ jangkauan pembaca akan lebih luas; wajib untuk jurnal berakreditasi. Hal yang hrs dihindari dalam abstrak; abstrak tidak mencantumkan tabel, ilustrasi, rujukan, singkatan dan akronim yang tidak dijelaskan, tidak memuat informasi atau simpulan yang tidak ada dalam naskah.

 

 

Pendahuluan/Penulisan Latar Balakang

Pendahuluan berisi uraian masalah atau alasan penelitian, pernyataan logis yang mengarah ke hipotesis atau tema pokok, status ilmiah dewasa ini , hipotesis (kalau ada) dinyatakan dengan jelas, hipotesis tidak selalu tersurat, panjang tidak lebih dari 2 halaman ketik atau 2-3 paragraf, mungkin tidak semua masalah yang akan diatasi, cara pendekatan atau memecahkan masalah, tidak perlu dalam bentuk kalimat tanya, sering mengacu pustaka yang menjadi landasan atau alasan penelitian, hasil yang diharapkan

Metode.

Metode dirumuskan secara cermati: tak ada kerancuan dalam singkatan atau nama, semua kuantitas dalam satuan baku, semua bahan kimia dinyatakan secara spesifik agar peneliti lain dapat mengulanginya dengan tepat, setiap langkah dinyatakan, termasuk jumlah ulangan, semua teknik/prosedur dinyatakan (sebut nama jika bakuan, atau uraian jika prosedur baru atau dimodifikasi), tak ada hal yang tidak berkaitan dengan hasilnya kemudian, tak ada remeh-temeh yang dapat membingungkan pembaca, uraian cukup terperinci (bahan-penarikan, misalnya dalam  analisis – pengolahan data) sehingga keterulangan hasil dapat dijamin, hindari bentuk kalimat perintah dalam menguraikan prosedur. Diskripsi yang kurang baik: Penelitian ini merupakan penelitian bersifat “deskriptif”. Penelitian deskriptif ialah … atau …Penelitian ini menggunakan responden. Responden ialah … alat seperti gunting, gelas ukur, pensil, … ® tak perlu ditulis, tetapi perincilah peralatan analitis (bahkan sampai ke tipe).

 

Hasil Penelitian

Dalam penulisan hasil penelitian ada keberanian peneliti untuk melakukan tindakan. Pangkas: pengulangan prosedur, pengulangan data, data yang tidak berkait langsung dengan tujuan penelitian, gambar yang tidak perlu atau tidak diacu, kata-kata yang tidak perlu, misalnya “Tabel 5 menunjukkan …” tetapi  “… (Tabel 5)”… Yang Diperhatikan adalah hasil disajikan secara bersistem Þ lihat ‘tujuan penelitian’ atau hipotesis, hasil didukung oleh olahan data dan ilustrasi yang baik, jangan menarasikan angka dalam tabel atau ilustrasi.

 

Pembahasan

Pembahasan penelitian berisi bahasan hasil penelitian sendiri, dibandingkan /dihubungkan dengan penelitian lain yang sejenis. Pastikan bahwa penulis telah melakukan pembahasan berurut sesuai dengan urutan dalam tujuan, menangani setiap tujuan penelitian yang hendak dicapai, semua hal yang dibahas sudah dijelaskan lebih dulu, tidak ada yang tiba-tiba muncul, hindari perincian yang tidak perlu atau pengulangan dari bagian-bagian sebelumnya, tafsirkan hasilnya dan sarankan implikasinya untuk penelitian y.a.d. Perhatikan pertanyaan-pertanyaan ini dalam pembahasan; tercerminkah kecendekiaan penulis? logiskah argumentasi penulis? bagaimana penulis mengaitkan dengan pendapat atau hasil penelitian lain? bagaimana mengaitkan antara hasil yang diperoleh dan konsep dasar dan atau hipotesis? adakah implikasi hasil penelitian baik teoretis maupun penerapan? bermanfaatkah tafsiran penulis? adakah keterbatasan temuan? adakah spekulasi yang berlebihan? apakah pendapat penulis terkemas dalam paragraf yang baik?

 

Kesimpulan dan Saran

Apakah simpulan dituliskan secara kritis? Cermat? Logis dan jujur berdasarkan fakta yang diperoleh? Simpulan bukan rangkuman hasil, Apakah generalisasi dibuat dengan hati-hati? Apakah saran berkait dengan pelaksanaan atau hasil penelitian? Apakah saran terkesan mengada-ada?

 

Catatan Kaki atau Catatan Akhir

Jika penilis akan menggunakan catatan kaki hendaknya dinyatakan dengan angka (1, 2) huruf (a, b), atau lambang (*, #),  dapat digunakan untuk informasi penting seperti alamat penulis, alamat penulis korespondensi, hapus catatan kaki yang tidak berkaitan atau tidak menambah argumen, dan sedapat-dapatnya hindari catatan kaki dalam teks karena dapat mengganggu konsentrasi pembaca.

 Ucapan Terima Kasih

Apakah ucapan terima kasih disampaikan kepada pihak yang pantas? kepada lembaga atau orang yang benar-benar membantu penelitian, kepada pemberi dana, fasilitas, bahan, atau saran, juga untuk pernyataan apabila makalah merupakan bagian dari tesis/disertasi. Apakah terima kasih diungkapkan secara wajar?

 

Daftar Pustaka.

Dalam hal daftar pustaka ada keragaman dalam penyusunan daftar pustaka ; lihat aturan jurnal, perhatikan singkatan untuk nama jurnal: Phys. (= Physics), Biol. (= Biology) , jumlah pustaka tidak perlu banyak, yang penting: mutu acuan (primer, mutakhir, relevan), tulis nama dengan lengkap (nama depan dan nama belakang) di Daftar Pustaka, nama penerbit dan satu nama kota: New York: Academic Press. Kata kunci: ABC (accurate, brief, clear) akurat, singkat, jelas.

 

Penulisan Refenasi.

Nama pengarang lengkap supaya mudah diidentifikasi (kalau diminta, baru gunakan singkatan nama depan), urutan nama penulis harus disepakati, majalah Nature 352:187, 18 Juli 1991: sistem skor untuk menentukan posisi urutan kepengarangan, tak perlu gelar akademik, cantumkan nama (-nama) yang benar-benar penulis, tetapkan siapa penulis korespondensi (diberi tanda), penyunting dapat meminta konfirmasi dari semua penulis, Taat asas dalam menuliskan nama, khususnya mereka yang tidak memiliki nama keluarga (Contoh : Tjipto Mangun Kusumaà Jangan: Tjipto MK, tetapi : Tjipto M Kusuma, atau TM Kusuma  Þ nama akan terindeks dalam nama penulis: abjad dan urutan yang berbeda-beda Þ merugikan penulis.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA       

 

 

Agus Sigit.2012. Mendiknas Jerman Terlibat Kasus Plagiat?. Yogyakarta: Kedaulatan Rakyat.

Sumber: http://krjogja.com/read/129058/mendiknas-jerman-terlibat-kasus-plagiat.kr.

 

Aris Sanyoto. 2013. Etika Penulisan Ilmiah. Pelatihan Penulisan Ilmiah. Balai Diklat-2013 (Naskah tidak diterbitkan)

 

Dikti. 2014. Panduan Pelaksanaan  Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat Di Perguruan Tinggi Edisi IX.  Jakarta: Dikti Halaman 1

 

DPPM UII. 2009. Bagaimana Cara Menulis Artikel Ilmiah untuk di Publikasi di Jurnal Internasional? Ygyakarta: DPPM UII Membuat Pelatihannya, 10 Juni 2009. Pelatihan Penulisan Artikel Ilmiah untuk Publikasi Jurnal Internasional DPPM UII.

 

Neville C. Plagiarism. Dalam: The complete guide to referencing and avoiding Plagiarism. New York: Open University Press, the McGraw-Hill; 2007. p. 27-41.

 

News Interational. 2012. Presiden Hongaria Mundur karena Kasus Plagiat. (dalam Budapest, Kompas.com). Selasa, 3 April 2012. 07:45 WIB. Sumber:http://internasional.kompas.com/  read/2012/04/03/07454695/  Presiden.Hongaria.Mundur.karena.Kasus.Plagiat.

 

Rifai, Mien A. Pegangan Gaya Penulisan, Penyuntingan dan Penerbitan Karya Ilmiah Indonesia. Yogyakarta:Gadjah Mada University Press; cet. 4. 2004.

 

Suryono, Isnani A.S. “Plagiarisme dalam Penulisan Makalah Ilmiah”. Naskah tidak diterbitkan.

Setiati Achmadi. 2013. Materi TON Nasional, Dikti 2013. (Materi tidak diterbitkan)

 

UN. Jember. 2014. Pelatihan dan Pendampingan Penulisan Artikel pada Jurnal dan Konferensi Ilmiah. Kampus Tegalboto Universitas Jember. December 1, 2014 – December 1, 2014.

DPPM UII. 2009. Pelatihan Penulisan Artikel Ilmiah untuk Publikasi Jurnal Internasional.

 

 

Standard

A MODEL FOR DEVELOPING PROFESSIONAL TEACHERS (A Research with Lesson Study Approach to Sukoharjo Muhammadiyah Schools)

A MODEL FOR DEVELOPING PROFESSIONAL TEACHERS

(A Research with Lesson Study Approach to Sukoharjo Muhammadiyah Schools)

Tjipto Subadi

 Geographical Education

School of Teacher and Training Education – Muhammadiyah University of Surakarta

Jln. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Kartasura Surakarta 57102 Telp: (0271) 717417

e-mail: tjipto.subadi@ums.ac.id

HP. 0816652241

Abstract

This study aims at describing 1) problems with improving the teachers’ professional of Sukoharjo Muhammadiyah schools through lesson study; 2) effective implementation to improve the teachers’ professional; 3) a model validation of the teachers’ professional development in a limited scope; and 4) an active, innovative, creative, effective, and comfortable learning model with lesson study for improving the teachers’ professional. The study used a qualitative-phenomenological approach. The paradigm referred to a social definition with micro analysis. The subject of the study included the heads of National Education, principals, teachers, and members of the Regional House of Representatives. The techniques of gathering data were observation, documentation, and interview. The data analysis used a first order understanding and second order understanding. It could be concluded that 1) there were four problems with improving the teachers’ professional, including internal, external, and commitment and willingness of the teachers. 2) The effective implementation of lesson study was a class action research-based with plan-do-see stages, coordinated by the principals’ work association, and a course teacher association-based.

 

 

Keywords: lesson study, K3S, KKG, first order, second order, understanding,

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MODEL PEMBINAAN PENDIDIK PROFESIONAL

(Suatu Penelitian dengan Pendekatan Lesson Study pada Guru-Guru Sekolah Muhammadiyah Kabupaten Sukoharjo)

 Tjipto Subadi

 Pendidikan Geografi

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta

Jln. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Kartasura Surakarta 57102 Telp: (0271) 717417

e-mail: tjipto.subadi@ums.ac.id

HP. 0816652241

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini mendiskripsikan; 1) identifikasi permasalahan peningkatan profesional guru-guru sekolah Muhammadiyah Kabupaten Sukoharjo melalui lesson study, 2) langkah-langkah lesson study yang efektif untuk meningkatkan profesionalitas guru tersebut, Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis, paradigmanya definisi sosial yang bergerak pada kajian mikro, subjek penelitiannya kepala dinas pendidikan, kepala sekolah, guru, anggota DPRD. Teknik pengumpulan data dengan observasi, dokumentasi, dan wawancara, sedangkan teknik analisis datanya menggunakan fist order understanding dan second order understanding. Kesimpulan penelitian ini: 1) terdapat empat masalah dalam upaya meningkatkan profesionalitas pendidik yaitu: permasalahan internal, eksternal, komitmen dan kemauan guru 2) Langkah-langkah lesson study yang efektif adalah lesson study berbasis research PTK (Penelitian Tindakan Kelas); dengan tahapan plan-do-see; dikoordinasikan melelui MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah), implentasi lesson study berbasis MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran.

 

Kata Kunci: peningkatan, profesional, pendidik, lesson study, validasi, model

Standard

PEMIMPIN BERKARAKTER PANCASILA TJIPTO SUBADI Pend Geografi FKIP-UMS tjipto.subadi@ums.ac.id

PEMIMPIN BERKARAKTER PANCASILA

Oleh Dr. Tjipto Subadi

(Dosen Pendidikan Geografi FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta)

e-mail: tjipto.subadi@ums.ac.id

Disampaikan dalam Seminar Nasional dan Bedah Buku ISPI Banyumas

Di Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Ahad 25 Mei 2014

 

Abstrak

Tujuan makalah ini  1) Membahas bedah buku “Pemimpin Berkarakter Pancasila” oleh Prof. Dr. Tukiran Tanirejo. MM dan Yudhie Haryono Ph.D 2) Mengkaji pemimpin berkarakter Pancasia, 3) Mengkaji dan memahami Pancasila sebagai sistem filsafat. Metode: panel discation. Nama kegiatan Seminar Nasional dan Bedah Buku. Penyelenggara: Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Kabupaten Banyumas. Waktu: Ahad 25 Mei 2014. Tempat: di Auditorium Ukhuwah Islamiyah Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Peserta: Pengurus ISPI Banyumas, Mahasiswa dan Dosen Universitas Muhammadiyah Purwokerto, dan Praktisi Pendidikan. Hasil yang dicapai: 1) Terlasananya bedah buku dengan judul “Pemimpin Berkarakter Pancasila” dengan pembahas utama Dr. Tjipto Subadi dosen Pendidikan Geografi FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta 2) Pemimpin berkarakter Pancasila tidak bisa lepas dengan nilai-nilai Pancasila yaitu ber Ke Tuhanan, ber Kemanusiaan, ber Persatuan, ber Kerakyatan, dan ber Keadilan Sosial. Pemimpin berkarakter Pancasila adalah pemimpin yang relegius yang berkarakter sidiq, amanah, tablegh, dan fathonah.

 

Kata Kunci: Pemimpin, Karakter, Panca Sila

Standard

MODEL PEMBINAAN PENDIDIK PROFESIONAL (Penelitian dengan Pendekatan Lesson Study pada Guru-Guru IPS Sekolah Muhammadiyah Sukoharjo)

MODEL PEMBINAAN PENDIDIK PROFESIONAL

(Penelitian dengan Pendekatan Lesson Study pada Guru-Guru IPS

 Sekolah Muhammadiyah Sukoharjo)

Disampaikan dalam Seminar Nasional

Pengembangan Ilmu Sosial Untuk Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh: Tjipto Subadi 1)

Dosen Pendidikan Geografi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,

 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)

Jl. A. Yani Pabelan Kartasura Tromol Pos 1 Surakarta 57102, Indonesia

1)Tepl: 62-816-652-241.    1)e-mail: tjiptosubadi@yahoo.com

 

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini 1) mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi guru IPS dalam  pembinaan pendidik profesional dengan pendekatan lesson study di Sekolah Muhammadiyah Sukoharjo; 2) mengkaji lesson study yang efektif sebagai model pembinaan guru IPS secara profesional, 3) mengkaji validasi lesson study sebagai model pembinaan guru IPS secara profesinal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis, subjek penelitiannya siswa, guru, kepala sekolah, kepala dinas pendidikan, dan anggota DPRD. Teknik pengumpulan data dengan observasi, dokumentasi, dan wawancara, sedangkan teknik analisis datanya menggunakan first order understanding dan second order understanding. Kesimpulan penelitian ini: 1) terdapat empat masalah yang dihadapi guru IPS dalam pembinaan pendidik  profesional dengan pendekatan lesson study, yaitu; permasalahan internal, eksternal, komitmen dan kemauan guru; 2) lesson study yang efektif sebagai model pembinaan guru IPS secara profesional berbasis MGMP, kolaborasi, dan totor sebaya 3) validasi lesson study sebagai model  pembinaan guru IPS secara profesional adalah validasi pengembangan teaching plan dan teaching material, validasi pelaksanaan open lesson dan refleksi.

 

Kata Kunci: model, peningkatan, profesional, pendidik, lesson study, validasi.

Pendahuluan

            Upaya untuk meningkatkan kualitas pendidik banyak faktor yang harus diperhatikan, antara lain; minat guru, siswa, metode, strategi, media, sarana dan prasarana, perpustakaan, laboratorium, lingkungan dan manajemen, serta model pembinaan yang digunakan. Peningkatan kualitas pembelajaran guru dengan model pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan pada setiap jenjang pendidikan akan berpengaruh pada kualitas pembelajaran yang pada gilirannya akan meningkatkan prestasi akademik peserta didik (siswa) dan kemudian akan berimplikasi pada peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia yang sekarang ini kualitasnya berada pada posisi sangat memprihatinkan, jika dibandingkan dengan kualitas pendidikan di negara lain. (Subadi dkk, 2010: 2)

Balitbang (2003) dalam Jurnal Sekolah Dasar Teori dan Praktik Pendidkan (2009: 19) mencatat, dari 146.052 SD di Indonesia ternyata hanya ada 8 SD yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Primary Years Program (PYP). Dari 20.918 SMP di Indonesia ternyata hanya ada 8 SMP yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Middle Years Program (MYP), dan dari 8.036 SMA ternyata hanya ada 7 SMA yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Diploma Program (DP). Khusus  kualitas guru (2002-2003), data guru yang layak mengajar di SD hanya 21,07 % (negeri) dan 28,94% (swasta), di SMP hanya 54,12 % (negeri) dan 60,09 % (swasta), di SMA 65,29 % (negeri) dan 64, 73 % (swasta), dan di SMK 55,49% (negeri) dan 58,26 % (swasta).

Data rendahnya mutu pendidikan tersebut di atas menunjukkan ada masalah dalam sistem pendidikan di Indonesia.  Pertama; masalah mendasar adalah kesalahan paradigma pendidikan yang mendasari keseluruhan penyelenggaraan sistem pendidikan. Kedua; masalah yang berkaitan dengan model pembinaan guru dan strategi pembelajaran. Ketiga; masalah lain yang berkaitan dengan aspek praktis penyelenggaraan pendidikan, antara lain; biaya, sarana-prasarana, kesejahteraan guru.

Upaya pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan antara lain, pemerintah telah menetapkan UU RI, Nomor 14 Tahun 2005 tantang Guru dan Dosen. UU ini menuntut penyesuaian penyelenggaraan pendidikan dan pembinaan guru atau dosen, agar guru atau dosen menjadi profesional. Pada satu pihak, pekerjaan sebagai guru atau dosen akan memperoleh penghargaan yang lebih tinggi, tetapi pada pihak lain pengakuan tersebut mengharuskan guru atau dosen memenuhi sejumlah persyaratan standar minimal sebagai seorang pendidik professional yaitu kualifikasi akademik, sertifikat pendidik, dan kompetensi.

Selain perangkat UU, lesson study sebagai model pembinaan guru yang dikembangkan di Jepang bisa dimanfaatkan sebagai model pembinaan guru di Indonesia. Lesson study sebagai model pembinaan guru dalam penelitian ini dimaksudkan suatu proses pelatihan guru yang bersiklus, diawali dengan guru berkolaborasi dengan guru lain melakukan kegiatan pecencanaan, pelaksanaan tindakan, dan refleksi.

Peningkatan profesional pendidik dimaksudkan peningkatan kualitas tugas profesi guru utamanya pembelajaran adalah usaha untuk menjadikan pembelajaran lebih baik sesuai dengan keadaan yang diinginkan, diciptakan, kriterianya bersifat normatif  yakni hasil tindakan yang lebih baik dibandingkan dengan keadaan sebelumnya. Peningkatan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah peningkatan kualitas pembelajaran  yang berpengaruh positif kepada prestasi akademik peserta didik (siswa). Pembelajaran seperti  ini pada hakikatnya adalah merupakan proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungan, sehingga terjadi perubahan perilaku yang lebih baik (Mulyasa, 2002: 100). Upaya guru meningkatkan profesionalisme dalam proses pembelajaran menurut Harta (2009: 9-14) seorang guru memiliki perang sebagai sumber belajar, fasilitator, organisator, demonstrator, conselor, motivator dan evaluator. Untuk menjadi guru professional diperlukan pembinaan secara intensif melalui “model pembinaan guru” yang telah teruji dan berhasil seperti yang dilakukan di Jepang yaitu lesson study.

 Lesson study dimulai di Jepang sekitar tahun 1870-an (Inagaki and Sato, 1996: 3). Lesson study adalah suatu model analisis kasus pada praktik pembelajaran, ditujukan untuk membantu pengembangan profesional para guru dan membuka kesempatan bagi mereka untuk saling belajar berdasarkan praktik-praktik nyata di tingkat kelas. Lesson study merupakan model pembinaan guru profesional yang dikembangkan di Jepang tersebut telah terbukti mampu meningkatkan profesional guru dan meningkatkan kualitas pendidikan di negra sakura tersebut. Lesson study oleh guru-guru di Jepang dijadikan model pembinaan pendidik berkalanjutan, para guru berkolaborasi mengkaji pembelajaran melalui perencanaan, pelaksanaan dan observasi, dan reflekasi, bertujuan untuk memotivasi siswa aktif berkolaborasi dalam pembelajaran, guru dalam pembelajaran berusaha menciptakan siswa untuk belajar (mebejarkan siswa).

Dalam kegiatan lesson study guru dapat memilih dan menerapkan berbagai model maupun strategi pembelajaran yang sesuai dengan situasi, kondisi, dan permasalahan yang dihadapi. Banyak model pembelajaran yang bisa dipilih dan dimanfaatkan guru dalam pembelajaran berbasis lesson study, misalnya; model Pembelajaran Kontektual, model Pembelajaran Quantum, model Pembelajaran Terpadu, model Pembelajaran Berbasis Masalah, model Pembelajaran Kooperatif.

Selain model pembelajaran juga banyak strategi pembelajaran dan metode pembelajaran yang bisa dipilih oleh guru dalam pembelajaran berbasis lesson study, misalnya; Strategi pembelajaran yang tergolong dalam model pembelajaran kooperatif; 1) Student Teams Achievement Division (STAD). 2)  Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC.). 3) Jigsaw. 4) Learning Together. 5) Group Investigation. 6) Cooperative Scripting.

Penelitian ini bertujuan; 1) mendeskripsikan permasalahan peningkatan kualitas pembelajaran berbasis lesson study sebagai model pembinaan guru di sekolah-sekolah  Muhammadiyah Kabupaten Sukoharjo. 2) Mendiskkrifsikan lesson study yang efektif sebagai model pembinaan guru yang profesional 3) Validasi lesson study sebagai model pembinaan guru yang profesional dalam sekala terbatas. 4) Mencari model pembelajaran aktif, inovatif, kreatif dan menyenagkan berbasis lesson study sebagai model pembinaan guru profesional.

Metode

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif fenomenologi dengan paradigma definisi sosial yang bergerak pada kajian mikro. Paradigma definisi sosial ini akan memberi peluang individu sebagai subjek penelitian memberikan interpretasi terhadap pertanyaan-pertanyaan penelitian yang diajukan oleh peneliti. Desain penelitian ini menggunakan model lesson study berbasis PTK (Penelitian Tindakan Kelas), siklus lesson study menggunakan PTK modifikasi model Tjipto Subadi (2009)

Latar penelitian ini adalah guru-guru Sekolah Muhammadiyah Kabupaten Sukoharjo, sedangkan informan penelitiannya adalah siswa, guru, Kepala Sekolah, Kepala Dinas, Anggota Dewan (DPRD). Dosen. Teknik pengumpulan data dengan metode observasi dan wawancara mendalam. Observasi dilakukan untuk mengamati praktek pembelajaran di kelas, Wawancara dilakukan baik kepada guru, Kepala Sekolah, Pengawas pendidikan dan anggota DPRD, dosen untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi oleh guru di Sekolah-sekolah Muhammadiyah Kabupaten Sukoharjo dalam meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis lesson study, mendiskkrifsikan lesson study yang efektif sebagai model pembinaan profesional guru, validasi lesson study sebagai model pembinaan profesional guru.

Proses wawancara menggunakan mengacu pandangan Berger dalam Subadi (2004) yaitu  first order understanding dan second order understanding yaitu peneliti memberi peluang individu sebagai subjek penelitian untuk memberikan interpretasi terhadap pertanyaan-pertanyaan penelitian yang diajukan oleh peneliti, dan kemudian peneliti melakukan interpretasi terhadap interpretasi itu untuk memberikan pemaknaan, tetapi pemaknaan oleh peneliti tersebut tidak boleh bertentangan dengan interpretasi yang pertama. Sedangkan teknik analisis data menggunakan tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu; reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan/verifikasi (Miles dan Huberman, 1992:15-21).

Hasil

Permasalahan peningkatan kualitas pembelajaran berbasis lesson study sebagai model pembinaan guru di sekolah-sekolah Muhammadiyah Kabupaten Sukoharjo. Pertama, permasalahan internal, permasalahan ini berasal dari guru, misalnya; kemampuan guru dalam pengembangan kurikulum menjadi pembelajaran berkualitas, kemampuan guru dalam pengembangan instrumen penilaian hasil pembelajaran berkualitas, kemampuan guru dalam penguasaan konsep keilmuan dan langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran inovatif, dan kemampuan guru dalam penguasaan lesson study sebagai model untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Kedua, permasalah ekternal, permasalah ini berasal dari siswa, kepala sekolah, pengawas, lingkungan, kurikulum, sarana dan prasarana, misalnya; kemampuan siswa dalam berinteraksi dengan guru, materi, media, dan sesama teman dan pola pengembangannya, kemampuan siswa dalam penguasaan kompetensi yang diajarkan guru, rendahnya frekuensi supervisi dari kepala sekolah/pengawas, potensi alam sekitar yang kurang mendukung kegiatan pembelajaran, sosialisasi pengembangan kurikulum yang kurang merata, terbatasnya sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah.

Ketiga permasalahn komitmen guru dalam melaksanakannya, melaksanakannya secara konsisten/ajeg, kebanyakan guru kurang ada kebiasaan membaca, kebanyakan guru hanya menyampaikan materi ajar, padahal kurikulumnya KBK. Selanjutnya Sukirman menekankan bahwa kunci kesuksesannya LS, selain guru, adalah Kepala Sekolah, Pengawas, yang didukung dana dari Dinas Pendidikan.

Keempat, permasalahan kemauan guru, jika guru tidak meranga butuh berarti tidak akan muncul kemauan yang keras pada diri guru itu sendiri, maka maupun Dikdasmen mengadakan pelatihan kepada guru yang tidak memiliki kemauan yang keras maka hasil dari petihan tersebut tidak akan berhasil, Implementasi setelah pelatihan, jika guru yang sudah mengikuti pelatihan tidak diikuti implentasi dalam melaksanakan tugas sehari-hari, maka pelatihan itu agan mengamali kegagalan.

Lesson study yang efektif sebagai model pembinaan guru yang  profesional adalah lesson study berbasis MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran), berbasis sekolah, berkolaborasi dengan teman sejawat, menciptakan belajar tutor sebaya, bersiklus (bertahap): plan (planning/perencanaan), do (tindakan dan observasi), see (refleksi dan evaluasi).

Agar lebih efektif lesson study sebagai model pembinaan guru disarankan melelui K3S (Kelompok Kerja Kepala Sekolah), MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah), dan implementasi (program) melalui kegiatan (KKG) Kelompok Kerja Guru, implementasi (pelaksanaan) lesson study di sekolah masing-masing oleh guru model, dilakukan monevin secara rutin, didukung dengan dana, tim wark, motivasi implementasi pada guru di lapangan. Selain itu lesson study yang efektif dilaksanakan secara kolaborasi antara guru dengan guru, guru dengan siswa, siswa dengan siswa, hal yang penting dalam lesson study bagaimana menciptkanan pembelajaran berbasis totor sebaya.

Dampag dari efektivitas lesson study, 1) sebelum pelaksanaan lesson study terdapat perbedaan yang signifikan dengan setelah pelaksanaan lesson study  yaitu; 15 %  dan 50% untuk siklus I,  20% dan 50% untuk siklus II, 2) terjadi peningkatan cukup signifikan pada kompetensi guru”, indikatornya;  perangkat pembelajaran menjadi lebih lengkap dan siap,  penguasaan IT lebih meningkat, metode dan strategi pembelajaran meningkat (membelajarkan siswa, terjadi pembelajaran tutor sebaya), perlu adanya keberlanjutan program lesson study, 3) terdapat kontribusi kualitas pembelajaran, antara lain; Kontribusi peningkatan persiapan pembelajaran. Kontribusi menumbuhkan kerja kolaborasi. Kontribusi pengembangan strategi pembelajaran. Kontribusi kolegialitas. Kontribusi kesiapan belajar siswa. Kontribusi perbaikan proses pembelajaran berdasarkan hasil refleksi. Kontribusi pengembangan media pembelajaran. Kontribusi pengembangan perangkat penilaian.

Validasi lesson study sebagai model pembinaan guru profesional adalah validasi validasi pengembangan teaching plan dan teaching material, validasi pelaksanaan open lesson dan refleksi. Ketiga validasi tersebut dikembangkan menjadi validasi tim lesson study, validasi jadwal pelaksanaan, validasi konsistensi dan kontinuitas pelaksanaan, validasi dokumentasi, validasi peningkatan mutu pembelajaran, validasi tanggapan dari kepala sekolah dan siswa, dan tidak kalah pentingnya adalah validasi pakar sebagai pendamping.

Selain itu, validasi pengembangan model pembelajaran lesson study dilakukan oleh  KKG (Kelompok Kerja Guru) tingkat Gugus, uji coba (implementasi) di sekolah masing-masing yang diikuti oleh guru-guru di sekolahnya. Temuan yang positip dari implementasi lesson study didiskusikan di tingkat MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah) dan MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran).

Validasi pengembangan lesson study diperlukan tindak lanjut yang terprogram dan diimplentasikan secara terprogram sehingga pelaksanaannya lebih efektif maksimal, serta dilakukan evaluasi untuk mengetahui tingkat keberhasilannya.

Validasi  lesson study sebagai model untuk meningkatkan kualitas guru pada sekala terbatas dilaksanakan secara terprogram, dilaksanakan di sekolah masing-masing oleh guru model, temuan-temuan yang positif didiskusikan di tingkat KKG tingkat gugus, serta dilakukan refleksi dan evaluasi.

Tanggapan Guru terhadap lesson study sebagai model untuk meningkatan kualitas guru sangat positif, untuk berkolaborasi diperlukan fasilitator, dan motivasi dari Kepala Sekolah dan Kepala Dinas, selain itu diperlukan pendampingan, dan dalam implementasi di kelas harus ada monitoring.

Tanggapan pengambil kebijakan (Pengawas, Kancam) sangat mendukung dan memberi kesempatan seluas-luasnya kepada semua guru yang berminat meningkatkan keprofesiannya melalui pembelajaran berbasis lesson study. Sedangkan peningkatan keprofesian guru melalui leson study ini sebaiknya diimplementasikan di sekolah masing-masing dan hasilnya didiskusikan ditingkat KKG. Hal yang sama juga disampaikan oleh Anggota DPRD bahwa terhadap pembinanaan guru dengan model lesson study, Legeslatif khususnya komisi yang membidangi pendididkan memberikan dukungan, dan disarankan dibentuk tim work.

Model pembelajaran aktif, inovatif, kreatif dan menyenangkan berbasis lesson study sebagai model pembinaan guru profesional di sekolah-sekolah Muhammadiyah Sukoharjo adalah model pembelajaran berbasis lesson study kolaboratif dan kooperatif, karena dua hal ini sulit dibedakan dan dipisahkan dalam pelaksanaannya, selain itu efektifitas lesson study sebagai model pembinaan guru dilaksanakan melalui koordinasi MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah), dan implementasinya oleh guru model di sekolah masing-masing melalui koordinasi MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran).

Jika terjadi hambatan di dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis lesson study, sebagai solusi diusulkan; (a) pelatihan secara rutin dan berkesinambungan, (b) memasukkan anggaran pelatihan dalam RAPBS, RAPBD dan RAPBN, (c) terbentuknya tim work, (d) program kegiatan monev secara berkala, (e) motivasi dari pembina dan pejabat, (f) monitoring secara berskala dari para pembina, dan (g) MOU sekolah dengan Komisi DPRD dan Perguruan Tinggi yang memiliki pakar lesson study.

Pembahasan, Simpulan, Saran

Pembahasan hasil penelitian terkait dengan permasalahan yang dihadapi guru dalam mengembangkan model peningkatan kualitasnya tidak jauh berbeda dengan penelitian Chokshi  (2005) yang judul: Reaping the Systemic Benefits of Lesson Study, berkesimpulan bahwa pelaksanaan pembelajaran perlu adanya motivator dan visi yang jelas maka, permasalahan yang bersumber dari siswa, dan guru yaitu kurangnya motivasi dalam pembelajaran harus segera dicarikan solusinya agar tercipta pembelajaran yang menyenangkan. Permasalahan eksternal yang berbunyi terbatasnya sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah sejalan dengan  hasil penelitiannya Chokshi (2004) yang berjudul: Challenges to Importing Japanese Lesson Study, bahwa pembelajaran dengan metode praktik lebih cepat bisa mendukung pemahaman anak terhadap suatu pelajaran, karena didukung dengan sarana dan prasarana. Oleh karena itu permasalahan sarana dan prasarana harus segera dicari solusinya.

            Lesson study yang efektif sebagai model pembinanan guru profesional disarankan  Thompson (2007) dalam penelitian yang berjudul: Inquiry in the Life Sciences: The Plant-in-a-Jar as a Catalyst for Learning berkesimpulan bahwa: (1) Adanya usaha guru untuk mengubah pola pembelajaran, ini berarti guru dituntut lebih kreatif dan inovatif. (2) Guru mencari terobosan untuk menyampaikan materi pelajaran pada KD tertentu agar pembelajaran menjadi lebih menyenangkan. (3) Usaha guru membuat model pembelajaran sebagai referensi siswa. Lebih lanjut Thompson menyarankan bahwa pentingnya pengembangan profesional para pendidik yang lebih kreatif dan inovatif yang dapat mempengaruhi pembelajaran sehingga menjadi pembelajaran yang menyenangkan dan demokratis.

            Pembahasan tentang validasi pengembangan model sebagai peningkatan kualitasnya dihubungkan dengan penelitian Stewart (2005), yang berjudul : A Model for Teacher Collaboration, maka penelitian ini saling melengkapi dan ada kesesuaian.  Hasil penelitian Stewart menunjukkan bahwa cara yang terbaik untuk menyempurnakan perbaikan yang sifatnya positif di setiap tingkatan kelas pada suatu sekolah adalah dengan mengadopsi suatu model pembelajaran yang teruji (validasi).

            Model pembelajaran aktif, inovatif, kreatif dan menyenangkan berbasis lesson study sejalan dengan penelitian Robinson (2006) tentang: Prospective Teachers’ Perspectives On Microteaching Lesson Study) berkesimpulan bahwa pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan pembelajaran berbasis  micro-teaching dan lesson study yang melibatkan beberapa guru berkolaborasi mendukung hubungan pembelajaran yang berupa teori dan praktik, hal ini sejalan dengan pembahasan hasil penelitian tersebut di atas.

            Selain itu penelitian lesson study ini sesuai hasil penelitian William Cerbin and Bryan Kopp (2006) dosen University of Wisconsin-L Crosse yang berjudul: Lesson Study as a Model for Building Paedagogical Knowledge and Improving Teaching, salah satu bahasannya bahwa model lesson study guru dapat mengadakan kolaborasi memecahkan kesulitan untuk mencapai tujuan pembelajaran antara mengajar dan belajar siswa yang bermutu. Marsigit (2007) dalam “Mathematics Teachers’ Professional Development Through Lesson Study in Indonesia” pada bahasan penelitiannya menuliskan bahwa model lesson study memberikan kesempatan kepada guru dan para siswa untuk membangun inisiatif baru.

Simpulan

Terdapat empat masalah dalam upaya meningkatkan profesionalitas pendidik dengan pendekatan lesson study pada guru-guru Sekolah Muhammadiyah Kabupaten Sukoharjo (1) masalah internal (permasalahan yang bersumber dari guru), (2) masalah eksternal (permasalahan berasal dari siswa, Kepala Sekolah, Pengawas, Kurikulum, sarana dan prasarana) (3) masalah komitmen guru dalam melaksanakan lesson study (4) masalah kemauan guru/semangat guru dalam melaksanakan lesson study.

            Lesson study yang efektif sebagai model pembinaan guru profesional adalah lesson study berbasis MGMP, berbasis sekolah, berkolaborasi, dan belajar totor sebaya. beriklus dengan tahapan: plan-do-see. Dikoordinasikan melelui K3S (Kelompok Kerja Kepala Sekolah) dan MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah). Implementasi (program) melalui kegiatan (KKG) Kelompok Kerja Guru, sedangakan implementasi (pelaksanaan) lesson study di sekolah masing-masing oleh guru model, dilakukan monevin secara rutin.

Validasi lesson study sebagai model model pembinaan guru profesional adalah validasi pengembangan teaching plan dan teaching material, validasi pelaksanaan open lesson dan refleksi, validasi teori oleh pakar, dan validasi implentasi oleh guru model dan pendamping.

Saran

Kepada pengambil kebijakan, pemerintah hendaknya dalam menyusun strategi kebijakan penataan pendidikan diarahkan pada; 1) Pengembangkan model peningkatan kualitas guru melalui pelatihan lesson study, 2) Pengembangan strategi pembelajaran berbasis kolaboratif dan kooperatif, 3) Pembinaan pendidik professional dikakukan dengan melalui workshop pelatihan berkelanjutan dan pendampingan.

Kepada pelaksana kebijakan (Kepala Sekolah dan guru), disarankan agar berusaha mengembangkan profesinya dengan workshop dan pelatihan berkelanjutan, teknik dan strategi pembelajaran yang inovatif (kolaboratif, kooperatif, dan belajar tutor sebaya),

Lesson study hendaknya dijadikan alternative model pembinaan guru profesional. Lesson study dijadikan; a) wahana belajar bagi guru/peserta lain (juga guru model sendiri),  2) wahana bersejawat berdiskusi/sharing untuk meningkatkan keprofesionalan,  3) wahana berkolaborasi antara guru dengan guru semata pelajaran, sekolah dengan universitas atau lembaga lain, kolaborasi antara guru dengan dosen atau pemikir pendidikan lainnya guna menghasilkan inovasi pembelajaran.

Pembinaan pendidik secara profesional dengan pendekatan lesson study ini diharapkan  dilaksanakan secara rutin dan berkesinambungan, (1) memasukkan anggaran pembinaan dalam RAPBS, RAPBD dan RAPBN, (2) MOU sekolah dengan komisi DPRD dan Perguruan Tinggi.

Penelitia tahun kedua masih diharapkan untuk dilanjutkan, yang difokuskan pada  1) validasi lesson study sebagai model pembinaan profesinal pendidik dalam sekala lebih luas, 2) model pembinaan pendidik profesional melalui pendekatan lesson study modifikasi, 3) Sistem pendampingan dan implementasi lesson study sebagai model pembinaan untuk meningkatkan profesionalitas guru di Sekolah Muhammadiyah Sukoharjo. 4) Implementasi lesson study di Sekolah Muhammadiyah Sukoharjo sebagai model pembinaan pendidik profesional untuk mengatasi permasalahan pendidikan bersekala regional

 Ucapan Terima Kasih

Penelitian ini dibiayai oleh Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi Departeman Pendidikan Nasional sesuai dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Hibah Penelitian Nomor: 007/O06.2/Pp/Sp/2012 Tertanggal 24 Februari 2012, oleh karena itu peneliti menyampaikan ucapan terima kasih kepada;

Pemerintah c.q Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional/DP2M yang telah berkenan memberi bentuan dana, sehingga penelitian ini berjalan dengan baik sesuai dengan kaidah akademik. Penelitian ini direncanakan berjalan tiga tahun, oleh kerena itu peneliti sangat mengharapkan bantuan dana penelitian untuk tahun kedua dan ketiga.

Ucapa terima kasih juga peneliti sampaikan kepada Ketua Majlis Dikdasman Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sukoharjo, Kepala Sekolah SMP, SMA, SMK, Muhammadiyah Kabupeten Sukoharjo yang telah memberikan ijin dan kolaborasi penelitian lesson study.

 

DAFTAR PUSTAKA

Berger, P. and  T. Luckman. 1967. The Social Construction of Reality. London: Allen Lane.

—————. 1990. Tafsir Sosial atas Kenyataan. Risalah Tentang Sosiologi Pengetahuan. Jakarta: LP3ES.

Chakhshi, Sonal, Clea Fernandes. 2004. Cellenger to Importing Japanes Lesson Study. Bloomington Concerns, Miscoseptions, and Nuancen. www.proquets.umi.com.

 —————– . 2005. Reaping the Systemic  Benefits of Lesson Study Bloomington: Insights from the U.S. Vol 86. www.proquets.umi.com.

Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Undang-Undang Republik Indonesi Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas RI.

—————– . 2005. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tentang Guru dan Dosen. Jakarta: Depdiknas RI.

Harta Idris dan Djumadi. 2009. Pendalaman Materi Metode Pembelajaran. Modul PLPG. Departeman Pendidikan Nasional. Universitas Muhammadiyah Surakarta Panitia Sertifikasi Guru Rayon 41. Surakarta: BP FKIP-UMS.

 Inagaki, T. and Sato, M. (1996). Jugyo Kenkyu Nyumon (Introduction to Lesson Study. Tokyo: Iwanami.

Marsigit. 2007. Mathematics Teachers’ Professional Development Through Lesson Study in Indonesia. Eurasia Journal of Mathematics, Science & Technology Education, 3 (2), 141-144.

Miles, B. M., Michael, H., 1992, Qualitative Data Analisys, dalam H.B. Sutopo (1984), Taman Budaya Surakarta dan Aktivitas Seni di Surakarta, Laporan Penelitian, FISIPOL UNS.

Mulyasa, 2004,  Menjadi Kepala sekolah Profesional. Bandung: Remaja rosda Karya.

Robinson N. 2006. Lesson Study: An example of its adaptation to Israeli middle school teachers. (Online): stwww.weizmann.ac.il/G-math/ICMI/ Robinson proposal.doc

Subadi. T (2009). Pengembangan Model Peningkatan Kualitas Guru Melalui Pelatihan Lesson Study Bagi Guru SD Se-Karesidenan Surakarta (Laporan Penelitian di Publikasikan di Perpustakaan Pusat UMS).

————, 2009. Sosiologi dan Sosiologi Pendidikan (Suatu Kajian Boro dari Perspektif Sosiologis Fenomenologis.Katasura: Fairuz media Duta Pemata Ilmu.

————-. 2009. Pengembangan Model Untuk Meningkatkan Kualitas Guru Melalui Pelatihan Lesson Study di Sekolah Dasar Kota Surakarta. Jurnal Sekolah Dasar Kajian Teori dan Praktik Pendidikan. Tahun 18. Nomor 2 November 2009. ISSN 0854-8285. Malang: UN Malang.

Stephen L. Thompson, 2007, Science Activities, Washington: Winter 2007. Vol. 43. Iss. 4, pg.27, 7 pgs.

Stewart, R, Brederfur, J. 2005. Fusing Lesson Study and Aithetic Achievent. Bloomington: A. Model for Teacher Collabooration. www.proquest.umi.com

 Tim Pengembang Sertifikasi Kependidikan. 2003. Pedoman Sertifikasi Kompetensi Tenaga Kependidikan (draft). Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi Ditjen Dikti Depdiknas.

William Cerbin and Bryan Kopp. 2006. Lesson Study as a Model for Building Pedogogical Knowledge and Improving Teaching. In International Journal of Teaching and Learning in Higher Education. 18 (3), 150-257. ISSN 1812-9129.