Standard

Laporan Penelitian 2005. MIGRSI MASYARAKAT DESA TEGALOMBO SRAGEN (Kajian Migrasi Sirkuler dari Perspektif Fenomenologi)

LAPORAN PENELITIAN

MIGRASI MASYRAKAT DESA TEGALOMBO SRAGEN

(Kajian Migrasi Sirkulerdari Perspektif Fenomenologi)

Peneliti

FAKUTLAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2005

KATA PENGANTAR

 

Pertama-tama peneliti panjatkan puji syukur kehadirat Allah Yang Maha Pengasih tak pilih kasih dan Maha Penyayang tak pilih sayang, atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penelitian ini dapat diselesaikan. Penelitian ini tidak akan selesai apabila tidak mendapatkan bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini, peneliti ingin menyampaikan terima kasih kepada:

Yang kami hormati Pemerintah c.q Mentri Pendidikan Nasional, yang telah memberi kesempatan peneliti untuk memperoleh biaya penelitian dari BPPS yang sangat membantu dan meringankan beban keuangan peneliti.

Yang kami hormati Kopertis Wilayah Jawa Tengah yang telah memperi rekomendasi dan kemudahan peneliti untuk mengajuan permohonan biaya penelitian ini samapai mendapat persetujuan.

Terima kasih tak terhingga juga peneliti sampaikan kepada Bapak Prof. Drs. H. Dochak Latief selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada peneliti.

Kepada sahabat-sahabat dosen FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta yang telah memperikan masukan melalui diskusi rutin yang bisa menambah khasanah akademik penelitian ini.

Penelitian ini pasti ada kekurangan, oleh karena itu kepada semua pihak diharapkan memberikan kritik yang konstruktif demi kesempurnaan penelitian ini pada masa-masa yang akan datang. Semoga penelitian ini bermanfaat, amien ya robbal ‘alamien.

 

 

                                                                                                                                                                           Surakarta  Januari 2005

                                                                                                                                                                             Peneliti

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                             Dr. Tjipto Subadi

 

 

 MIGRASI MASYRAKAT DESA TEGALOMBO SRAGEN

(Kajian Migrasi Sirkulerdari Perspektif Fenomenologi)

Peneliti

TJIPTO SUBADI

Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Surakarta

Jl. A. Yani. Tromol Pos 1 Pabelan Surakarta

Email: tjiptosubadi@yahoo.com

 

ABSTRAK

 Secara umum penelitian ini bertujuan memahami fenomena boro sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial dari proses dan makna yang dilihat sebagai realitas subjektif. Sedangkan secara khusus bertujuan (1) memahami dan memperoleh pengetahuan sosial yang sistematis mengenai; alasan yang mendasari tindakan mereka melakukan boro, konstruksi sosial proses boro dan maknanya sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial oleh pelaku boro itu sendiri (2) memodifikasi teori migrasi kuanlitatif Averett S. Lee sebagai realitas objektif menjadi teori migrasi kualitatif sebagai realitas subjektif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang berfokus pada analisis pemahaman dan pemaknaan, paradigmanya definisi sosial yang bergerak pada kajian mikro. Metode analisis data menggunakan first order understanding yakni meminta peneliti aliran ini menanyakan kepada subjek penelitian guna mendapatkan penjelasan yang benar, informasi inilah yang disebut eksternalisasi menurut pemahaman Berger. Selanjutnya peneliti melakukan second order understanding yakni peneliti memberikan interpretasi terhadap interpretasi subjek penelitian guna memperoleh suatu makna baru mengenai alasan yang mendasari tindakan mereka melakukan boro, konstruksi sosial proses boro dan maknanya, informasi inilah yang disebut objektivasi menurut pemahaman Berger. Penelitian ini menghasilakan temuan; (1) boro dilakukan oleh kelompok masyarakat kuli setengah kenceng, boro ini memiliki konstruksi sosial yang beragam berkaitan dengan alasan yang mendasari tindakan mereka melakukan boro. Pada satu sisi boro bertindak karena alasan ekonomi, pada sisi lain boro bertindak karena alasan non ekonomi, mereka melakukan boro karena kesadaran jaringan sosial dan kesadaran jaminan sosial. (2) Proses boro menganut sistem siklus dan hubungan sepesukuan. Boro memiliki banyak makna, selain makna ekonomi boro juga memiliki makna non-ekonomi seperti; makna kesadaran jaringan sosial dan kesadaran jaminan sosial, kesadaran religiusitas, makna kesadaran ilmu pengetahuan dan status sosial. (3) Boro untuk memperbaiki kondisi perekonomian keluarga menunjukkan makna ekonomi dalam boro, sedangkan boro karena keyakinan agama menunjukkan makna kesadaran religiusitas dalam boro, boro karena hubungan kekerabatan antara boro lama dengan boro baru menunjukkan makna kesadaran jaringan sosial dalam boro, dan boro karena pertimbangan keamanan dan kesehatan keluarga yang ditinggalkan menunjukkan makna kesadaran jaminan sosial dalam boro. boro ingin mencari pengalaman menunjukkan makna kesadaran ilmu pengetahuan dan status sosial dalam boro.

 

Keywoeds : Boro, migrasi, banyak makna, first and order understanding

 

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL  ………………………………………………………….    i

HALAMAN PENGESAHAN ………………………………………………        ii

KATA PENGANTAR …………………………………………………………  iii

ABSTRAK ……………………………………………………………………..   iv

DAFTAR ISI …………………………………………………………………..         v

BAB I  PENDAHULUAN ……………………………………………………..   1

A. Latar Belakang Masalah ……………………………………………    1

B. Rumusan Masalah …………………………………………………..    3

C. Tujuan Penelitian …………………………………………………..     4

D. Manfaat Penelitian …………………………………………………     4

BAB II PENDEKATAN TEORITIK ………………………………………….       6

A. Teori Migrasi Everett S. Lee ……………………………………….    6

B. Kritik Teori Migrasi Lee ……………………………………………     9

C. Fenomenologi yang Digunakan ……………………………………    10

D. Penggunaan Fenomenologi untuk Memahami Migrasi ……………    11

BAB III METODE PENELITIAN …………………………………………….     12

A. Pendekatan Studi …………………………………………………..   12

B. Pemilihan Lokasi Penelitian……………………………………….     12

C. Strategi dan Teknik Penelitian …………………………………….    13

D. Metode Pengumpulan Data ……………………………………….   18

E. Teknik Analisis Data ………………………………………………   22

F. Keabsahan Data ……………………………………………………   26

BAB IV ANALISIS ASPEK WILAYAH …………………………………….     28

A. Wilayah Jawa Tengah …………………………………………….    28

B. Wilayah Kabupaten Sragen ……………………………………….     29

C. Siklus Aktivitas Pertanian dan Kemiskinan ………………………     36

D. Diskripsi Lokasi Penelitian ……………………………………….      38

BAB V  ANALISIS PROSES MIGRASI SIRKULER ………………………       42

A. Fisrt Order Understanding ……………………………………….    43

1.  Struktur Masyrakat Desa ……………………………………..      43

2.  Proses Migrasi Sirkuler Masyarakat Desa …………………….      45

3.  Efek Migrasi Sirkuler …………………………………………      65

B. Second Order Understanding …………………………………….      70

BAB VI ANALISIS MAKNA MIGRASI SIRKULER ……………………..   75

A. First Order Understanding ………………………………………..    76

1. Migrasi Sirkuler Ingin Merubah Nasib ………………………..         77

2. Migrasi Sirkuler Ingin Mencari Ilmu ………………………….         81

3. Migrasi Sirkuler Ingin Meningkatkan Status Sosial …………..         84

B. Second Order Understanding ……………………………………..     87

BAB VII PEMBAHASAN MIGRASI SIRKULER …………………………  90

A. Struktur Masyarakat Desa Tegalombo …………………………..       90

B. Migran Sirkuler Masyarakat Desa ………………………………..      91

C. Pemahaman Migran Sirkuler Terhadap Proses Migrasi …………..      92

D. RumusanTeori yang Dihasilkan dari…………………..………….      104

1. Proses Migrasi Sirkuler………………………………………..      104

2. Makna Migrasi Sirkuler ……………………………………….     106

BAB VIII KESIMPULAN DAN SARAN …………………………………… 109

A. Kesimpulan ………………………………………………………..    109

B. Saran-saran ………………………………………………………..     115

Daftar Putaka

BAB I    PENDAHULUAN

 

  1.  Latar Belakang Masalah

Secara formal  migrasi penduduk di Indonesia telah dimulai pada tahun 1905 dengan motif memenuhi permintaan akan kebutuhan pekerjaan perkebunan. Pemerintah Belanda waktu itu telah memindahkan 155 Kepala Keluarga dari Jawa ke Gedong Tataan Sumatra Selatan (Mantra, 1988: 160).

Di Jawa Tengah, berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 1980 menunjukkan bahwa migrasi ke luar Jawa sebanyak 2.402.557 jiwa dan migrasi masuk ke Jawa sebanyak 1.804.115 jiwa. Sedangkan pada tahun 1990, migrasi ke luar Jawa sebanyak 3.416.923 jiwa dan migrasi masuk ke Jawa 3.058.725 jiwa (Firman, 1994: 6). Pada tahun 2002 terdapat eksodan sejumlah 6.536 KK (25.239 jiwa) di Jawa Tengah.

Data migrasi di pedesaan Jawa Tengah, misalnya data yang penulis peroleh dari desa Tegalombo (Sragen) tahun 2002 adalah; 3 orang ke Batam, 3 orang ke Kalimantan, 111 orang ke Sumatra, 2 orang ke Malaysia, dan 3 orang ke Taiwan. (dalam tulisan ini migrasi disebut migrasi sirkuler)

Fenomena migrasi sirkuler yang dilakukan oleh sebagian penduduk di desa Tegalombo tidak dilakukan oleh seluruh anggota keluarga. Jika pelaku migrsi suami maka istri dan anak-anak tinggal di rumah (desa) atau jika yang migrasi istri maka suami dan anak-anak tinggal di rumah (desa), begitu juga jika yang migrsi anak, ayah dan ibu tinggal di rumah (desa). Pelaku migrsi ini pada saat tertentu kembali ke desa Tegalombo dan melakukan aktivitas sosial sebagaimana anggota masyarakat lainnya. Kemudian setelah kurun waktu tertentu (1-2 minggu) mereka kembali ke daerah migran lagi. Begitu seterusnya migrasi dilakukan oleh masyarakat desa Tegalombo.

Ada banyak hal yang menarik seputar fenomena migrasi di desa Tegalombo. Pertama, jumlah migran dari tahun ke tahun cenderung meningkat, pada tahun 1990 terdapat 47 orang dan pada tahun 2000 jumlah tersebut menjadi 122 orang, yang berarti ada kenaikan 200% lebih. Padahal pada beberapa tahun terakhir ini, perkembangan industrialisasi di daerah penelitian (Sragen) cukup menjanjikan sebagai upaya pemerintah di bidang tenaga kerja. Kedua, migrasi diikuti dengan perpindahan pekerjaan dari buruh tani ke pedagang. Ketiga, fenomena migrsi yang lebih menarik adalah migrasi untuk mencari pengalaman, demi anak-anak, ingin meningkatkan status sosial di desa dan sebagainya, ini berarti bahwa migrasi memiliki makna lain selain kepentingan ekonomi.

Dominasi faktor ekonomi dianggap sebagai penyebab utama seseorang bermigrasi, seperti penelitian Todaro (1992) yang populer dengan studi mobilitas desa-kota melihat kesenjangan distribusi geografis dari faktor-faktor produksi (tenaga kerja, modal, sumber daya alam, dan tanah) sebagai apriori yang diberikan dan mengasumsikan kesenjangan pengupahan sebagai faktor yang menentukan. Akibat dari kesenjangan pengupahan tersebut menurut Todaro terjadi mobilitas tenaga kerja dari daerah yang berlimpah tenaga kerjanya dengan modal rendah ke daerah dimana tenaga kerjanya jarang dengan modal yang berlimpah. Dengan asumsi bahwa faktor-faktor sumber daya alam terdistribusi merata. Pendekatan ini mengasumsikan pola bentuk ekonomi rasional sebagai pilihan para migran yang menyebabkan adanya transfer tenaga kerja.

Penelitian lain adalah penelitian Hugo (1982), yang juga menyoroti dampak migrasi terhadap perekonomian keluarga. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa besarnya remitan migran akan menentukan tingkat kesejahteraan suatu rumah tangga. Kebanyakan remitan dari migran untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok, disimpulkan bahwa 40% remitan dari migran  dipergunakan untuk membeli beras, sedangkan 60% dari remitan untuk biaya pendidikan saudara dan anak-anaknya.

Penelitian Mantra dan Sumantri (1988), berkesimpulan bahwa perpindahan penduduk di daerah penelitian mempunyai peranan cukup besar di dalam mengubah kehidupan ekonomi daerah pedesaan. Juga dalam penelitiannya terhadap perantau Minangkabau, menghasilkan bahwa dari segi ekonomi merantau memperhatikan efek positif sebagai sumber tambahan ekonomi keluarga.

Penelitian Mulyantoro (1991) tentang Migran Asal Lamongan dan Keadaan Ekonominya diperoleh temuan bahwa Kota Kupang menjadi faktor penarik utama migran asal Lamongan karena penghasilan dan pendapatan yang lebih besar. Sedangkan faktor pendorong migran (di daerah asal) adalah penghasilan rendah, tidak memiliki lahan pertanian, tidak ada lapangan kerja. Adapun faktor penarik (di daerah tujuan) adalah penghasilan besar, mudah mencari pekerjaan, persaingan belum banyak.

Dari beberapa hasil penelitian yang diuraikan di atas, menjelaskan bahwa faktor ekonomilah yang menjadi penyebab utama seseorang melakukan migrasi. Penelitian-penelitian tersebut mengabaikan faktor lain selain faktor ekonomi. Di samping itu penelitian-penelitian tersebut di atas  menggunakan metode kuantitatif yang hanya melihat fenomenologi sebagai realitas objektif, padahal migrasi di samping sebagai mobilitas penduduk juga sebagai fenomena sosial, yang di dalamnya ada pengalaman manusia yaitu makna migrasi dan prosesnya belum dikaji, makna dan proses migrasi ini juga bisa dikaji secara kualitatif yang dilihat sebagai realitas subjektif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi.

B.       Rumusan Masalah

Permasalahan utama yang menjadi fokus penelitian ini adalah; (1) bagaimana struktur masyarakat desa di desa penlitian? (2) siapakah pelaku migrasi sirkuler di desa Tegalombo? mengapa mereka melakukan migrasi sirkuler? (3) bagaimana konstruksi sosial proses migrasi sirkuler sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial, (4) bagaimana konstruksi sosial makna migrasi sirkuler oleh pelaku migrasi sirkuler?

  1. C.      Tujuan Penelitian

Secara umum penelitian ini bertujuan; memahami fenomena migrasi sirkuler sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial dari proses dan makna yang dilihat sebagai realitas subjektif. Secara khusus penelitian  ini bertujuan; (1) memahami struktur masyarakat desa di desa penlitian (2) memahami pelaku migrasi sirkuler di desa Tegalombo? memahami sebab-sebab mereka melakukan migrasi sirkuler (3) memahami konstruksi sosial proses migrasi sirkuler sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial, dan (4) memahami konstruksi sosial makna migrasi sirkuler oleh pelaku migrasi sirkuler?

  1. D.      Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah; (1) Secara teoritis, penelitian ini bermanfaat memberikan sumbangan ilmu pengetahuan sosial tentang; struktur masyarakat desa,  pelaku migrasi sirkuler di desa Tegalombo, sebab-sebab mereka melakukan migrasi sirkuler, konstruksi sosial proses migrasi sirkuler sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial, dan konstruksi sosial makna migrasi sirkuler oleh pelaku migrasi sirkuler? (2) Secara praktis, penelitian ini bermanfaat memberikan sumbangan pemikiran bagi pemerintah dalam menyusun strategi kebijakan penataan kependudukan, strategi dalam menciptakan kesempatan kerja dan pengembangannya yakni sistem informasi kesempatan kerja, jaringan sosial dan jaminan sosial daerah potensi migrasi sirkuler kepada calon-calon migrasi sirkuler (masyarakat pedesaan) dalam menghadapi persoalan ketenaga kerjaan, persoalan mobilitas penduduk dan gejala sosial bagi masyarakat pedesaan.   Hal ini mengingat masalah menciptakan kesempatan kerja dan pengembangannya di Indonesia sangat mendesak lebih-lebih dalam menghadapi krisis ekonomi yang berkepanjangan, dalam hal ini isyarat dari Mc. Gee, dalam Abu-Lughod dan Hay eds., dalam Sutomo, (1993: 16) bahwa di masa mendatang kebanyakan negara berkembang terutama yang penduduknya cukup besar seperti India dan Indonesia akan menghadapi masalah genting, kecuali bila berhasil dalam menyusun strategi dalam menciptakan kesempatan kerja dan pengembangannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PENDEKATAN TEORITIK

 

  1. A.    Teori Migrasi Everett S. Lee

Mobilitas penduduk dari desa ke kota baik yang permanen (migrasi) maupun yang non-permanen (sirkulasi), pada hakekatnya memiliki kesamaan terutama tentang daya dorong dan dalam hal proses pengambilan keputusan untuk melakukan mobilitas (Mantra, 1987: 140-144;). Ketetapan menjadi migran permanen atau non-permanan tersebut sangat tergantung pada kemampuan kota dalam mengembangkan  industrialisasi (Mc.Gee, 1977: dalam Abu-Lughod dan Hay, eds., 1977: 209-211; dalam Sutomo 1993: 22) termasuk di dalamnya kesempatan kerja sektor perdagangan, dan sektor-sektor yang lain. Suatu mobilitas akan terjadi apabila individu memutuskan lebih baik pindah dari pada menetap tinggal karena kepindahan tersebut dirasa akan lebih menimbulkan keuntungan. Untuk menjelaskan mekanisme migrasi perlu dikaitkan dengan proses pengambilan keputusan. Konsep yang paling membantu untuk memahami mekanisme tersebut adalah teori dorong-tarik (push-pull theory).

Teori dorong-tarik (push-pull theory) mengasumsikan bahwa setiap fenomena  migrasi selalu berkaitan dengan daerah asal, daerah tujuan, dan bermacam-macam rintangan yang menghambat. Menurut Lee ada empat faktor yang berpengaruh orang mengambil keputusan untuk melakukan migrasi, yaitu; (1) Faktor-faktor yang terdapat di daerah asal,(2) faktor-faktor di daerah tujuan, (3) faktor rintangan, dan (4) faktor pribadi.

Faktor-faktor di daerah asal dan daerah tujuan dapat bersifat positif, negatif atau bersifat netral. Faktor-faktor di daerah asal dikatakan positif kalau sifatnya mendorong migran, negatif kalau menghambat migran, dan netral kalau tidak berpengaruh terhadap migran. Sedangkan faktor-faktor di daerah tujuan dikatakan positif jika menarik calon migran, negatif kalau menghambat masuknya calon migran, dan netral kalau tidak berpengaruh terhadap migran (Lee, 1966, diterjemahkan oleh Daeng, ditinjau kembali oleh Mantra, 1987: 5).

Dari keempat kelompok faktor tersebut yang terutama adalah faktor pribadi, karena pada akhirnya keputusan bermigrasi atau tidak bermigrasi tergantung kepada yang bersangkutan. Apakah sesuatu faktor bersifat positif, negatif, atau netral dan seberapa jauh mendorong, menghambat, atau menarik calon migran bergantung kapada pribadi yang  mempersepsikannya.

Lee menjelaskan bahwa tiga hal yang pertama dari faktor-faktor tersebut secara skematis terlihat pada gambar 2.1. Dalam setiap daerah banyak sekali faktor yang mempengaruhi orang menetap di situ atau menarik orang untuk pindah ke situ ada pula faktor-faktor lain yang memaksa mereka meninggalkan daerah itu.

 

+ 0 – + + 0 – + 0                                     – - + 0 + 0  0

- – + 0 – + 0 – - 0                                     – - + 0 + 0  0

- + 0 – +0 – 0+ 0                                                – +0-+0—0+0

- 0 -+ 0 – - + 0-+    Penghalang Antara     +0-+0–+0-+

- – + 0 – + 0 – - 0                                     – -+ 0 – +0—0

Faktor daerah asal                              Faktor daerah tujuan

 

Gambar 2.1. Teori Dorong-tarik (Push-Pull Theory) Lee

Faktor-faktor itu terlihat dalam diagram sebagai tanda + (positif) dan – (negatif), faktor lain yang ditunjukkan dengan tanda 0 (netral) ialah faktor yang pada dasarnya tidak ada pengaruhnya sama sekali pada penduduk. Beberapa faktor itu mempunyai pengaruh yang sama terhadap beberapa orang, sedangkan ada faktor yang mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap seseorang.

Pada gambar 2.1 tersebut di atas dapat dijelaskan bahwa orang akan membuat kalkulasi kualifikasi faktor-faktor (+) dan faktor-faktor (-) untuk menentukan sesuatu daerah memuaskan atau tidak sehingga diperoleh nilai kefaedahan (place utility) daerah tersebut. Proses mobilitas akan terjadi apabila neraca perbandingan faktor-faktor tersebut menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh pada keinginan berpindah lebih banyak dari pada faktor-faktor yang berpengaruh pada penghambat. Kedua faktor tersebut mempunyai peran yang berbeda dalam proses mobilitas.

Faktor-faktor (+) di daerah asal berpengaruh sebagai penahan agar seseorang tetap tinggal di daerahnya, faktor-faktor (-) di daerah asal berpengaruh sebagai pendorong  (push factors) agar seseorang pindah ke daerah lain, sebaliknya faktor-faktor (+) di daerah tujuan berpengaruh sebagai penarik (pull factors) agar seseorang melakukan pindah ke daerah tersebut, faktor-faktor (-) di daerah tujuan berpengaruh agar seseorang tidak datang di daerah tersebut, faktor-faktor (0) baik di daerah asal maupun di daerah tujuan merupakan faktor netral (neutral factors) yang berarti tidak berpengaruh dalam proses mobilitas.

Kesimpulan yang diambil dari penelitian migrasi Lee ini adalah: (1) Migrasi berkait erat dengan jarak, (2) Migrasi bertahap, (3) Migrasi arus dan migrasi arus balik. (4) Terdapat perbedaan antara desa dan kota mengenai kecendungan melakukan migrasi. (5) Wanita lebih suka bermigrasi ke daerah-daerah yang dekat. (6) Mengikat teknologi dengan migrasi. (7) Motif ekonomi merupakan dorongan utama orang bermigrasi.

  1. Kritik Teori Migrasi Lee

Penelitian migrasi Lee ini hanya didsarkan atas fenomena objektif (material) dan hubungan kausal daerah asal dan daerah tujuan, dan tidak sampai memahami migrasi sebagai fenomena subjektif (non materi) seperti proses dan makna dalam arti tidak sampai pada kajian alasan dibalik tindakan

Penelitian Lee ini melihat dorongan utama bermigrasi adalah dorongan ekonomi, belum sampai pada kajian soiologis. Padahal motif ekonomi dan dorongan sosiologi orang melakukan migrasi sangat erat hubungannya.

Pdahal penelitian migrasi dapat dijelaskan sebagai fenomena subjektif (non materi) dan tidak semata didasarkan pertimbanganekonomi rasional atau kesenjangan hubungan desa-kota (daerah asal-tujuan). Berbagai faktor non ekonomi menjadi faktor pendorong migrasi masyarakat desa. Banyak faktor yang tidak disebut oleh Lee sebagai faktor pendorong migrasi tetapi justru menjadi faktor penting mendorong migrasi oleh masyarakat desa. Faktor non materi yang mempengaruhi migrasi antara lain; (1) hubungan kekeluargaan (kekrabatan) yang terjalin dalam masyarakat. Migrasi dilakukan dengan mengikuti anggota keluarga yang telah melakukan migrasi atau diajak oleh anggota keluarga yang telah berhasil di daerah migrasi, (2) Keinginan untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan, (3) kesadaran akan jaringan, ajaran agama (religiusitas), dan status sosial

D.    Fenomenologi yang Digunakan

Fenomenologi yang digunakan adalah fenomenologi Berger.  Fenomenologi Berger dalam penelitian ini, untuk mengkaji pengetahuan pemahaman tentang pemahaman para migran terhadap makna migrasi dan prosesnya sebagai realitas subjektif, dengan pertimbangan bahwa: pendekatan ini dengan paradigma definisi sosial yang bergerak pada kajian mikro akan memberi peluang individu sebagai subjek penelitian melakukan interpretasi, dan kemudian peneliti melakukan interpretasi terhadap interpretasi itu sampai mendapatkan pengetahuan tentang makna migrasi.

Berger menyebutnya dengan first order understanding (meminta peneliti untuk menanyakan kepada pihak yang diteliti guna mendapatkan penjelasan yang benar), dan second order understanding (dalam hal ini peneliti memberikan penjelasan dan interpretasi terhadap interpretasi itu sampai memperoleh suatu makna yang baru) sebagaimana telah dijelaskan di atas.

Selain itu penggunaan perspektif ini tidak bisa lepas dari pandangan moralnya, baik taraf mengamati, menghimpun data, menganalisis, ataupun dalam membuat kesimpulan. Tidak dapat lepas, bukan berarti keterpaksaan, melainkan adanya makna etika. Perspektif fenomenologi bukan hendak menampilkan teori dan konseptualisasi yang sekedar berisi anjuran atau imperatif, melainkan mengangkat makna etika dalam berteori dan berkonsep.

E.     Penggunaan Fenomenologi untuk Memahami Migrasi

Perspektif fenomenologi ini digunakan untuk memahami pemahaman para migran terhadap makna migrasi dan prosesnya. Pemahaman tentang pemahaman ini diharapkan menghasilkan suatu temuan yang dapat memperbaiki teori tentang migrasi. Penggunaan fenomenologi juga untuk memahami makna migrasi dan prosesnya sebagai kebenaran empirik etik yang memerlukan akalbudi untuk melacak dan menjelaskan serta berargumentasi. Akalbudi disini mengandung makna bahwa kita perlu menggunakan kriteria lebih tinggi lagi dari sekedar truth or false (benar atau salah) (Muhadjir, 1996: 83). Nilai moral yang digunakan pendekatan ini tidak terbatas pada nilai moral tunggal yaitu truth or false. Tetapi nilai moral yang digunakan pada pendekatan ini mengacu pada nilai moral ganda yang herarkik yang berarti ada kebermaknaan tindakan.

Berikutnya penggunaan fenomenologi ini terkait dengan suatu alasan dari kebermaknaan tindakan untuk status konstruksi sosial bahwa suatu aksi itu diilhami makna subjektif.

Aksi migrasi juga diilhami makna subjektif, dan aksi migrasi ini tidak sekedar gerakan fisik (mobilitas fisik) tetapi juga memiliki sesuatu inside (kedalaman) yang terdiri dari proses mental pelaku migrasi. Oleh karena itu penggunaan fenomenologi untuk memahami aksi migrasi bukan dilihat dari aspek materi tetapi dari aspek non materi, bukan dari aspek dampak tetapi dari aspek proses, bukan realitas objektif tetapi dari realitas subjektif, dan bukan dari perspektif positivistik tetapi dari perspektif fenomenologi.

 

BAB III

METODE PENELITIAN

 

  1. A.      Pendekatan Studi

Untuk mencapai tujuan penelitian yang telah dirumuskan pada bab pendahuluan, pendekatan yang digunakan adalah perspektif fenomenologi dengan paradigma definisi sosial yang bergerak pada kajian mikro. Perspektif fenomenologi dengan paradigma definisi sosial ini akan memberi peluang individu sebagai subjek penelitian melakukan interpretasi, dan kemudian peneliti melakukan interpretasi terhadap interpretasi itu sampai mendapatkan pengetahuan tentang proses dan makna migrsi sirkuler, dalam hal ini Berger menyebutnya dengan first order understanding dan second order understanding.

Penelitian ini juga menggunakan metode kualitatif, dengan alasan karena penelitian ini berfokus pada analisis pemahaman dan pemaknaan. Melalui metode kualitatif ini, realitas sosial yang hendak dikaji adalah realitas subjektif berupa pemahaman dan pemaknaan, melalui metode ini peneliti meminta interpretasi subjek penelitian, kemudian peneliti melakukan interpretasi terhadap interpretasi subjek penelitian itu sampai mendapatkan makna. Metode penelitian kualitatif ini berupaya menelaah esensi, memberi makna pada migrasi sirkuler dan prosesnya di desa Tegalombo.

  1. B.       Pemilihan Lokasi Penelitian

Tegalombo dipilih sebagai lokasi penelitian dengan alasan di desa ini ada fenomena migrasi sirkuler, 3 orang ke Batam, 3 orang ke Kalimantan, 111 orang ke Sumatra, dan 5 orang Malaysia. Dengan pemilihan daerah penelitian ini peneiti dapat memahami proses migrasi sirkuler dan maknanya sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial dari realitas subjektif.

Untuk membatasi migran sirkuler yang dijadikan subjek penelitian, maka semua migran sirkuler di desa penelitian ini sebagai populasi. Sedangkan sampel yang dipilih sebagai subjek penelitian (informan) atas dasar pertimbangan kualitas keterandalan sang informan ini sebagai sumber yang sungguh informatif. Informan dipilih secara purposif (bukan secara acak), yaitu atas dasar apa yang peneliti ketahui tentang variasi-variasi yang ada atau elemen-elemen yang ada. Dalam hubungan ini, maka dalam proses pengumpulan data tentang suatu topik, bila variasi informasi tidak muncul maka peneliti tidak perlu lagi melanjutkannya dan kemudian mencari informasi  (informan) baru, artinya jumlah informan bisa sangat sedikit (beberapa orang saja), tetapi bisa juga sangat banyak. Hal itu sangat tergantung pada; (1) pemilihan informan itu sendiri, dan (2) kompleksitas dan keragaman fenomena yang diteliti.

Setelah ditentukan informan penelitian sebagai subjek penelitian, untuk memperlancar peneliti dalam pengambilan data, dibutuhkan informan lain yang dianggap memiliki/kaya informasi, dan  dapat memberikan informasi yang benar, yaitu  tetangga migran sirkuler, pimpinan formal, seperti Kepala Desa, Ketua RT dan RW, pimpinan informal, seperti pemuka agama, tokoh masyarakat.

  1. C.      Strategi dan Taktik Penelitian

Strategi dan taktik penelitian yang digunakan adalah:

Pertama-tama peneliti berusaha mengenal kondisi desa penelitian yang telah ditetapkan baik secara geografis, keadaan ekonomi, sosial, budaya dan adat-istiadat masyarakat serta keadaan pelaku migrasi sirkuler dan keluarganya di desa Tegalombo. Strategi dan taktik penelitian ini hanya dapat diperoleh jika peneliti sebelumnya telah menyatu dan mampu berinteraksi dengan masyarakat setempat (informan penelitian), maka langkah yang ditempuh berikutnya adalah: penciptaan “rapport”.

Menurut Faisal (1990) penciptaan rapport ini merupakan prasyarat yang amat penting. Peneliti tidak akan dapat berharap untuk memperoleh informasi secara produktif dari informan apabila tidak tercipta hubungan harmonis yang saling mempercayai antara pihak peneliti dengan pihak yang diteliti. Terciptanya hubungan harmonis satu dengan yang lain saling mempercayai, tanpa kecurigaan apapun untuk saling membuka diri, merupakan permasalahan yang berkaitan dengan penciptaan rapport (Faisal, 1990: 53-54).

Selanjutnya peneliti melakukan pengumpulan data penelitian kualitatif dengan langkah-langkah sebagai berikut:   

Pertama, pada awal penelitian pendahuluan peneliti mengontrak sebuah rumah sederhana untuk ditempati peneliti. Dengan cara ini peneliti bisa berinteraksi dengan masyarakat dalam segala aktivitasnya, misalnya; mendatangi undangan manten, syukuran kelahiran anak, melayat, gotong royong kampung, ikut ronda, mendatangi orang sakit, membantu mencarikan obat dan lain sebagainya.

Dengan telah diterimanya peneliti  di masyarakat, maka langkah selanjutnya peneliti mendatangi warga masyarakat yang ada, seperti; mbah Wiro, mbah Wongso, Tukimin (sesepuh/tokoh masyarakat), Sri Hartini (Sekretaris Desa), Padmo (Kaur Kesra), dan Sudarna, Jumari, Salimin, Sunarto, Priyo Hartono, Supardi, Supadi, Suyanto (pelaku migran sirkuler), dan pelaku migran sirkuler yang lain; Sarmidi dan Samijo. Demikian sebaliknya peneliti setiap saat dapat menerima kunjungan mereka.

 

Kedua, langkah berikutnya, peneliti segera melanjutkan berkonsultasi kepada Kepala Desa menyampaikan keinginan akan mengadakan penelitian disertasi dan sekaligus memohon bantuannya agar penelitian berjalan dengan lancar. Selanjutnya, peneliti segera mengadakan pencatatan data-data keadaan geografis desa Tegalombo, dan data-data lainnyayang dibutuhkan dalam penelitian ini.

Ketiga, langkah selanjutnya peneliti menemui beberapa informan dan ditambah informan yang lain, yang memiliki karakteristik sebagai informan yang bisa memberikan informasi berkaitan dengan struktur masyarakat desa Tegalombo, proses migrasi sirkuler, dan efeknya. Maka hal yang harus dilakukan terlebih dulu adalah peneliti menemui perangkat desa lagi, guna menanyakan kembali; bagaimana struktur masyarakat desa Tegalombo? Pertanyaan berikutnya adalah siapa diantara penduduk desa Tegalombo ini yang pertama kali melakukan mugrasi sirkuler ke Sumatra (sebagai perintis)? dan siapa saja yang bisa di temui untuk mendapatkan data tentang proses migrasi sirkuler?

Untuk mendapatkan informasi mengenai hal ini, peneliti berusaha menemui beberapa orang perangkat desa, Ketua RW dan RT,  dan beberapa tokoh masyarakat serta beberapa keluarga migran sirkuler. Hal ini peneliti lakukan guna cross check data untuk mendapatkan informasi yang sebenarnya mengenai struktur masyarakat, perintis migrasi sirkuler dan data  yang lain.

Adapun pertanyaan-pertanyaan yang digunakan untuk bahan wawancara dalam rangkan mendapatkan informasi struktur masyarakat dan  proses migrasi sirkuler, antara lain sebagai berikut:

 

  1. Bagaimana struktur masyarakat di desa Tegalombo ini?
  2. Siapa warga desa Tegalombo yang melakukan migrasi sirkuler?
  3. Kemana saja mereka melakukan?
  4. Siapa diantara bapak-bapak yang bisa disebut sebagai perintis migrasi sirkuler desa Tegalombo ini?
  5. Apa aktivitas, dan pekerjaan bapak sebelum bapak melakukan migrasi?
  6. Bagaimana prosesnya bapak melakukan?
  7. Bagaimana peran istri ?

Beberapa pertanyaan tersebut di atas belum cukup untuk menjawab permasalahan penelitian, oleh karena itu diperlukan pertanyaan lain yang mampu menggali permasalahan lebih mendalam sebagai berikut: (1) siapakah pelaku migrasi sirkuler sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial di desa Tegalombo, mengapa mereka bermigrasi, bagaimana pelaku migrasi mengkonstruksikan alasan yang mendasari tindakan mereka melakukan migrasi sirkuler? (2) bagaimana konstruksi sosial proses migrasi sirkuler sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial, apakah ada keterkaitan antara proses migrasi itu itu dengan kesadaran akan jaringan sosial, apakah juga ada keterkaitan antara proses migrasi sirkuler dengan jaminan sosial seperti jaminan keamanan, kesehatan terhadap keluarga (istri dan anak-anak) yang ditinggalkan?

Keempat, langkah selanjutnya peneliti bertemu beberapa informan antara lain; Sudarna (perintis migrasi sirkuler) dan beberapa orang yang memiliki karakteristik sebagai pelaku migrasi sirkuler itu yakni; Sudarna, Jumari, Sunarto, Priyo Hartono, Supadi, Supardi, dan pelaku yang lain; Sarmidi dan Samijo, serta keluarganya, untuk mengadakan wawancara mendalam berikutnya dalam upaya menggali informasi lebih mendalam. Wawancara dengan mereka itu tidak hanya sekali dua kali, tetapi peneliti lakukan beberapa kali sampai peneliti bisa mendapatkan informasi yang benar dan sampai peneliti bisa menyusun laporan disertasi ini,

Kelima, dalam langkah ini peneliti mengadakan wawancara mendalam kepada pelaku migrasi sirkuler tentang makna migrasi sirkuler. Dalam langkah ini juga  peneliti lakukan untuk mengkaji migrasi sirkuler dari realitas subjektif, ada makna apa migran melakukan migrasi? Bagiamana makna migrasi bagi migran itu sendiri? Adapun pertanyaanya sebagai berikut:

  1. Mengapa bapak melakukan migrasi sirkuler?
  2. Ada makna apa bapak melakukan migrasi sirkuler?
  3. Bagaimana makna migrasi sirkuler bagi migran?
  4. Bagaimana maknanya migrasi demi anak-anak?
  5. Bagaimana maknanya migrasi mencari ilmu?
  6. Bagaimana maknanya migrasi meningkatkan status sosial seseorang di desanya?
  7. Bagaimana maknanya migrasi merubah nasib?
  8. Bagaimana efek migrasi sirkuler terhadap lingkungan, tenaga kerja, dan kehidupan masyarakat?

Pertanyaan-pertanyaan itu juga belum cukup untuk menjawab permasalahan penelitian berkaitan dengan makna migrasi, maka selanjutnya peneliti menyampaikan pertanyaan kepada subjek penelitian, bagaimana konstruksi sosial makna migrasi sirkuler sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial bagi migran itu sendiri?

Wawancara mendalam tersebut peneliti lakukan tidak hanya sekali tetapi peneliti lakukan beberapa kali dalam kurun waktu selama 6 bulan. Hal ini peneliti lakukan untuk mendapatkan data yang benar dan data yang bisa  dipertanggungjawabkan secara ilmiah sampai peneliti dapat membuat laporan disertasi ini secara tertulis.

Setelah laporan penelitian ini secara tertulis selesai, peneliti masih melanjutkan komunikasi dengan informan tersebut untuk pengecekan kebenaran data tersebut di atas, peneliti bertemu lagi dengan informan yakni Sudarna, Jumari, Priyo Hartono, Supadi, Supardi dan beberapa pelaku migrasi sirkuler yang lain.

Untuk memperkaya data dan validitas data maka selain mendapatkan informasi data dari pelaku migrasi sirkuler tersebut di atas peneliti juga bertemu dengan perangkat desa dan tokoh masyarakat.  Dalam hal ini peneliti juga bertemu dan memperoleh informasi dari ibu Sekretaris Desa dimana suaminya sampai sekarang masih boro ke Sumatera. Langkah ini terus dikembangkan sampai diperoleh gambaran yang benar tentang proses dan makna migrasisirkuler. Setelah diperoleh kebenaran data, dan informasi yang  ada kaitannya dengan migrasi sirkuler tersebut di atas, peneliti masih perlu  harus melakukan pengecekan data sampai diperoleh data yang benar sampai bisa menyusun laporan penelitian ini dengan benar.

  1. D.    Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan langsung terjun ke kancah terutama untuk mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan mobilitas migrasi sirkuler di Sragen, khusus di desa Tegalombo dihimpun data yang lebih detail, untuk  itu  dibutuhkan  metode  (1)  observasi  dan  dokumentasi, (2) wawancara mendalam.

  1. 1.      Metode Observasi dan Dokumentasi

Observasi dan dokumentasi ini digunakan untuk mempertahankan kebenaran ilmiah, sebagaimana ditegaskan oleh Gordon (1991), bahwa; “dasar-dasar pembatasan secara luas diterima oleh ilmuwan itu sendiri adalah kesaksian empirik, sebuah pernyataan adalah ilmiah jika diuji oleh observasi dan eksperimen (Gordon, 1991).

Observasi dan Dokumentasi dalam suatu penelitian kualitatif lazimnya berkaitan dengan situasi sosial tertentu. Setiap situasi sosial setidaknya mempunyai tiga elemen utama, yaitu: (1) lokasi/fisik tempat suatu situasi sosial itu berlangsung (2) manusia-manusia pelaku atau actors yang menduduki status/posisi tertentu dan memainkan peranan-peranan tertentu, dan (3) kegiatan atau aktivitas peran pelaku pada lokasi/ tempat berlangsungnya sesuatu situasi sosial.

Metode observasi dan dokumentasi ini digunakan dalam rangka mengumpulkan data yang memberikan gambaran tentang situasi setempat atau social setting yang menjadi konteks mobilitas migrasi sirkuler. Social setting diperoleh melalui observasi dan dokumentasi yaitu melihat data lapangan dan mendengar informasi dari informan, dan cerita warga setempat.

Metode observasi ini peneliti gunakan untuk memperoleh data yang berkaitan dengan: Aspek wilayah yang meliputi (1) potensi daerah yang dapat dikembangkan (2) siklus aktivitas pertanian dan kemiskinan (3)  analisis  pasar  kerja  (4)  lowongan  kerja  dan  penempatan  kerja (5) deskripsi ringkas lokasi penelitian.

Sedangkan Metode dokumentasi, digunakan untuk memperoleh data-data antara lain: (1) keadaan geografis daerah penelitian, (2) data jumlah pelaku migrasi sirkuler,  (3) data pribadi pelaku migrasi sirkuler, dan  catatan-catatan lainnya yang relevan dengan  permasalahan penelitian.

Relevansi penggunaan metode observasi dan dokumentasi dengan permasalahan adalah, dalam rangka peneliti memperoleh data pelengkap, metode ini digunakan juga untuk mencocokkan beberapa informasi dengan data yang ada di lapangan.

  1. 2.       Metode Wawancara Mendalam

Wawancara ini peneliti gunakan dalam situasi dialogis maupun wawancara mendalam (in-depth) dengan subjek penelitian (pelaku migrasi sirkuler) secara bertahap. Pertama, kepada Sudarna (perintis migrasi sirkuler), Jumari (migran yang sukses), Sunarto (migran berdagang kain), Priyo Hartono (migran suami Carik  Desa), Supadi (migran yang berhasil menyekolahkan anak-anaknya), Supardi (migran yang anaknya menjadi Sarjana). Kedua, peneliti wawancara dengan pelaku migrasi sirkuler yang sukses dan merintis usaha mebeler di desanya yakni Sarmidi dan Samijo. Ketiga, peneliti juga wawancara dengan tokoh masyarakat dan sesepuh desa yakni  Sri Hartini, dan Supatmo (perangkat desa) dan kepada informan lain yang bisa memberikan informasi tentang proses dan makna migrasi. Keempat, peneliti wawancara dengan pelaku migrasi yang tidak sukses (Dalimin)  dan pelaku migrasi yang gagal (Sungadi).

Peneliti melakukan wawancara mendalam dengan subjek penelitian tersebut dengan alasan karena penelitian ini ingin memperoleh realitas senyatanya (emic-factors), karena itu peneliti harus memperoleh data langsung dari subjek penelitian agar diperoleh data yang benar dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Hasil dari wawancara mendalam tersebut kemudian berikutnya dilakukan transkripsi, dan pemahaman agar ada kejelasan perbedaan antara bahasa sehari-hari dengan bahasa literatur sehingga dapat diperoleh bahasa ilmiah yang tepat.

Dalam pelaksanaanya, peneliti menyampaikan beberapa pertanyaan kepada informan penelitian tentang hal-hal yang berkaitan struktur masyarakat desa Tegalombo, proses migrasi sirkuler, dan makna nya, antara lain: Bagaimana srtuktur masyarakar desa Tegalombo dan bagaimana cara mengelompokkannya ? Siapa warga desa Tegalombo yang melakukan migrasi sirkuler? Kemana saja mereka melakukan? Siapa diantara bapak-bapak yang bisa disebut sebagai perintis migrasi sirkuler desa Tegalombo ini? Apa aktivitas, dan pekerjaan bapak sebelumnya? Bagaimana prosesnya ? Mengapa bapak melakukan? Ada makna apa bapak melakukan migrasi? Bagaimana makna migrasi bagi bapak? Bagaimana maknanya migrasi sirkuler demi anak-anak? Bagaimana maknanya, migrasi sirkuler mencari ilmu? Bagaimana maknanya, migrasi sirkuler meningkatkan status sosial seseorang di desanya? Bagaimana maknanya migrasi sirkuler merubah nasib? Bagaimana efeknya terhadap lingkungan, tenaga kerja, dan kehidupan masyarakat?

Selain pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, masih ada beberapa pertanyaan yang lebih terfokus untuk menjawab permasalahan penelitian ini, antara lain (1) siapakah pelaku migrasi sirkuler sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial di desa Tegalombo, mengapa mereka bermigrasi, bagaimana migran mengkonstruksikan alasan yang mendasari tindakan mereka melakukan migrasi? (2) bagaimana konstruksi sosial proses migrasi sirkuler sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial, apakah ada keterkaitan antara proses migrasi itu dengan kesadaran akan jaringan sosial, apakah juga ada keterkaitan antara proses migrasi dengan jaminan sosial seperti jaminan keamanan, kesehatan terhadap keluarga (istri dan anak-anak) yang ditinggalkan?(3) bagaimana konstruksi sosial makna migrasi sebagai mobilitas dan gejala sosial bagi migran itu sendiri.

  1. E.     Teknik Analisis Data

Pada tahap analisis data ini menurut Dilthey, sebagaimana dikemukakan juga oleh pemikir fenomenologi, mengatakan bahwa peristiwa sejarah dapat dipahami dalam tiga proses yaitu: (1) memahami sudut pandang atau gagasan para pelaku asli; (2) memahami arti atau makna kegiatan-kegiatan mereka pada hal-hal yang secara langsung berhubungan dengan peristiwa sejarah; dan (3) menilai peristiwa-peristiwa tersebut berdasarkan gagasan yang berlaku pada saat sejarawan itu hidup. Proses (1) dan (2) merupakan fist order understanding dan proses (3) merupakan second order understanding.

Perspektif fenomenologi untuk memperoleh first order underdstanding adalah:

Pertama, meminta peneliti aliran ini untuk menanyakan kepada pihak yang diteliti guna mendapatkan penjelasan yang benar terkait dengan; (1) bagaimana struktur masyarakat desa Tegalombo? (2) siapakah pelaku migrasi sirkuler sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial di desa Tegalombo, mengapa mereka bermigrasi?

Kedua, informasi-informasi itu belum cukup bagi peneliti, maka selanjutnya peneliti harus menanyakan lebih lanjut; (1) bagaimana migran mengkonstruksikan alasan yang mendasari tindakan mereka melakukan migrasi? (2) bagaimana konstruksi sosial proses migrasi sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial, apakah ada keterkaitan antara proses migrasi itu dengan kesadaran akan jaringan sosial, apakah juga ada keterkaitan antara proses migrasi dengan jaminan sosial seperti jaminan keamanan, kesehatan terhadap keluarga (istri dan anak-anak) yang ditinggalkan? dan (3) bagaimana konstruksi sosial makna migrasi sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial bagi pelaku migrasi itu sendiri?

First order underdstanding, jika pihak yang diteliti itu mengatakan, migrasi demi anak-anak, maka informasi tersebut belum cukup bagi peneliti. Peneliti harus menanyakan kembali bagaimana ia bermigrasi demi anak-anak, mengapa migrasi demi anak-anak dan bagaimana maknanya migrasi demi anak-anak. Begitu juga informasi dari informan bahwa migrasi ingin mencari pengalaman/ilmu, migrasi ingin merubah nasib. Informasi-informasi itu belum cukup bagi peneliti, maka berikutnya peneliti harus menanyakan kembali, bagaimana ia melakukan migrasi?  mengapa melakukan migrasi? Apa yang mendorong melakukan migrasi? bagaimana maknanya bagi mereka? bagaimana konstruksi sosial proses dan makna migrasi sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial bagi pelaku migrasi itu sendiri?

Beberapa pertanyaan di atas perlu disampaikan untuk memperoleh informasi tentang fenomena migrasi sirkuler yang dilihat sebagai realitas subjektif. Informasi seperti inilah yang disebut ekternalisasi menurut pandangan Berger.

Ketiga, informasi-informasi itu belum cukup untuk menjawab permasalahan penelitian ini, kemudian peneliti berkewajiban untuk melakukan rekonstruksi dan interpretasi agar informasi yang satu dapat dijelaskan dalam pertaliannya dengan informasi yang lain sehingga akan diperoleh suatu makna yang baru. Makna yang baru inilah yang disebut second order understanding dalam fenomenologi atau objektivasi menurut pemahaman Berger.

Teknis  analisis data tersebut dilakukan di lapangan atau bahkan bersamaan dengan proses pengumpulan data dan sesudahnya. Menurut Milles (1992) ada dua  hal yang penting dalam analisis tersebut;  Pertama, analisis data yang muncul berwujud kata-kata dan bukan rangkaian angka. Data itu mungkin telah dikumpulkan dalam aneka macam cara (observasi, wawancara, intisari dokumen, pita rekaman), dan yang biasanya “diproses” kira-kira sebelum siap digunakan (melalui pencatatan, pengetikan, penyuntingan, atau alih tulis, tetapi analisis ini tetap menggunakan kata-kata, yang biasanya disusun ke dalam teks yang diperlukan. Kedua, analisis ini terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu; reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan/verifikasi (Miles dan Huberman, 1992:15-21).

Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data “kasar” yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan, dalam hal ini peneliti mencatat hasil wawancara dengan informan berkaitan dengan struktur masyarakat, pelaku igrasi sirkuler,  prosesnya, dan maknanya, bagaimana makna migrasi bagi migran itu sendiri? bagaimana maknanya, migrasi demi anak-anak? bagaimana maknanya, migrasi mencari ilmu? bagaimana maknanya, migrasi meningkatkan status sosial seseorang di desanya? bagaimana maknanya migrasi merubah nasib? bagaimana efek migrasi terhadap lingkungan, tenaga kerja, dan kehidupan masyarakat? bagaimana pelaku migrasi mengkonstruksikan alasan yang mendasari tindakan mereka melakukan migrasi? bagaimana konstruksi sosial proses migrasi sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial, apakah ada keterkaitan antara proses migrasi itu dengan kesadaran akan jaringan sosial, apakah juga ada keterkaitan antara proses migrasi dengan jaminan sosial seperti jaminan keamanan, kesehatan terhadap keluarga (istri dan anak-anak) yang ditinggalkan? dan bagaimana konstruksi sosial makna migrasi sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial bagi pelaku migrasi itu sendiri?

Alur penting yang kedua dari kegiatan analisis data adalah penyajian data. Penyajian data di sini sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian data ini berbentuk teks naratif, teks dalam bentuk catatan-catatan hasil wawancara dengan informan penelitian sebagai informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan tentang fenomena migrasi sirkuler tersebut di atas.

Kegiatan analisis ketiga yang penting adalah menarik kesimpulan dan verifikasi. Dari permulaan pengumpulan data, seseorang penganalisis (peneliti) mulai mencari makna migrasi sirkuler dan prosesnya. Dengan demikian, aktifitas analisis merupakan proses interaksi antara ketiga langkah analisis data tersebut, dan merupakan proses siklus sampai kegiatan penelitian selesai.

F. Keabsahan Data

Data merupakan fakta atau bahan-bahan keterangan yang penting dalam penelitian. Sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan (aktivitas), dan selebihnya, seperti dokumen (yang merupakan data tambahan).

Kesalahan data berarti dapat dipastikan menghasilkan kesalahan hasil penelitian. Karena begitu pentingnya data dalam penelitian kualitatif, maka keabsahan data perlu diperoleh melalui teknik pemeriksaan keabsahan, seperti disarankan oleh Lincoln dan Guba, yang meliputi: kredibilitas (credibility), transferabilitas (transferability), dependabilitas (dependability), konfirmabilitas (confirmability) (Lincoln, dan Guba, 1985: 298-331).

Adapun penerapannya dalam praktek adalah bahwa untuk memenuhi nilai kebenaran penelitian yang berkaitan dengan fenomena migrasi sirkuler (proses dan maknanya) maka hasil penelitian ini harus dapat dipercaya oleh semua pembaca dan dari responden sebagai informan secara kritis, maka paling tidak ada beberapa  teknik yang diajukan, yaitu:

Pertama, perpanjangan kehadiran penelitian, dalam hal ini peneliti memperpanjang waktu di dalam mencari data di lapangan, mengadakan wawancara mendalam kepada (Sudarna) sebagai perintis migrasi sirkuler dan kepada migran yang lain tidak hanya dilakukan satu kali tetapi peneliti lakukan berulang kali, berhari-hari, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Hal ini peneliti lakukan dengan tujuan untuk memperoleh data yang benar, perlu diadakan ceking data sampai mendapatkan data yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Selanjutnya harus dilakukan pengamatan secara terus-menerus termasuk kegiatan pengecekkan data melalui informan lain untuk menanyakan kebenaran informasi dari Sudarna tersebut dan data yang lain yang penting. Dan kemudian data yang benar tersebut dilakukan triangulasi. Kebenaran data juga bisa diuji melalui diskusi dengan teman-teman sejawat, diskusi ini di samping sebagai koreksi terhadap kebenaran data yang merupakan hasil dari interpretasi informan penelitian juga untuk mencari kebenaran bahasa ilmiah dalam interpretasi terhadap interpretasi tersebut. Kemudian dilakukan analisis kasus negatif, pengecekan atas cakupan  referensi, dan pengecekan informan.

Kriteria kedua, untuk memenuhi kriteria bahwa; hasil penelitian yang berkaitan dengan fenomena migrasi yang dilihat sebagai realitas subjektif  dari perspektif fenomenologi, dapat diaplikasikan atau ditransfer kepada konteks atau setting lain yang memiliki tipologi yang sama.

Kriteria ketiga, digunakan untuk menilai apakah proses penelitian kualitatif bermutu atau tidak, dengan melakukan evaluasi apakah si peneliti sudah cukup hati-hati dalam mencari data, terjadi bias atau tidak? apakah membuat kesalahan dalam mengkonseptualisasikan rencana penelitiannya, pengumpulan datanya dan, penginterpretasiannya.

Sedangkan kriteria keempat, untuk menilai mutu tidaknya hasil penelitian, jika dependabilitas digunakan untuk menilai kualitas dari proses yang ditempuh oleh peneliti, maka konfirmabilitas digunakan untuk menilai kualitas hasil penelitian itu sendiri, dengan tekanan pertanyaan apakah data dan informasi, serta interpretasi dan lainnya didukung oleh materi yang cukup.

 

Standard

LAPORAN PENELITIAN MICRO TEACHING (2007)

PENINGKATAN KUALITAS MICRO TEACHING DAN PPL MELALUI LESSON STUDY BAGI CALON GURU MATEMATIKA PADA PRODI PENDIDIKAN MATEMATIKA FKIP-UMS

Tjipto Subadi

Dosen FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta. Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Surakarta. Telp. 0271-717417

E-mail : tjiptosubadi@yahoo.com

BAB I  PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam meningkatkan kualitas pembelajaran bidang studi matematika di sekolah banyak faktor yang harus diperhatikan, misalnya; guru, siswa, sarana dan prasarana, laboratorium dan kelengkapannya, lingkungan dan manajemennya. Namun pada kesempatan ini hanya akan dilihat dari segi guru dan siswa yang merupakan dua faktor terpenting dalam peningkatan kualitas pembelajaran bidang studi tersebut, dengan tidak mengesampingkan komponen lain.

Peningkatan kualitas pembelajaran calon guru pada program studi Pendidikan Matematika FKIP-UMS ditempuh dengan dua program. Pertama : Praktek mengajar laboratoris di Laboratorium Micro Teaching yang dilaksanakan pada semester VI. Kedua: Praktek mengajar di sekolah latihan yang dilaksanakan pada semester VII melalui PPL (Program Pengalaman Lapangan).

Dalam upaya meningkatkan kualitas calon guru tersebut banyak kendala yang dihadapi misalnya strategi pelatihan, banyaknya komponen ketrampilan mengajar, terbatasnya laboratorium micro teaching, dan terbatasnya sekolah yang digunakan untuk PPL. Kendala lain yang dihadapi calon guru (mahasiswa) adalah saat praktek mengajar di sekolah latihan yakni masih banyaknya kesalahan dalam mepraktekkan teori-teori pembelajaran di kelas.

Dalam era desentralisasi pendidikan, peningkatan kualitas pembelajaran bagi calon guru dapat dilakukan dengan berbagai kegiatan antara lain; inservice teacher training yang berupa latihan mengajar laboratoris baik secara micro maupun pelatihan mengajar terintegrasi yang dilanjutkantan kegiatan work shof. Setelah mengikuti kegiatan tersebut, diharapkan calon guru dapat menerapkan hasil training tersebut dalam pembelajaran di kelas saat melaksanakan PPL.

Kegiatan-kegiatan inservice teacher training tersebut telah banyak dilaksanakan oleh pemerintah sebagai upaya pemerintah meningkatkan kualitas pembelajaran guru, kegiatan tersebut dengan biaya yang tidak sedikit yang dikeluarkan oleh pemerintah, baik yang berasal dari rupiah murni maupun dari dana pinjaman luar negeri. Banyak atau sedikit, pasti ada sumbangan kegiatan tersebut dalam meningkatkan mutu pembelajaran. Tetapi, kebanyakan setelah kegiatan inservice teacher training, hasil monitoring yang mempersoalkan apakah ada peningkatan mutu pembelajaran yang dilakukan oleh para peserta tidak tampak nyata hasilnya. Padahal pada dasarnya, hakikat pelaksanaan kegiatan inservice teacher training selain meningkatkan kualitas guru, yang lebih penting adalah guru peserta inservice teacher training mampu menerapkan hasil training dalam proses pembelajaran di kelasnya dan mengimbaskan kepada rekan-rekan guru di sekolahnya. Namun masih banyak guru setelah mengikuti kegiatan inservice teacher training, mereka tidak mengubah cara pembelajaran untuk para siswanya. Hal ini sangat dimungkinkan karena dalam kegiatan training tersebut tidak diberikan contoh kongkret cara pembelajarannya di kelas nyata.

Mulai tahun 2002, Indonesia telah menerapkan sistem desentralisasi pendidikan. Apakah dalam era desentralisasi ini strategi peningkatan kualitas pembelajaran dari segi guru akan tetap sama seperti dalam era sentralisasi? Dalam era desentralisasi pendidikan, posisi guru berada pada titik sentral dengan tanggung jawab yang luas dan menjadi tumpuan vital dalam pengembangan pembelajaran yang dilakukan. Guru bukan lagi sebagai pelaksana pengajaran seperti yang tertulis dalam Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) yang telah ditetapkan oleh Menteri Pendidikan di masa lalu. Tetapi dalam era desentralisasi pendidikan, guru harus menyusun sendiri jabaran kurikulum. Kurikulum sekarang sangat sederhana, secara garis besar hanya berisi standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator pencapaiannya. Guru harus menjabarkannya menjadi silabus atau GBPP yang lebih rinci, yang sesuai dengan karakteristik siswa, kemampuan sekolah, dan lingkungannya. Pada era desentralisasi ini, guru harus lebih aktif mengambil prakarsa sendiri, karena tidak akan ada lagi intervensi dari luar yang harus dipatuhi secara mutlak. Bukan karena sesuatu yang datang dari luar dianggap pasti tidak sesuai. Tetapi yang lebih penting adalah bahwa guru lebih leluasa berperan sebagai seorang profesional.

Kini guru ditantang tampil dengan kemampuan yang terbina dari dalam dirinya, guru harus mampu membuktikan kemampuan profesionalnya untuk menerima amanah sebagai pendidik yang tangguh. Secara singkat, jika pada era sentralisasi pendidikan, guru sebagai pelaksana dari apa yang telah dipikirkan oleh para birokrat, tapi kini guru ditantang untuk berfikir logis, kritis, kreatif, dan refleksif dalam meningkatkan mutu pembelajarannya, dan melaksanakan hasil pemikirannya ini dalam pembelajaran di kelas.

Bergantinya sistem sentralisasi ke sistem desentralisasi pendidikan secara mendadak seperti saat ini tidak akan serta merta mengubah pola pikir guru yang semula sebagai pelaksana pengajaran langsung menjadi pemrakarsa pembelajaran, seperti membalikkan telapak tangan. Apalagi beragamnya kualitas dan profesionalitas guru, dari guru yang bermotivasi peribadahan hingga karena keterpaksaan, dari guru yang selalu menggerutu hingga yang senantiasa tawakkal. Untuk itu perlu tersedianya pendukung yang memadai dan proses yang panjang dalam program pendidikan dan pembinaan guru. Perlu adanya gerakan dari bawah, dari para guru untuk mengidentifikasi kebutuhan dirinya dalam meningkatkan kompetensinya, agar dapat mengembangkan mutu pembelajaran.

B. Rumusan Masalah

Permasalah utama penalitian ini adalah (a) Hal-hal apa saja yang menjadi kendala dalam peningkatan kualitas micro teaching dan PPL melalui lesson study bagi calon guru matematika pada Program Studi Pendidikan Matematika FKIP-UMS (b) bagaimana rancangan model untuk meningkatkan kualitas micro teaching dan PPL dengan pendekatan lesson study bagi calon guru matematikan FKIP-UMS (model konseptual pembelajaran yang dirancang berdasarkan masalah-masalah pembelajaran yang teridentifikasi tersebut di atas). (c) bagaimana model peningkatan kualitas micro teaching dan PPL malalui lesson study bagi calon guru matematika pada Program Studi Pendidikan Matematika FKIP-UMS?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan menghasilkan produk berupa (a) Identifikasi masalah peningkatan kualitas micro teaching dan PPL melalui lesson study bagi calon guru matematikan pada Program Studi Pendidikan Matematikan FKIP-UMS (b) rancangan model untuk meningkatkan kualitas micro teaching dan PPL dengan pendekatan lesson study bagi calon guru matematikan FKIP-UMS (model konseptual pembelajaran yang dirancang berdasarkan masalah-masalah pembelajaran yang teridentifikasi tersebut di atas) (c) model peningkatan kualitas micro teaching dan PPL (Program Pengalaman Lapangan) malalui lesson study bagi calon guru matematika pada Program Studi Pendidikan Matematika FKIP-UMS.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian, secara teoritis penelitian ini bermanfaat memberikan sumbangan ilmu pengetahuan sosial tentang (1) rancangan model untuk meningkatkan kualitas micro teaching dan PPL dengan pendekatan lesson study bagi calon guru matematikan FKIP-UMS (model konseptual pembelajaran yang dirancang berdasarkan masalah-masalah pembelajaran yang teridentifikasi tersebut di atas) (2) model peningkatan kualitas micro teaching dan PPL malalui pendekatan lesson study bagi calon guru matematika pada Program Studi Pendidikan Matematika FKIP-UMS. Secara praktis, memberikan sumbangan pemikiran bagi guru, LPTK dan birokrasi pendidikan (pemerintah) dalam menyusun strategi kebijakan peningkatan kualitas pembelajaran cagi calon guru/guru.

BAB II  LANDASAN TEORI

A. Micro Teaching dan PPL (Program Pengalaman Lapangan)

Micro Teaching di samping merupakan teknik program PPL bagi calon guru dapat pula merupakan in service training bagi guru/dosen. Hal ini dilakukan agar kompetensi profesional guru selain dapat dihayati juga dapat dimiliki. Wawasan keguruan yang telah ditanamkan pada calon guru tidak sepenuhnya dapat dilaksanakan sehingga berakibat kurang efektifnya proses pembelajaran, rendahnya kadar student Active Learning atau tegasnya gagalnya proses pembelajaran. Untuk memecahkan permasalahan tersebut laboratoriun micro teaching perlu dimanfaatkan secara maksimal sebagai in service training bagi calon guru dan pre service training bagi guru dan dosen. Dengan demikian pengembangan kompetensi guru dilakukan secara terpadu dan berkalnjutan dalam suatu program yang sistematis.

Mengajar selama 45 menit merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Latihan mengajar bagi calon guru pada awalnya akan terasa sulit dan rumit. Untuk mengatasi kelemahan tersebut dikembangkan pembelajaran micro teaching sebagai bagian dari pendidikan guru berdasarkan kompetensi (PGBK). Pembelajaran mikro sebagai salah satu bagian dari Program Pengalaman Lapangan (PPL) dimaksudkan memberikan bekal kepada calon guru sebelum PPL yang berfungsi untuk mengurangi kesalahan dalam pelaksanaan PPL.

Moulton dalam Sundari 1989 berpendapat bahwa; “micro teching is performance training method designed to isolate the component part of the teaching process, so that the traince can master each component one by one a simplified teaching situation”. Berdasarkan pengertian tersebut dapatlah dipahami bahwa pembelajaran mikro itu tetap sebagai real teaching tetapi bentuknya mikro sehingga mudah dikontrol. Bentuk mikro ini mencakup semua komponen dalam pembelajaran (jumlah murid 10 anak, waktu 10-15 menit, bahan terbatas, ketrampilan difokuskan pada ketrampilan mengajar tertentu). Bila dihubungkan dengan pembelajaran yang sebenarnya, maka pembelajaran mikro adalah penyederhanaan dari pembelajaran yang sebenarnya.

1. Tujuan Mengajar Mikro

Tujuan pembelajaran mikro antara lain: (a) membantu calon guru/guru menguasai ketrampilan-ketrampilan khusus, agar dalam latihan mengajar sesungguhnya tidak mengalami kesulitan (b) meningkatkan taraf kompetensi pembelajaran bagi calon guru/guru secara bertahap (c) untuk menemukan sendiri kekurangan bagi calon guru/guru sekaligus berbaikannya

2. Komponen Ketrampilan Mengajar

Banyak para ahli pembelajaran mikro merumuskan komponen ketrampilan yang berkaitan dengan praktik pembelajaran mikro, dari beberapa pendapat tersebut peneliti menyimpulkan paling sedikit ada 9 ketrampilan, yaitu; (a) Ketrampilan mengelola kelas (b) ketrampilan membuka pelajaran (c) ketrampilan bertanya (pre test, saat menerangkan, dan pos test) (d) ketrampilan menerangkan (e) ketrampilan menggunakan multi media (f) ketrampilan menggunakan multi metode (g) ketrampilan memberikan motivasi (h) ketrampilan memberikan ganjaran (i) ketrampilan menutup pelajaran

B. Lesson Study

Lesson Study merupakan suatu model pembinaan profesi guru melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun learning community. Lesson Study bukan suatu metode pembelajaran atau suatu strategi pembelajaran, tetapi dalam kegiatan Lesson Study dapat memilih dan menerapkan berbagai metode/strategi pembelajaran yang sesuai dengan situasi, kondisi, dan permasalahan yang dihadapi pendidik. Lesson study dapat merupakan suatu kegiatan pembelajaran dari sejumlah guru dan pakar pembelajaran yang mencakup; tahap perencanaan (planning), tahap implementasi (action) pembelajaran dan observasi, dan tahap refleksi (reflection) terhadap perencanaan dan implementasi pembelajaran tersebut dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran.

Lesson Study yang maksud adalah suatu model pembinaan untuk peningkatan kualitas micro teaching dan PPL (Program Pengalaman Lapangan) bagi Calon Guru Matematika pada Program Studi Pendidikan Matematika FKIP-UMS. Model ini merupakan suatu kegiatan pembelajaran oleh sejumlah calon guru matematika yang diintegrasikan pada praktek mengajar mikro di laboratorium micro teaching yang merupakan bagian dari PPL (Program Pengalaman Lapangan) di sekolah latihan, yang aktivitasnya mencakup; tahap perencanaan (planning), tahap implementasi (action) pembelajaran dan observasi, dan tahap refleksi (reflection) terhadap perencanaan. Implementasi pembelajaran tersebut dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran.

1. Tahap perencanaan

Pada tahap ini dilakukan identifikasi masalah pembelajaran yang ada di kelas yang akan digunakan untuk kegiatan lesson study dan perencanaan alternatif pemecahannya. Identifikasi masalah tersebut berkaitan dengan pokok bahasan (materi pelajaran) yang relevan, karakteristik siswa dan suasana kelas, metode/pendekatan pembelajaran, media/ alat peraga, dan proses evaluasi dan hasil belajar yang akan dicapai.

Dari hasil identifikasi tersebut didiskusikan (dalam kelompok lesson study) tentang pemilihan materi pembelajaran, pemilihan metode dan media yang sesuai dengan karakteristik siswa, serta jenis evaluasi yang akan digunakan. Pada saat diskusi, akan muncul pendapat dan sumbang saran dari para guru dan pakar dalam kelompok tersebut untuk menetapkan pilihan yang akan diterapkan. Pada tahap ini, pakar dapat mengemukakan hal-hal penting/baru yang perlu diketahui dan diterapkan oleh calon guru, seperti pendekatan pembelajaran konstruktif, pendekatan pembelajaran yang memandirikan belajar siswa, pembelajaran kontekstual, pengembangan life skill, Realistic Mathematics Education, pemutakhiran materi ajar, atau lainnya yang dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam pemilihan tersebut.

Hal yang penting pula untuk didiskusikan adalah penyusunan lembar observasi, terutama penentuan aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam suatu proses pembelajaran dan indikator-indikatornya, terutama dilihat dari segi tingkah laku siswa. Aspek-aspek proses pembelajaran dan indikator-indikator itu disusun berdasarkan perangkat pembelajaran yang dibuat serta kompetensi dasar yang ditetapkan untuk dimiliki siswa setelah mengikuti proses pembelajaran.

Dari hasil identifikasi masalah dan diskusi perencanaan pemecahannya, selanjutnya disusun dan dikemas dalam suatu perangkat pembelajaran yang terdiri atas : (a) Rencana Pembelajaran (RP) (b) Petunjuk Pelaksanaan Pembelajaran (Teaching Guide) (c) Lembar Kerja Siswa (LKS) (d) Media atau alat peraga pembelajaran (e) Instrumen penilaian proses dan hasil pembelajaran. (f) Lembar observasi pembelajaran.

Penyusunan perangkat pembelajaran ini dapat dilakukan oleh calon guru atau beberapa calon guru atas dasar kesepakatan tentang aspek-aspek pembelajaran yang direncanakan sebagai hasil dari diskusi. Hasil penyusunan perangkat pembelajaran tersebut perlu dikonsultasikan dengan dosen atau guru yang dipandang pakar dalam kelompoknya untuk disempurnakan. Perencanaan itu dapat juga diatur sebaliknya, yaitu seorang atau beberapa orang calon guru yang ditunjuk dalam kelompok mengidentifikasi permasalahan dan membuat perencanaan pemecahannya yang berupa perangkat-perangkat pembelajaran untuk suatu pokok bahasan dalam suatu mata pelajaran yang telah ditetapkan dalam kelompok. Selanjutnya, hasil identifikasi masalah dan perangkat pembelajaran tersebut didiskusikan untuk disempurnakan.

2. Tahap Implementasi dan Observasi

Pada tahap ini seorang calon guru yang telah ditunjuk (disepakati) oleh kelompoknya, melakukan implementasi rencana pembelajaran (RP) yang telah disusun tersebut, di kelas. Pakar dan calon guru lain melakukan observasi dengan menggunakan lembar observasi yang telah dipersiapkan dan perangkat lain yang diperlukan. Para observer ini mencatat hal-hal positif dan negatif dalam proses pembelajaran, terutama dilihat dari segi tingkah laku siswa. Selain itu (jika memungkinkan), dilakukan rekaman video (audio visual) yang meng close-up kejadian-kejadian khusus (pada calon guru atau siswa) selama pelaksanaan pembelajaran. Hasil rekaman ini berguna nantinya sebagai bukti autentik kejadian-kejadian yang perlu didiskusikan dalam tahap refleksi atau pada seminar hasil lesson study, di samping itu dapat digunakan sebagai bahan diseminasi kepada khalayak yang lebih luas.

3. Tahap Refleksi

Selesai praktik pembelajaran, segera dilakukan refleksi. Pada tahap refleksi ini, calon guru yang tampil dan para observer serta pakar mengadakan diskusi tentang pembelajaran yang baru saja dilakukan. Diskusi ini dipimpin oleh pembimbing, koordinator kelompok, atau guru yang ditunjuk oleh kelompok. Pertama, calon guru yang melakukan implementasi rencana pembelajaran diberi kesempatan untuk menyatakan kesan-kesannya selama melaksanakan pembelajaran, baik terhadap dirinya maupun terhadap siswa yang dihadapi. Selanjutnya, observer (calon guru lain dan pakar) menyampaikan hasil analisis data observasinya, terutama yang menyangkut kegiatan siswa selama berlangsung pembelajaran yang disertai dengan pemutaran video hasil rekaman pembelajaran. Selanjutnya, guru yang melakukan implementasi tersebut akan memberikan tanggapan balik atas komentar para observer. Hal yang penting pula dalam tahap refleksi ini adalah mempertimbangkan kembali rencana pembelajaran yang telah disusun sebagai dasar untuk perbaikan rencana pembelajaran berikutnya. Apakah rencana pembelajaran tersebut telah sesuai dan dapat meningkatkan performance keaktifan belajar siswa. Jika belum ada kesesuaian, hal-hal apa saja yang belum sesuai, metode pembelajarannya, materi dalam LKS, media atau alat peraga, atau lainnya. Pertimbangan-pertimbangan ini digunakan untuk perbaikan rencana pembelajaran selanjutnya.

Memperhatikan perencanaaan, pelaksanaan dan observasi serta refleksinya, langkah-langkah dalam pelaksanaan lesson study ini ada kemiripan dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), maka setiap kelompok dapat melaksanakannya sebagai PTK, sehingga setiap kelompok lesson study, selain mengadministrasi semua perangkat pembelajaran dan hasil refleksi harus membuat laporan PTK seperti lazimnya penelitian. Bahkan akan sangat baik, jika dilengkapi dengan artikel untuk dimuat dalam jurnal.

C. Konsep Pengembangan Lesson Study sebagai Model Pembinaaan Calon Guru

Lesson Study ini merupakan kerja kolektif sekelompok calon guru. Pembuatan rencana pembelajaran (planning) dapat dikerjakan secara bersama-sama, diimplementasikan dengan menunjuk salah satu anggota sebagai guru model, calon guru lain dan pakar bertindak sebagai observer, kemudian dari hasil observasi tersebut dianalisis (melalui tahapan reflecting) secara bersama-sama.

Lesson study merupakan praktek pembelajaran bagi calon guru berupa belajar tentang bagaimana melakukan pembelajaran pada mata pelajaran tertentu melalui tampilan pembelajaran (model mengajar) dengan rekaman video. Calon guru bisa mengadopsi metode, teknik, ataupun strategi pembelajaran, penggunaan media, dan sebagainya Guru lain/pengamat perlu melakukan analisis untuk menemukan positif-negatifnya kelas pembelajaran tersebut dari menit ke menit. Hasil analisis ini sangat diperlukan sebagai bahan masukan bagi calon guru penampil untuk perbaikan, calon guru bisa belajar atas inovasi pembelajaran yang dilakukan oleh calon guru lain.

Lesson study dapat dipandang sebagai model pembinaan calon guru dalam meningkatkan profesionalitasnya. Mengapa demikian? Pada tahap penyusunan perencanaan (planning), sekelompok calon guru dan seorang pakar berdiskusi tentang:

1. Kondisi dan lingkungan siswa serta fasilitas yang tersedia.

2. Rumusan kompetensi apa yang harus dimiliki siswa serta merumuskan indikator-indikator pencapaiannya

3. Penentuan materi pelajaran yang berkenaan, antara lain; (1) pokok-pokok materi dan uraian masing-masing pokok materi, (2) urutan sajian materi pelajaran, (3) sajian materi yang disesuaikan dengan lingkungan siswa atau materi lokal atau yang berkaitan dengan life skill atau yang berkaitan dengan keimanan/agama,(4) pemilihan/penyusunan soal-soal latihan, soal-soal yang berkaitan dengan problem-solving dalam rangka penyusunan Lembar Kerja Siswa (LKS) dan soal-soal untuk tes formatif.

4. Pemilihan strategi pembelajaran inovatif yang menyenangkan dan memotivasi belajar siswa.

5. Pemilihan media/alat peraga pembelajaran dan pengadaannya.

6. Petunjuk guru dalam praktek pembelajarannya (teaching guide).

7. Penentuan indikator-indikator proses pembelajaran yang dikatakan berhasil.

8. Model Rencana Pembelajaran (RP) atau Satuan Acara Pembelajaran (SAP). Ada banyak model/format RP/SAP, mana yang perlu dipilih? Hal-hal apakah yang penting dan merupakan prinsip-prinsip dalam penyusunan RP/SAP, sehingga seorang guru/calon guru dapat memahami dan menerapkannya dalam pembelajaran.

Materi-materi diskusi tersebut dapat diangkat sebagai materi pelatihan yang senantiasa aktual, mengingat kompleksnya perkembangan pengetahuan dalam dunia yang senantiasa berkembang. Sehingga dalam suatu kelompok guru yang merasa tertantang dengan suatu permasalahan pembelajaran dapat mengundang pakar yang dipandang dapat memberi pemecahan permasalahan tersebut.

Selanjutnya, pada tahap implementasi dapat langsung diamati oleh observer, yang selanjutnya pada tahap refleksi dapat didiskusikan, apakah yang telah direncanakan tersebut dapat dilaksanakan dengan baik, atau ada hal-hal dalam perencanaan tersebut yang perlu diperbaiki, atau hal-hal lainnya tentang pembelajaran yang telah dilakukan, baik dari segi siswa maupun guru. Keberhasilan lesson study dapat dilihat pada dua aspek pokok, yaitu: perbaikan pada praktek pembelajaran oleh calon guru, dan meningkatkan kolaborasi antar calon guru.

Pertama, lesson study memberikan banyak hal yang menurut para peneliti dianggap efektif dalam merubah praktek pembelajaran, seperti :( 1) penggunaan materi pembelajaran yang konkret untuk memfokuskan pada permasalahan yang lebih bermakna, (2) mengambil konteks pembelajaran dan pengalaman calon guru secara eksplisit, dan (3) memberikan dukungan pada kesejawatan calon guru. Dengan kata lain, lesson study memberikan banyak kesempatan kepada calon guru untuk membuat bermakna ide-ide pendidikan dalam praktik mengajar mereka, untuk merubah perspektif mereka tentang pembelajaran, dan untuk belajar melihat praktek mengajar mereka dari perspektif siswa. Dalam lesson study, kita melihat apa yang terjadi dalam pembelajaran lebih objektif dan itu membantu kita memahami ide-ide penting dalam memperbaiki proses pembelajaran.

Kedua, lesson study juga mempromosikan dan mengelola kerja kolaboratif antar calon guru dengan memberi dukungan dan intervensi sistematik. Selama lesson study, para calon guru berkolaborasi untuk: (1) merumuskan kompetensi yang harus dimiliki siswa sebagai dasar untuk pengembangan belajar siswa (2) merencanakan dan melaksanakan pembelajaran yang berdasar pada hasil penelitian dan observasi, agar siswa memiliki kompetensi yang telah dirumuskan (3) mengobservasi secara hati-hati tingkat belajar siswa, keterlibatan mereka, dan perilaku mereka selama pembelajaran (4) melaksanakan diskusi setelah pembelajaran bersama dalam kelompok kolaboratif mereka untuk mendiskusikan dan merevisi rencana pembelajaran.

Wang-Iverson dan Yoshida (dalam Sukirman 2006; 6) mengemukakan hal-hal yang terkait dengan lesson study sebagai berikut.

1. Lesson study (jugyokenkyu) is a form of long-term teacher-led professional learning, developed in Japan, in which teachers systematically and collaboratively conduct research on teaching and learning in classroom in order to enrich students’ learning experiences and improve their own teaching.

2. A lesson study cycle generally involves a team of teachers planning collaboratively based upon a research theme, implementing the lesson in the classroom, collecting observation data, reflecting upon and discussing the data, and developing a record of their activity.

3. Lesson study is more than a studying instructional materials and developing useful lessons. It also explores ideas for improved teaching that bring out students’ thinking and thinking processes, helps students to develop mental images for solving problem and understanding the topic, and expands those skills and abilities.

4. Lesson study is a comprehensive approach to professional learning that helps teachers develop ways of: (a) thinking about learning and teaching in the classroom (b) planning lessons (c) observing how students are thinking and learning and taking appropriate actions (d) reflecting on and discussing teaching (e) identifying and recognizing knowledge and skills necessary to improve their practice and seek new solutions.

5. Lesson study supports teachers in becoming lifelong learners about how to develop and improve teaching and learning in the classroom.

1. Mengapa Lesson study?

Lesson study dipilih dan diimplementasikan karena beberapa alasan. Pertama, lesson study merupakan suatu cara efektif yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan guru dan aktivitas belajar siswa. Hal ini karena (1) pengembangan lesson study dilakukan dan didasarkan pada hasil “sharing” pengetahuan profesional yang berlandaskan pada praktik dan hasil pengajaran yang dilaksanakan para guru, (2) penekanan mendasar pada pelaksanaan suatu lesson study adalah agar para siswa memiliki kualitas belajar, (3) kompetensi yang diharapkan dimiliki siswa, dijadikan fokus dan titik perhatian utama dalam pembelajaran di kelas, (4) berdasarkan pengalaman real di kelas, lesson study mampu menjadi landasan bagi pengembangan pembelajaran, dan (5) lesson study akan menempatkan peran para guru sebagai peneliti pembelajaran. Kedua, lesson study yang didisain dengan baik akan menjadikan guru yang profesional dan inovatif. Dengan melaksanakan lesson study para guru dapat (1) menentukan kompetensi yang perlu dimiliki siswa, merencanakan dan melaksanakan pembelajaran (lesson) yang efektif; (2) mengkaji dan meningkatkan pelajaran yang bermanfaat bagi siswa; (3) memperdalam pengetahuan tentang mata pelajaran yang disajikan para guru; (4) menentukan standar kompetensi yang akan dicapai para siswa; (5) merencanakan pelajaran secara kolaboratif; (6) mengkaji secara teliti belajar dan perilaku siswa; (7) mengembangkan pengetahuan pembelajaran yang dapat diandalkan; dan (8) melakukan refleksi terhadap pengajaran yang dilaksanakannya berdasarkan pandangan siswa dan koleganya. (Lewis, dalam Sukirman, 2006; 7)

Wang-Iverson dan Yoshida, dalam Sukirman (2006: 8) mengatakan bahwa lesson study memiliki beberapa manfaat sebagai berikut; (1) mengurangi keterasingan guru (dari komunitasnya) (2) membantu guru untuk mengobservasi dan mengkritisi pembelajarannya (3) memperdalam pemahaman guru tentang materi pelajaran, cakupan dan urutan materi dalam kurikulum (4) membantu guru memfokuskan bantuannya pada seluruh aktivitas belajar siswa (5) menciptakan terjadinya pertukaran pengetahuan tentang pemahaman berpikir dan belajar siswa (6) meningkatkan kolaborasi pada sesama guru.

2. Bagaimana Melaksanakan Lesson study?

Ada berbagai variasi tahapan atau langkah pelaksanaan lesson study dalam perkembangan implementasinya. Lewis (dalam Sukirman 2006; 7) menyarankan ada enam tahapan dalam awal mengimplementasikan lesson study di sekolah, yakni :

Tahap 1: Membentuk kelompok lesson study.

Tahap 2: Memfokuskan lesson study.

Tahap 3: Menyusun rencana pembelajaran.

Tahap 4: Melaksanakan pembelajaran di kelas dan mengamatinya (observasi).

Tahap 5: Refleksi dan menganalisis pembelajaran yang telah dilaksanakan.

Tahap 6: Merencanakan pembelajaran tahap selanjutnya.

Sementara itu, Richardson (2006) menuliskan ada 7 tahap atau langkah yang termasuk dalam lesson study, yang masih mirip deng Lewis, yakni:

Tahap 1: Membentuk tim lesson study.

Tahap 2: Memfokuskan lesson study

Tahap 3: Merencanakan pembelajaran.

Tahap 4: Persiapan untuk observasi.

Tahap 5: Melaksanakan pembelajaran dan observasinya.

Tahap 6: Melaksanakan diskusi pembelajaran yang telah dilaksanakan

refleksi).

Tahap 7: Merencanakan pembelajaran untuk tahap selanjutnya.

Dalam implementasi lesson study yang dilakukan oleh IMSTEP-JICA di Indonesia, Saito, dkk (2005) mengenalkan lesson study yang berorientasi pada praktik. Lesson study yang dilaksanakan terdiri atas 3 tahap pokok, yakni; (1) merencanakan pembelajaran dengan penggalian akademis pada topik dan alat-alat pembelajaran yang digunakan, yang selanjutnya disebut tahap Plan (2) melaksanakan pembelajaran yang mengacu pada rencana pembelajaran dan alat-alat yang disediakan, serta mengundang rekan-rekan sejawat untuk mengamati, kegiatan ini disebut tahap Do (3) melaksanakan refleksi melalui berbagai pendapat/tanggapan dan diskusi bersama pengamat/observer, kegiatan ini disebut tahap See. Berikut ini akan diuraikan secara lebih detil keenam tahap yang dikemukakan oleh Lewis tersebut di atas:

a. Membentuk Kelompok Lesson study

Setidak-tidaknya ada empat kegiatan yang perlu dilakukan dalam membentuk kelompok lesson study. Keempat kegiatan tersebut adalah (1) merekrut anggota kelompok, (2) menyusun komitmen tentang tugas-tugas yang harus dilakukan, (3) menyusun jadwal pertemuan, dan (4) membuat aturan-aturan kelompok. Anggota kelompok lesson study pada dasarnya dapat direkrut dari guru, dosen, supervisor akademik, pejabat pendidikan, dan/atau pemerhati pendidikan.Yang sangat penting adalah mereka mempunyai komitmen, minat, dan kemauan untuk melakukan inovasi dan memperbaiki kualitas pendidikan. Setiap anggota kelompok lesson study harus memiliki komitmen, agar dia menyiapkan waktu khusus untuk mewujudkan atau mengimplementasikan lesson study. Para anggota kelompok ini biasanya menyelenggarakan pertemuan-pertemuan rutin baik mingguan, bulanan, semesteran, maupun tahunan dalam satu tahun ajaran tertentu. Di samping itu, mereka juga bisa bertindak sebagai guru untuk melakukan suatu research lesson.

Seperti dikemukakan di atas, pertemuan-pertemuan anggota kelompok diperlukan adanya jadwal yang harus ditaati oleh setiap anggota kelompok. Jadwal itu mengatur semua tugas yang terkait dengan kegiatan anggota kelompok, termasuk tugas mengajar rutin. Anggota kelompok yang bertugas sebagai guru tentu saja tidak boleh meninggalkan kelas mengajarnya, sehingga kegiatan lesson study tidak mengganggu tugas pokok mengajar. Oleh karena itu, dalam menyusun jadwal pertemuan hharus mempertimbangkan tugas pokok mengajarnya, agar tugas pokok tersebut tidak ditinggalkan.

b. Memfokuskan Lesson study

Pada langkah ini ada tiga kegiatan yang dapat dilakukan, yaitu menyepakati tema permasalahan, fokus permasalahan, atau tujuan utama pemecahan masalah, memilih subbidang studi, serta memilih topik dan unit pelajaran. Terkait dengan penentuan tema permasalahan suatu lesson study, kita perlu memperhatikan tiga hal. Pertama, bagaimana kualitas aktual para siswa saat sekarang? Kedua, bagaimana kualitas ideal para siswa yang diinginkan di masa mendatang? Ketiga, adakah kesenjangan antara kualitas ideal dan kualitas aktual para siswa yang menjadi sasaran lesson study? Kesenjangan inilah yang dapat diangkat menjadi bahan tema permasalahan.

Mata pelajaran yang digunakan untuk lesson study ditentukan oleh anggota kelompok lesson study. Anggota kelompok bisa memilih, misalnya mata pelajaran IPA, Bahasa, atau Matematika, dan sebagainya sesuai dengan minat para anggota. Sebagai panduan untuk memilih mata pelajaran, kita dapat menggunakan tiga pertanyaan berikut. Pertama, mata pelajaran apa yang paling sulit bagi siswa?. Kedua, mata pelajaran apa yang paling sulit diajarkan oleh guru?. Ketiga, mata pelajaran apa yang ada pada kurikulum baru yang ingin dikuasai dan dipahami oleh guru?

Setelah menentukan mata pelajaran, langkah selanjutnya memilih topik dan pembelajaran. Topik yang dipilih sebaiknya topik yang menjadi dasar bagi topik berikutnya, topik yang selalu sulit bagi siswa atau tidak disukai siswa, topik yang sulit diajarkan atau tidak disukai oleh guru, atau topik yang baru dalam kurikulum. Topik dipilih harus sesuai dengan kompetensi dasar yang perlu dimiliki oleh siswa. Berdasarkan kompetensi dasar ini disusun pembelajaran yang akan menunjang tercapainya kompetensi tersebut.

c. Merencanakan Pembelajaran

Di dalam merencanakan pembelajaran (instructional improvement), di samping mengkaji pembelajaran-pembelajaran yang sedang berlangsung, kita perlu mengembangkan suatu rencana untuk memandu belajar (plan to guide learning). Rencana itu akan memandu proses pembelajaran, pengamatan, dan diskusi tentang pembelajaran serta mengungkap temuan yang akan muncul selama lesson study berlangsung. Rencana untuk memandu belajar itu merupakan suatu hal yang kompleks. Suatu rencana pembelajaran diharapkan akan menjawab pertanyaan yang sangat penting, yaitu “perubahan-perubahan apa yang akan terjadi pada siswa selama pelajaran berlangsung dan apa yang akan memotivasi mereka. Daftar pertanyaan berikut mungkin dapat membantu untuk memandu perencanaan pembelajaran (Lewis, 2002).

1) Apa yang saat ini dipahami oleh siswa tentang topik ini?

2) Apa yang kita inginkan dari siswa untuk dipahami pada akhir pembelajaran?

3) Rentetan pertanyaan dan pengalaman apa yang akan mendorong para siswa untuk berpindah dari pemahaman awal menuju pemahaman yang diinginkan?

4) Bagaimana para siswa akan menjawab pertanyaan dan aktivitas apa yang dilakukan siswa pada pembelajaran tersebut? Apakah terdapat masalah dan miskonsepsi yang akan muncul? Bagaimana guru akan menggunakan idea dan miskonsepsi untuk meningkatkan pembelajaran tersebut?

5) Apa yang akan membuat pembelajaran ini mampu memotivasi dan bermakna bagi siswa?

6) Apakah diperlukan bukti tentang belajar siswa, motivasi siswa, perilaku siswa yang perlu dikumpulkan, yang nantinya dapat didiskusikan dalam kegiatan refleksi? bagaimanakah format pengumpulan data yang diperlukan?

Penyusunan lembar observasi untuk pengumpulan data ini merupakan suatu elemen penting yang didasarkan pada rencana pembelajaran yang telah disusun. Lembar observasi ini memandu pengamat untuk memperhatikan aspek-aspek khusus dari pelaksanaan pembelajaran. Anggota kelompok lesson study dan guruguru biasanya diberikan tugas dan format pengumpulan data untuk membantu mereka dalam mengumpulkan data. Pengumpulan data itu biasanya dikaitkan dengan denah tempat duduk siswa, daftar anggota setiap kelompok siswa, catatan tentang pemikiran awal siswa, daftar cek untuk mencatat hal-hal penting tentang karya siswa, catatan tentang partisipasi setiap siswa dari suatu kelompok kecil, atau data lainnya yang diperlukan/mendukung.

Data yang dikumpulkan selama lesson study biasanya memuat bukti tentang aktivitas belajar, motivasi, dan iklim sosial. Walaupun pengumpulan data lebih difokuskan pada siswa, namun juga bisa dilakukan untuk mencatat ucapan, gerakan guru, dan waktu yang digunakan guru pada setiap elemen pembelajaran.

Satu bagian penting lagi dan yang patut dipertimbangkan dalam merencanakan lesson study adalah kehadiran ahli/pakar dari luar. Mereka bisa berasal dari guru senior atau dosen yang memiliki pengetahuan tentang bidang studi yang dipelajari dan/atau bagaimana mengajar bidang studi tersebut. Keterlibatan ahli/pakar dari luar ini akan lebih efektif jika berlangsung sejak awal. Dengan cara ini, ahli/pakar tersebut mempunyai kesempatan dalam membantu merancang pembelajaran, memberi saran tentang sumber-sumber kurikulum, dan bertindak sebagai komentator dan motivatorterhadap pelaksanaan lesson study.

d. Praktik Pembelajaran dan Observasi

Rencana pembelajaran yang telah disusun bersama diimplementasikan oleh seorang guru yang ditunjuk (disepakati) oleh kelompok dan diamati oleh guru lain dan pakar/ahli dari luar. Pengamat akan mengumpulkan data yang diperlukan selama pelajaran berlangsung. Untuk mendokumentasikan proses pelaksanaan pembelajaran biasanya dapat dilakukan dengan menggunakan audiotape, videotape, handycam, kamera, karya siswa, dan catatan observasi naratif. Peranan pengamat selama lesson study adalah mengumpulkan data dan bukan membantu apalagi mengganggu siswa. Para siswa harus diberitahu lebih dahulu bahwa pengamat atau guru lain di kelas mereka itu hanya bertugas untuk mempelajari pembelajaran yang berlangsung dan bukan untuk membantu ataupun menilai mereka.

Selanjutnya, setiap anggota kelompok lesson study sebaiknya diberi tugas dengan tanggung jawab tertentu. Untuk ini setiap anggota kelompok memahami isi dari semua perangkat pembelajaran yang digunakan guru, seperti rencana pembelajaran, lembar kerja siswa (LKS), teaching guide, dan lembar observasi, sehingga mereka akan lebih cermat dalam mengamatinya.

e. Refleksi dan Menganalisis Pembelajaran yang Telah Dilakukan

Rencana pembelajaran yang sudah diimplementasikan perlu dilakukan refleksi dan dianalisis. Hal ini perlu dilakukan, karena hasil refleksi dan analisis tersebut dapat dijadikan sebagai bahan masukan untuk perbaikan atau revisi rencana pembelajaran. Dengan demikian pembelajaran berikutnya diharapkan akan menjadi lebih sempurna, efektif dan efisien. Refleksi tentang pelaksanaan pembelajaran sebaiknya memuat butir-butir: (1) refleksi dari guru pelaksana pembelajaran, (2) tanggapan umum dari observer/pengamat, (3) presentasi dan diskusi tentang hasil pengolahan data dari pengamat, (4) tanggapan dan saran dari ahli/pakar.

Beberapa bagian penting yang berguna sebagai panduan refleksi pelaksanaan pembelajaran adalah sebagai berikut. Pertama, guru yang melakukan pembelajaran diberi kesempatan menjadi pembicara pertama untuk mengemukakan semua kesulitan dalam pembelajarannya, kesalahan yang diperbuatnya selama pembelajaran, atau hal-hal lain yang terjadi dalam pembelajaran dan perlu dikemukakan dalam refleksi. Kedua, pembelajaran yang disampaikan merupakan milik semua anggota kelompok lesson study. Ini adalah pembelajaran “kita”, bukan pembelajaran “saya” ataupun pembelajaran ”Anda”, sehingga hal ini direfleksikan pada setiap anggota kelompok. Anggota kelompok bertanggung jawab untuk menjelaskan pemikiran dan perencanaan yang telah disusun bersama tersebut. Ketiga, para guru yang merencanakan pembelajaran itu sebaiknya menceritakan mengapa mereka merencanakan itu, perbedaan antara apa yang mereka rencanakan dan apa yang sesungguhnya terjadi dalam pelaksanaan, serta aspekaspek pelajaran yang mereka inginkan agar para pengamat mengevaluasinya.Keempat, diskusi yang berfokus pada data yang dikumpulkan oleh para pengamat. Para pengamat membicarakan secara spesifik tentang kegiatan siswa dan karya siswa yang mereka catat. Pengamat tidak membicarakan tentang kualitas pelajaran berdasarkan kesan mereka, tetapi mereka membicarakan atas dasar fakta yang ditemukan. Kelima, waktu refleksi bebas terbatas, oleh sebab itu hanya terdapat kesempatan yang terbatas (Lewis, 2002).

Refleksi dari pelaksanaan pembelajaran ini dilaksanakan segera, pada hari yang sama, setelah rencana pembelajaran diimplementasikan. Hal ini seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa hasil diskusi dan analisis ini dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk merevisi materi, pendekatan, dan media yang digunakan.

f. Merencanakan Tahap-tahap Berikutnya

Dalam merefleksikan lesson study, hal yang perlu dilakukan adalah memikirkan tentang apa-apa yang sudah berlangsung dengan baik sesuai dengan rencana dan apa-apa yang masih perlu diperbaiki. Sekarang tiba saatnya untuk berpikir tentang apa yang harus dikerjakan selanjutnya oleh kelompok lesson study. Apakah anggota kelompok berkeinginan untuk membuat peningkatan agar pembelajaran ini menjadi lebih baik? Apakah anggota yang lain dari kelompok lesson study ini berkeinginan untuk menguji cobakan pembelajaran ini pada kelas mereka sendiri? Apakah anggota kelompok lesson study puas dengan pelaksanaan lesson study dan operasional kelompok? (Lewis, 2002).

Pertanyaan-pertanyaan berikut juga dapat membantu dalam melakukan refleksi terhadap siklus lesson study maupun memikirkan langkah yang akan dilakukan berikutnya. Pertanyaan tersebut (menurut Lewis, 2002), antara lain : (1) apa yang berguna atau nilai tambah apa tentang pelaksanaan lesson study yang telah dikerjakan bersama? (2) apakah lesson study membimbing kita untuk berpikir dengan cara baru tentang praktek pembelajaran sehari-hari? (3) Apakah lesson study membantu mengembangkan pengetahuan kita tentang materi pelajaran serta pengetahuan tentang pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan siswa? (4) apakah pelaksanaan lesson study menarik bagi kita dalam meningkatkan keprofesionalan kita? (5) apakah pelaksanaan lesson study yang dilakukan secara kolaboratif/bersama-sama merupakan suatu kerja yang produktif dan suportif? (6) sudahkah kita membuat kemajuan pembelajaran secara menyeluruh melalui pelaksanaan lesson study? (7) apakah semua anggota kelompok kita merasa terlibat dan berguna? (8) apakah pihak yang bukan peserta kelompok memperoleh informasi atau manfaat dari hasil pelaksanaan kegiatan lesson study kita.

 

BAB III METODE PENELITIAN

 

A. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini termasuk tindakan berbasis kelas yaitu merupakan suatu usaha untuk meningkatkan kualitas mengajar melalui partisipasi guru/calon guru dengan melalui praktek mengajar laboratoris antara calon guru matematika dengan peneliti dan melibatkan dosen ahli. Penelitian ini bertujuan menghasilkan produk berupa (a) Identifikasi Masalah-Masalah Pembelajaran yang profesional bagi guru/calon guru (b) Rancangan Lesson Study sebagai model pembelajaran untuk meningkatkan keprofesionalan guru (Model-Model Konseptual Pembelajaran yang dirancang berdasarkan masalah-masalah pembelajaran yang teridentifikasi tersebut) (c) Suatu model peningkatan mutu pembelajaran melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun learning community. Oleh karena itu lesson study dapat dilaksanakan dalam satu kelompok guru/calon guru mata pelajaran sejenis (guru matematika).

Produk yang berupa masalah-masalah pembelajaran dicapai dengan pendekatan penelitian deskriptif kualitatif dengan cara survey dan observasi latihan pembelajaran laboratoris di laboratoriun micro teaching, karena itu perlu ada model mengajar laboratoris. Berdasarkan pada masalah-masalah pembelajaran di atas, maka dirancang model pembelajaran bidang studi matematika melalui lokakarya terbatas.

 

B. Rancangan Penelitian

Mengingat penelitian ini merupakan penelitian tindakan berasis kelas, maka penlitian ini akan bersifat praktis, situasional, kondisional dan kontektual. Berdasarkan permasalahan yang ada selama dalam kegiatan pembelajaran Matematika. Adapun rancangan penelitian ini mengacu pendapat Moleong (1994) dengan rangkaian adaptasi dan implementasi mengikuti pendapat Robinson (2006).

Rancangan penelitian menurut Moleong ada 5 tahapan yaitu: (1) dialog awal (2) perencanaan tindakan pembelajaran (3) pelaksanaan tindakan, observasi dan monitoring (4). refleksi, dan (5) evaluasi. Robinson, mengusulkan delapan tahap berdasarkan pada banyaknya kegiatan yang diperlukan dalam pelaksanaan lesson study, yakni:

Tahap 1: Pemilihan topik lesson study

Tahap 2: Melakukan reviu silabus untuk mendapatkan kejelasan tujuan pembelajaran untuk topik tersebut dan mencari ide-ide dari materi yang ada dalam buku pelajaran. Selajutnya bekerja dalam kelompok untuk menyusun rencana pembelajaran.

Tahap 3: Setiap tim yang telah menyusun rencana pembelajaran menyajikan atau mempresentasikan rencana pembelajarannya, sementara kelompok lain memberi masukan, sampai akhirnya diperoleh rencana pembelajaran yang lebih baik.

Tahap 4: Guru yang ditunjuk oleh kelompok menggunakan masukan-masukan tersebut untuk memperbaiki rencana pembelajaran.

Tahap 5: Guru yang ditunjuk tersebut mempresentasikan rencana pembelajaran nya di depan semua anggota kelompok lesson study untuk mendapatkan balikan.

Tahap 6: Guru yang ditunjuk tersebut memperbaiki kembali secara lebih detail rencana pembelajaran dan mengirimkan pada semua guru anggota kelompok, agar mereka tahu bagaimana pembelajaran akan dilaksanakan di kelas.

Tahap 7: Para guru dapat mempelajari kembali tentang rencana pembelajaran tersebut dan mempertimbangkannya dari berbagai aspek pengalaman pembelajaran yang mereka miliki, khususnya difokuskan pada hal-hal yang penting seperti : hal-hal yang akan dilakukan guru, pemahaman siswa, proses pemecahan oleh murid, dan kemungkinan yang akan terjadi dalam implementasi pembelajarannya.

Tahap 8: Guru yang ditunjuk tersebut melaksanakan rencana pembelajaran di kelas, sementara guru yang lain bersama dosen/pakar mengamati sesuai dengan tugas masing-masing untuk memberi masukan pada guru. Pertemuan refleksi segera dilakukan secepatnya kegiatan pelaksanaan pembelajaran, untuk memperoleh masukan dari guru observer, dan akhirnya komentar dari dosen atau pakar luar tentang keseluruhan proses serta saran sebagai peningkatan pembelajaran, jika mereka mengulang di kelas masing-masing atau untuk topik yang berbeda.

Dari delapan tahapan di atas tampak adanya upaya penyusunan dan perbaikan rencana pembelajaran dan praktek pembelajaran laboratoris yang berulang-ulang untuk memperoleh rencana pembelajaran dan model pembelajaran yang terbaik.

C. Subjek dan Informan Penelitian

Yang menjadi subjek penelitian ini adalah mahasiswa yang sedang melakukan program praktek mengajar di Laboratorium Micro Teaching yaitu mahasiswa semester VI Program Studi Pendidikan Matematika FKIP-UMS. Informan penelitian yang lain dosen pembimbing dan dosen ahli.

Informan penelitian diharapkan memberikan atau merupakan sumber informasi yang berkaitan dengan beberapa pertanyaa penelitian, yakni (a) Hal-hal apa saja yang menjadi kendala (masalah) dalam peningkatan kualitas micro teaching dan PPL (Program Pengalaman Lapangan) melalui lesson study bagi calon guru matematika pada Program Studi Pendidikan Matematika FKIP-UMS (b) bagaimana rancangan lesson study yang efektif sebagai model untuk meningkatkan kualitas micro teaching dan PPL bagi calon guru matematikan FKIP-UMS (model konseptual pembelajaran yang dirancang berdasarkan masalah-masalah pembelajaran yang teridentifikasi tersebut di atas). (c) bagaimana model peningkatan kualitas Micro Teaching dan PPL (Program Pengalaman Lapangan) malalui lesson study bagi calon guru matematika pada Program Studi Pendidikan Matematika FKIP-UMS?

D. Metode Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian.

1. Metode Pengumpulan Data

Data tentang masalah-masalah pembelajaran dikumpulkan dengan metode (teknik) observasi, wawancara dan angket.

Observasi dilakukan untuk mengamati praktek pembelajaran di Lab. Micro Teaching (beberapa kali) sampai memperoleh model pembinaan pembelajaran yang berkualitas / profesional melalui lesson study.

Wawancara dilakukan baik kepada calon guru maupun dosen pembimbing dan dosen ahli untuk memperoleh data tentang masalah-masalah pembelajaran sampai memperoleh interpretasi dari informan tentang strategis peningkatan kualitas pembelajaran memlalui lesson study, dan kemudian peneliti menginterpretasikan interpretasi informasi tersebut sampai memperoleh bahasa ilmiah yang tidak merobah makna dari interpretasi pertama. Dalam hal ini Berger menyebutnya dengan first order understanding dan second order understanding.

Angket diberikan kepada calon guru bidang studi matematika untuk memperoleh data tentang identifikasi masalah-masalah pembelajaran. Untuk itu peneliti perlu mempersiapkan antara lain; (1) instrumen penelitian, instrumen penelitian ini berupa: pedoman observasi, angket semi terbuka, (2) model pembelajaran matematika secara laboratoris. (2) latihan mengajar di Lab Micro Teaching oleh calon guru matematika, setiap calon guru mendapatkan pelatihan mengajar berulang-ulang kali sampai mendapatkan model pembelajaran metematika yang profesional.

2. Instrumen Penelitian

Beberapa contoh pertanyaan angket adalah sebagai berikut:

1) Apa yang saat ini dipahami oleh siswa tentang topik ini?

2) Apa yang kita inginkan dari siswa untuk dipahami pada akhir pembelajaran?

3) Rentetan pertanyaan dan pengalaman apa saja yang akan mendorong para siswa-

untuk berpindah dari pemahaman awal menuju pemahaman yang diinginkan?

4) Bagaimana para siswa akan menjawab pertanyaan dan aktivitas apa yang dilakukan siswa pada pembelajaran tersebut? Apakah terdapat masalah dan miskonsepsi yang akan muncul? Bagaimana guru akan menggunakan idea dan miskonsepsi untuk meningkatkan pembelajaran tersebut?

5) Apa yang akan membuat pembelajaran ini mampu memotivasi dan bermakna bagi siswa?

6) Apakah diperlukan bukti tentang belajar siswa, motivasi siswa, perilaku siswa yang perlu dikumpulkan, yang nantinya dapat didiskusikan dalam kegiatan refleksi? bagaimanakah format pengumpulan data yang diperlukan?

3. Bias Penelitian

Dalam proses pengumpulan informasi (data) ini, kemungkinan akan terjadi bias-bias peneliti, seperti dinyatakan oleh Denzim dan Lincoln (1994), terdapat sedikitnya dua hal yang mengharuskan agar peneliti bersifat hati-hati, yaitu; (1) peneliti bisa kehilangan sensitifitas terhadap aktifitas sehari-hari karena sedemikian jauh peneliti going-along, sehingga berbagai aktifitas subyek penelitian dapat ditebak sebelumnya, sehingga peneliti dapat dibuat tidak tertarik atau bosan, dan mengakibatkan kemampuan melihat, mencatat dan merekam secara detail fenomena subjek penelitian menjadi tumpul; (2) peneliti kehilangan objektivitas terhadap setting, karena bisa jadi peneliti terikat dengan kelompok tertentu, yang bisa berakibat netralitas sebagai kolektor bahan empirik tidak terpenuhi (Denzin dan Lincoln, 1994: 231).

Posisi peneliti seperti diilustrasikan di atas, dapat menimbulkan bias kepentingan maupun bias nilai. Oleh karena itu, agar bisa tetap menghasilkan penelitian yang transferable, maka dijaga dari kemungkinan pengungkapan makna yang tidak sesuai realitas senyatanya, maka dalam hal ini perlu dilakukan triangulasi sebagai peneliti (investigator triangulation). Dalam hal ini, peneliti menempuh langkah penarikan diri. Pada saat-saat tertentu yang lain, peneliti bisa meneruskan penelitiannya dengan selalu menjaga agar tidak terjadi bias kedua dan seterusnya.

E. Teknik Analisis Data.

Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif. Analisis deskriptif kualitatif dengan pendekatan proses alur yaitu data dianalisis sejak tindakan pembelajaran dilaksanakan, dikembangkan selama proses pemelajaran berlangsung sampai diperoleh pembelajaran yang berkualitas / profesional.

Teknis analisis data dalam penelitian ini mengacu pendapat Milles (1992), Pertama, analisis data yang muncul berwujud kata-kata, data ini dikumpulkan dengan observasi, wawancara, angket dan model pembelajaran. Kedua, analisis ini terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu; reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan/verifikasi (Miles dan Huberman, 1992:15-21).

Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data “kasar” yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan, dalam hal ini peneliti mencatat hasil wawancara dengan informan berkaitan dengan permasalahan penelitian yang telah di rumuskan pada bagian latar belakang tersebut di atas.

Alur penting yang kedua dari kegiatan analisis data adalah penyajian data. Penyajian data di sini sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian data ini berbentuk teks naratif, teks dalam bentuk catatan-catatan hasil wawancara dengan informan penelitian sebagai informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan.

Kegiatan analisis ketiga yang penting adalah menarik kesimpulan dan verifikasi. Dari permulaan pengumpulan data, seseorang penganalisis (peneliti) mulai mencari makna peningkatan kualitas pembelajaran melalui lesson study. Dengan demikian, aktifitas analisis merupakan proses interaksi antara ketiga langkah analisis data tersebut, dan merupakan proses siklus sampai kegiatan penelitian selesai.

F. Indikator Kinerja

Indikator kinerja ini diarahkan pada pencapaian produk berupa (a) Hal-hal yang menjadi kendala (masalah) dalam peningkatan kualitas micro teaching dan PPL (Program Pengalaman Lapangan) melalui lesson study bagi calon guru matematika pada Program Studi Pendidikan Matematika FKIP-UMS (b) rancangan lesson study yang efektif sebagai model untuk meningkatkan kualitas micro teaching dan PPL bagi calon guru matematikan FKIP-UMS (model konseptual pembelajaran yang dirancang berdasarkan masalah-masalah pembelajaran yang teridentifikasi tersebut di atas). (c) model peningkatan kualitas Micro Teaching dan PPL (Program Pengalaman Lapangan) malalui lesson study bagi calon guru matematika pada Program Studi Pendidikan Matematika FKIP-UMS.

Indikator peningkatan kualitas pembelajaran mikro dan kualitas PPL apabila calon guru sudah mampu mempraktikkan beberapa ketrampilan mengajar sebagai berikut: (1) Ketrampilan mengelola kelas (2) ketrampilan membuka pelajaran (3) ketrampilan bertanya (pre test, saat menerangkan, dan pos test) (4) ketrampilan menerangkan (5) ketrampilan menggunakan multi media (6) ketrampilan menggunakan multi metode (7) ketrampilan memberikan motivasi (8) ketrampilan memberikan ganjaran (9) ketrampilan menutup pelajaran

 

BAB IV  HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

A. Kendala Peningkatan Kualitas Micro Teaching dan PPL

Untuk mendapatkan data kendala dalam upaya peningkatan kaulitas micro teaching dan PPL bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika FKIP-UMS, peneliti melakukan wawancara kepada beberapa sumber informasi sebagai bereikut; Suwaji, Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah 2 Surakarta menjelaskan bahwa; calon guru sebelum menjalankan tugas PPL di Sekolah Latihan perlu pelatihan baik secara tertulis (administrasi) maupun praktek mengajar secara Micro Teaching (di Laboratorium) manupun mini teaching yang lebih banyak untuk mempraktekkan berbagai ketrampilan mengajar secara tuntas, hal itu dilakukan untuk menghindari /mengurangi kesalahan dalam pelaksanaan PPL.

Penjelasan lain sebagaimana yang dikemukakan oleh seorang guru pembimbing yang tidak mau disebut namanya bahwa; kebanyakan mahasiswa PPL kurang menguasai materi ajar, mahasiswa PPL perlu belajar yang sungguh-sungguh dalam menguasai materi, termasuk belajar dari beberapa sumber sehingga materi yang dikuasai peserta PPL cukup banyak.

Permasalahan lain juga disampaikan dalam diskusi pembimbingan antara guru pembimbing, dosen pembimbing dan mahasiswa PPL, disimpulkan bahwa; mahasiswa PPL pada umumnya kurang menguasai secara keseluruhan kurikulum/bahan ajar, penggunaan multi metode, termasuk pola interasi, alat peraga yang tepat, pemanfaatan alam sekitar, sistem penilaian yang tepat, termasuk kelemahan penguasaan pembimbingan micro teaching. Dalam diskusi di sepakati dan diusulkan agar sebelum mengajar paerlu diskusi awal untuk menyamakan persepasi pengembangan bahan ajar yang sesuaia dengan pokok bahasan yang akan di ajarkan.

Temuan lain di Sekolah Latihan (SMP Al Islam Kartosura), menurut penjelasan beberapa guru pembimbing dapat peneliti rangkum sebagai berikut; calon guru sebelum menjalankan tugas PPL di Sekolah Latihan perlu latihan mengajar secara laboratoris maupu real teaching yang lebih banyak mempraktekkan berbagai ketrampilan mengajar secara tuntas, hal itu dilakukan untuk menghindari/mengurangi kesalahan dalam pelaksanaan PPL, kebanyakan mahasiswa PPL kurang menguasai materi ajar.

Permasalahan lain juga disampaikan oleh koordinator guru pembimbing PPL bahwa; mahasiswa PPL pada umumnya kurang menguasai secara keseluruhan kurikulum/bahan ajar, teknik mengajar konstruktivisme, kurang memberikan waktu kepada anak untuk berpartisipasi dalam pembelajaran, pengelolaan kelas, penggunaan multi metode termasuk pola interasi, alat peraga yang tepat, pemanfaatan alam sekitar, sistem penilaian yang tepat, kelemahan ini semua tidak lepas dengan kelemahan penguasaan pembimbingan micro teaching.

Dalam diskusi antara guru pembimbing, dosen pamong dan mahasiswa PPL di sepakati dan diusulkan agar sebelum mengajar paerlu diskusi awal untuk menyamakan persepasi pengembangan bahan ajar yang sesuai dengan pokok bahasan yang akan di ajarkan.

Temuan lain di SMK Muhammadiyah 1 Surakarta, dari wawancara peneliti kepada Wakasek Kurikulum bapak Abdul Fatah menjelaskan, menurut informasi dari beberapa guru pembimbing, saya (Wakasek Kurikulum) menyimpulkan bahwa kendala yang dihadapi para mahasiswa PPL di Sekolah kami adalah para mahasiswa kelihatan kurang berlatih mengajar secara laboratoris maupun real teaching, hal ini ditunjukkan masih banyak kekurangan dalam praktek mengajar karena itu kami usulkan perlunya secara intensip mahasiswa latihan berbagai ketrampilan mengajar secara tuntas, hal itu dilakukan untuk menghindari/mengurangi kesalahan dalam pelaksanaan PPL, kendala lainnya kebanyakan mahasiswa PPL kurang menguasai materi ajar.

Permasalahan lain juga disampaikan oleh guru pembimbing (yang tidak mau disebut namanya) bahwa; mahasiswa PPL pada umumnya kurang menguasai secara keseluruhan kurikulum/bahan ajar, teknik menagajar yang menumbuhkan kreativitas anak, kurang memberikan waktu kepada anak untuk berpartisipasi dalam pembelajaran, pengelolaan kelas, penggunaan multi metode termasuk pola interasi, alat peraga yang tepat, pemanfaatan alam sekitar, dan sistem penilaian yang tepat.

Dari temuan-temuan dilapangan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa: Kendala utama peningkatan kualitas pengajaran micro teaching dan PPL bagi calon guru Progran Pendidikan Matematika FKIP-UMS adalah (1) kurangnya kemampuan calon guru dalam pengembangan kurikulum menjadi pembelajaran berkualitas (2) minimnya ketersediaan sumber belajar yang dimiliki dan pemanfaatannya (3) masalah pola interaksi pembelajaran dan pola pengembangan pembelajaran yang berkaulitas (4) masalah pola pemanfaatan potensi alam sekitar untuk mendukung kegiatan pembelajaran (5) masalah pengembangan instrumen penilaian hasil pembelajaran berkualitas (6) permasalahn kesulitas calon guru dalam penguasaan kompetensi yang diajarkan guru. (7) kemampuan dosen dalam penguasaan Micro Teaching sebagai in service training bagi calon guru dan pre service training bagi guru dan dosen dan (8) kurangnya peran dosen Mata Kuliah Keahlian (Mata Kuliah yang menunjang materi bidang studi matematika) dalam pengembangan pembelajaran berkualitas.

B. Rancangan yang Efektif Meningkatkan Kualitas Micro Teaching dan PPL dengan Pendekatan lesson study

1. Rancangan Micro Teaching dengan Pendekatan Lesson Study

Tahapan-tahapan Lesson study yang efektif sebagai model untuk meningkatkan kualitas micro teaching dan PPL mengacu pendapat Sukirman dalam makalah Pelatihan Lesson Study guru-guru Berprestasi dan Pengurus MGMP MIPA SMP se-Indonesia, mencakup 3 (tiga) tahap kegiatan; (1) perencanaan (planning), (2) implementasi (action) pembelajaran dan observasi (3) refleksi (reflection) terhadap perencanaan dan implementasi pembelajaran tersebut, dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran.

Mengenalkan lesson study yang berorientasi pada praktik, yang dilaksanakan dengan 3 tahap pokok tersebut di atas masing-masing tahap dikembangkan aspek-aspeknya, antara lain; (1) merencanakan pembelajaran dengan penggalian akademis pada topik dan alat-alat pembelajaran yang digunakan, yang selanjutnya disebut tahap Plan (2) melaksanakan pembelajaran yang mengacu pada rencana pembelajaran dan alat-alat yang disediakan, serta mengundang rekan-rekan sejawat untuk mengamati, kegiatan ini disebut tahap Do (3) melaksanakan refleksi melalui berbagai pendapat/tanggapan dan diskusi bersama pengamat/observer, kegiatan ini disebut tahap See. Lebih jelasnya digambarkan dalam bagan berikut.

Rancangan model tersebut di atas dikembangkan dalan tiga model yaitu; model koopertif, model berdasarkan masalah, dan model peningkatan langsung. Penjelasan beberapa model tersebut sebagaimana uraian di bawah ini.

1) Model Peningkatan Kualitas Kooperatif (Improvement Model of Quality of Co-Operative)

Model kooperatif ini memiliki beberapa unsur yaitu; (1) Siswa belajar dalam kelompok kecil yang beranggotakan 4 sampai 5 orang untuk efektifitas kelompok dalam belajar. Anggota kelompok yang terlalu besar tidak menjamin adanya kerja belajar yang efektif (2) Setiap anggota kelompok memiliki rasa ketergantungan dalam kelompok, keberhasilan kelompok sangat ditentukan oleh kekompakan anggota-anggota dalam kelompok tersebut (3) Diperlukan tanggung jawab masing-masing anggota kelompok, kesadaran tanggung jawab masing-masing anggota kelompok dalam belajar sangat mendukung keberhasilan kelompok (4) Terdapat kegiatan komunikasi tatap muka baik antar anggota kelompok daslam kelompok maupun antar kelompok. Adanya komunikasi ini dapat mendorong terjadinya interaksi positip, sesama siswa dapat lebih saling mengenal, masing-masing siswa saling menghargai pendapat teman, menerima kelebihan dan kekurangan teman apa adanya, menghargai perbedaan pendapat yang selalu terjadi dalam kehidupan. Siswa saling asah, saling asih dan saling asuh (5) Anggota-anggota kelompk berlatih untuk mengevalusi pedapat teman, melalui adu argumentasi, belajar menerima hasil evaluasi dari teman esama anggota kelompok, pada akhirnya dapat menumbuhkan rasa toleransi pendapat dan bergaul dalam hidup bermasyarakat. Dari ke 5 unsur tersebut di atas dapat ditarik simpulan bahwa lewat pembelajaran kooperatif, di samping diperoleh pencapaian aspek akademik yang tinggi di kalangan siswa, juga bermakna dalam membantu guru dalam mencapai tujuan pembelajaran yang berdimensi sosial dalam hubungannya dengan sesama.

2) Model Peningkatan Kualitas Berdasar Masalah (Improvement Model of Quality of Based on Problem)

Model peningkatan kualitas guru ini bertumpu pada pengembangan kemampuan berpikir di kalangan siswa lewat latihan penyelesaian masalah, oleh sebab itu siswa dilibatkan dalam proses maupun perolehan produk penyelesaiannya. Dengan demikian model ini juga akan mengembangkan keterampilan berpikir lewat fakta empiris maupun kemampuan berpikir rasional, sehingga latihan yang berulang-ulang ini dapat membina keterampilan intelektual dan sekaligus dapat mendewasakan siswa. Siswa berperan sebagai self-regulated learner, artinya lewat pembelajaran model ini siswa harus dilibatkan dalam pengalaman nyata atau simulasi sehingga dapat bertindak sebagai seorang ilmuwan atau orang dewasa.

Model ini tentu tidak dirancang agar guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa, tetapi guru perlu berperan sebagai fasilitator pembelajaran dengan upaya memberikan dorongan agar siswa bersedia melakukan sesuatu dan mengungkapkannya secara verbal.

3) Model Peningkatan Kualitas Langsung (Improvement Model of Quality of Direct)

Pembelajaran ini seringkali dianggap lebih sesuai dengan sifat ilmu yang dipelajari, seperti halnya kelompok mata pelajaran Basic Science. Hal ini di dasarkan pada asumsi bahwa pengetahuan ilmiah tersusun secara terstruktur yang memuat materi prasyarat dalam setiap langkah penyajiannya. Pembelajaran langsung pada umumnya dirancang secara khusus untuk mengembangkan aktivitas belajar di pihak siswa berkaitan dengan aspek pengetahuan procedural serta pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik yang dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Fokus utama dari pembelajarn ini adalah adanya pelatihan-pelatihan yang dapat diterapkan dari keadaan nyata yang sederhana sampai yang lebih kompleks.

Untuk semua model di atas beberapa catatan yang penting antara lain : (1). pendalaman materi secara individual dapat dilakukan di luar jam pelajaran, hal tersebut memilik dua keuntungan;(a) siswa dapat mencari sumber belajar lebih luas (internet atau buku bacaan yang lain), (b) waktu yang disediakan untuk kerja terstruktur dapat dimanfaatkan untuk diskusi kelompok dan presentasi hasil, sehingga lebih longgar (2) untuk, Lesson Study beberapa guru dapat memonitor dan mengevaluasi seluruh kegiatan dari awal sampai akhir, untuk selanjutnya dilakukan diskusi diluar jam sebagai bahan masukan untuk merevisi perncanaan program selanjutnya.

2. Rancangan Micro Teaching dan PPL

Pembelajaran mikro adalah penyederhanaan dari pembelajaran yang sebenarnya dengan tujuan lain; (1) membantu calon guru/guru menguasai ketrampilan-ketrampilan khusus, agar dalam latihan mengajar sesungguhnya tidak mengalami kesulitan (2) meningkatkan taraf kompetensi pembelajaran bagi calon guru/guru secara bertahap (3) untuk menemukan sendiri kekurangan bagi calon guru/guru sekaligus berbaikannya.

PPL (Program Pengalaman Lapangan) merupakan salah satu kegiatan kurikuler yang wajib dilaksanakan oleh mahasiswa FKIP-UMS untuk mencapai derajat gelar sarjana pendidikan. Kegiatan PPL mencakup praktik pembelajaran dan persekolahan, kegiatan ini diharapkan mapu membentuk empat kompetensi yandipersyaratkan untuk menjadi guru yang profesional. PPL secara umum bertujuan agar mahasiswa memiliki kompetensi paedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional, adapun secara khusus PPL bertujuan memberikan bekal kapda mahasiswa yang berupa pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap profesional sebagai calon guru.

Mengajar merupakan kegiatan yang sangat kompleks dan melibatkan banyak unsuk yang secara serempak dan serasi harus dilakukan secara bersama. Unsur-unsur itu meliputi ilmu, teknologi instruksional, sejumlah ketrampilan mengajar. Dalam hal praktek mengajar calon guru mempraktekkan katrampilan mengajar yaitu; Tahap Persiapan Pembelajaran, meliputi; 1) ketrampilan membuka pelajaran 2) ketrampilan meberi motivasi Tahap Pengelolaan Pembelajaran, meliputi; 1) ketrampilan menjelaskan 2) ketrampilan memberi penguatan verbal dan non verbal 3) ketrampilan bertanya 4) ketrampilan menggunakan metode yang tepat 5) ketrampilan menggunakan media pembelajaran 6) ketrampilan mengelola kelas. Tahap Penutup Pembelajaran yakni 1) ketrampilan menutup pelajaran

C. Peningkatan Kualitas Micro Teaching dan PPL (Program Pengalaman Lapangan) malalui Lesson Study

1. Peningkatan Micro Teaching

Secara teoritis peningkatan kualitas pembelajaran, termasuk juga peningkatan kualitas micro teaching dan PPL bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika FKIP-UMS melalaui tiga tahapan; tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, dan tahap evaluasi

a. Tahap Perencanaan

Pada tahap perencanaan ini langkah yang dilakukan adalah; (1) membentuk kelompok pembelajaran (2) masing-masing kelompok mendapat tugas mengajar dari dosen pembimbing (3) masing-masing kelompok berdiskusi atau kajian akademik, yakni kajian awal untuk melakukan penyidikan dan pembahasan materi ajar (4) masing-masing kelompok membut RMP (Rencana Mata Pelajaran) (5) menyiapkan alat peraga.

Setelah membentuk kelompok dan masing-masing kelompok mendapat tugas mengajar, calon guru dengan bimbingan tim ahli diskusi tentang materi pembelajaran. Selajutnya calon guru membuat RMP (Rencana Mata Pelajaran), rencana ini dibuat oleh masing-masing calon guru dengan berkonsultasi kepada guru pamong dan dosen pembimbing/dosen pengampu mata kuliah yang ada kaitannya dengan praktik mengajar. Dan kemudian langkah ketiga calon guru mempersiapkan alat peraga, alat pelajaran, alat-alat ini dipilih yang sesuai dengan pokok bahasan yang akan diajarkan, alat peraga tersebut berfungsi untuk memperjelas pelajaran agar tidak menimbulkan pengetahuan yang verbalistis. Alat peraga ini bisa berasal dari lingkungan, bisa alat buatan sendiri, bahkan bisa alat elektronik yang berbasis IT.

b. Tahap Pelaksanaan Mengajar secara Micro Teaching

Tindakan Pertama,

Putaran I

Praktik mengajar secara laboratoris, praktik mengajar ini berbasis ketrampilam mengajar yang diikuti 20 calon guru berlatih mengajar secara micro taching,

Pertama, praktik mengajar micro teaching, pada tindakan pertama putaran ini calon guru berlatih mengajar Tahap Persiapan dan Tahap Menutup Pelajaran, ketrampilan yang dilatihkan (ketrampilan membuka, memberikan motivasi dan menutup pelajaran). Aspek yang dinilai dalam ketrampilan membuka pelajaran, antara lain; (1) memperhatikan sikap dan tempat duduk siswa (2) memulai pelajaran setelah siswa siap menerima pelajaran (3) mengenalkan pkok bahasan cukup menarik (4) mengenalkan pokok bahasan dengan menghubungkan pengetahuan yang telah diketahui siswa (5) hubungan antara pendahuluan dengan inti pelajaran nampak jelas dan logis. Sedang aspek yang dinilai dalam ketrampilan menutup pelajaran adalah sebagai berikut; (1) menyimpulkan pelajaran dengan tepat (2) menggunakan kata-kata yang dapat membesarkan hati siswa (3) menimbulkan perasaan mampu dari pelajaran yang diperoleh (4) mendorong siswa tertarik pada pelajaran yang telah diterima.

Kedua, diskusi pelaksanaan praktik mengajar micro putaran 1 oleh calon guru, observer, dan dosen pembimbing). Hasil dari diskusi tersebut berkesimpulan ada 4 orang calon guru yang dianggap telah berhasil, sedangakan yang 16 orang calon guru masih ada kekurangan (belum berhasil), terhadap empat aspek ketrampilan yang harus diperbaiki, yaitu aspek; (1) memulai pelajaran setelah siswa siap menerima pelajaran (2) mengenalkan pokok bahasan cukup menarik (3) menyimpulkan pelajaran dengan tepat dan (4) mendorong siswa tertarik pada pelajaran yang telah diterima. Diskusi juga berkesimpulan agar calon guru memperbaiki MRP dengan berkonsultasi kepada guru pomong dan dosen pembimbing. Selanjutnya calon guru yang belum berhasil tersebut disarankan memperbaiki RMP (Rencana Mata Pelajaran) sebelum mengajar pada putaran 2.

Dari 20 calon guru yang telah berlatih mengajar dengan dua ketrampilam tersebut hanya 4 calon guru yang berhasil (20%). Kemudian dilanjutkan putaran berikutnya (putaran 2)

Putaran 2

Pada putaran kedua ini disamping mempertahankan beberapa aspek ketrampilan mengajar yang telah berhasil pada putaran 1, juga memperbaiki aspek ketrampilan yang belum berhasil pada putaran 1. Langkah yang ditempuh pada putaran 2 adalah; Pertama, perbaikan RMP berdasarkan hasil diskusi pada putaran 1, mepersiapkan alat peraga, praktik mengajar micro teching putaran 2. Kedua, diskusi pelaksanaan praktik mengajar micro putaran 2. Hasil dari diskusi tersebut calon guru masih terdapat satu ketrampilan yang harus diulang yaitu ketrampilan mendorong siswa tertarik pada pelajaran yang telah diterima, diskusi tersebut juga menyarankan agar calon guru memperbaiki MRP dengan berkonsultasi kepada guru pomong dan dosen pembimbing.

Hasil tindakan putaran 2 calon guru yang berhasil meningkat menjadi 11 calon guru (55%).

Putran 3

Pada putaran ketiga ini disamping mempertahankan beberapa aspek ketrampilan mengajar yang telah berhasil pada putaran 2, juga memperbaiki aspek ketrampilan yang belum berhasil pada putaran 2. Langkah yang ditempuh pada putaran 3 adalah; Pertama, perbaikan RMP berdasarkan hasil diskusi pada putaran 2, mepersiapkan alat peraga, praktik mengajar micro teching putaran 3. Kedua, diskusi pelaksanaan praktik mengajar micro putaran3.

Hasil tindakan putaran 3 meningkat lagi mencapai 20 calon guru (100 %)

Tindakan Kedua,

Putaran 1

Pada Tindakan Kedua Putaran ini yang dilakukan; Pertama, calon guru praktik mengajar secara laboratoris Tahap Pengelolaan Pembelajaran, meliputi; (1) ketrampilan menjelaskan atau menerangkan, (2) ketrampilan memberi penguatan verbal dan non verbal, (3) ketrampilan bertanya, (4) ketrampilan menggunakan metode yang tepat, (5) ketrampilan menggunakan media pembelajaran, ketrampilan mengelola kelas.

Kedua, diskusi antara calon guru, observer, dan dosen pembimbing; diskusi ini mendiskusikan pelaksanaan pengajar oleh calon guru itu, hasil dari diskusi tersebut berkesimpulan bahwa dari 20 calon guru terdapat 2 orang calon guru yang dianggap telah berhasil, sedangakan yang 18 orang kebanyakan masih ada kekurangan (belum berhasil) mempraktekkan lima ketrampilan dan masih perlu perbaikan, Diskusi juga menghasilkan agar calon guru memperbaiki MRP dengan berkonsultasi kepada guru pomong dan dosen pembimbing. Selanjutnya calon guru yang belum brerhasil disarankan memperbaiki RMP (Rencana Mata Pelajaran) sebelum mengajar pada putaran 2.

Putaran 2

Pada putaran kedua ini disamping mempertahankan beberapa ketrampilan mengajar yang telah berhasil pada putaran 1, calon guru juga memperbaiki ketrampulan yang belum berhasil pada putaran 1. Setelah selesai praktek mengajar dilanjutkan diskusi. Hasil dari diskusi tersebut calon guru masih terdapat satu ketrampilan yang harus diulang yaitu menerangkan, diskusi tersebut juga menyarankan agar calon guru memperbaiki MRP dengan berkonsultasi kepada guru pomong dan dosen pembimbing.

Putran 3

Pada putaran 3 ini calon guru praktik mengajar secara laboratoris, di samping mempertahankan beberapa aspek ketrampilan yang sudah berhasil juga berusaha memperbaiki aspek ketrampilan mengajar yang masih gagal pada putaran kedua.

Hasil tindakan putaran 1, terdapat 2 calon guru dari 20 calon guru (10 %) yang telah berhasil. Kemudian meningkat menjadi 10 calon guru (50%) pada putaran ke II, kemudian meningkat lagi mencapai 20 calon guru (100 %) pada putaran 3.

c. Tahap Evaluasi dan Tindak lanjut

Selesai praktik pembelajaran, pada tahap ini segera dilakukan refleksi. Pada tahap refleksi ini, calon guru yang tampil dan para observer serta pakar (dosen) mengadakan diskusi tentang pembelajaran yang baru saja dilakukan. Diskusi ini dipimpin oleh dosen, koordinator kelompok, atau calon guru yang ditunjuk oleh kelompok. Pertama guru yang melakukan implementasi rencana pembelajaran diberi kesempatan untuk menyatakan kesan-kesannya selama melaksanakan pembelajaran, baik terhadap dirinya maupun terhadap siswa yang dihadapi. Selanjutnya observer (calon guru lain dan pakar/dosen) menyampaikan hasil analisis data observasinya, terutama yang menyangkut kegiatan siswa selama berlangsung pembelajaran yang disertai dengan pemutaran video hasil rekaman pembelajaran. Selanjutnya, guru yang melakukan implementasi tersebut akan memberikan tanggapan balik atas komentar para observer. Hal yang penting pula dalam tahap refleksi ini adalah mempertimbangkan kembali rencana pembelajaran yang telah disusun sebagai dasar untuk perbaikan rencana pembelajaran berikutnya. Apakah rencana pembelajaran tersebut telah sesuai dan dapat meningkatkan performance keaktifan belajar siswa. Jika belum ada kesesuaian, hal-hal apa saja yang belum sesuai, metode pembelajarannya, materi dalam LKS, media atau alat peraga, atau lainnya. Pertimbangan-pertimbangan ini digunakan untuk perbaikan rencana pembelajaran selanjutnya. Memperhatikan perencanaaan, pelaksanaan dan observasi serta refleksinya, langkah-langkah dalam pelaksanaan lesson study ini ada kemiripan dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

2. Peningkatan PPL

PPL merupakan salah satu kegiatan kurikuler yang wajib dilaksanakan oleh mahasiswa FKIP-UMS untuk mencapai derajat gelar sarjana pendidikan. Kegiatan PPL mencakup praktik pembelajaran dan persekolahan, kegiatan ini diharapkan mapu membentuk empat kompetensi yang dipersyaratkan untuk menjadi guru yang profesional. PPL secara umum bertujuan agar mahasiswa memiliki kompetensi paedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional, adapun secara khusus PPL bertujuan memberikan bekal kapda mahasiswa yang berupa pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap profesional sebagai calon guru.

Menurut pandangan modern, Mengajar merupakan kegiatan yang sangat kompleks dan melibatkan banyak unsuk yang secara serempak dan serasi harus dilakukan secara bersama. Unsur-unsur itu meliputi ilmu, teknologi instruksional, sejumlah ketrampilan mengajar. Menurut Mohroji (Pengelola Lab. Micro Teaching) dalam hal praktik mengajar micro calon guru mempraktikkan katrampilan mengajar yaitu; (1) Tahap Persiapan Pembelajaran, meliputi ketrampilan membuka pelajaran dan ketrampilan meberi motivasi (2) Tahap Pengelolaan Pembelajaran, meliputi; ketrampilan menjelaskan, ketrampilan memberi penguatan verbal dan non verbal, ketrampilan bertanya, ketrampilan menggunakan metode yang tepat, ketrampilan menggunakan media pembelajaran dan, ketrampilan mengelola kelas. (3) Tahap Penutup Pembelajaran yaitu ketrampilan menutup pelajaran.

PPL FKIP-UMS tahun akademik 2007-2008 merupakan kegiatan integral dari keseluruhan Kurikulum FKIP-UMS dan sebagai salah satu matakuliah wajib lulus. Program PPL meliputi; (1) Persiapan PPL yang meliputi; koordinasi dengan Sekolah-Sekolah Praktek, Pendaftaran dan penempatan mahasiswa, pene,mpatan dosen pembimbing, dan pembekalan mahasiswa (2) Kegiatan PPL yang meliputi ; observasi lapangan, praktik pembelajaran, praktik persekolahan, dan penyusunan laporan PPL.

Hasil wawancara dengan beberapa guru di Sekolah Laitihan (SMK Muhammaduyah 1 ,2 dan SMP Al Islam Surakarta) peneliti menyimpulkan bahwa PPL FKIP-UMS perlu memperhatikan (1) Sistem Magang dan (2) Memperhatikan IPKG (Instrumen Penilaian Kinerja Guru) yang meliputi; (a) Prapembelajaran, (b) membuka pembelajaran, (c) kegiatan inti pembelajaran (penguasaan materi, srtategu/pendekatan pembelajaran, pemanfaatan sumber pembelajaran, pebelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa, penilaian proses dan hasil belajar, penggunaan bahasa) dan, (d) penutup

 

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari hasil penelitian dan pembahasan tersebut dalam BAB IV dapat penelitian disimpulka:

1. Kendala Peningkatan Kualitas Micro Teaching dan PPL

Kendala utama peningkatan kualitas pengajaran micro teaching dan PPL bagi calon guru Program Pendidikan Matematika FKIP-UMS adalah (1) kemampuan calon guru dalam penguasaan dan pengembangan kurikulum menjadi pembelajaran berkualitas (2) minimnya ketersediaan sumber belajar yang dimiliki siswa dan pola pemanfaatan potensi alam sekitar untuk mendukung kegiatan pembelajaran (3) masalah pola interaksi pembelajaran dan pola pengembangan pembelajaran yang berkaulitas (4) pengembangan instrumen penilaian hasil pembelajaran berkualitas (5) permasalahn kesulitas calon guru dalam penguasaan kompetensi guru yang profesional (6) kemampuan dosen dalam penguasaan Micro Teaching sebagai in service training bagi calon guru dan pre service training bagi guru dan dosen dan (7) kurangnya peran dosen Mata Kuliah Keahlian (Mata Kuliah yang menunjang materi bidang studi matematika) dalam pengembangan materi pembelajaran berkualitas.(8) kurang memperhatikan sistem magang, padahal ini sangat dibutuhkan mahasiswa

2. Rancangan Model Meningkatkan Kualitas Micro Teaching dan PPL dengan Pendekatan Lesson Study.

Rancangan micro teaching yang efektif dengan pendekatan lesson study dan PPL mencakup 3 (tiga) tahap kegiatan, yaitu (1) perencanaan (planning), (2) implementasi (action) pembelajaran dan observasi (3) refleksi (reflection) terhadap perencanaan dan implementasi pembelajaran tersebut, dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran. Untuk lebih jalasnya bisa dibaca skema di bawah ini:

Pengembangan dari ketiga tahapan tersebut, masing-masing tahapan terdapat aspek-aspek yang juga dilaksanakan oleh calon guru dalam melaksanakan tugas meningkatan kalitas pembelajaran

Rancangan model tersebu di atas dikembangkan dalan tiga model yaitu:

(a) Model Peningkatan Kualitas Kooperatif (Improvement Model of Quality of Co-Operative), model ini di samping diperoleh pencapaian aspek akademik yang tinggi di kalangan siswa, juga bermakna dalam membantu guru dalam mencapai tujuan pembelajaran yang berdimensi sosial

b) Model Peningkatan Kualitas Berdasar Masalah (Improvement Model of Quality of Based on Problem), model ini merupakan peningkatan kualitas guru yang bertumpu pada pengembangan kemampuan berpikir di kalangan siswa lewat latihan penyelesaian masalah.

(c) Model Peningkatan Kualitas Langsung (Improvement Model of Quality of Direct), fokus utama dari pembelajarn ini adalah adanya pelatihan-pelatihan yang dapat diterapkan dari keadaan nyata yang sederhana sampai yang lebih kompleks.

3. Peningkatan Kualitas Micro Teaching dan PPL

a. Peningkatan Kualitas Micro Teaching

Peningkatan Kuailitas Micro Teaching dilakukan dengan sistem SLPKB (Sikles Laboratoris Penguasaan Ketrampilan Belajar) model PTK. Model ini diawali dengan Sikles pertama; (a) Kajian Akademik, yakni kajian awal untuk melakukan penyidikan dalam upaya kajian pendalaman materi ajar (b) Kajian Pembuatan RMP secara keseluruhan, (c) Pelaksanaan Tindakan dan Observasi, dan (d) Evaluasi dan Tindak Lanjut. Memasuki siklus berikutnya dimulai dengan (a) Tahap Perencanaan Lanjut sebagai revisi atas perencanaan yang disusun sebelumnya, (b) Pelaksanaan Tindakan dan Observasi Lanjutan, dan (c) Refleksi Lanjut. Dan seterusnya.

Model sikles tersebut di atas sesuai dngan model sikles nya Kemmis dan Mc. Taggart sebagai berikut, diawali dengan (a) Menetapkan Topik Area (thematic concern) yang akan diajarkan, kemudian dilanjutkan dengan (b) Perencanaan Secara Keseluruhan, (c) Implementasi Tindakan (d) Observasi, dan (e) Refleksi. Memasuki siklus berikutnya dimulai dengan (a) Tahap Perencanaan Lanjut sebagai revisi atas perencanaan yang disusun sebelumnya dengan memanfaatkan hasil refleksi, (b) Pelaksanaan Tindakan dan Observasi Lanjut, dan (c) Refleksi Lanjut.

Peningkatan kualitas pembelajaran Micro Teaching dilakukan dengan sistem SLPKB (Sikles Laboratoris Penguasaan Ketrampilan Belajar) yakni (1) Ketrampilan mengelola kelas (2) ketrampilan membuka pelajaran (3) ketrampilan bertanya (pre test, saat menerangkan, dan pos test) (4) ketrampilan menerangkan (5) ketrampilan menggunakan multi media (6) ketrampilan menggunakan multi metode (7) ketrampilan memberikan motivasi (8) ketrampilan memberikan ganjaran (9) ketrampilan menutup pelajaran.

SLPK putaran 1 menghasikan ada 4 calon guru dari 20 calon guru (25 %) yang telah berhasil, kemudian meningkat mejadi 10 calon guru (50 %) pada putaran ke 2, dan kemudian meningkat lagi mencapai 20 calon guru (75 %) pada putaran ke 3.

b. Peningkatan PPL

Peningkatan PPL dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut; (1) Persiapan PPL (koordinasi dengan sekolah-sekolah praktikan, pendaftaran dan penempatan mahasiswa, penetapan dosen pembimbing dan guru pamong, pembekalan dosen pembimbing dan guru pamong, dan pembekalan mahasiswa) (2) Kegiatan PPL (observasi lapangan, praktik pembelajaran, praktik persekolahan, dan penyusunan laporan PPL) (3) Pendekatan Sistem Magang dan (4) Berpedoman pada Instrumen Penilaian Kinerja Guru (IPKG) (Prapembelajaran, membuka pembelajaran, kegiatan inti pembelajaran meliputi (penguasaan materi, srtategi/pendekatan pembelajaran, pemanfaatan sumber pembelajaran, pebelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa, penilaian proses dan hasil belajar, penggunaan bahasa yang benar) dan, (5) Evaluasi kinerja.

B. Saran-Saran

Pelaksanan Mata Kuliah Micro Teaching dan PPL di FKIP-UMS sudah dilaksakan dengan baik. Untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan micro teaching dan PPL hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain:

1. Sarana dan prasarana mengajar yang berbasis IT bagi mahasiswa PPL perlu dipikirkan pengadaannya oleh FKIP.

2. Peningkatkan kualitas lulusan dan profesionalitas guru lulusan FKIP-UMS perlu disusun program PPL dengan sistem magang.

3. Sekolah Lab. (Sekolah Latihan FKIP-UMS) sangat dibutuhkan dalam rangka menunjang sistem magang.

4. Di perlukan Evaluasi kinerja.

 

DAFTAR PUSTAKA

DGSE. (2002). Report on Validation and Socialization of the Guideline of Syllabi and Evaluation System of Competent-Based Curriculum for Mathematics in Manado, North Sulawesi. Jakarta: Depdiknas.

Denzin K. N., Lincoln S. Y., 1994, Hand Book of Qualitative Research, London- New Delhi: Sage Publications.

Fernandez, Clea and Yoshida, Makoto. (2004). Lesson Study : A Japanese Approach to Improving Mathematics Teaching and Learning. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, Publishers.

Garfield, J. (2006). Exploring the Impact of Lesson Study on Developing Effective

Statistics Curriculum. (Online): diambil tanggal 19-6-2006 dari: www.stat.auckland.ac.nz/-iase/publication/-11/Garfield.doc.

Lewis, Catherine C. (2002). Lesson study: A Handbook of Teacher-Led Instructional Change. Philadelphia, PA: Research for Better Schools, Inc.

Lincoln, Y. S., Guba, E.G., 1984, Naturalistic Inquiry, California: Sage Publication.

Miles, B. M., Michael, H., 1984, Qualitative Data Analisys, dalam H.B. Sutopo, Taman Budaya Surakarta dan Aktivitas Seni di Surakarta, Laporan Penelitian, FISIPOL UNS.

Moleong J. L., Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Morgan, Shawn. 2001. Teaching Math the Japanese Way (Online), Diambil tanggal 16 Mei 2005 dari: http://www.as1.org/alted/lessonstudy.htm,.

Robinson, Naomi. 2006. Lesson Study: An example of its adaptation to Israeli middle school teachers. (Online): stwww.weizmann.ac.il/G-math/ICMI/ Robinson proposal.doc

Richardson, J. 2006. Lesson study: Teacher Learn How to Improve Instruction. Nasional Staff Development Council. (Online): www.nsdc.org. 03/05/06.

Saito, E., Imansyah, H. dan Ibrohim. 2005. Penerapan Studi Pembelajaran di Indonesia: Studi Kasus dari IMSTEP. Jurnal Pendidikan “Mimbar Pendidikan”, No.3. Th. XXIV: 24-32.

Saito, E., (2006). Development of school based in-service teacher training under the Indonesian Mathematics and Science Teacher Education Project. Improving Schools. Vol.9 (1): 47-59

Sukirman. 2006. Peningkatan Profesional Guru Melalui Lesson Study.Makalah Pelatihan Lesson Stady Bagi Guru-Guru Berprestasi dan Pengurus MGMP Se-Indonesia.

Tim Piloting. (2002). Laporan Kegiatan Piloting. Yogyakarta: IMSTEP-JICA FMIPA UNY.

___________ .(2003). Laporan Kegiatan Piloting. Yogyakarta: IMSTEP-JICA FMIPA UNY.

___________. (2004). Laporan Kegiatan Piloting. Yogyakarta: IMSTEP-JICA FMIPA UNY.

Tim PPPMT (2008), Pedoman Praktik Pembalajaran Micro Teaching, Laboratoriu Micro Teaching dan PPL, FKIP-UMS.

Tim Pengembang Sertifikasi Kependidikan. (2003). Pedoman Sertifikasi Kompetensi Tenaga Kependidikan (draft). Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi Ditjen Dikti Depdiknas.

 

 

 

Standard

ALIH PUBLIKASI PENELITIAN: Kualitas Micro Teaching dan PPL Melalui Lesson Study

Peningkatan Kualitas Micro Teaching dan PPL (Program Pengalaman Lapangan)

Melalui Lesson Study bagi Calon Guru Matematika Pada Program Studi Pendidikan Matematika

FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta

(Penelitian PHK A2 Batch III Diikti, Jurusan MIPA, Beaya Dikti Depdiknas,Tahun 2007).

   

Tjipto Subadi

 FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta

 Jl. A. Yani Pabelan Kartasura Tromol Pos 1 Surakarta 57102 Telp. 0271-717417 psw. 143

Email: Tjiptosubadi@yahoo.com

 ABSTRACT.

The objective of this research is to find out some products in the forms of; (a) the problem identification of increasing the learning quality of micro-teaching, (b) the model design of increasing the learning quality of micro-teaching, and (c) the improving model of increasing the learning quality of micro-teaching for the mathematics teacher candidates by using lesson study approach. The research approach used in this study is the descriptive-qualitative by using the learning-training method. The research subjects are the students of Mathematics Education Study Program of FKIP-UMS who are taking micro-teaching subject. The data collecting methods are observation and interview. The data collected, then, are analyzed by applying first order understanding and second order understanding. The research results can be concluded as follows; that the main obstacles / problems of increasing the learning quality of micro-teaching are the curriculum and syllabus improvements, the multi-media facility, the strategy of innovative learning, the development of assessment instruments, and the lecturer’s active role in conducting the micro-teaching as in-service training and pre-service training for the teacher candidates. The model design is carried out through four action phases, e. g. academic oriented, planning, action and reflection which are developed within three models; Improvement Model of Quality of Co-Operative, Improvement Model of Quality Based on Problem and Improvement Model of Quality of Direct.  The learning-improving model is carried out by using the Learning Cycle System Based on the Teaching Skills.

 Keywords: Micro-teaching, Lesson Study, in-service training and pre-service training.

  

Pendahuluan

           Rendahnya kualitas pembelajaran di sekolah-sekolah Indonesia berpengaruh pada rendahnya kualitas pendidikan kita. Data UNESCO (2000) tentang Kualitas Pendidikan Indonesia berada pada posisi “sangat meprehatinkan” bahwa catatan peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index ) di  antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke 120 (1996), ke 105 (1998), dan ke 109 (1999). Merurut Servei Political and Economic Risk Consultant kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke 12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia di bawah Vietnam. Data yang dilaporkan The World Economic Forum Swedia (2002), Indonesia memiliki daya saing rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke 37 dari 57 negara yang di servei di dunia.

         Balitbang (2003) mencatat bahwa dari 146.052 SD di Indonesia ternyata hanya 8 sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Primary Years Program (PYP). Dari 20.918 SMP di Indonesia ternyata juga hanya 8 yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Middle Years Program (MYP), dan dari 8.036 SMA ternyata hanya tujuh sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Diploma Program (DP). Khusus  kualitas guru (2002-2003) data guru yang layak mengajar, untuk SD hanya 21,07 % (negeri) dan 28,94% (swasta), untuk SMP 54,12 % (negeri) dan 60,09 % (swasta), untu SMA 65,29 % (negeri) dan 64, 73 % (swasta), srta untuk SMK 55,49% (negeri) dan 58,26 % (swasta). Sedangkan data siswa menurut  Trends in Mathematic and Science Study 2003/2004 mencatat bahwa siswa Indonesia (SD) hanya berada di rengking ke 35 dari 44 negara dalam hal prestasi matematika dan di rengking 37 dari 44 negara dalam hal prestasi sains. Dalam skala Internasional menurut Bank Dunia, Study IFA di Asia Timur menunjukkan ketrampilan membaca siswa kelas IV SD Indonesia berada pada tingkat rendah apabila dibandingkan dengan Negara lain yaitu Hongkong 75,5%, Singapura 74 %, Tailand 65,1 %, sedangkan Indonesia berada pada posisi 51,7 %.

       Data-data tersebut di atas maknanya terdapat masalah dalam sistem pendidikan Indonesia, pertama; masalah mendasar yakni kekliruan paradigma pendidikan yang mendasari keseluruhan penyelenggaraan sistem pendidikan, kedua; masalah-masalah lain, yaitu berbagai problem yang berkaitan dengan aspek praktis/teknis penyelenggaraan pendidikan misalnya; biaya pendidikan, rendahnya sarana fisik, rendahnya kesejahteraan guru, rendahnya kualitas guru dan rendahnya prestasi siswa, dan sebagainya.

         Peningkatan kualitas pembelajaran calon guru pada program studi pendidikan matematika FKIP-UMS ditempuh dengan dua program. Pertama : Praktek mengajar laboratoris di laboratorium micro teaching yang dilaksanakan pada semester VI. Kedua: Praktek mengajar di sekolah latihan yang dilaksanakan pada semester VII yang disebut PPL (Program Pengalaman Lapangan). Dalam upaya meningkatkan kualitas calon guru tersebut banyak kendala yang dihadapi misalnya strategi pelatihan, banyaknya komponen ketrampilan mengajar, terbatasnya laboratorium micro teaching, dan terbatasnya sekolah yang digunakan untuk PPL. Kendala lain yang dihadapi calon guru (mahasiswa) adalah saat praktek mengajar di sekolah latihan yakni masih banyaknya kesalahan dalam mepraktekkan teori-teori pembelajaran di kelas. Untuk mengatasi masalah tersebut maka alternatif pemecahannya adalah latihan mengajar secara laboratoris micro teaching dengan pendekatan lesson study.

             Fokus penelitian ini adalah peningkatan kualitas pembelajaran calon guru matematika melalui latihan mengajar micro teaching dengan pendekatan lesson study. Maka pertanyaan dalam penelitian ini adalah (1) Apa saja yang menjadi masalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran micro teaching bagi calon guru matematika dengan pendekatan lesson study? (2) bagaimana rancangan model meningkatkan kualitas pembelajaran micro teaching bagi calon guru matematika dengan pendekatan lesson study?, dan (3) bagaimana model peningkatan kualitas pembelajaran micro teaching bagi calon guru matematika dengan pendekatan lesson study?

            Penelitian ini bertujuan menghasilkan produk berupa (a) identifikasi masalah peningkatan kualitas pembelajaran micro teaching bagi calon guru matematika dengan pendekatan lesson study, (b) rancangan model meningkatkan kualitas pembelajaran micro teaching bagi calon guru matematika dengan pendekatan lesson study. (c) model peningkatan kualitas pembelajaran micro teaching bagi calon guru matematika dengan pendekatan lesson study.

            Manfaat penelitian, secara teoritis penelitian ini bermanfaat memberikan sumbangan ilmu pengetahuan sosial tentang (a) identifikasi masalah peningkatan kualitas pembelajaran micro teaching bagi calon guru matematika dengan pendekatan lesson study, (b) rancangan model meningkatkan kualitas pembelajaran micro teaching bagi calon guru matematika dengan pendekatan lesson study,  (c) model peningkatan kualitas pembelajaran micro teaching bagi calon guru matematika dengan pendekatan lesson study. Secara praktis, memberikan sumbangan pemikiran bagi guru, LPTK dan birokrasi pendidikan (pemerintah) dalam menyusun strategi kebijakan peningkatan kualitas pembelajaran bagi calon guru dan guru.

                  Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan, pada tahun 2005 pemerintah dan DPR RI telah mensahkan Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tantang Guru dan Dosen. Undang-undang ini menuntut penyesuaian penyelenggaraan pendidikan dan pembinaan guru agar guru menjadi profesional. Di satu pihak, pekerjaan sebagai guru akan memperoleh penghargaan yang lebih tinggi, tetapi dipihak lain pengakuan tersebut mengharuskan guru memenuhi sejumlah persyaratan agar mencapai standar minimal seorang profesional. Pengakuan terhadap guru sebagai tenaga profesional akan diberikan manakala guru telah memiliki antara lain kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikat pendidik yang dipersyaratkan  (Pasal 8). Kualifikasi akademik tersebut harus “diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana atau diploma empat” (Pasal 9). Sertifikat pendidik diperoleh guru setelah mengikuti pendidikan profesi (Pasal 10 ayat (1)).

            Di era sentralisasi pendidikan, peningkatan kualitas pembelajaran dari segi pendidik (guru) biasanya dilakukan dengan kegiatan inservice teacher training yang berupa  penyetaraan, pelatihan, penataran, seminar atau lokakarya, atau kegiatan-kegiatan lain yang sejenis. Setelah mengikuti  kegiatan tersebut, diharapkan guru dapat menerapkan hasil training tersebut dalam pembelajaran di kelas. Kegiatan-kegiatan tersebut pasti ada sumbangan untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Tetapi, kebanyakan setelah kegiatan inservice teacher training, hasil monitoring yang mempersoalkan apakah ada peningkatan mutu pembelajaran yang dilakukan oleh para peserta tidak tampak nyata hasilnya.

Hakikat pelaksanaan kegiatan  inservice teacher training selain meningkatkan kualitas guru, yang lebih penting adalah guru peserta inservice teacher training mampu menerapkan hasil training dalam proses pembelajaran di kelasnya dan  mengimbaskan kepada rekan-rekan guru di sekolahnya  atau di kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Namun masih banyak guru setelah mengikuti kegiatan inservice teacher training, mereka tidak mengubah cara pembelajaran untuk para siswanya. Hal ini sangat dimungkinkan karena dalam kegiatan training  tersebut tidak diberikan contoh kongkret cara pembelajarannya di kelas nyata.

Bergantinya sistem sentralisasi ke sistem desentralisasi pendidikan menurut Sukirman (2006: 2) seperti saat ini tidak akan serta merta mengubah pola pikir guru yang semula sebagai pelaksana pengajaran langsung menjadi pemrakarsa pembelajaran, seperti membalikkan telapak tangan. Apalagi beragamnya kualitas dan profesionalitas guru, dari guru yang bermotivasi peribadahan hingga karena keterpaksaan, dari guru yang selalu menggerutu hingga yang senantiasa tawakkal. Untuk itu perlu tersedianya pendukung  yang  memadai dan proses  yang panjang dalam program pendidikan dan pembinaan guru. Perlu adanya gerakan dari bawah, dari para guru untuk mengidentifikasi kebutuhan dirinya dalam meningkatkan kompetensinya, agar dapat mengembangkan mutu pembelajaran pada siswanya.

Micro Teaching di samping merupakan teknik program PPL bagi calon guru dapat pula merupakan in service training bagi calon guru. Hal ini dilakukan agar kompetensi profesional guru selain dapat dihayati juga dapat dimiliki. Wawasan keguruan yang telah ditanamkan pada calon guru tidak sepenuhnya dapat dilaksanakan sehingga berakibat kurang efektifnya proses pembelajaran, rendahnya kadar Student Active Learning atau tegasnya gagalnya proses pembelajaran. Untuk memecahkan permasalahan tersebut laboratoriun micro teaching perlu dimanfaatkan secara maksimal sebagai in service training bagi calon guru dan pre service training bagi guru dan dosen. Dengan demikian pengembangan kompetensi guru dilakukan secara terpadu dan berkalnjutan dalam suatu program yang sistemik (Tjipto Subadi, 1990: 54).

Moulton berpendapat bahwa; “micro teching is performance training method designed to isolate the component part of the teaching process, so that the traince can master each component one by one a simplified teaching situation”. Berdasarkan pengertian tersebut dapatlah dipahami bahwa pembelajaran micro teching ini tetap sebagai real teaching tetapi bentuknya mikro sehingga mudah dikontrol, bentuk mikro ini mencakup semua komponen dalam pembelajaran (jumlah murid sedikit  sekitar 10 siswa, waktu 10-15 menit, materi terbatas, ketrampilan difokuskan pada ketrampilan mengajar tertentu).

Pembelajaran micro teaching bertujuan antara lain: (a) membantu calon guru/guru menguasai ketrampilan-ketrampilan khusus, agar dalam latihan mengajar sesungguhnya tidak mengalami kesulitan (b) meningkatkan taraf kompetensi pembelajaran bagi calon guru/guru secara bertahap (c) untuk menemukan sendiri kekurangan bagi calon guru/guru sekaligus berbaikannya.

 Lesson Study adalah suatau model pembinaan profesi pendidik (guru) melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun learning community. Dengan demikian lesson s tudy bukan metode atau strategi pembelajaran, tetapi kegiatan lesson study dapat menerapkan berbagai metode/strategi pembelajaran yang sesuai dengan situasi, kondisi, dan permasalahan yang dihadapi guru. Lesson Study dilaksanakan dalam tiga tahapan yaitu Plan (merencanakan), Do (melaksanakan), dan See (merefleksi) yang berkelanjutan. Dengan kata lain lesson study merupakan suatu cara peningkatan mutu pendidikan yang tak pernah berakhir (continous improvement). Sumar dkk (2007: 9)

 Lesson Study yang maksud adalah suatu model pembinaan untuk peningkatan kualitas micro teaching  bagi calon guru matematika pada Program Studi Pendidikan Matematika FKIP-UMS. Model ini merupakan suatu kegiatan pembelajaran oleh sejumlah calon guru matematika yang diintegrasikan pada praktek mengajar mikro di laboratorium micro teaching yang merupakan bagian dari PPL (Program Pengalaman Lapangan) di sekolah latihan, aktivitasnya dimulai dari kajian akademik kemudian, */-Perencanaan, Implementasi dan observasi, dan refleksi yang implementasinya dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran.

           Tahap perencanaan. Pada tahap ini dilakukan identifikasi masalah pembelajaran  yang akan digunakan untuk kegiatan lesson study dan perencanaan alternatif pemecahannya. Dari hasil identifikasi masalah tersebut didiskusikan dalam kelompok lesson study untuk menentukan, tujuan pembelajaran yang relevan dengan pokok bahasan, straegi pembelajaran, mengambangan materi, metode pembelajaran, media pembelajaran, dan dan alat evaluasi. Pada saat diskusi, akan muncul pendapat dan sumbang saran dari para guru dan pakar dalam kelompok tersebut untuk menetapkan pilihan yang akan diterapkan. Pada tahap ini, pakar dapat mengemukakan hal-hal penting/baru yang perlu diketahui dan diterapkan oleh calon guru, seperti pendekatan pembelajaran konstruktif, pendekatan pembelajaran yang memandirikan belajar siswa, pembelajaran kontekstual, pengembangan life skill, Realistic Mathematics Education, pemutakhiran materi ajar, atau lainnya yang dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam pemilihan tersebut.

             Dari hasil identifikasi masalah dan diskusi pemecahannya, selanjutnya disusun  suatu perangkat pembelajaran yang terdiri atas: (a) Rencana Model Pembelajaran (RMP) (b) Petunjuk Pelaksanaan Pembelajaran (Teaching Guide) (c) Lembar Kerja Siswa (LKS) (d) Media atau alat peraga pembelajaran (e) Instrumen penilaian proses dan hasil pembelajaran. (f) Lembar observasi pembelajaran.

      Tahap Implementasi dan Observasi. Pada tahap ini seorang calon guru yang telah ditunjuk (disepakati) oleh kelompoknya, melakukan implementasi Rencana Model Pembelajaran (RMP) yang telah disusun tersebut, calon guru lain sebagai murid sebagian yang lain sebagai observer, sedang dosen/pakar bertindak sebagai supervisor. Selain itu (jika memungkinkan), dilakukan rekaman video (audio visual) yang meng close-up kejadian-kejadian khusus (pada calon guru atau siswa) selama pelaksanaan pembelajaran. Hasil rekaman ini berguna nantinya sebagai bukti autentik kejadian-kejadian yang perlu didiskusikan dalam tahap refleksi atau pada seminar hasil lesson study.

             Tahap Refleksi. Selesai praktik pembelajaran, segera dilakukan refleksi. Pada tahap refleksi ini, calon guru yang tampil dan para observer serta pakar mengadakan diskusi tentang pembelajaran yang baru saja dilakukan. Diskusi ini dipimpin oleh pembimbing, koordinator kelompok, atau calon guru yang ditunjuk oleh kelompok. Pertama, calon guru yang melakukan implementasi rencana pembelajaran diberi kesempatan untuk menyatakan kesan-kesannya selama melaksanakan pembelajaran, baik terhadap dirinya maupun terhadap siswa yang dihadapi. Selanjutnya, observer dan supervisor menyampaikan hasil analisis data observasinya, terutama yang menyangkut kegiatan siswa selama berlangsung pembelajaran yang disertai dengan pemutaran video hasil rekaman pembelajaran. Selanjutnya, calon guru yang melakukan implementasi tersebut akan memberikan tanggapan balik atas komentar para observer dan supervisor. Hal yang penting dalam tahap refleksi ini karena untuk mempertimbangkan kembali rencana pembelajaran yang telah disusun sebagai dasar untuk perbaikan rencana pembelajaran berikutnya. Apakah rencana pembelajaran tersebut telah sesuai dan dapat meningkatkan performance keaktifan belajar siswa. Jika belum ada kesesuaian, hal-hal apa saja yang belum sesuai, metode pembelajarannya, materi dalam LKS, media atau alat peraga, atau lainnya. Pertimbangan-pertimbangan ini digunakan untuk perbaikan rencana pembelajaran selanjutnya.

 Mengapa Lesson study? Lesson study dipilih dan diimplementasikan karena beberapa alasan. Pertama, lesson study merupakan suatu cara efektif yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan guru dan aktivitas belajar siswa. Hal ini karena (1) pengembangan lesson study dilakukan dan didasarkan pada hasil “sharing” pengetahuan profesional yang berlandaskan pada praktik dan hasil pengajaran yang dilaksanakan para guru, (2) penekanan mendasar pada pelaksanaan suatu lesson study adalah agar para siswa memiliki kualitas belajar, (3) kompetensi yang diharapkan dimiliki siswa, dijadikan fokus dan titik perhatian utama dalam pembelajaran di kelas, (4) berdasarkan pengalaman real di kelas, lesson study mampu menjadi landasan bagi pengembangan pembelajaran, dan (5) lesson study akan menempatkan peran para guru sebagai peneliti pembelajaran. Kedua, lesson study yang didisain dengan baik akan menjadikan guru yang profesional dan inovatif. Dengan melaksanakan lesson study para guru dapat (1) menentukan kompetensi yang perlu dimiliki siswa, merencanakan dan melaksanakan pembelajaran (lesson) yang efektif; (2) mengkaji dan meningkatkan pelajaran yang bermanfaat bagi siswa; (3) memperdalam pengetahuan tentang mata pelajaran yang disajikan para guru; (4) menentukan standar kompetensi yang akan dicapai para siswa; (5) merencanakan pelajaran secara kolaboratif; (6) mengkaji secara teliti belajar dan perilaku siswa; (7) mengembangkan pengetahuan pembelajaran yang dapat diandalkan; dan (8) melakukan refleksi terhadap pengajaran yang dilaksanakannya berdasarkan pandangan siswa dan koleganya. (Lewis, 2002  dalam Sukirman, 2006; 7)

 Lesson Study memiliki beberapa manfaat sebagai; (1) mengurangi keterasingan guru (dari komunitasnya) (2) membantu guru untuk mengobservasi dan mengkritisi pembelajarannya (3) memperdalam pemahaman guru tentang materi pelajaran, cakupan dan urutan materi dalam kurikulum (4) membantu guru memfokuskan bantuannya pada seluruh aktivitas belajar siswa (5) menciptakan terjadinya pertukaran pengetahuan tentang pemahaman berpikir dan belajar siswa (6) meningkatkan kolaborasi pada sesama guru.

 Bagaimana Melaksanakan Lesson study? Ada berbagai variasi tahapan atau langkah pelaksanaan lesson study dalam perkembangan implementasinya. Lewis (dalam Sukirman 2006; 7) menyarankan ada enam tahapan dalam awal mengimplementasikan lesson study di sekolah, yakni : (1) Membentuk kelompok lesson study, (2) memfokuskan lesson study,  (3) menyusun rencana pembelajaran, (4) melaksanakan pembelajaran di kelas dan mengamatinya (observasi), (5) Refleksi dan menganalisis pembelajaran yang telah dilaksanakan (6) merencanakan pembelajaran tahap selanjutnya. Menurut Richardson (2006) menuliskan 7 langkah lesson study, yang masih mirip dengan pendapat Lewis tersebut di atas, yakni: (1) Membentuk tim lesson study, (2) memfokuskan lesson study, (3) merencanakan pembelajaran, (4) persiapan untuk observasi, (5) melaksanakan pembelajaran dan observasinya, (6) melaksanakan diskusi pembelajaran yang telah dilaksanakan (refleksi), (7) merencanakan pembelajaran untuk tahap selanjutnya. Sedangkan menurut Sumar ada tiga tahap pelaksanaan lesson stady; Plan (merencanakan), Do (melaksanakan), dan See (merefleksi) yang berkelanjutan.

 Metode Penelitian

 Penelitian ini termasuk tindakan berbasis kelas yaitu merupakan suatu usaha untuk meningkatkan kualitas pembelajaran melalui partisipasi calon guru dengan praktek mengajar laboratoris. Yang menjadi subjek penelitian ini adalah mahasiswa (calon guru) program pendidikan matematika semester VI yang sedang menempuh mata kuliah micro teaching. Informan penelitian calon guru, guru pamong, dosen pembimbing dan dosen ahli, informan penelitian ini diharapkan memberikan atau merupakan sumber informasi yang berkaitan dengan beberapa pertanyaa penelitian.

 Pendekatan yang digunakan dalan penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, metode pengumpulan datanya adalah metode observasi dan wawancara. Data tentang masalah-masalah pembelajaran dikumpulkan dengan metode wawancara, sedangkan data tentang peningkatan pembelajaran diperoleh dengan metode observasi yakni dengan mengamati praktek pembelajaran di laboratorium micro teaching sampai memperoleh model pembelajaran yang berkualitas dengan pendekatan lesson study.

 Analisis data menggunakan analisis Berger yaitu first order understanding dan second order understanding, sedangkan alur yang digunakan untuk menganalisis data mengacu pendapat Milles (1992: 15-21), yaitu; analisis data yang terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu; reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan/verifikasi.

 Hasil Penelitian

 Kendala Peningkatan Kualitas Micro Teaching. Kendala utama dalam upaya peningkatan kaulitas pembelajaran micro teaching bagi calon guru sebagaimana di sampaikan Suparni (dosen pembimbing): “banyak faktor yang menjadi kendala peningkatan kualitas calon guru matematika, misalnya; calon guru kurang menguasai silabus, pengembangan meteri, pengembangan multi metode, multi media, dan pengembangan alat evaluasi yang sesuai dengan tuntutan  SK (Standar Kompetensi) dan KD (Kompetensi Dasar)”. Penjelasan yang sama dikemukakan oleh guru pembimbing bahwa;  “kebanyakan mahasiswa dalam latihan pembelajaran (PPL) kurang menguasai pengembangan materi ajar, silabus, penggunaan multi media, penguasaan siswa, pengasaan waktu, selalu menggunakan metode ceramah sebagai metode pokoknta dan kurang inovatif”.Permasalahan lain juga disampaikan dalam diskusi pembimbingan antara (guru pembimbing, dosen pembimbing dan mahasiswa yang menempuh mata kuliah micro teaching) bahwa; “mahasiswa (calon guru) kurang menguasai silabus dan pengembangan materi, kurang perhatian terhadap pentingnya media pembelajaran, monoton dalam penyampaian materi dan cencerung mendominasi kelas, dan mengesampingkan aktif learning, pola interasi, pemanfaatan alam sekitar, sistem penilaian yang tepat juga kurang mendapatkan perhatian. Dalam diskusi di sepakati dan diusulkan agar sebelum mengajar dilakukan langkah-langkah (1) kajian akademik tetang silabus, yang dilanjutkan (2) workshof cara membuat RMP (3) rumusan pengembangan metode, alat pembelajaran, pengembangan alat evaluasi,  aktif learning”. Hasil diskusi dengan beberapa guru SMP Al Islam Kartosuro berkesimpulan bahwa; “calon guru sebelum menempuh mata kuliah PPL perlu latihan mengajar micro teaching di laboratoris dan real teaching, mereka harus berlatih beberapa ketrampilan pembejalaran dengan pendekatan inovatif misalnya lesson study.

         Rancangan model meningkatkan kualitas pembelajaran micro teaching bagi calon guru matematika dengan pendekatan lesson study. Rancangan model ini mengacu pendapat Sukirman dalam makalah pelatihan Lesson Study bagi guru-guru Berprestasi dan Pengurus MGMP MIPA SMP se-Indonesia yakni terdapa 3 tahapan kegiatan; (1) perencanaan (planning), (2) implementasi (action) pembelajaran dan observasi (3) refleksi (reflection) terhadap perencanaan dan implementasi pembelajaran tersebut, menurut UNESCO dalam Suparwoto dkk (2006: 22) dikembangkan menjadi tiga model yaitu; Model Peningkatan Kualitas koopertif (Improvement Model of Quality of Co-Operative), Model Peningkatan Kualitas Berdasarkan Masalah (Improvement Model of Quality of Based on Problem), dan Model Peningkatan Kualitas Langsung (Improvement Model of Quality of Direct).

 Model pertama, memiliki beberapa unsur yaitu; (1) Siswa belajar dalam kelompok kecil yang beranggotakan 4 sampai 5 orang untuk efektifitas kelompok dalam belajar. Anggota kelompok yang terlalu besar tidak  menjamin adanya kerja belajar yang efektif (2) Setiap anggota kelompok memiliki rasa ketergantungan dalam kelompok, keberhasilan kelompok sangat ditentukan oleh  kekompakan anggota-anggota dalam kelompok tersebut (3) Diperlukan  tanggung jawab masing-masing anggota kelompok, kesadaran tanggung jawab masing-masing anggota kelompok dalam belajar sangat mendukung keberhasilan kelompok (4) Terdapat kegiatan komunikasi tatap muka baik antar  anggota kelompok daslam kelompok maupun antar kelompok. Adanya komunikasi ini dapat mendorong terjadinya interaksi positip, sesama siswa dapat lebih saling mengenal, masing-masing siswa saling menghargai pendapat teman, menerima kelebihan dan kekurangan teman apa adanya, menghargai perbedaan pendapat yang selalu  terjadi dalam kehidupan.  Siswa saling asah, saling asih dan saling asuh (5) Anggota-anggota kelompk berlatih untuk mengevalusi pedapat teman, melalui adu argumentasi, belajar menerima hasil evaluasi dari teman esama anggota kelompok, pada akhirnya dapat menumbuhkan rasa toleransi pendapat dan bergaul dalam hidup bermasyarakat. Dari ke 5 unsur tersebut di atas dapat ditarik simpulan bahwa lewat pembelajaran kooperatif, di samping diperoleh pencapaian aspek akademik yang tinggi di kalangan siswa, juga bermakna dalam membantu guru dalam mencapai tujuan pembelajaran yang berdimensi sosial dalam hubungannya dengan sesama. Adapun dalam model pembelajaran kooperatif ini peran guru yang dapat ditampilkan antara lain :

 Model kedua, bertumpu pada pengembangan kemampuan berpikir di kalangan siswa lewat latihan penyelesaian masalah, oleh sebab itu siswa dilibatkan dalam proses maupun perolehan produk penyelesaiannya. Dengan demikian model ini juga akan mengembangkan keterampilan berpikir lewat fakta empiris maupun kemampuan berpikir rasional, sehingga latihan yang berulang-ulang ini dapat membina keterampilan intelektual dan sekaligus dapat mendewasakan siswa. Siswa beperan sebagai self-regulated learner, artinya lewat pembelajaran model ini siswa harus dilibatkan dalam pengalaman nyata atau simulasi sehingga dapat bertindak sebagai seorang ilmuwan atau orang dewasa.

 Model ketiga,  seringkali dianggap lebih sesuai dengan sifat ilmu yang dipelajari, seperti halnya kelompok mata pelajaran Basic Science.  Hal ini di dasarkan pada asumsi bahwa pengetahuan ilmiah tersusun secara terstruktur yang memuat materi prasyarat dalam setiap langkah penyajiannya. Pembelajaran langsung pada umumnya dirancang secara khusus untuk mengembangkan aktivitas belajar di  pihak  siswa berkaitan  dengan aspek pengetahuan procedural serta pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik yang dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Fokus utama dari pembelajarn ini adalah adanya pelatihan-pelatihan yang dapat diterapkan dari keadaan nyata yang sederhana sampai yang lebih kompleks. Adapun dalam model pembelajaran langsung  ini peran guru yang dapat ditampilkan antara lain :

 Model peningkatan kualitas pembelajaran micro teaching bagi calon guru  dengan pendekatan lesson study melalaui empat tahapan, yaitu:

a.       Tahap Kajian Akademik

 Pada tahap ini calon guru berdiskusi tentang silabus dan pengembangan materi yang disesuaikan SK (Standar Kompetensi) dan KD (kompetensi Dasar) dalam kelompok lesson study untuk menentukan, tujuan pembelajaran yang relevan dengan pokok bahasan, straegi pembelajaran yang bepihak pada siswa, mengambangan materi yang komprehansip, metode pembelajaran yang inovatif, media pembelajaran memperjelas materi, dan alat evaluasi yang mampu mengukur hasil pembelajaran.

 b.      Tahap Perencanaan

             Pada tahap perencanaan ini langkah yang dilakukan adalah; (1) membentuk kelompok pembelajaran (2) masing-masing kelompok mendapat tugas mengajar dari dosen pembimbing (3) masing-masing kelompok membut RMP (Rencana Model Pembelajaran) (4) menyiapkan alat peraga. Alat peraga ini bisa berasal dari lingkungan, bisa alat buatan sendiri, bahkan bisa alat elektronik yang berbasis IT.

 c. Tahap Pelaksanaan  Mengajar secara Micro Teaching

             Calon guru berlatih mengajar secara micro taching berbasis ketrampilan mengajar, yakni ketrampilan membuka, dan menutup pelajaran. Aspek yang dinilai dalam ketrampilan membuka pelajaran, antara lain; (1) memperhatikan sikap dan tempat duduk siswa (2) memulai pelajaran setelah siswa siap menerima pelajaran (3) mengenalkan pkok bahasan cukup menarik (4) mengenalkan pokok bahasan dengan menghubungkan pengetahuan yang telah diketahui siswa (5) hubungan antara pendahuluan dengan inti pelajaran nampak jelas dan logis. Sedang aspek yang dinilai dalam ketrampilan menutup pelajaran adalah (1) menyimpulkan pelajaran dengan tepat (2) menggunakan kata-kata yang dapat membesarkan hati siswa (3) menimbulkan perasaan mampu dari pelajaran yang diperoleh (4) mendorong siswa tertarik pada pelajaran yang telah diterima.

 d.  Tahap Evaluasi dan Tindak lanjut

             Pada tahap ini segera dilakukan refleksi., yaitu calon guru yang tampil praktik mengajar dan para observer serta pakar (dosen pembimbing) mengadakan diskusi tentang pembelajaran yang baru saja dilakukan. Prtama calon guru diberi kesempatan untuk menyatakan kesan-kesannya selama melaksanakan pembelajaran, baik terhadap dirinya maupun terhadap siswa yang dihadapi. Selanjutnya observer (calon guru lain dan pakar/dosen) menyampaikan hasil analisis data observasinya, terutama yang menyangkut kegiatan siswa selama berlangsung pembelajaran yang disertai dengan pemutaran video hasil rekaman pembelajaran. Selanjutnya, guru yang melakukan implementasi tersebut akan memberikan tanggapan balik atas komentar para observer.

              Hal yang penting pula dalam tahap refleksi ini adalah mempertimbangkan kembali rencana pembelajaran yang telah disusun sebagai dasar untuk perbaikan rencana pembelajaran berikutnya. Apakah rencana pembelajaran tersebut telah sesuai dan dapat meningkatkan performance keaktifan belajar siswa. Jika belum ada kesesuaian, hal-hal apa saja yang belum sesuai, metode pembelajarannya, materi dalam LKS, media atau alat peraga, atau lainnya. Pertimbangan-pertimbangan ini digunakan untuk perbaikan rencana pembelajaran selanjutnya.

 Pembahasan

 Kendala Peningkatan Kualitas Micro Teaching. Banayak faktor yang menjadi kendala dalam upaya peningkatan kaulitas pembelajaran micro teaching bagi calon guru matematika antara lain: faktor internal dan faktor eksternal. Yang termasuk faktor internal antra lain; calon guru kurang menguasai; silabus, pengembangan meteri, pengembangan multi metode, multi media, dan pengembangan alat evaluasi yang sesuai dengan tuntutan  SK (Standar Kompetensi) dan KD (Kompetensi Dasar)” Sedangkan yang termasuk faktor internal antara lain: belum tersedianya multi media (elektronik) yang bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa (calon guru), kemampuan dosen dalam penguasaan micro teaching  sebagai in service training bagi calon guru dan pre service training bagi guru dan dosen, dan kurangnya peran serta dosen Mata Kuliah Keahlian dalam pengembangan kualitas pembelajaran micro teaching,

 Dari faktor internal dan eksternal tersebut di atas dapat peneliti simpulkan bahwa kendala utama peningkatan kualitas pembelajaran micro teaching bagi calon guru matematika adalah sebagai berikut; (1) kurangnya kemampuan calon guru dalam pengembangan kurikulum menjadi pembelajaran berkualitas (2) minimnya ketersediaan sumber belajar yang dimiliki dan pemanfaatannya (3) masalah pola interaksi pembelajaran dan pola pengembangan pembelajaran yang berkaulitas (4) masalah pola pemanfaatan potensi alam sekitar untuk mendukung kegiatan pembelajaran (5) masalah pengembangan instrumen penilaian pembelajaran berkualitas yang sesuai dengan tuntutan SK dan KD (6) permasalahn kesulitas (7) kurangnya peran aktif dosen dalam memanfaatkan micro teaching  sebagai in service training bagi calon guru dan pre service training bagi guru dan dosen dan (8) kurangnya peran serta dosen Mata Kuliah Keahlian dalam pengembangan kualitas pembelajaran micro teaching, yang disebabkan karena rasio jumlah mahasiswa denga beban tugas SKS doses.

         Rancangan model meningkatkan kualitas pembelajaran micro teaching bagi calon guru matematika dengan pendekatan lesson study. Untuk mengatasi kendala utama tersebut maka rancangan model meningkatkan kualitas pembelajaran micro teaching bagi calon guru matematika dengan pendekatan lesson study berbentuk siklus pembelajaran micro yang terdiri 3 tahapan kegiatan; (1) perencanaan (planning), (2) implementasi (action) pembelajaran dan observasi (3) refleksi (reflection) terhadap perencanaan dan implementasi pembelajaran tersebut.

 Dalam implementasi lesson  study yang dilakukan oleh IMSTEP-JICA di Indonesia,  Saito, dkk (2005) mengenalkan  lesson study yang berorientasi pada praktik. Lesson study yang dilaksanakan tersebut terdiri atas 3 tahap pokok, yakni: (a) Merencanakan pembelajaran dengan penggalian akademis pada topik dan alat-alat pembelajaran yang digunakan, yang selanjutnya disebut tahap Plan. (b) Melaksanakan pembelajaran yang  mengacu pada rencana pembelajaran dan  alat-alat yang disediakan, serta mengundang rekan-rekan sejawat untuk mengamati. Kegiatan ini disebut tahap Do.

 Hal yang sama disampaikan Sumar dkk (2007: 10) bahwa pelaksanaan lesson study ada tiga tahapan yaitu Plan (merencanakan), Do (melaksanakan), dan See (merefleksi) yang berkelanjutan. UNESCO dalam Suparwoto dkk (2006: 22) ketiga tahapan tersebut dikembangkan menjadi tiga model yaitu; Model Peningkatan Kualitas koopertif (Improvement Model of Quality of Co-Operative), Model Peningkatan Kualitas Berdasarkan Masalah (Improvement Model of Quality of Based on Problem), dan Model Peningkatan Kualitas Langsung (Improvement Model of Quality of Direct).

 Model Peningkatan Kualitas Pembelajaran Micro Teaching  dengan Pendekatan Lesson Study menggunakan sistem SPBKM (Sikles Pembelajaran Berbasis Ketrampilan Mengajar) model PTK. Model ini diawali dengan Sikles pertama; (a) Kajian Akademik, yakni kajian awal untuk melakukan penyidikan dalam upaya kajian pendalaman materi ajar (b) Kajian Pembuatan  RMP secara keseluruhan, (c) Pelaksanaan Tindakan dan Observasi, dan (d) Evaluasi dan Tindak Lanjut. Memasuki siklus berikutnya dimulai dengan (a) Tahap Perencanaan Lanjut sebagai revisi atas perencanaan yang disusun sebelumnya, (b) Pelaksanaan Tindakan dan Observasi Lanjutan, dan (c) Refleksi Lanjut. Dan seterusnya. Model sikles tersebut di atas sesuai dngan model sikles nya Kemmis dan McTaggart (1997) dalam Bambang Subali dkk (2006: 32) menjelaskan bahwa pelaksanaan lesson study sebagai stategi untuk meningkatkan kualitas guru diawali dengan (a) Menetapkan Topik Area (thematic concern) yang akan diajarkan, kemudian dilanjutkan dengan (b) Perencanaan Secara Keseluruhan, (c) Implementasi Tindakan (d) Observasi, dan (e) Refleksi. Memasuki siklus berikutnya dimulai dengan (a) Tahap Perencanaan Lanjut sebagai revisi atas perencanaan yang disusun sebelumnya dengan memanfaatkan hasil refleksi, (b) Pelaksanaan Tindakan dan Observasi Lanjut, dan (c) Refleksi Lanjut.

 

 Kesimpulan

             Kendala Peningkatan Kualitas Pembelajaran Micro Teaching. bagi calon guru Program Pendidikan Matematika FKIP-UMS adalah (1) kemampuan calon guru dalam penguasaan dan pengembangan kurikulum menjadi pembelajaran berkualitas (2) minimnya ketersediaan sumber belajar yang dimiliki siswa dan pola pemanfaatan potensi alam sekitar untuk mendukung kegiatan pembelajaran (3) masalah pola interaksi pembelajaran dan pola pengembangan pembelajaran yang berkaulitas (4) pengembangan instrumen penilaian hasil pembelajaran berkualitas (5) permasalahn kesulitas calon guru dalam penguasaan kompetensi guru yang profesional (6) Kurangnya peran dosen dalam ikut aktif memanfaatkan micro teaching sebagai in service training bagi calon guru dan pre service training bagi guru dan dosen dan (7) kurangnya peran dosen Mata Kuliah Keahlian (Mata Kuliah yang menunjang materi bidang studi matematika) dalam pengembangan materi pembelajaran berkualitas.(8) kurang memperhatikan sistem magang, padahal ini sangat dibutuhkan mahasiswa.

             Rancangan Model Meningkatkan Kualitas Pembelajatan Micro Teaching dengan Pendekatan  Lesson Study. Ada  3 tahapan kegiatan, yaitu (1) perencanaan (planning), (2) implementasi (action) pembelajaran dan observasi (3) refleksi (reflection) terhadap perencanaan dan implementasi pembelajaran tersebut dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran. Rancangan model tersebut di atas dikembangkan dalan tiga model yaitu: (a) Model Peningkatan Kualitas Kooperatif (Improvement Model of Quality of Co-Operative), model ini di samping diperoleh pencapaian aspek akademik yang tinggi di kalangan siswa, juga bermakna dalam membantu guru dalam mencapai tujuan pembelajaran yang berdimensi sosial (b) Model Peningkatan Kualitas Berdasar Masalah (Improvement Model of Quality of Based on Problem), model ini merupakan peningkatan kualitas calon guru yang  bertumpu pada pengembangan kemampuan berpikir di kalangan siswa lewat latihan penyelesaian masalah (c) Model Peningkatan Kualitas Langsung (Improvement Model of Quality of Direct), fokus utama dari pembelajarn ini adalah adanya pelatihan-pelatihan yang dapat diterapkan dari keadaan nyata yang sederhana sampai yang lebih kompleks.

             Model Peningkatan Kualitas Pembelajaran Micro Teaching bagi calon guru melalui pendekatan lesson stady, dilakukan dengan sistem SPBKM (Sikles Pembelajaran Berbasis Ketrampilan Mengajar) model PTK (Lihat gambar 1 di bawah ini). Siklus pertama, Kajian Akademik, Kajian Pembuatan RMP (Rencana Model Pembelajaran), Pelaksanaan Pembelajaran dan Observasi, serta refleksi. Siklus kedua; Perencanaan Lanjutan sebagai revisi atas perencanaan yang disusun sebelumnya, Pelaksanaan Pembelajaran dan Observasi Lanjutan, dan (c) Refleksi Lanjutan, dan seterusnya.

             Peningkatan kualitas pembelajaran micro teaching yang dilakukan dengan sistem SPBKM (Sikles Pembelajaran Berbasis Ketrampilan Mengajar), yang meliputi; (1) ketrampilan mengelola kelas (2) ketrampilan membuka pelajaran (3) ketrampilan bertanya (pre test, saat menerangkan, dan pos test) (4) ketrampilan menerangkan (5) ketrampilan menggunakan multi media (6) ketrampilan menggunakan multi metode (7) ketrampilan memberikan motivasi (8) ketrampilan memberikan ganjaran, dan (9) ketrampilan menutup pelajaran.

 UCAPAN TERIMA KASIH

 Diucapkan terimakasih kepada Pengelola Laboratorium Micro Teaching Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang telah memberikan bantuannya berupa fasiltas Laboratoriun dan tenaga teknisinya dalam pelaksanaan penelitian.

 

DAFTAR PUSTAKA

 DGSE. (2002). Report on Validation and Socialization of the Guideline of Syllabi and Evaluation System of Competent-Based Curriculum for Mathematics in Manado, North Sulawesi. Jakarta: Depdiknas.

 Denzin K. N., Lincoln S. Y., (1994). Hand Book of Qualitative Research, London- New Delhi: Sage Publications.

 Fernandez, Clea and Yoshida, Makoto. (2004). Lesson Study : A Japanese Approach to Improving Mathematics Teaching and Learning. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, Publishers.    

 Garfield, J. (2006). Exploring the Impact of Lesson Study on Developing Effective Statistics Curriculum. (Online): diambil tanggal 19-6-2006 dari:  www.stat.auckland.ac.nz/-iase/publication/-11/Garfield.doc.

 Lewis, Catherine C. (2002). Lesson study: A Handbook of Teacher-Led Instructional Change. Philadelphia, PA: Research for Better Schools, Inc.

 Lincoln, Y. S., Guba, E.G., (1984). Naturalistic Inquiry, California: Sage Publication.

 Miles, B. M., Michael, H., (1984). Qualitative Data Analisys, dalam H.B. Sutopo, Taman Budaya Surakarta dan Aktivitas Seni di Surakarta, Laporan Penelitian, FISIPOL UNS.

 Moleong J. L., Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya.

 Morgan, Shawn. (2001). Teaching Math the Japanese Way (Online), Diambil tanggal 16 Mei 2005 dari: http://www.as1.org/alted/lessonstudy.htm,

 Pedoman PPL, (2007). Program Pengalaman Lapangan, Laboratorium Micro Teaching, FKIP-UMS

 Robinson, Naomi. (2006). Lesson Study: An example of its adaptation to Israeli middle school teachers. (Online): stwww.weizmann.ac.il/G-math/ICMI/ Robinson proposal.doc.

 Richardson, J. (2006). Lesson study: Teacher Learn How to Improve Instruction. Nasional Staff Development Council. (Online): www.nsdc.org. 03/05/06.

 Saito, E., Imansyah, H. dan Ibrohim. (2005). Penerapan Studi Pembelajaran di Indonesia: Studi Kasus dari IMSTEP. Jurnal Pendidikan “MimbarPendidikan”, No.3. Th. XXIV: 24-32.

 Saito, E., (2006). Development of school based in-service teacher training under the Indonesian Mathematics and Science Teacher Education Project. Improving Schools. Vol.9 (1): 47-59

 Sukirman. (2006). Peningkatan Profesional Guru Melalui Lesson Study.Makalah Pelatihan Lesson Stady Bagi Guru-Guru BeRPPrestasi dan Pengurus MGMP Se-Indonesia.

 Sumar H dkk, (2007).Lesson Study: Suatu Strategi Untuk Meningkatkan Keprofesionalan Pendidik (Pengalaman IMSTP-JICA), Bandung, FPMIPA UPI dan JICA.

 Tjipto S , (1990).Informatika: Majalah Pengkajian Ilmu dan Teknologi, UMS, ISSN: 0853-0076

  Tim Piloting. (2002). Laporan Kegiatan Piloting. Yogyakarta: IMSTEP-JICA FMIPA UNY.

 ___________ .(2003). Laporan Kegiatan Piloting. Yogyakarta: IMSTEP-JICA FMIPA UNY.

 __________. (2004). Laporan Kegiatan Piloting. Yogyakarta: IMSTEP-JICA FMIPA UNY.

  Tim PPPMT (2008), Pedoman Praktik Pembalajaran Micro Teaching, Laboratoriu Micro Teaching dan PPL, FKIP-UMS.

  Tim Pengembang Sertifikasi Kependidikan. (2003). Pedoman Sertifikasi Kompetensi Tenaga Kependidikan (draft). Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi Ditjen Dikti Depdiknas.

Standard

ALIH PUBLIKASI PENELITIAN: TKW

PENGIRIMAN TENAGAKERJA INDONESIA KE MALAYSIA

(Studi Kasus TKW Asal Jawa Tengah dengan Pendekatan Fenomenologi)

   Tjipto Subadi

Muhammadiyah University of Surakarta, Central Java, Indonesia
Email: tjiptosubadi@yahoo.com


AbstraCT

This study aims to examine (1) the main cause of the female workers (FWs) in Malaysia from Central Java, Indonesia tortured by their employers, (2) the responsibility of the BP3TKI as an agency sending the FWs if there is a problem of the FWs, (3) the steps the Indonesian and Malaysian government take to cope with the case of the Indonesian TKW in Malaysia tortured by their employers, and (4) the model of cooperation for sending the Indonesian TKW to Malaysia professionally. The study used a phenomenology qualitative approach with a social paradigm definition of micro analysis. The subjects were the FWs in Malaysia tortured by their employers. The data gathering used an observation, documentation and interview method. The data analysis employed a method of first order understanding and second order understanding with an interactive model, including data reduction, data display and conclusion/verification. The findings show that (1) the main cause of torturing against the FWs is a miscommunication, low competency, cultural difference, feudalism behavior, bad institutional structure and difference in Act. (2) The responsibilities of the BP3TKI are legal and non-legal. (3) The steps the Indonesian government takes are (i) providing a guarantee to employers who do not have any problem for employing the Indonesian workers, (ii) establishing a Cooperation Agency for Problem Solving, (iii) giving one-day or one-week furloughto the FWs, (iv) if there is no furlough, an employer will  give any compensation to them, (v) all the problems of the FWs must be resoled by the Indonesian and Malaysian Cooperation Association, and (vi) revising the Memo of Understanding (MoU) of the Labor Force. (4) The model of cooperation for sending the WFs to Malaysia is revising and completing the MoU, containing, among others, high wage, furlough, passport holders by the Indonesian workers (TKIs), task force establishment, Labor Force Act, equal-working appointment, a great priority of human values and anti-slavery, discrimination, gender and anti-trade of human.

 Keywords: torturing, human values, anti-slavery

A.  Latar Belakang Masalah

 Secara formal mobiltas penduduk, yang dikenal dengan nama migrasi telah dimulai pada tahun 1905 dengan motif memenuhi permintaan akan kebutuhan pekerjaan perkebunan. Pemerintah Belanda waktu itu telah memindahkan 155 Kepala Keluarga dari Jawa ke Gedong Tataan Sumatra Selatan (Mantra, 1988: 160). Di Jawa Tengah, berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 1980 menunjukkan bahwa migrasi ke luar Jawa sebanyak 2.402.557 jiwa dan migrasi masuk ke Jawa sebanyak 1.804.115 jiwa. Sedangkan pada tahun 1990, migrasi ke luar Jawa sebanyak 3.416.923 jiwa dan migrasi masuk ke Jawa 3.058.725 jiwa (Firman, 1994: 6).

 Ahmad Kamil Mohamed (2007), menjelaskan bahwa Malaysia merupakan salah negarapengimport buruh asing terbesar di Asia. Lebih kurang 20 % dari tenaga kerjanya terdiri dari pada warga asing, yang sebahagian besarnya ditempatkan di dalam bidang pembinaan, ladang kelapa sawit dan perkhidmatan domestik. Hampir setengah juta warga asing haram, kebanyakannya warga Indonesia telah meninggalkan Malaysia semasa program pengampunan yang berakhir 28 Februari 2004. Keadaan ini telah menyebabkan kekurangan tenaga kerja yang banyak di Malaysia dan menyebabkan kerugian berjuta-juta ringgit terhadap industri terbabit (Utusan Malaysia, 2007, April 11).

 Indonesia menjadi salah satu sumber tenaga kerja terbesar di Malaysia. Salah satu penyumbang TKW cukup besar adalah Propinsi Jawa Tengah, khususnya melalui kota Semarang. Bagi pemerintah Indonesia, arus TKI/TKW ke Malaysia adalah salah satu cara untuk mengatasi masalah pengangguran serta memberikan konstribusi bagi pemasukan devisa negara. Diperkirakan bahwa setiap tahun pemasukan devisa sebesar US$ 2,6 juta dibawa masuk ke Indonesia oleh para TKI/TKW yang bekerja di luar negeri (Darwin, dkk., 2005: 280), menurut catatan Distransnaker dan Kependudukan Propinsi Jawa Tengah remitan yang dikirim para TKI/TKW ke Jawa Tengah sebesar Rp. 926.085.803.912.

 Pengiriman TKW ke luar negeri pada satu sisi memang dibutuhkan pemerintah untuk mengatasi pengangguran, tetapi pada sisi yang lain muncul banyak masalah yang dihadapi TKI/TKW di negara tujuan, seperti kasus-kasus penyiksaan TKW oleh majikan di Malaysia yang sampai hari ini belum terselesaikan.

 Penelitian ini akan mengkaji dan mengetahui; (1) Penyebab utama TKW Malaysia asal Jawa Tengah yang disiksa Majikannya. (2) Tanggungjawab PJTKI pengirim TKW jika terjadi permasalahan yang menimpa TKW-nya. (3) Langkah-langkah yang telah ditempuh oleh pemerintah Indonesia dan Pemerintah Malaysia untuk menyelesaikan kasus TKW Indonesia di Malaysia yang disiksa oleh Majikannya. (4) Model Kerjasama Pengiriman TKW Indonesia ke Malaysia yang profesional.

 Hasil yang diarapkan dari penelitian ini adalah (1) Identifikasi masalah utama TKW di Malaysia asal Jawa Tengah yang disiksa Majikannya. (2) Bentuk tanggungjawab PJTKI pengirim TKW jika terjadi permasalahan yang menimpa TKWnya. (3) Rumusan langkah-langkah yang harus ditempuh oleh pemerintah Indonesia dan Pemerintah Malaysia untuk menyelesaikan kasus TKW Indonesia di Malaysia yang disiksa oleh Majikannya.(4) Model Kerjasama Pengiriman TKW Indonesia ke Malaysia yang profesional.

 B.  KAJIAN PUSTAKA

 1.    Teori Migrasi

 Mobilitas penduduk desa-kota baik yang permanen (migrasi) maupun yang non-permanen (sirkulasi), pada hakekatnya memiliki kesamaan terutama tentang daya dorong dan dalam hal proses pengambilan keputusan untuk melakukan mobilitas (Mantra, 1987: 140-144;). Ketetapan menjadi migran permanen atau non-permanen tersebut sangat tergantung pada kemampuan kota dalam mengembangkan industrialisasi (Mc.Gee, 1977: dalam Abu-Lughod dan Hay, eds., 1977: 209-211; dalam Sutomo 1993: 22) termasuk didalamnya kesempatan kerja sektor perdagangan, sektor pembantu rumah tangga dan sektor-sektor yang lain. Suatu mobilitas penduduk akan terjadi apabila individu memutuskan lebih baik pindah dari pada menetap tinggal, karena kepindahan tersebut dirasa akan lebih menguntungkan.

 Mekanisme migrasi selalu berhubungan dengan proses pengambilan keputusan. Teori yang cocok untuk memahami mekanisme tersebut adalah teori dorong-tarik (push-pull theory)Lee.Teori ini mengasumsikan bahwa setiap fenomena  migrasi selalu berkaitan dengan daerah asal, daerah tujuan, dan bermacam-macam rintangan yang menghambat. Menurut Lee, ada empat faktor yang berpengaruh orang mengambil keputusan untuk melakukan migrasi, yaitu; (1) Faktor-faktor yang terdapat di daerah asal, (2) faktor-faktor di daerah tujuan, (3) faktor rintangan, dan (4) faktor pribadi.

Faktor-faktor di daerah asal dan daerah tujuan dapat bersifat positif, negatif atau bersifat netral. Faktor-faktor di daerah asal dikatakan positif kalau sifatnya mendorong migran, negatif kalau menghambat migran, dan netral kalau tidak berpengaruh terhadap migran. Sedangkan faktor-faktor di daerah tujuan dikatakan positif jika menarik calon migran, negatif kalau menghambat masuknya calon migran, dan netral kalau tidak berpengaruh terhadap migran (Lee, 1966, diterjemahkan oleh Daeng, ditinjau kembali oleh Mantra, 1987: 5).Kesimpulan yang diambil dari penelitian migrasi Lee ini adalah: (1) Migrasi berkait erat dengan jarak, (2) Migrasi bertahap, (3) Migrasi arus dan migrasi arus balik. (4) Terdapat perbedaan antara desa dan kota mengenai kecendungan melakukan migrasi. (5) Wanita lebih suka bermigrasi ke daerah-daerah yang dekat. (6) Mengikat teknologi dengan migrasi. (7) Motif ekonomi merupakan dorongan utama orang bermigrasi.

 2.    Perlindungan TKW oleh Pemerintah Indonesia-Malaysia

 Undang-Undang RI Nomor 39 Tahun 2004 Tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri. Perlindungan TKI dalam Undang-Undang ini dijelaskan pada BAB VI PELINDUNGAN TKI  Pasal 77, 78, 79, 80, 81, 82, 83, 84, Sedangkan penyelesaian jika terjadi perselisihan dijelaskan pada BAB VII PENYELESAIAN PERSELISIHAN Pasal 85, ayat (1) da (2)

 Perlindungan TKW oleh Pemerintah Malaysia. Pemerintah Malaysia telah mengeluarkan GarisPanduandanSyarat-syaratPengambilanPembantuRumahAsing(PRA). Bahagian Pekerja Asing, Jabatan Imigresen Malaysia (2006) telah menggariskan keluar 30 garis panduan dan syarat-syarat pengambilan pembantu rumah asing kepada semua majikan atau agensi pembantu rumah.

 C.  METODE PENELITIAN

 Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi dengan paradigma definisi sosial yang bergerak pada kajian mikro. Subjek penelitian adalah TKW di Malaysia berasal dari Jawa Tengah yang mengalami penyiksaan oleh majikannya. Subjek penelitian ini sekaligus menjadi informan, informan ini dipilih atas dasar pertimbangan kualitasinforman sebagai sumber yang sungguh informatif. Untuk memperlancar peneliti dalam pengambilan data, penelitian ini membutuhkan informan lain, yaitu; tetangga TKW, Keluarga TKW, BP3TKI, Kepala Dinas Propinsi/Kasi Penempatan TKI Luar Negeri. Metode Pengumpulan Data dengan observasi, dokumentasi dan wawancara mendalam. Teknik Analisis Data menggunakan first order understanding dan second order understanding, dengan tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu; reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan/verifikasi

 Produk yang akan dihasilkan dari penelitian ini adalah berupa rumusan keilmuan yang ilmiah dan bertanggungjawab tentang: (1) Identifikasi masalah utama TKW di Malaysia asal Jawa Tengah yang disiksa Majiaknnya. (2) Bentuk tanggungjawab PJTKI pengirim TKW jika terjadi permasalahan yang menimpa TKW-nya.(3) Rumusan langkah-langkah yang harus ditempuh oleh pemerintah Indonesia dan Pemerintah Malaysia untuk menyelesaikan kasus TKW Indonesia di Malaysia yang disiksa oleh Majikannya. (4) Model Kerjasama Pengiriman TKW Indonesia ke Malaysia yang profesional.

  D.  HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 Kasus penyiksaan TKW oleh majikan di Malaysia sering terjadi, data yang peneliti temukan di lapangan antara lain kasus yang menimpa Pujianti, Siti Hajar, Modesta, Sutilah,dan  Siti Musriah.

 1.    Kasus Pujianti (asal Magelang, Jawa Tengah). Pujianti disiksa majikan (etnis Cina) di Malaysia, ia sering dipukuli, dipaksa minum deterjen, makan pasir, dan tidak dibayar gajinya selama satu tahun.

 2.    Kasus Siti Hajar, Siti Hajar mendapat perlakuan penyiksaan oleh majikan di Malaysia. Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BN2TKI) Jawa Tengah Rachman mengatakan, Siti Hajar mendapatkan pelakukan kasar, ia sering dipukul oleh majikannya.

 3.    Belum hilang kesadisan menimpa Siti Hajar, korban penyiksaan majikan menimpa Modesta Rengga Kaka, Modesta menjelaskan Selain disiksa dengan cara ditinju, saya sering dipukul pakai kayu dan rotan. Tragisnya lagi, saya hanya diberi makan sekali sehari. Sedangkan gajin selama 19 bulan bekerja belum dibayar. Saya tak mau lari, karena saya tetap berharap gaji saya dibayar

 4.    Kasus Sutilah. Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Propinsi Jawa Tengah  Siswo Laksono dalam Nota Dinasnya yang disampaikan kepada Gubernur Jawa Tengah melalui Sekda, Nomor 560/6974 tertanggal 26-8-2009 Perihal Laporan Kasus TKI a.n. Sutilah, dijelaskan bahwa: Sutilah yang bekerja di Malaysia melalui PJTKI PT Arni Famili Kabupaten Semarang telah diberlakukan sebagai budak dan disiksa oleh majikan karena menolak menuruti hawa nafsu majikan. Di samping itu majikan juga melalukan kekerasan dan hanya memberi makan roti dan apel. Memasuki bulan ketiga Sutilah menderita sakit dan oleh majikan diusir dari rumahnya, kemudian ditemukan oleh seorang sopir yang berasal dari Surabaya lalu dibawa ke KBRI Kuala Lumpur.

 5.    Lagi, Seorang TKI Disiksa di Malaysia bernama Siti Musriah, saat ini harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Mranggen Demak. Tubuh Siti penuh bekas luka penyiksaan. Daun telinga sebelah kanan Siti cacat. Wanita berusia 32 tahun ini mengaku tidak tahu masalahnya kerap dipukuli majikannya, saat bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Malaysia. Ia menjelaskan “Saya tidak tahu kesalahan saya, setiap hari saya dipukul dengan tongkat, payung dan benda keras lainnya. Penyiksaan itu seperti tiada henti. Padahal saya bekerja hingga larut malam. Saya telah beberapa kali mencoba kabur dari rumah sang majikan. Namun selalu ditemukan sang majikan. Kejamnya lagi, sayai tidak pernah mendapat bayaran setelah bekerja sebagai PRT selama 13 bulan. Sebelumnya saya mendapat tawaran gaji 500 ringgit per bulan”. Akibat luka yang dideritanya, Siti masih harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Pelita Anugerah, Mranggen, Demak.

 Selain kasus-kasus penyiksaan tersebut di atas, BP3TKI di Semarang juga mencatat selama Januari-Juli 2009 sedikitnya terdapat 19 kasus TKI/TKW di Malaysia, tiga diantra nya adalah kasus penyiksaan. (1) Kasus meninggalnya Kartini, menurut penjelasan Sumardi (orang tua alm. Kartini) bahwa “Kartini meninggal karena disiksa oleh anak majikan dan majikan perempuan”. (2) Kasus peyiksaan yang menimpa Umdiyah, ia menjelaskan: “waktu itu saya sedang bersih-bersih kamar mandi, bagian yang lumuten saya sikat, dinding yang belum dikeramik pada bagian yang kotor saya bersihkan, katanya saya salah, majikan marah-marah saya dipukul, dijadukkan ke tembok kepala saya”. (3) Kasus penyiksaan kepada Siti Septini, ia menjelaskan: “Majikan saya yang perempuan galak, sering main pukul, saya sering dipukul, dijedukkan tembok, saya tidak tahu kesalahan saya, tahu-tahu dia marah-marah, kalau saya menjawab dituduh berani kepada majikan, terus saya dipukuli, bahkan pernah disiram air panas, karena kesakitan saya lari melapor minta tolong kepada tetangga kemudian tetangga tepon polisi, kemudian saya dijemput politi dibawa ke klinik untuk berobat, saya juga pernah disetrika tangan saya (ini masih ada bekasnya).

 Pemerintah Indonesia memandang bahwa kekerasan TKW di Malaysia akibat perbedaan UU Tenaga Kerja. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno menjelaskan bahwa tindak kekerasan yang dialami Tenaga Kerja Indonesia (TKI) akibat perbedaan undang-undang (UU) ketenagakerjaan kedua negara. “Negara yang memiliki perbedaan undang-undang tentang ketenagakerjaan dengan Indonesia, salah satunya adalah Malaysia,” lebih lanjut Erman mengatakan;Adanya perbedaan undang-undang yang mengatur permasalahan ketenagakerjaan mengakibatkan kasus kekerasan terhadap TKI sering terjadi, dan tidak mendapatkan penanganan sesuai dengan yang diharapkan masyarakat Indonesia.

 Kekerasan terhadap TKI jarang terdengar di negara Brunei Darussalam, sebab mereka selaku negara pengguna mempunyai peraturan tentang ketenagakerjaan yang tidak terlalu berbeda dengan Indonesia. Pemerintah Brunei juga selalu mendata dan mendaftarkan para TKI yang masuk ke negaranya melalui dinas tenaga kerja setempat, sehingga kita jarang mendengar negara tersebut mempersoalkan tentang TKI ilegal.  katanya.  (Sabtu, 20 June 2009 22:42 WIB Semarang).

 Pemerintah Malaysia menyatakan tetap menyambut baik kehadiran para tenaga kerja Indonesia dan akan melanjutkan upaya perlindungan terhadap mereka terutama bagi yang telah memenuhi prosedur hukum atau TKI yang legal. Perdana Menteri Malaysia Datok Sri Mohammad Najib bin Tun Abdul Razak mengatakan; Pemerintah Malaysia akan mengusahakan terwujudnya keadilan termasuk terhadap rakyat Malaysia yang melakukan tindak kekerasan kepada pekerja Indonesia. “Kami akan lakukan keadilan, termasuk pada rakyat Malaysia yang melakukan kekasaran terhadap rakyat Indonesia yang bekerja di sini. Mereka akan diambil tindakan berikut UU negara di mana yang terbukti,” 

 Menteri Sumber Manusia Datuk Dr S. Subramaniam“Setuju untuk mendirikan sebuah badan penyelaras untuk memastikan semua isu berkaitan pengurusan pengambilan pembantu rumah dari Indonesia dapat diselesaikan. Selain itu pembantu rumah akan diberi cuti satu hari/minggu, jika cuti tidak diberikan, maka pihak majikan akan membayar kompensasi (pampasan) kepada pembantu rumah tersebut, dan Memastikan agar setiap majikan membuka akaun (rekening) bank bagi pembantu rumah mereka.

 Peneliti senior Datuk Dr. Firdaus Abdullah (Akademi Pengajian Melayu, Universiti Malaya) menyatakan; kasus kekerasan PRT bukanlah satu kejadian kriminal biasa, tetapi jika diteliti lebih mendalam akan terbuka bahwa banyak aspek lain yang terlibat. Di samping dimensi kemanusiaan dengan segala ramifikasinya, isu kejahatan dan kekerasan yang melibatkan pembantu rumah warga asing di Malaysia, juga mempunyai dimensi diplomasi dan hubungan internasional serta dimensi keadilan dan pelaksanaan undang-undang.Artinya, selain kemungkinan mengganggu hubungan dengan negara asing, kasus ini juga boleh menimbulkan krisis keyakinan terhadap administrasi negara dan sistem kehakiman kita.

 Pengamat Dr Nazarudin Zainun dan Soijah Likin menjelaskan, perlu memahami tentang watak pembantu rumah, “Apakah faktor-faktor sebenar yang menyebabkan terjadinya penyiksaan (penderaan) pembantu rumah? Kenapa ada majikan yang mendera  pembantunya?” Dari pengamatan, jawaban yang  paling jelas dan mudah diberikan bahwa; Bagi majikan mutu kerja pembantu tidak seperti yang diharapkan.

 Dr. Fatimah Yusoff berpendapat bahwa, Masalah kepribadian majikan serta sikap sebagian pembantu rumah adalah di antara faktor yang mengakibatkan terjadinya kasus-kasus penderaan adalah sikap majikan yang terlalu garang serta pembantu rumah yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan pekerjaan mereka, boleh mewujudkan ketegangan sehingga majikan cenderung mendera pekerja mereka itu.

 Ketua Kaunselor, Majlis Agama Islam Negeri Sembilan, Asmawati Baharuddin berkata, harapan majikan yang terlalu tinggi menyebabkan mereka cenderung mendera pembantu rumah apabila pekerja mereka gagal melaksanakan tugas dengan baik. Ini mendukung pernyataan Dr. Nazarudin Zainun yang telah diuraikan sebelumnya (Bernama, 11 Juli 2009).

         1.    Permasalah Utama TKW Disiksa Majikan

 Dari beberapa penjelasan kasus penyiksaan TKW atau PR (Pembantu Rumah) oleh majikan di Malaysia tersebut di atas dapat peneliti simpulkan bahwa; tindak kekerasan yang dialami pembatu rumah akibat perbedaan undang-undang (UU) ketenagakerjaan kedua negara. Negara yang memiliki perbedaan undang-undang tentang ketenagakerjaan dengan Indonesia, salah satunya adalah Malaysia.

 Kekerasan terhadap pembantu rumah jarang terdengar di negara Brunei Darussalam, sebab mereka selaku negara pengguna mempunyai peraturan tentang ketenagakerjaan yang tidak terlalu berbeda dengan Indonesia. Pemerintah Brunei juga selalu mendata dan mendaftarkan para pembantu rumah yang masuk ke negaranya melalui dinas tenaga kerja setempat, sehingga kita jarang mendengar negara tersebut mempersoalkan tentang TKW illegal.

 Adanya perbedaan undang-undang yang mengatur permasalahan ketenagakerjaan mengakibatkan kasus kekerasan terhadap pembantu rumah sering terjadi, dan tidak mendapatkan penanganan sesuai dengan yang diharapkan masyarakat Indonesia. Perbedaan mencolok pada undang-undang tentang ketenagakerjaan Malaysia dengan Indonesia yang mengakibatkan tindakan kekerasan terhadap pembantu rumah terutama berkaitan dengan unsur pemenuhan hak asasi manusia (HAM) dan jaminan sosial.

 Kasus kekerasan pembantu rumah bukanlah satu kejadian kriminal biasa, tetapi jika diteliti lebih mendalam akan terbuka bahwa banyak aspek lain yang terlibat. Di samping dimensi kemanusiaan dengan segala ramifikasinya, isu kejahatan dan kekerasan yang melibatkan pembantu rumah di Malaysia, juga mempunyai dimensi diplomasi dan hubungan internasional serta dimensi keadilan dan pelaksanaan undang-undang. Artinya, selain kemungkinan mengganggu hubungan dengan negara asing, kasus ini juga boleh menimbulkan krisis keyakinan terhadap administrasi negara dan sistem kehakiman kita.

 Sikap majikan yang terlalu garang serta pembantu rumah yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan pekerjaan mereka, boleh mewujudkan ketegangan sehingga majikan cenderung mendera pekerja mereka itu, meskipun sebenarnya pembantu rumah tidak tahu permasalahannya. Pembantu rumah yang mengalami penyiksaan oleh majikannya sebagian besar tidak mengetahui kesalahannya, tahu-tahu majikan marah-marah, membentak-bentak, dan berakhir dengan memukul, menyiram air panas, seperti yang dialami Sutilah, Umdiyah, Siti Mursiah, Siti Septini dan kawan-kawannya.

 Kultur sebagian majikan yang tidak mengenal “kesalahan berat” atau “kesalahan ringan”, maka jika terjadi kesalahan oleh pembantu rumah harus mendapatkan “hukuman”. Pembantu rumah juga tidak boleh membantah karena membantah yang dilakukan oleh pembantu rumah kepada majikan dianggap melawan kepada majikan, sikap melawan kepada majikan ini harus mendapatkan hukuman yang berat. Sikap feodal masih mempengaruhi majikan terhadap pembantu rumah, dan rendahnya pengetahuan berbahasa pembantu rumah juga menjadi salah satu penyebab, apa yang dilakukan oleh pekerja rumah tidak sesuai dengan keinginan majikan yang berakibat kemarahan majikan kepada pembentu rumah. Kekerasan pembantu rumah sering terjadi di Malaysia juga menunjukkan ada yang tidak beres dengan sistem atau administrasi pengadilan di Malaysia.

  2.    Tanggungjawab BP2TKI/PJTKI

 Penyelesaian masalah TKI/TKW ada dua macam (1) Masalah yang dikategorikan ligitasi atau masalah yang bersangkutan dengan pelanggaran hukum, ini yang akan menangani adalah penegak hukum yaitu Kepolisian maupun Kejaksaan. (2) Masalah Non Ligitasi, ini yang bisa ditangani oleh BP3TKI sebagai mediasinya.

 Upaya yang telah dilakukan oleh BP3TKI (BP3TKI mengambil sikap), Jika data PPTKIS-nya jelas, segera memanggil PPTKIS untuk klarifikasi, PPTKIS berkoordinasi dengan Agent. Jika agent sudah bisa menyelesaikan berarti masalah ini selesai. Kalau agent tidak bisa menyelesaikan, masalah akan dibawa ke BKRI/Konjen RI terdekat dan pihak Konjen akan memanggil para pihak terkait. Putusan yang diambil biasanya dicarikan majikan lain, bila TKI masih ingin kerja, dan  dipulangkan ke Indonesia setelah dipenuhi semua hak-hak TKI dengan biaya pulang sesuai kesepakatan. TKI pulang dengan membawa surat pengantar dari BKRI yang ditujukan kepada BNP2TKI/BP3TKI untuk ikut memantau TKI tersebut sampai ke daerah asal.

      3.    Langkah yang Tempuh Pemerintah Malaysia-Indonesia

 Upaya Kepolisian dan KBRI Malaysia terhadap kasus penyiksaan TKW (Modesta). Polisi Malaysia kemudian mendatangi rumah majikannya dan menahan majikan tersebut untuk diinterogasi. Kepala Satgas pelayanan dan perlindungan WNI Amirudin mengatakan, akan segera memanggil agen pemasok TKI dan majikannya untuk menyelesaikan kasus ini. “Ini bukti kelemahan agensi yang tidak melakukan kontrol terhadap majikan dan TKW Indonesia.” Tindakan positip juga dilakukan oleh Minister Konselor Penerangan Sosial dan Budaya KBRI Kuala Lumpur, Widyarka Ryananta, pihaknya akan mendampingi TKW yang disiksa majikannya (Modesta) terutama dalam proses hukum kasus ini. KBRI sudah memanggil HANZSdn Bhd, agensi yang menyalurkan Modesta ke Malaysia, (kata Widyarka). Kepala Pusat Hubungan Masyarakat Departemen Tenaga dan Transmigrasi, Sumardoko, ketika dimintai konfirmasi soal Modesta menyatakan belum mendengar kasus ini. Ia berjanji segera menghubungi Atase Tenaga Kerja Indonesia di Malaysia.

 Terhadap kasus penyiksaan TKW Sutilah. Pada tanggal 7 Juli 2009 KBRI Kuala Lumpur membawa Sutilah ke RS Pathlab dan dirawat selama 11 (sebelas) hari. Setelah membaik dengan didampingi 2 (dua) staf KBRI dipulangkan ke Indonesia melalui Jakarta. Untuk meringankan beban keluarga Sutilah, Balai Penyelenggaraan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Jawa Tengah telah memberikan bantuan sebesar Rp 3 juta, sedangkan PT Arni Famili memberikan bantuan sebesar Rp 1,5 juta.

 Upaya Dinas Trans Tenaga Kerja dan Kependudukan Jawa Tengah. Azis Syakir (2009) di ruang kerjanya menjelaskan kepada peneliti bahwa dalam rangka pelaksanaan program penempatan TKI ke Luar Negeri Pemerintah Propinsi Jawa Tengah melakukan berbagai upaya dalam rangka memberikan perlindungan terhadap calon TKI/TKI Jateng,  antara lain: (1) Melalui Surat Gubernur Nomor 560/00946/2003 di mana mewajibkan bagi PPTKIS yang Kantor Pusatnya berada di luar Jawa Tengah apabila akan merekrut Warga Jawa Tengah sebagai TKI wajib membentuk/memiliki Kantor Cabang PPTKIS di Jawa Tengah terlebih dahulu dan, proses dokumen TKI, pemberangkatan dan pemulangan dilakukan di Jawa Tengah. (2) Dengan Surat Gubernur Nomor 560.55/18895/2009 tentang pelatihan bagi calon TKI asal Jawa Tengah (Khususnya calon TKI Informal wajib mengikuti pelatihan dan uji kompetensi) (3) Bersama-sama dengan instansi terkait membentuk SATGAS penenganan TKI bermasalah deportasi.(4) Melakukan pembenahan kinerja/Revitalisasi BLK/BLKLN milik pemerintah sehingga tercipta tenaga kerja yang memiliki kompetensi. (5) Telah dilakukan evaluasi dan pembinaan kinerja Kantor Cabang untuk mengendalikan Kantor Cabang PPTKIS dalam pelaksanaan penempatan. (6) Pelaksanaan secara teknis penempatan TKI di daerah dilakukan oleh BP3TKI Jawa Tengah dan sebagian kecil lainnya oleh Dinas Kabupaten/Kota).

 Langkah yang ditempuh Pemerintah Kerjasama (Indonesia-Malaysia).Kesepakatan dalam pembicaraan yang diambil kedua negara Indonesia dan Malaysia untuk mengatasi permasahan TKI/TKW Indonesia di Malaysia adalah: (1) Memberikan jaminan kepada majikan yang tidak bermaalah membawa masuk pembantu rumah dari Indonesia ke Malaysia untuk bekerja dengan majikan-majikan berkenaan. (2) Indonesia-Malaysia sepakat membentuk sebuah badan penyelaras untuk memastikan semua isu berkaitan kasus pembantu rumah dari Indonesia dapat diselesaikan. (4) Indonesia-Malaysia bersetuju bahwa pembantu rumah akan diberi cuti satu hari/minggu oleh para majikan tetapi terpulang kepada majikan dan pembantu rumah untuk menetapkan hari cuti tersebut. Jika cuti tidak diberikan, maka pihak majikan akan membayar pampasan kepada pembantu rumah tersebut. (4) Kementerian Sumber Manusia menjangkakan bahawa cuti satu hari seminggu ini akan dijadikan sebagai satu peraturan melalui pindaan pada Akta Kerja 1955 di persidangan Dewan Rakyat pada bulan Oktober 2009, (5) Mengenai isu-isu yang dibangkitkan oleh pihak Indonesia seperti kekerasan, penyiksaan, pasport pembantu rumah, gaji, kami telah setuju supaya perkara-perkara tersebut diselesaikan oleh Kumpulan Kerja Bersama antara Malaysia dan Indonesia. (6) Indonesia–Malaysia akan mengkaji semula Memorandum Persefahaman (MoU) mengenai tenaga kerja yang ditandatangani pada Mei 2006.

 Selain kesepakatan dua negara kerjasama Indonesia-Malaysia tersebut, secara khusus yang telah diambil oleh Malaysia ialah (a) memastikan agar setiap majikan membuka akaun bank bagi pembantu rumah mereka supaya pihak Jabatan Tenaga Kerja (JTK), Kementerian Sumber Manusia dapat memantau pembayaran gaji kepada mereka. (b) Langkah lain ialah setiap pembantu rumah dilindungi oleh Akta Pampasan Pekerja. (c) Lagi satu ialah kontrak standard akan disediakan oleh JTK untuk ditandatangani oleh majikan dan pembantu rumah mengenai tempoh kontrak dan sebagainya.

    4.    Model Kerjasama Pengiriman TKI/TKW yang Profesional

 Penempatan TKW secara Profesional dan Prosedural. Setelah diamanatkan dalam UU 39/2004 dan aturan pelaksanaannya, di mana TKI/TKW yang akan ditempatkan harus memiliki persyaratan yang sangat spesifik untuk masing-masing jenis pekerjaan dan negara penempatan. Akan tetapi yang lebih penting untuk dikedepankan adalah pelaksanaan di lapangan; (a) Aturan Hukum yang tegas bagi kedua belah pihak (b) Hak dan Kewajiban bagi TKI/TKW dan pengguna. (c) Perlu adanya Persyaratan / Standar Resmi yang digunakan sebagai dasar (d) Perjanjian Kerja yang adil. (e) Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan anti Perbudakan, Diskriminasi, Persamaan Jender, dan Anti Perdagangan Manusia.Untuk mewujudkan penempatan TKI/TKW secara profesional di dalam negeri perlu didukung dengan: Pemerintah Indonesia masih memperjuangkan sehingga dapat kesepakatan dalam rangka pelaksanaan penempatan TKI ke negara Malaysia dengan penyempurnaan MoU di mana ada empat poin yang diharapkan dapat memberikan perbaikan perlindungan dan kesejahteraan, antara lain; (a) Kenaikan upah menjadi Rp. 1.600.000,- s/d Rp 2.000.000,- (b) Paspor TKI tetap dipertahankan oleh TKI (c) Pemberian hak untuk libur setiap akhir pekan (d) Pembentukan SATGAS penanganan TKI antar RI dan Malaysia

 KESIMPULAN

 1.    Permasalahan Utama TKW Disiksa Majikannya   

 Permasalahan utama terjadinya kasus penyiksaan terhadap TKW asal Jawa Tengah adalah karena faktor (1) Misskomunikasi, kesalahan komunikasi antara majikan dengan pembantu rumah menjadi penyebab kemarahan majikan (1) Rendahnya kompetensi, rendahnya kemampuan pembantu rumah, dan tingginya tuntutan majikan menjadi penyebab tidak puasnya majikan atas hasil pekerjaan pembantu rumah yang berdampak kemarahan dan penyiksaan (3) Perbedaan Kultur, kebiasaan sebagian majikan di Malaysia “tidak ada kesalahan besar atau kecil” dan “membantah dianggap melawan”. Kesalahan yang dilakukan oleh pembantu rumah harus mendapat hukuman. Pembantu rumah tidak boleh membantah, dan jika membantah dianggap melawan kepada majikan, sikap melawan kepada majikan ini harus mendapatkan hukuman yang berat. (4) Sikap Feodalistik, sikap feodal, perbudakan masih mempengaruhi majikan terhadap pembentu rumah, anggapan pembantu rumah disamakan dengan budak masih mewarisi sebagian majikan di Malaysia. (5) Lemahnya Struktur Kelembagaan, Kelemahan Agensi, agensi yang tidak melakukan kontrol terhadap majikan dan pembantu rumah asal Jawa Tengah juga menjadi salah satu penyebab kekerasan dan penyiksaan. (6) Perbedaan Undang-Undang, tindak kekerasan yang dialami tenaga kerja Indonesia (TKI) Perbedaan Undang-undang, perbedaan undang-undang ketenagakerjaan kedua negara. Negara yang memiliki perbedaan undang-undang tentang ketenagakerjaan dengan Indonesia, salah satunya adalah Malaysia.

 2.    Tanggungjawab BP2TKI/PJTKI

 Pada dasarnya tanggungjawab BP3TKI terhadap kasus kekesaran/penyiksaan TKW di Malaysia adalah (1) Tanggungjawab Ligitasi (tanggungjawab yang berkaitan dengan pelanggaran hukum) (2) Tanggungjawab Non Ligitasi (tanggungjawab yang berkaitan dengan bukan pelanggaran hukum).

 Terhadap kedua tanggungjawab ini upaya yang telah dilakukan BP3TKI (1) Memastikan Identitas TKW (legal atau illegal, terdaftar sebagai TKW asal Jawa Tengah atau tidak) (2) Memanggil PPTKIS untuk klarifikasi, (3) PPTKIS berkoordinasi dengan Agent (4) Membawa kasus ini ke BKRI/Konjen RI, agar memanggil para pihak terkait. (5) Keputusan yang diambil, dicarikan majikan lain bila TKW masih ingin kerja, atau dipulangkan ke Indonesia setelah dipenuhi semua hak-hak TKW dengan biaya pulang sesuai kesepakatan. (6) Memantau kepulangan TKW sampai ke daerah asal.

 3.    Langkah yang Telah ditempuh oleh Pemerintah Indonesia-Malaisyia

 Kesepakatan yang diambil kedua negara untuk mengatasi kasus penyiksaan TKW adalah Indonesia-Malaiysia (a) Sepakat memberikan jaminan kepada majikan yang baik (yang telah membayar iuran), kepada agensi-agensi pembekal pembantu rumah di Malaysia dan Indonesia, dibenarkan membawa masuk pembantu rumah dari Indonesia ke Malaysia untuk bekerja dengan majikan-majikan berkenaan. (b) Membentuk sebuah badan penyelaras guna memastikan semua isu berkaitan pentadbiran pengambilan pembantu rumah dari Indonesia dapat diselesaikan. (c) Pembantu rumah diberi cuti satu hari/minggu oleh para majikan tetapi terpulang kepada majikan dan pembantu rumah untuk menetapkan hari cuti tersebut. Jika cuti tidak diberikan, maka pihak majikan akan membayar pampasan kepada pembantu rumah tersebut. (e) Semua kasus pembantu rumah diselesaikan oleh Kumpulan Kerja Bersama antara Malaysia dan Indonesia (g)Mengkaji semula Memorandum Persefahaman (MoU) mengenai tenaga kerja yang ditandatangani pada Mei 2006.

 Secara khusus pemerintah Malaysia (1) memastikan setiap majikan membuka akaun bank bagi pembantu rumah mereka supaya pihak Jabatan Tenaga Kerja (JTK), Kementerian Sumber Manusia dapat memantau pembayaran gaji kepada mereka. (2) Setiap pembantu rumah dilindungi oleh Akta Pampasan Pekerja. (3) Kontrak Standard Kerja disediakan oleh JTK untuk ditandatangani oleh majikan dan pembantu rumah mengenai tempoh kontrak dan sebagainya.

 4.    Model Kerjasama Pengiriman TKW Indonesia-Malaysia yang Profesional

 Model Kerjasama Pengiriman TKW yang Profesional adalah (1) Menyempurnakan atau memperbaharui MoU, terutama (a) Kenaikan upah menjadi Rp. 1.600.000,- s/d Rp 2.000.000,- (b) Paspor tetap dipertahankan (dibawa) oleh TKW (c) Pemberian hak untuk libur setiap akhir pekan (d) Pembentukan SATGAS bersama Indonesia-Malaysia) untuk penanganan kasus TKW (2) Membuat Undang-undang Ketenagakerjaan yang disepakati bersaman dan aturan pelaksanaannya (3) Aturan Hukum yang tegas bagi kedua belah pihak (4) Hak dan Kewajiban bagi TKW dan pengguna (5) Perlu adanya Persyaratan / Standar Resmi yang digunakan sebagai dasar (6) Perjanjian Kerja yang adil. (7) Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan anti Perbudakan, Diskriminasi, Persamaan Jender, dan Anti Perdagangan Manusia.

A.      Saran-Saran

Disarankan kepada pengambil kebijakkan hendaknya dalam menyusun strategi kebijakan penataan kependudukan, strategi dalam menciptakan kesempatan kerja, dan strategi pengembangan pengiriman tenaga kerja Indonesia secara profesional, antara lain (1) Sistem informasi kesempatan kerja yang menyangkut;  jaringan sosial dan jaminan kesehatan dan jaminan keamanan di daerah/negara potensi pengiriman TKI (2) Mendorong menyempurnakan atau memperbaharui MoU, terutama (a) Kenaikan upahTenaga Kerja Indonesia (b) Paspor tetap dipertahankan (dibawa) oleh TKW (c) Pemberian hak untuk libur setiap akhir pekan (d) Pembentukan SATGAS bersama untuk penanganan kasus-kasus yang terjadi (3) Membuat Undang-undang Ketenagakerjaan yang disepakati bersaman dan aturan pelaksanaannya (4) Aturan Hukum yang tegas bagi kedua belah pihak (5) Hak dan Kewajiban bagi TKW dan pengguna (6) Perlu adanya Persyaratan / Standar Resmi yang digunakan sebagai dasar (7) Perjanjian Kerja yang adil. (8) Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan anti Perbudakan, Diskriminasi, Persamaan Jender, dan Anti Perdagangan Manusia.

 Kepada Pemda, disarankan agar ada kebijakan untuk menfasilitasi TKI dan keluarganya, misalnya; perbankan (koperasi simpan pinjam), asuransi jaminan sosial, kesehatan dan keamanan TKI dan keluarganya.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Abdurrahman, Muslan. 2006. Ketidakpatuhan TKI Sebuah Efek Deskriminasi Hukum. Malang : UMM Press.

 

Abu-Loghod and Richard Hay  Jr. (eds.), Strid  World Urbanization, London, Longman.

 

ILO. 2000. Trafficking of Women and Children in Indonesia: A preliminary description of the situation. Jakarta.

 

Berger, P. and  T. Luckmann, 1967, The Social Construction of Reality, London, Allen Lane.

 

———–, 1990, Tafsir Sosial atas Kenyataan, Risalah Tentang Sosiologi Pengetahuan, Jakarta,  LP3ES.

 

———–, Langit Suci: Agama Sebagai Realitas Sosial, Jakarta, LP3ES.

 

BPPD Propinsi Jawa Tengah, 2008, Buku I Renvana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJM-D) Propinsi JawaTengah 2008-2013, Semarang, BPPB Propinsi JawaTengah.

 

Darwin, Muhadjir, dkk (Editor). 2005. Bagai Telur di Ujung Tanduk, Mobilitas Lintas Batas danEksploitasi Seksual di Kawasan Asia Tenggara dan Sekitarnya. Yogyakarta : Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan.

 

Faisal S., 1990, Penelitian Kualitatif: Dasar-dasar dan Aplikasi, Malang: YA3.

 

Firman T., 1994, Migrasi Antar Propinsi dan Pengembangan Wilayah di Indonesia, dalam Prisma No. 7 tahun XXIII Juli, LP3ES.

 

Gordon, S., 1991, The History and Philosopy of Science, London-New York : Routledge.

 

Lee, E. S., 1966, A Theory of Migration, Demography  3 (1) 47-57. Alexandria: Population Association of America.

 

Lincoln, Y. S., Guba, E.G., 1984, Naturalistic Inquiry, California: Sage Publication.

 

————, 1984, Teori migrasi, Seri Terjemahan No. 3, Yogjakarta, Pusat Peneitian Kependudukan, Universitas Gajah Mada.

 

———– , 1992, Teori Migrasi: Seri Terjemahan di Terjemahkan oleh Hans Daeng, ditinjau Kembali oleh Ida Bagus Mantra, Yogyakarta, Pusat Penelitian Kependudukan, Universitas Gajah Mada

 

Mardiyanto, 2003, Peraturan Daerah Propinsi Jawa Tengah No. 14 Tahun 2002 Tentang REPETADA Prop. Jateng, Semarang, Pemerintah Daerah Propinsi Jateng.

 

Mantra, I. B., 1981, Population Mobility  in West Java, Ph.d  Thesis. Yogyakarta: GajahMada  University Press.

 

———–, 1991, Population Movement In West Rice Communities: A Case Study of Two Dukuh In Yogyakarta Special Region, Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

 

———-, dan Sumantri, 1988, Migrasi Penduduk Aceh Berdasarkan Data Supas 1985, Jakarta, Kerjasama LDFE Universitas Syah Kuala dan Kantor Menteri Negara KLH.

 

Miles, B. M., Michael, H., 1984, Qualitative Data Analisys, dalam H.B. Sutopo, Taman Budaya Surakarta dan Aktivitas Seni di Surakarta, Laporan Penelitian, FISIPOL UNS.

 

Muhadjir, N., 1996, Metodologi Penelitian Kualitatif, (edisi III), Yogyakarta: penerbit Rakesarasin.

 

————, 1989, Metodologi Penelitian Kualitatif: telaah Positivistik Rasionalistik dan Phenomenologik, Yogyakarta: Rake Sarasin.

 

Muhamed, A K., 2007 dalam Chin Peklian, 2007,  Pengaruh Aspek Kebijakan Keatas Prestasi Kerja Pembantu Rumah Warga Indonesia dalam Pontian Johor, Malaysia, Fakulti Pendidikan Universiti Teknologi Malaysia.

 

Mulyantoro, A., 1991, Migran Asal Lamongan dan Keadaan Sosial Ekonominya, Kupang: Penelitian FKIP, Undana.

 

Peklian, C., 2007, Pengaruh Aspek Kebijakan Keatas Prestasi Kerja Pembantu Rumah Warga Indonesia dalam Pontian Johor, Malaysia, Fakulti Pendidikan Universiti Teknologi Malaysia.

 

Pongsapich, A. 1989. The Case of Asian Migrants to the Gulf Region, International Migration,  7(2): 171-183).

 

Ruhidini, 2006, Kebanjiran Pendatang Asing Sumbang Peningkatan Kadar Jenayah-Polis, Kuala Lumpur: Utusan Malaysia (2006, Ogos 21) p.3

 

Saefullah, A., D., 1994, Sisi Positif Negatif Migrasi: Studi kasus di Jawa Barat, dalam Prisma No. 7, Tahun XXIII, Jakarta, LP3ES.

Salladien, 1999, Perpindahan Tenaga Kerja Potensial Serta Dampaknya di Sekitar Pertanian, Malang, Media Center  Fakultas Pendidikan IPS, IKIP Malang.

Santoso, T., 2002, Kekerasan Politik-Agama: Suatu Studi Konstruksi Sosial tentang Perusakan Gereja di Situbondo, 1996, Ringkasan Disertasi, Surabaya, Pascasarjana UNAIR.

 

Simanjuntak, P.J., 2003, Undang-Undang Yang Baru Tentang Ketenagakerjaan, Jakarta, ILO/USA Declaration Project Indonesia.

 

Sjahrir, K., 1995, Pasar Tenaga Kerja Indonesia: Kasus Sektor Konstruksi, Center for Policy and Implementation Studies, CPIS. PT Temprint, Jakarta.

 

Subadi, T, 2004, Boro: Mobilitas Penduduk Masyarakat Tegalombo Sragen, Surabaya, Seri Disertasi UNAIR.

 

Sutomo, H., 1993, Hubungan Antara Mobilitas Horizontal dan Mobilitas Vertikal Migran Sirkuler Sektor Informal di Kota Wonosobo dan Cilacap, Yogyakarta, Disertasi, UGM.

 

Temple, P. G., 1974, Migration to Jakarta: Empirical Search for A Theory, University of  Wicconsin.

Todaro, Michael, P., 1992, Kajian Ekonomi Migrasi Internal di Negara Berkembang : Telaah Atas Beberapa Model, Seri Terjemahan No. 25, Pusat Penelitian Kependudukan, Yogyakarta, UGM.

                                           

———— ,  1976, Internal Migration in Developing Countries A Review of Theory, Evidence, Methodology, and Research Priorities, Geneva International Labour office.

 

———–  , 1979, Economic For A Developing  World an Introduction  to A Principle, Problems and Policies  for Development, Longman, London.

 

Sujata dan Tarik Zolkepli, 2007,  dalam Berita Berta Harian

 

Yulpisman Asli, Nizam Yatin dan Anand Kumar, 2007, dalam Harian Kompas

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Standard

Alih Publikasi Penelitian: PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN MATA KULIAH PSIKOLOGI UMUM

PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN MATA KULIAH PSIKOLOGI UMUM
DENGAN MODEL LESSON STUDYPADA PROGRAM STUDI PGSD FKIP-UMS

Tjipto Subadi Prodi Pendidikan Geografi FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta
Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Surakarta

 Email: tjiptosubadi@yahoo.com

  Abstract

 This study aims to examine 1) a quality improvement of General Psychology learning using a lesson study approach at study program of Primary School Teacher Training and Education (PGSD), School of Teacher Training and Education (FKIP), Muhammadiyah University of Surakarta (UMS); 2) effective stages of lesson study for a quality improvement of General Psychology learning; and 3) a model of innovative General Psychology learning.The class action research used a phenomenology qualitative approach. The subjects were the students of PGSD FKIP – UMS while the informants included leaders, lecturers and students. The data gathering employed the technique of interview and observation. The data analysis used a first order understanding and second order understanding with the interactive method, including data reduction, data display and conclusion.It could be concluded that a problem of a quality improvement of General Psychology is internal and external. The internal problem derives from the lectures themselves and the external one derives from leaders, students, curriculum and facilities. The effective stages of lesson study are as follows: 1) academic-oriented, 2) learning plan, 3) learning and observation process, and 4) reflection. The model of innovative learning is an improvement model of Quality of Co-operative) with a modified jigsaw technique.

 

 Keywords: lesson study, first order understanding and second order understanding.

 

 BAB I   PENDAHULUAN

 A.    Latar Belakang

 Dalam meningkatkan kualitas pembelajaran d Perguruan Tinggi khususnya Mata Kuliah Psikologi Umum banyak faktor yang harus diperhatikan, misalnya: dosen, mahasiswa, sarana dan prasarana, laboratorium dan kelengkapannya, lingkungan dan manajemennya, serta model pembelajarannya. Peningkatan kualitas pembelajaran dosen dengan model pembelajaran inovatif (inovative teaching modelling) pada program studi PGSD-FKIP-UMS akan berpengaruh pada prestasi akademik mahasiswa (calon guru) dan selanjutnya akan berimplikasi pada peningkatan kualitas pendidikan Indonesia yang sekarang ini kualitas pendidikan Indonesia berada pada posisi sangat memprihatikan jika dibandingkan dengan kualitas pendidikan di negara lain.

 Data UNESCO (2000) tentang Kualitas Pendidikan Indonesia berada pada posisi “sangat memprihatikan” bahwa catatan peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index) di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-120 (1996), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999). Menurut Survey Political and Economic Risk Consultant kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia di bawah  Vietnam. Data yang dilaporkan The World Economic Forum Swedia (2002), Indonesia memiliki daya saing rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke 37 dari 57 negara yang di survey di dunia.

 Balitbang (2003) mencatat bahwa dari 146.052 SD di Indonesia ternyata hanya 8 sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Primary Years Program (PYP). Dari 20.918 SMP di Indonesia ternyata juga hanya 8 yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Middle Years Program (MYP), dan dari 8.036 SMA ternyata hanya 7 sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Diploma Program (DP). Khusus kualitas guru (2002-2003) data guru yang layak mengajar, untuk SD hanya 21,07 % (negeri) dan 28,94% (swasta), untuk SMP 54,12 % (negeri) dan 60,09 % (swasta), untuk SMA 65,29  (negeri) dan 64,73 % (swasta), serta untuk SMK 55,49 % (negeri0 dan 58,26 % (swasta). Sedangkan data siswa menurut Trends in Mathematic and Science Study 2003/2004 mencatat bahwa siswa Indonesia (SD) hanya berada di rangking ke-35 dari 44 negara dalam hal prestasi matematika dan di rangking 37 dari 44 negara dalam hal prestasi sains. Dalam skala Internasional menurut Bank Dunia, Study IFA di Asia Timur menunjukkan ketrampilan membaca siswa kelas IV SD Indonesia berada pada tingkat rendah apabila dibandingkan dengan Negara lain yaitu Hongkong 75,5%, Singapura 74 %, Thailand 65,1 %, sedangkan Indonesia berada pada posisi 51,7 % (dalam Laporan Penelitian Tjipto Subadi, 2009: 50-51)

 Data-data tersebut di atas maknanya terdapat masalah-masalah dalam sistem pendidikan Indonesia. Pertama; masalah mendasar yakni kekeliruan paradigma pendidikan yang mendasari keseluruhan penyelenggaraan sistem pendidikan.  Kedua; masalah-masalah yang berkaitan dengan pendekatan dan metode pembelajaran. Ketiga; masalah lain yang berkaitan dengan aspek praktif/teknis penyelenggaraan pendidikan misalnya; biaya pendidikan, sarana fisik, rendahnya kesejahteraan guru, rendahnya kualitas guru dan rendahnya prestasi siswa, dan sebagainya.

 Upaya pemerintah meningkatkan mutu pendidikan, pada tahun 2005 pemerintah dan DPR RI telah mensyahkan Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Undang-undang ini menuntut penyesuaian penyelenggaraan pendidikan dan pembinaan guru/dosen agar guru/dosen menjadi profesional. Di satu pihak, pekerjaan sebagai guru/dosen akan memperoleh penghargaan yang lebih tinggi, tetapi di pihak lain pengakuan tersebut mengharuskan guru/dosen memenuhi sejumlah persyaratan agar mencapai standar minimal seorang profesional. Pengakuan terhadap guru/dosen sebagai tenaga profesional akan diberikan manakala guru/dosen telah memiliki antara lain kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikat pendidik yang dipersyaratkan  (Pasal 8). Kualifikasi akademik tersebut harus “diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana atau diploma empat” (Pasal 9). Sertifikat pendidik diperoleh guru setelah mengikuti pendidikan profesi (Pasal 10 ayat (1)). Adapun jenis-jenis kompetensi yang dimaksud pada undang-Undang tersebut meliputi, Kompetensi memprakarsai tindakan (initiating action), misalnya ingin mengadopsi suatu gagasan atau ingin menerapkan suatu strategi baru (2) monioting dan membenahi tindakan (­monitoring and adjusting action) dan (3) mengevaluasi tindakan (evaluation action) untuk menyiapkan laporan final dari progam secara lengkap.

 Sagor menyarankan, dari sudut inquiry maka kegiatan untuk memprakarsai tindakan biasanya berupa kegiatan mencari informasi yang akan membantu dalam memahami dan memecahkan masalah sehingga merupakan research for action. Selama pelaksanaan dilakukan monitoring dan pembenahan tindakan yang lebih berkaitan dengan apa yang dapat dilakukan sehingga merupakan research in action. Pada akhirnya kegiatan dilakukan evaluasi akhir untuk mengevaluasi tindakan yang lebih berfokus untuk mengevaluasi kinerja yang telah dilakukan sehingga merupakan research for action.

 Penelitian Sa’dun dkk (2006) yang berjudul “Pengembangan Model Pembelajaran Tematik untuk Kelas 1 dan 2 SD” berkesimpulan bahwa Model- model pembelajaran tematis untuk kelas 1 dan 2 SD yang berhasil disusun secara kolaboratid adalah model-model dan modul (worksheet) untuk tema-tema: Diri Sendiri, Keluarga, Lingkungan, Pengalaman, Kegemaran, dan Kesehatan- kebersihan dan keamanan. Dari sejumlah model dan modul (worksheet) yang telah disusun tersebut kualitasnya masih bervariasi, dan masih dalam bentuk matriks, yang selanjutnya perlu dinarasikan secara mengalir, disederhanakan, difinishing,  sehingga lebih mudah dipahami dan dapat diterapkan. Penelitian lain yang  dilakukan Agus Marsidi dkk (2006) yang berjudul “Pengembangan Model Sekolah Unggulan Sekolah Dasar di Propinsi Sulawesi Selatan” berkesimpulan antara lain “pada waktu mengajar mata pelajaran IPA, Matematika, IPS, dan Bahasa, Guru menekankan pada berbagai aspek seperti pengetahuan faktual, pengetahuan konseptual, pemecahan masalah, pengetahuan prosedural, dan proses berpikir  logis.” Penelitian ini dilakukan  untuk mengatasi persoalan kelangkaan model-model peningkatan kualitas guru yang berbasis riset. (dalam Tjipto Subadi, 2009:5).

 Penelitian dengan judul “Pengembangan Kualitas Pembelajaran Mata Kuliah Psikologi Umum dengan Model Lesson Study Pada Program Studi PGSD FKIP-UMS” dimaksudkan untuk menghasilkan sebuah produk yang berupa kualitas dosen melalui pelatihan lesson study. Dengan demikian diharapkan dapat membantu mengatasi sebagian masalah pendidikan sebagaimana diuraikan di atas.

 B.     Permasalahan Penelitian

 Permasalahan penelitian ini adalah (1) bagaimana permasalahan  peningkatan kualitas pembelajaran psikologi umum dengan pendekatan lesson study pada Program Studi PGSD-FKIP-UMS? (2) bagaimana langkah-langkah lesson study yang efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran mata kuliah psikologi umum pada Program Studi PGSD-FKIP-UMS? (3) bagaimana model pembelajaran inovatif dengan menggunakan pendekatan lesson study untuk meningkatkan   kualitas pembelajaran mata kuliah psikologi umum pada Program Studi PGSD-FKIP-UMS?

 C.    Tujuan Penelitian

 Penelitian ini menghasilkan produk berupa (1) identifikasi permasalahan peningkatan kualitas pembelajaran psikologi umum dengan pendekatan lesson study pada Program Studi PGSD-FKIP-UMS (2) langkah-langkah lesson study yang efektif untuk meningkatkan kualtias pembelajaran mata kuliah psikologi umum pada program Studi PGSD-FKIP-UMS (3) model pembelajaran inovatif dengan menggunakan pendekatan lesson study untuk meningkatkan kualitas pembelajaran mata kuliah psikologi umum pada Program Studi PGSD-FKIP-UMS.

 D.    Manfaat Penelitian

 Secara teoritis penelitian ini bermanfaat memberikan sumbangan ilmu pengetahuan sosial tentang : (1) permasalahan peningkatan kualitas pembelajaran psikologi umum dengan pendekatan lesson study pada Program Studi PGSD-FKIP-UMS (2) langkah-langkah lesson study yang efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran mata kuliah psikologi umum pada Program Studi PGSD-FKIP-UMS (3) model pembelajaran inovatif dengan menggunakan pendekatan lesson study untuk meningkatkan kualitas pembelajaran mata kuliah psikologi umum pada Program Studi PGSD-FKIP-UMS. Secara praktis, memberikan sumbangan pemikiran baik guru/dosen, LPTK dan birokrasi pendidikan (pemerintah) dalam menyusun strategi kebijakan peningkatan kualitas pembelajaran bagi guru/dosen.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

 A.     Kompetensi Guru

 Menurut Charles (1994 dalam Mulyasa, 2007: 25) kompetensi adalah perilaku yang rasional untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan. Sarimaya (2008: 17) memaknai kompetensi guru sebagai kebulatan pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang berwujud tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran. Sedangkan menurut Broke and Stone dalam Mulyasa (2007: 25) kompetensi guru sebagai; descriptive of qualitative nature of teacher behavior appears to be entrirely meaningful (kompetensi guru merupakan gambaran kualitatif tentang hakekat perilaku guru yang penuh arti).

 Dari pendapat tersebut di atas, maka jelas suatu kompetensi harus didukung oleh pengetahuan, sikap, dan apresiasi. Artinya, tanpa pengetahuan dan sikap tidak mungkin muncul suatu kompetensi tertentu. Sehingga kompetensi guru dapat dianggap kompeten jika memiliki kemampuan, pengetahuan dan sikap yang mampu mendatangkan apresiasi bagi guru.

 Menurut Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru menjelaskan bahwa standar kompetensi guru dikembangkan secara utuh dari empat kompetensi utama, yaitu: 1) Kompetensi Pedagogik. 2) Kompetensi Kepribadian. 3) Kompetensi Sosial. 4) Kompetensi Profesional.

 1)            Kompetensi Pedagogik. Yang termasuk kompetensi pedagogik antara lain (1) memahami peserta didik, (2) merancang pembelajaran, (3) melaksanakan pembelajaran, (4) merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran dan (5) mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

 2)            Kompetensi Kepribadian. Kompetensi kepribadian merupakan kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian: (1) mantap dan stabil, bertindak sesuai dengan norma hukum, norma sosial, bangga sebagai pendidik, konsisten dalam bertindak; (2) dewasa, menampilkan kemandirian dalam bertindak sebagai pendidik dan memiliki etos kerja; (3) arif, menampilkan tindakan yang didasarkan pada kemanfaatan peserta didik, sekolah, dan masyarakat yang menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak; (4) berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, memiliki perilaku yang berpengaruh positif terhadap peserta didik dan disegani; (5) berakhlak mulia dan menjadi teladan bagi peserta didik.

 3)            Kompetensi Profesional. Kompetensi profesional adalah suatu kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam hal menguasai substansi keilmuan yang terkait dengan bidang studi antara lain; (1) menguasai langkah-langkah penelitian dan kajian kritis untuk menambah wawasan, (2) memperdalam pengetahuan/materi bidang studi.

 4)            Kompetensi Sosial. Kompetensi ini antara lain; (1) mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik; (2) mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan sesama pendidik dan tenaga kependidikan; (3) mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar.

 Sebagai perbandingan, di salah satu Negara bagian Amerika Serikat yaitu Florida. Menurut Suell dan Piotrowski (2006) Negara menetapkan 12 kompetensi guru yang dikenal sebagai “Educator Accomplished Practices” yaitu meliputi; (1) penilaian, (2) komunikasi, (3) kemajuan berkelanjutan, (4) pemikiran kritis, (5) keanekaragaman, (6) etika, (7) pengembangan manusia dan pelajaran, (8) pengetahuan pokok, (9) belajar lingkungan, (10) perencanaan, (11) peran guru, dan (12) teknologi, (http://proquest.umi.com diakses pada 12 Juni 2009 12:15).

 B.     Model Pembelajaran Inovatif

 Guru adalah jabatan dan pekerja profesional, indikator untuk mengukur keprofesionalan adalah jika kelas yang diasuh menjadi “surganya siswa untuk belajar”, atau “kehadiran seorang sebagai guru di kelas selalu dinantikan siswa”. (Sugiyanto, 2008: 5). Sudahkah pembelajaran kita mencapai kondisi yang demikian? Selain tugas profesional tersebut guru juga harus berperan sebagai sumber belajar, fasilitator, pengelola, demonstrator, pembimbing, motivator dan evaluator. Jika peran ini dijalankan dengan baik dan benar maka usaha memberikan pelayanan pembelajaran yang optimal kearah pendekatan Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAIKEM) Insya Allah dapat dicapai. Perlu diingat bahwa kemampuan menerapkan pendekatan PAIKEM tersebut diperlukan model pembelajaran yang inovatif. Joyce dan Weil (1986) menjelaskan bahwa hakikat mengajar adalah membantu siswa memperoleh informasi, ketrampilan, nilai, cara berfikir, sarana untuk mengekspresikan dirinya, dan cara belajar bagaimana belajar.

 Banyak model pembelajaran yang dikembangkan oleh para ahli dalam usaha meningkatkan kualitas guru, antara lain; Model Pembelajaran  Konstektual, Model Pembelajaran Quantum, Model Pembelajaran Terpadu, Model Pembelajaran Kooperatif, dan Model Pembelajaran Berbasis Masalah.

 1.      Model Pembelajaran Kontektual

 Model Pembelajaran Konstektual (Constextual Teaching and Learning) adalah konsep pembelajaran yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa, model ini juga mendorong siswa membuat hubungan pengetahuan antara pengetahuan yang dimiliki dan penerapannya dalam kehidupan mereka sendiri-sendiri. Pengetahuan dan ketrampilan siswa diperolah dari usaha siswa mengkontruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru ketika ia belajar. Menurut Nurhadi (2002) pendekatan pembelajaran kontektual memiliki tujuh kompenen, yaitu: (1) Constructivism (Konstruktivisme), (2) Inquiry (Menemukan, (3) Questioining (Bertanya), (4) Learning Community (Masyarakat Belajar), (5) Modelling (Pemodelan), (6) Reflection (Refleksi), (7) Authentic Assesment (Penilaian yang Sebenarnya).

 Penjelasan dari ketujuh komponen ini menurut Harta (2009: 41) adalah sebagai berikut; konstruktivisme adalah suatu pembelajaran yang menekankan terbentuknya pemahaman siswa secara aktif, kreatif dan produksi berdasarkan  pengetahuan terdahulu dan dari pengalaman belajar yang bermakna. Sedangkan Inquiry (menemukan) merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontektual yang diawali dengan pengamatan terhadap fenomena, yang dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan bermakna untuk menghasilkan temuan yang diperoleh sendiri oleh siswa. Langkah-langkah inkuiri dimulai dari observasi, bertanya, hipotesis, pengumpulan data, dan penyimpanan.

 Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari questioning (bertanya). Bertanya merupakan strategi pokok dalam pembelajaran yang berbasis kontektual. Strategi ini dipandang sebagai upaya guru yang dapat membantu siswa untuk mengetahui sesuatu, memperoleh informasi, sekaligus mengetahui perkembangan kemampuan berpikir siswa. Sehingga penggalian informasi menjadi lebih efektif, terjadinya pemantapan pemahaman lewat diskusi, bagi guru bertanya kepada siswa bisa mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa.

 Learning Community (Masyarakat belajar) yaitu hasil belajar bisa diperoleh dengan berbagai antar teman, antar kelompok, antar yang tahu kepada yang belum tahu, baik di dalam maupun di luar kelas. Adapun prinsipnya adalah hasil belajar yang diperoleh dari kerja-sama, sharing terjadi antara pihak yang memberi dan menerima, adanya kesadaran akan manfaat dari pengetahuan yang mereka dapat.

 Maksud dari Modelling (pemodelan) dalam pembelajaran kontektual bahwa pembelajaran ketrampilan atau pengetahuan tertentu diikuti dengan model yang bisa ditiru oleh siswa. Misalnya cara menggunakan sesuatu, menunjukkan hasil karya, mempertontonkan suatu penampilan, Cara semacam ini akan lebih cepat dipahami oleh siswa. Adapun prinsip yang perlu diperhatikan oleh guru adalah contoh yang bisa ditiru, contoh yang dapat diperoleh langsung dari ahli yang berkompeten.

 Reflection (Refleksi) juga bagian penting dalam pembelajaran dengan pendekatan kontektual. Refleksi adalah cara berpikir tentang apa-apa yang baru dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan pada masa lalu. Siswa mengedepankan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan baru yang merupakan pengayaan sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian aktivitas atau pengalaman yang terjadi dalam pembelajaran siswa akan menyadari pengetahuan yang baru diperolehnya adalah pengayaan      dari pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Adapun prinsip dalam penerapannya adalah perenungan atas sesuatu pengetahuan yang baru diperoleh respon atas kejadian atau penyampian penilaian atas pengetahuan yang baru diterima.

 Sedangkan yang dimaksud Authentic Assesment (penilaian yang sebenarnya) adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Sehingga penilaian autentik diarahkan pada proses mengamati, menganalisi, dan menafsirkan data yang telah terkumpul ketika proses pembelajaran berlangsung. Adapun penerapannya adalah untuk mengetahui perkembangan belajar siswa, penilaian dilakukan secara komprehensif antara penilaian proses dan hasil, guru menjadi penilai yang konstruktif, memberikan siswa kesempatan untuk mengembangkan penilaian diri.

 2.      Model Pembelajaran Kuantum

 Model ini disajikan sebagai salah satu strategi yang dapat dipilih guru agar pembelajaran dapat berlangsung secara menyenangkan (enjoyful learning). Model ini merupakan ramuan dari berbagai teori psikologi kognitif dan pemrograman neurologi/neurolinguistik yang jauh sebelumnya sudah ada. Penggagas model ini De Porter dalam Quantum Learning (1999: 16) ia menjelaskan bahwa Quantum Learning menggabungkan usgestologi, teknik diantaranya konsep-konsep kunci dari berbagai teori, seperti; Teori otak kanan/kiri, Teori otak triune, Pilihan modalitas (visual, auditorial, dan kinestetik), Teori kecerdasan ganda, Pendidikan holistik, Belajar berdasarkan pengalaman, Belajar dengan simbol, Belajar dengan simulasi/permainan.

 Ada beberapa karakteristik umum, menurut De Porter dalam Sugiyanto (2008: 11) yang tampak membentuk sosok pembelajaran kuantum; 1) Berpangkal pada psikologi kognitif. 2) Lebih bersifat humanistis, manusia selaku pembelajar menjadi pusat perhatian. 3) Lebih bersifat kontruktivistis, bukan positivistis-empiris, beharioristis, dan atau naturasionistis. 4) Memadukan, menyinergikan, dan mengolaborasikan faktor potensi diri manusia selaku pembelajar dengan lingkungan (fisik dan mental) sebagai konteks pembelajaran. 5) Memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna, bukan sekedar transaksi makna. 6) Menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi. 7) Menekankan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran, bukan keartifialan atau keadaan yang dibuat-buat. 8) Menekankan kebermaknaan dan kebermutuan proses pembelajaran. 9) Memadukan konteks dan isi pembelajaran. 10) Memusatkan perhatian pada pembentukan keterampilan akademis, keterampilan hidup, dan prestasi fisikal atau material. 11) Menempatkan nilai dan keyakinan sebagai bagian penting proses pembelajaran. 12) Mengutamakan keberagaman dan kebebasan, bukan keseragaman dan ketertiban. 13) Mengintegrasikan totalitas tubuh dan pikiran dalam proses pembelajaran.

 Sebagai kerangka operasional pembelajarannya, model kuantum memperkenalkan konsep TANDUR (Tumbuhkan, Alami, Namai, Ulangi, dan Rayakan).

 3.      Model Pembelajaran Terpadu

 Model pembelajaran terpadu penting disajikan, karena dalam Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi, IPS dan IPA merupakan mata pelajaran di SMP yang harus disajikan secara terpadu, namun penerapan model pembelajaran terpadu tersebut menemui banyak hambatan di lapangan karena memberikan beban berat bagi guru IPS dan IPA. Hal ini disebabakan: (1) Semua guru IPS dan IPA di SMP tidak ada yang berlatar belakang Pendidikan IPS/IPA tetapi hanya berlatar belakang salah satu pendidikan IPS/IPA yaitu; (sarjana pendidikan sejarah, sarjana pendidikan ekonomi, dan sarjana pendidikan geografi, sarjana pendidikan fisika, sarjana pendidikan biologi, sarjana pendidikan kimia), sehingga materi ajar yang dikuasai guru hanyalah materi salah satu dari rumpun IPS/IPA tersebut. (2) Selama kuliah para guru belum diajarkan mengemas bahan ajar dengan model terpadu.

 Model pembelajaran terpadu menurut Ujang Sukamdi dkk (2001: 3) pengajaran terpadu pada dasarnya sebagai kegiatan mengajar dengan memadukan beberapa mata pelajaran dalam satu tema. Dengan demikian, pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dengan cara ini dapat dilakukan dengan mengajarkan beberapa materi pelajaran disajikan tiap pertemuan. Menurut Anitah (2003: 16-17) pembelajaran terpadu mempunyai banyak keuntungan dan kelebihan: (1) Dapat meningkatkan kedalaman dan keluasan dalam belajar. (2) Memberikan kesadaran metakognitif kepada pembelajar. (3) Memudahkan pembelajar untuk memahami alasan mengerjakan sesuatu yang dikerjakan. (4) Hubungan antara isi dan proses pembelajaran menjadi lebih jelas. (5) Transfer konsep antar isi bidang studi lebih baik.

 Menurut Forgaty (1991 : 5) membagi 10 model yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran terpadu, yaitu ; (1) Fragmented model, (2) Connected model, (3) Nested model, (4) Sequenced model, (5) Share model, (6) Webbed model, (7) Threathed model, (8) Networked model, (9) Immersed model, (10) Integrated model. Kesepuluh model pembelajaran terpadu tersebut merupakan suatu kontinum dari model yang terpisah sampai model dengan keterpaduan yang komplek. Dari sepuluh model tersebut menurut Hamid (1997: 112) dapat direduksi menjadi lima langkah untuk perencanaan pembelajaran terpadu, yaitu; (a) pemetaan kompetensi dasar, (b) penentuan tema, (c) penjabaran KD ke dalam indikator, (d) pengembangan silabi, (e) penyusunan skenario pembelajaran.

 4.      Model PBL (Problem Based Learning)

 Model PBL mengambil psikologi kognitif sebagai dukungan teoritisnya. Menurut Sugiyanto (2008: 14-15) PBL fokusnya tidak banyak pada apa yang sedang dikerjakan siswa (perilaku mereka), tetapi pada apa yang siswa pikirkan (kognisi mereka) selama mereka mengerjakannya. Meskipun peran guru dalam pelajaran yang berbasis masalah kadang-kadang juga melibatkan, mempresentasikan, dan menjelaskan berbagai hal kepada siswa, tetapi guru lebih harus sering memfungsikan diri sebagai pembimbing dan fasilitator sehingga siswa dapat belajar untuk berpikir dan menyelesaikan masalahnya sendiri. Membuat siswa berpikir, menyelesaikan masalah, dan menjadi pelajar yang otonom bukan tujuan baru bagi pendidik. Berbagai strategi mengajar, seperti discovery learning, inquiry learning, dan inductive teaching memiliki sejarah panjang.

 John Dewey (1993) mendiskripsikan secara cukup terperinci tentang nilai penting dari reflekctivethinking (berpikir reflektif) dan proses-proses yang semestinya digunakan guru untuk membantu siswa memperoleh ketrampilan dan proses berpikir produktif. Jerome Bruner (1962) menekankan nilai penting dari discovery learning dan bagaimana guru semestinya membantu pelajar untuk menjadi “konstruksionos” terhadap pengetahuannya sendiri. Richard Suchman mengembangkan pendekatan yang disebut inquiry training yang gurunya menyodorkan berbagai situasi yang membingungkan kepada siswa dan mendorong mereka untuk menyelidiki dan mencari jawabannya.

 Ada lima tahapan dalam pembelajaran model PBL yang utama, yaitu: 1) Orientasi tentang permasalahan. 2) Mengorganisasikan diri untuk meneliti. 3) investigasi mandiri dan kelompok. 4) Pengembangan ide dan mempresentasikan laporan hasil penyelidikan. 5) Menganalisis dan mengevaluasi proses mengatasi masalah.

 Banyaknya model pembelajaran tersebut tidaklah berarti semau guru menerapkan semua model untuk setiap bidang studi, karena tidak semua model pembelajaran itu cocok untuk setiap pokok bahasan dalam setiap bidang studi. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih model pembelajaran, yaitu; (1) Tujuan yang akan dicapai. (2) Sifat bahan/materi ajar. (3) Kondisi siswa. (4) Ketersediaan sarana prasarana belajar. Depdinkas (2005) menjelaskan ada 8 prinsip dalam memilih model pembelajaran, yaitu; (a) Berorientasi pada tujuan. (b) Mendorong aktivitas siswa. (c) Memperhatikan aspek individu siswa. (d) Mendorong proses interaksi. (e) Menantang siswa untuk berpikir. (f) Menimbulkan inspirasi siswa untuk berbuat dan menguji. (g) Menimbulkan proses belajar yang menyenangkan. (h) Mampu memotivasi siswa belajar lebih lanjut.

 5.      Model Pembelajaran Kooperatif

 Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. Menurut Harta (2009: 45) prinsip dasar pembelajaran kooperatif dikembangkan berpijak pada beberapa pendekatan yang diasumsikan mampu meningkatkan proses dan hasil belajar siswa. Pendekatan yang dimaksud adalah belajar aktif, konstruktivistik, dan kooperatif, hal ini dimaksudkan untuk menghasilkan suatu teknik yang memungkinkan siswa dapat mengembangkan potensinya secara optimal. Lie (2004: 27) dalam Sugiyanto (2008: 10) menjelaskan bahwa pembelajaran kooperatif menciptakan interaksi yang asah, asih, dan asuh sehingga tercipta masyarakat belajar (learning community). Siswa tidak hanya belajar dari guru, tetapi juga dari sesama siswa. Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang di dalamnya terdapat elemen-elemen yang saling terkait. Elemen-elemen itu, adalah (1) Salilng ketergantungan positif. (2) Interaksi tatap muka. (3) Akuntabilitas individu. (4) Keterampilan untuk menjalin hubungan antar pribadi atau keterampilan untuk menjalin hubungan antar pribadi atau keterampilan sosial yang secara sengaja diajarkan.

 Ada lima tahapan dalam Model Pembelajaran Kooperatif, yaitu; (1) Mengklarifikasi tujuan dan estlablishing set. (2) Mempresentasikan informasi/ mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompok belajar. (3) Membentuk kerja kelompok belajar. (4) Mengujikan berbagai materi. (5) Memberikan pengakuan.

 Model Pembelajaran Kooperatif ini dikembangkan menjadi enam model, yaitu; (a) Student Teams Achievement Division (STAD) (b) Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) (c) Jigsaw (d) Learning Together (e) Group Investigation, dan (f) Cooperative Scripting.

 a.      Student Team Achievement Division (STAD)

 Suatu model kooperatif yang mengelompokkan berbagai tingkat kemampuan yang melibatkan pengakuan tim dan tanggung jawab kelompok untuk pembelajaran individual. Metode ini dikembangkan oleh Robert Slavin (1994) metode ini dilaksanakan dengan mengelompokkan siswa yang beranggotakan 4 siswa perkelompok yang berbeda dalam tingkat kemampuannya. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut: (1) Guru membagi kelas (siswa) menjadi beberapa kelompok, tiap kelompok beranggotakan 4-5 siswa yang heterogen kemampuannya. (2) Guru membagikan topik/bahasan/lembar kerja akademik kepada tiap-tiap kelompok (3) Kerja kelompok untuk membahas topik tersebut, anggota kelompok saling membantu untuk menguasai bahan ajar melalui tanya jawab atau diskusi antar sesama anggota kelompok. (4) Guru memberikan evaluasi untuk mengetahui penguasaan mereka terhadap bahan akademik yang telah mereka pelajari. (5) Guru memberi skor atas pekerjaan dari siswa. (6) Dan kemudian guru memberi hadiah kepada setiap siswa yang berhasil, sebaliknya guru memberi hukuman yang mendidik kepada yang kurang berhasil, misalnya menyanyi, menghafal surat-surat Al Qur’an yang pendek.

 b.      Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)

 Suatu model pembelajaran yang komprehenship untuk mengajarkan membaca dan menulis di kelas-kelas atas, para siswa bekerja dalam beberapa tim yang beranggotakan empat siswa. Stevens & Slavin (1995) dalam Harta (2009: 54) menjelaskan bahwa CIRC adalah suatu program komprehensif untuk pembelajaran memabca dan menulis di sekolah dasar, terutama untuk kelas 4, 5 dan 6. adapun gambaran pelaksanaan pembelajaran CIRC antara lain; Para siswa bekerja dalam beberapa kelompok yang masing-masing beranggotakan empat orang. Mereka melakukan serangkaian kegiatan satu sama laiinya, termasuk membacakan, memperkirakan kelanjutan cerita naratif, menyimpulkan cerita yang dibaca siswa lain, merespons suatu cerita, berlatih mengeja, menafsirkan, dan kosa kata.

 c.       Jigsaw

 Jigsaw adalah suatu pendekatan kooperatif yang setiap timnya beranggotakan 4-6 siswa yang akan mempelajari bahan pembelajaran yang telah dibagi atas enam bagian, satu bagian untuk satu anggota. Dalam Jigsaw setiap kelompok akan mempelajari materi yang telah dibagi atas enam bagian. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut : (1) Guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok (beberapa tim), tiap kelompok/tim anggotanya terdiri dari 4 – 6 siswa dengan karakteristik yang heterogen. (2) Bahan akademik disajikan kepada siswa dalam bentuk teks; dan setiap siswa bertanggung jawab untuk mempelajari suatu bagian dari bahan akademik tersebut. (3) Para anggota dari beberapa tim yagn berbeda memiliki tanggung jawab untuk mempelajari suatu bagian akademik yang sama dan selanjutnya berkumpul untuk saling membantu mengkaji bagian bahan tersebut. Kumpulan siswa semacam ini disebut “kelompok pakar”  (expert group) (4) Selanjutnya para siswa yang berada dalam kelompok pakar kembali ke kelompok semula (home teams) untuk mengajar anggota lain mengenai materi yang telah dipelajari dalam kelompok pakar. (5) setelah diadakan pertemuan dan diskusi dalam “home teams”, para siswa dievaluasi secara individual mengenai bahan yang telah dipelajari. Dalam metode Jigsaw versi Slavin, pemberian skor dilakukan seperti dalam metode STAD. Individu atau tim yang memperoleh skor tinggi diberi penghargaa oleh guru.

 d.      Learning Together

 Learning Together adalah suatu pendekatan kooperatif yang setiap kelompok heterogen beranggotakan empat-lima siswa untuk membahas materi secara bersama-sama. Pendekatan kooperatif heterogen yang dikembangkan oleh David Johson and Roger Johson (1999) ini menugaskan setiap kelompok bekerja sama untuk membahas suatu materi. Setiap kelompok mengumpulkan hasil pembahasan dan menerima penghargaan berdasarkan apa yang dihasilkan oleh kelompok tersebut. Model ini menekankan pada kegiatan-kegiatan untuk pembentukan kebersamaan kelompok sebelum bekerja dan diskusi dalam kelompok tentang seberapa baik mereka bekerja sama.

 e.       Group Investigation

 Menurut Harta (2009: 54) Group Investigation adalah suatu pendekatan kooperatif dalam kelompok-kelompok kecil menggunakan teknik inkuiri, diskusi kelompok, dan perencanaan bersama dan proyek. Hasil penyelidikan kemudian disajikan kepada seluruh kelas.

 Menurut pendapat (Sharan & Sharan, 1992) Group Investigation merupakan rencana organisasi kelas biasa di mana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil menggunakan model inkuiri, diskusi kelompok, dan perencanaan bersama dan proyek. Dalam model ini, para siswa membentuk sendiri kelompoknya (2 – 6 orang peserta didik). Setelah memilih subtopik dari topik yang sedang dipelajari oleh seluruh kelas, setiap kelompok memecah subtopik tersebut menjadi tugas-tugas individu untuk dilaksanakan dan dilaporkan sebagai bagian dari tugas kelompok. Masing-masing kelompok kemudian mempresentasikan temuannya kepada seluruh kelas. Adapun langkah-langkah pembelajarannya Group Investigation menurut Sugiyanto (2008: 45-46) adalah : (1) Seleksi topik. Para siswa memilih berbagai subtopik dalam suatu masalah umum yang biasanya digambarkan lebih dahulu oleh guru. Para siswa diorganisasikan menjadi kelompok-kelompok yang berorientasi pada tugas (task oriented group) yagn beranggotakan 2 hingga 6 orang. Komposisi kelompok bersifat heterogen baik dalam jenis kelamin, etnik, maupun kemampuan akademik. (2) Merancakan kerja sama. Para siswa dan guru merencanakan berbagai prosedur belajar khusus tugas, dan tujuan umum yang konsisten dengan berbagai topik dan subtopik yang telah dipilih seperti langkah di atas. (3) Implementasi. Para siswa melaksanakan rencana yang telah dirumuskan pada langkah sebelumnya. Pembelajaran harus melibatkan berbagai aktivitas dan ketrampilan dengan variasi yang luas dan mendorong para siswa untuk menggunakan berbagai sumber baik yang terdapat di dalam maupun di luar sekolah. Guru secara terus-menerus mengikuti kemajuan tiap kelompok dan memberikan bantuan jika diperlukan. (4) Analisis dan sintesis. Para siswa menganalisis dan mensintesiskan berbagai informasi yang diperoleh pada langkah sebelumnya dan merencanakan peringkasan dalam suatu penyajian yang menarik di depan kelas. (5) Penyajian hasil akhir. Semua kelompok siswa terlibat dan mencapai perspektif yang luas mengenai topik tersebut. Presentasi kelompok dikoordinasikan guru. (6) Evaluasi selanjutnya. Guru beserta para siswa melakukan evaluasi mengenai konstribusi tiap kelompok terhadap pekerjaan kelas sebagai suatu keseluruhan. Evaluasi dapat mencapuk tiap siswa secara individual atau kelompok atau keduanya.

 f.       Cooperative Scripting

 Suatu pengkajian yang menuntut siswa bekerja berpasangan dan secara bergiliran secara lisan menyimpulkan bagian-bagian yang akan dipelajari. Banyak siswa yang menyukai bersama dengan teman sekelas mendiskusikan materi yang mereka dengar atau pelajari di kelas. Formalisasi latihan dengan teman sebaya ini telah diteliti oleh Dansereau (1985) dan rekan-rekannya. Dalam penelitian ini, para siswa belajar berpasangan dan secara bergilir membuat kesimpulan untuk materi yang dipelajarinya. Sementara seorang siswa menyimpulkan untuk rekannya, siswa lainnya mendengarkan dan mengkoreksi setiap kesalahan atau kekurangannya, jika ada. Kemudian kedua siswa bertukar peran, dengan kegiatan yang sama sehingga semua materi telah dipelajari. Penelitian-penelitian yang berhubungan dengan model ini secara konsisten menemukan bahwa para siswa yang mengikuti model ini jauh melebihi siswa yang menyimpulkan atau membaca sendiri (Newbern, Dansereau, Patterson & Wallace, 1994). Penelitian lain menemukan bahwa siswa yang mengajar lebih tinggi dibandingkan dengan rekannya yang berperan sebagai pendengar (Spurlin, Dansereau, Larson & Brooks, 1984; Fuchs & Fuchs, 1997; King, 1997, 1998).

 C.     Peningkatan Kualitas Pembelajaran

 Peningkatan kualitas pembelajaran adalah usaha untuk menjadikan pembelajaran lebih baik sesuai dengan kondisi-kondisi yang dapat diciptakan atau diusahakan. Kriterianya bersifat normatif yaitu hasil tindakan dianalisis dengan metode alur kemudian dibandingkan dengan kondisi sebelumnya. Peningkatan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah peningkatan kualitas pembelajaran/perkuliahan mata kuliah psikologi umum, di mana peningkatan pembelajaran ini diharapkan berpengaruh kepada prestasi mahasiswa penempuh mata kuliah psikologi umum tersebut lebih baik.

 Kegiatan pembelajaran di Perguruan Tinggi merupakan bagian dari kegiatan pendidikan pada umumnya, yang secara otomatis meningkatkan kualitas mahasiswa ke arah yang lebih baik. Bila diamati keberhasilan dalam pendidikan tidaklah lepas dari kegiatan pembelajaran. Keberhasilan dalam pembelajaran di Perguruan Tinggi biasanya diukur dengan keberhasilan mahasiswanya dalam memahami dan menguasai materi yang diberikan. Semakin banyak mahasiswa yang dapat mencapai tingkat pemahaman dan penguasaan materi, maka semakin tinggi keberhasilan dari pembelajaran tersebut.

 Pembelajaran sebagai pembinaan ke arah perilaku yang bertanggung jawab terhadap lingkungan hidup harus direncanakan dan dilaksanakan secara kondusif dan menyenangkan, sehingga mahasiswa memiliki motivasi dan perhatuian untuk belajar lebih jauh. Karena itu maka pembelajaran yang efektif seyogyanya menggunakan berbagai macam pendekatan, metode dan media pembelajaran (pendidikan) yang dapat menyenangkan dan menarik perhatian.

 Pembelajaran pada hakikatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungan, sehingga terjadi perubahan perilaku yang lebih baik (Mulyasa, 2002: 100). Pembelajaran adalah penciptaan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar. Sistem lingkungan ini terdiri dari komponen-komponen yang saling mempengaruhi, yaitu tujuan instruksional yang ingin dicapai, materi yang diajarkan, guru dan siswa / mahasiswa yang harus memainkan peranan, serta ada hubungan sosial tertentu, jenis kegiatan yang dilakukan, sarana dan prasarana belajar mengajar yang tersedia (Hasibuan, 2006: 3). “Pembelajaran merupakan kegiatan mengatur dan mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar sehingga dapat mendorong dan menumbuhkan siswa melakukan kegiatan belajar”. (Sudjana, 2005: 7).

 Dari uraian pembelajaran tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran adalah usaha sadar dari pengajar/guru/dosen untuk membuat proses belajar-mengajar terjadinya perubahan tingkah laku pada diri pelajar/siswa/mahasiswa yang berlaku dalam waktu relatif lama. Karena itu dalam guru mengajar/dosen memberi kuliah, bagaimana siswa/mahasiswa dapat mempelajari bahan sesuai tujuan. Usaha yang dilakukan guru/dosen merupakan serangkaian peristiwa yang dapat mempengaruhi siswa/mahasiswa. Peran guru/dosen bukan sebagai penyampai informasi, melainkan sebagai motivator, organisator, fasilitator, dalam pembelajaran.

 D.     Lesson Study

  1. Tinjuan Sejarah

Lesson Study di Jepang. Lesson Study dikembangkan di Jepang sejak tahun 1900-an. Guru-guru di Jepang mengkaji pembelajaran melalui perencanaan dan observasi bersama yang bertujuan untuk memotivasi siswa-siswinya aktif belajar mandiri. Lesson Study merupakan terjemahan langsung dari bahasa Jepang jogyokenkyu, yang berasal dari dua kata yogyo yang berarti lesson atau pembelajaran, dan kentyu yang berarti study atau research atau pengkajian. Dengan demikian lesson study merupakan study atau penelitian atau pengkajan terhadap pembelajaran. (Tim UPI, 2007: 20)

 Lesson Study bisa dilaksanakan oleh kelompok guru-guru di suatu distrik atau diselenggarakan oleh kelompok guru sebidang, semacam MGMP di Indonesia. Kelompok guru dari beberapa sekolah berkumpul untuk melaksanakan lesson study. Lesson Study yang sangat populer di Jepang adalah yang diselenggarakan oleh suatu sekolah dan dikenal sebagai konaikenshu yang berkembang sejak tahun 1960-an. Konaikenshu juga dibentuk oleh dua kata yaitu konai yang berarti di sekolah dan kata kenshu yang berarti tanning. Jadi istilah konaikenshu berarti school-based in-service training atau in service education within the school atau in house workshop. Pada tahun 1970-an pemerintah Jepang merasakan manfaat dari konaikenshu dan sejak itu pemerintah Jepang mendorong sekolah-sekolah untuk melaksanakan konaikenshu dengan menyediakan dukungan biaya dan insentif bagi sekolah yang melaksanakan konaikenshu. Kebanyakan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di Jepang melaksanakan konaikenshu. Walaupun pemerintah Jepang telah menyediakan dukungan biaya bagi sekolah-sekolah untuk melaksanakan konaikenshu teatpi kebanyakan sekolah melaksanakan secara sukarela karena sekolah merasakan manfaatnya (Tim Lesson Study UPI, 2007: 20-21).

 Lesson Study Telah Menjadi Milik Dunia. The Third International Mathematics and Science Study (TIMSS) merupakan studi untuk membandingkan pencapaian hasil belajar matematika dan IPA kelas 8 (kelas 2 SMP). Penyebaran lesson study di dunia pada tahun 1995 di latar belakangi oleh TIMSS. Empat puluh satu negara terlibat dalam TIMSS, dua puluh dari empat puluh satu negara memperoleh skor rata-rata matematika yang signifikan lebih tinggi dari Amerika Serikat. Negara-negara yang memperoleh skor matematika yang lebih tinggi dari Amerika Serikat antara lain Singapura, Korea, Jepang, Kanada, Prancis, Australia, Ireland. Sementara hanya 7 negara yang memperoleh skor matematika secara signifikan lebih rendah dari Amerika Serikat, yaitu Lithuania, Cyprus, Portugal, Iran, Kuwait, Colombia, dan Afrika Selatan.

 Posisi pencapaian belajar matematika siswa-siswi SMP Kelas 2 (dua) di Amerika Serikat membuat negara itu melakukan studi banding pembelajaran matematika di Jepang dan Jerman. Tim Amerika Serikat melakukan perekaman video pembelajaran matematika di Jepang, Jerman, dan Amerika Serikat untuk dilakukan analisis terhadap pembelajaran terssebut. Pada waktu itu, Tim Amerika Serikat menyadari bahwa Amerika Serikat tidak memiliki sistem untuk melakukan peningkatan mutu pembelajaran, sementara Jepang dan Jerman melakukan peningkatan mutu pembelajaran secara berkelanjutan. Amerika Serikat selalu melakukan reformasi tapi tidak selalu melakukan peningkatan mutu. Selanjutnya ahli-ahli pendidikan Amerika Serikat belajar dari Jepang tentang lesson study. Sekarang lesson study telah berkembang di sekolah-sekolah di Amerika Serikat dan diyakini lesson study sangat potensial untuk pengembangan keprofesionalan pendidik yang akan berdampak pada peningkatan mutu pendidikan. Selain itu lesson study juga telah berkembang di Australia.

 Lesson Study di Indonesia. Lesson Study berkembang di Indonesia melalui IMSTEP (Indonesia Mathematics anda Science Teacher Education Project) yang diimplementasikan sejak Oktober tahun 1998 di tiga IKIP yaitu IKIP Bandung (sekarang bernama Universitas Pendidikan Indonesia/UPI), IKIP Yogjakarta (sskarang bernama Universitas Negeri Yogyakarta/UNY) dan IKIP Malang (sekarang bernama Universitas Negeri Malang / UNM) bekerja sama dengan JICA (Japan International Cooperation Agency). Tujuan Umum dari IMSTEP adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan matematika dan IPA di Indonesia, sementara tujuan khususnya adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan matematika dan IPA di tiga IKIP yaitu IKIP Bandung, IKIP Yogyakarta, dan IKIP Malang. Pada permulaan implementasi IMSTEP, UPI, UNY, dan UM berturut-turut bernama IKIP Bandung, IKIP Yogyakarta, dan IKIP Malang.

  1. Konsep Dasar Lesson Study

 Lesson Study merupakan suatu model pembinaan profesi guru melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun learning community. Lesson Study bukan suatu metode pembelajaran atau suatu strategi pembelajaran, tetapi dalam kegiatan lesson study dapat memilih dan menerapkan berbagai metode/strategi pembelajaran yang sesuai dengan situasi, kondisi, dan permasalahan yang dihadapi pendidik.

 Lesson Study dapat merupakan suatu kegiatan pembelajaran dari sejumlah guru/dosen dan pakar pembelajaran yang mencakup; (1) tahap perencanaan (planning), (2) tahap implementasi (action) pembelajaran dan observasi, dan (3) tahap refleksi (reflection) terhadap perencanaan dan implementasi pembelajaran tersebut dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran.

 a.      Tahap perencanaan

 Pada tahap ini hal-hal yang akan dilakukan adalah: Pertama, Identifikasi masalah pembelajaran yang ada di kelas yang akan digunakan untuk kegiatan lesson study, dan perencanaan alternatif pemecahannya. Identifikasi masalah tersebut berkaitan dengan pokok bahasan (materi pelajaran) yang relevan, karakteristik mahasiswa dan suasana kelas, metode/pendekatan pembelajaran, media/ alat peraga, dan proses evaluasi dan hasil belajar yang akan dicapai.

 Kedua, Dari hasil identifikasi tersebut didiskusikan (dalam kelompok lesson study) tentang; (a) pemilihan materi pembelajaran, (b) pemilihan metode dan media yang sesuai dengan karakteristik mahasiswa, serta (c) jenis evaluasi yang akan digunakan. Pada saat diskusi, akan muncul pendapat dan sumbang saran dari para mahasiswa, dosen dan pakar dalam kelompok tersebut untuk menetapkan pilihan yang akan diterapkan. Pada tahap ini, pakar dapat mengemukakan hal-hal penting/ baru yang perlu diketahui dan diterapkan oleh dosen, seperti pendekatan pembelajaran konstruktif, pendekatan pembelajaran life skill, pemutakhiran materi ajar, atau lainnya yang dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam pemilihan tersebut.

 Ketiga, Hal yang penting pula untuk didiskusikan adalah penyusunan lembar observasi, terutama penentuan aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam suatu proses pembelajaran dan indikator-indikatornya, terutama dilihat dari segi tingkah laku mahasiswa. Aspek-aspek proses pembelajaran dan indikator-indikator itu disusun berdasarkan perangkat pembelajaran yang dibuat serta kompetensi dasar yang ditetapkan untuk dimiliki mahasiswa setelah mengikuti proses pembelajaran. (4) Dari hasil identifikasi masalah dan diskusi perencanaan pemecahannya, selanjutnya disusun dan dikemas dalam suatu perangkat pembelajaran yang terdiri atas : (a) Rencana Pembelajaran (RP) (b) Petunjuk Pelaksanaan Pembelajaran (Teaching Guide) (c) Lembar Kerja mahasiswa (LKM) (d) Media atau alat peraga pembelajaran (e) Instrumen penilaian proses dan hasil pembelajaran. (f) Lembar observasi pembelajaran.

 b.      Tahap Implementasi dan Observasi

 Pada tahap ini seorang dosen, melakukan implementasi rencana pembelajaran (RP) yang telah disusun tersebut di kelas. Pakar dan dosen lain melakukan observasi dengan menggunakan lembar observasi yang telah dipersiapkan dan perangkat lain yang diperlukan. Para observer ini mencatat hal-hal positif dan negatif dalam proses pembelajaran, terutama dilihat dari segi tingkah laku mahasiswa. Selain itu (jika memungkinkan), dilakukan rekaman video (audio visual) yang meng close-up kejadian-kejadian khusus (pada dosen dan mahasiswa) selama pelaksanaan pembelajaran. Hasil rekaman ini berguna nantinya sebagai bukti autentik kejadian-kejadian yang perlu didiskusikan dalam tahap refleksi atau pada seminatr hasil lesson study, di samping itu dapat digunakan sebagai bahan diseminasi kepada khalayak yang lebih luas.

 c.       Tahap Refleksi

 Selesai praktik pembelajaran, segera dilakukan refleksi. Pada tahap refleksi ini, dosen yang tampil dan para observer serta pakar mengadakan diskusi tentang pembelajaran yang baru saja dilakukan. Diskusi ini dipimpin oleh pakar/dosen lain yang ditunjuk. Pertama, dosen yang melakukan implementasi rencana pembelajaran tersebut di atas diberi kesempatan untuk menyatakan kesan-kesannya selama melaksanakan pembelajaran, baik terhadap dirinya maupun terhadap siswa yang dihadapi. Kedua, observer (dosen lain/pakar) menyampaikan hasil analisis data observasinya, terutama yang menyangkut kegiatan siswa selama berlangsung pembelajaran yagn disertai dengan pemutaran video hasil rekaman pembelajaran. Ketiga, dosen yang melakukan implementasi tersebut akan memberikan tanggapan balik atas komentar para observer.

  1. Pengembangan Lesson Study

 a.      Pengembangan Lesson Study Sebagai PTK

 Lesson Study sebagai penelitian tindakan kelas dapat dilaksanakan dalam beberapa macam. Mengacu pendapat Kemmis dan McTaggart (1997) ada tiga macam PTK, yakni PTK yang dilakukan secara individual, PTK yang dilakukan secara kolaboratif, dan PTK yang dilakukan secara kelembagaan.

 1)      Lesson Study dalam Bentuk PTK yang Dilakukan Secara Individual

 Lesson study dalam PTK yang dilakukan secara individual, seorang guru/dosen yang melakukan PTK berkedudukan sebagai peneliti sekaligus sebagai praktisi. Sebagai peneliti, guru/dosen harus mampu bekerja pada jalur penelitiannya, yakni jalur menuju perbaikan dengan langkah-langkah yang dapat dipertanggung jawakan dalam arti guru/dosen yang bersangkutan harus menjamin kesahihan data yang dihimpun sehingga mendukung objektivitas penelitian yang dilakukan serta ketepatan dalam menginterpretasi dan menarik kesimpulan hasil penelitian. Untuk itu dalam PTK yang dilakukan secara individual harus didukung oleh critical friend.

 Critical friend yang tepat sangat membantu saat peneliti melakukan refleksi. Selain itu, critical friend juga dapat sebagai observer saat peneliti melakukan praktek pembelajaran sebagai praktisi. Bila tanpa critical friend ada yang mempertanyakan objektivitas penelitiannya. Critical friend dipilih sesuai dengan keahlian atau kebutuhan. Oleh karean itu, critical friend dapat berganti-ganti orang sepanjang penggantian fungsional untuk membantu keberhasilan program lesson study yang dilaksanakan. Jika seorang pelaksana program lesson study sudah senior atau sudah terbiasa melakukan dan didukung sarana prasarana untuk peliputan data yang memadai seperti alat perekam dalam bentuk audio visual, maka dapat saja melibatkan critical friend untuk mengkritisi hasil-hasil yang dilaksanakan setelah ia menganalisis hasil perekaman.

 Dengan demikian, critical friend hanya dilibatkan pada saat refleksi dan sekaligus mengkritisi lesson study yang dilakukan. Bahkan, diharapkan critical friend juga mau mengadopsi bila hasilnya dinilai positif. Sebaliknya, bagi pemula, maka dapat melibatkan critical friend di setiap tahapan lesson study yang dilaksanakan, mulai dari pemilihan permasalahan, perencanaan, pelaksanaan, refleksi, sampai pada pelaporan.

 2)      Lesson Study berbasis PTK yang Dilakukan Secara Kolaboratif

 PTK dalam bentuk kolaboratif/kelompok melibatkan sekelompok guru/dosen, sehingga ada guru/dosen sebagai peneliti dan guru/dosen sebagai praktisi. Dapat pula kolaborasi dilakukan antara guru dan dengan dosen. Dalam kolaborasi antara guru dan dosen, permasalahan digali bersama di lapangan, dan dosen dapat sebagai inisiator untuk menawarkan pemecahan atas dasar topik area yang dipilih. Dalam hal ini validitas penelitian lebih terjamin karena ada posisi sebagai peneliti dan posisi sebagai praktisi.

 3)      Lesson Study berbasis PTK yang Dilakukan Secara Kelembagaan

 Lesson Study yang dilakukan dalam bentuk PTK individual/perorangan ataupun dalam bentuk PTK yang dilakukan secara kolaboratif/kelompok mermiliki skop terbatas atau berfokus pada topik area yang sempit. Misalnya, penelitian hanya berfokus pada hubungan antara proses pembelajaran dan hasil yang ingin dicapai. PTK yang dilakukan secara kelembagaan memiliki skop penelitian yang lebih luas dan ditujukan untuk perbaikan lembaga. Dengan demikian, dalam satu penelitian dapat ditetapkan beberapa topik area. Dalam PTK yang dilakukan secara kelembagaanpun melibatkan kolaborasi dapat dibangun secara luas dengan melibatkan banyak pihak terkait. Untuk sekolah, dapat melibatkan siswa, guru, karyawan, orang tua, kepala sekolah, dinas, dan dosen perguruan tinggi. Untuk perguruan tinggi, dapat melibatkan mahasiswa, dosen, karyawan, pihak pengguna, dan stakeholder ataupun yang lainnya.

 Tujuan utama PTK yang dilakukan secara kelembagaan adalah untuk memajukan lembaga. Oleh karena itu, dapat dibuat kelompok-kelompok peneliti menurut topik-topik area yang relevan dengan kelompok yang bersangkutan. Menurut Kemmis dan Mc Taggart (1997) dalam PTK bentuk ini kelompok-kelompok kecil yang ada di dalamnya dapat melakukan kegiatan eksperimen untuk menguji beberaka inovasi untuk permasalahan yang ada.

  b.      Model-Model Tahapan PTK

 Model Mc Taggart (1991) juga Kemmis dan McTaggart (1997). Langkah-langkah PTK model ini dilakukan siklus demi siklus, sebelum memulai siklus pertama, diawali dengan (a) refleksi awal untuk melakukan penyidikan dalam upaya menetapkan topik area (thematic concern) yang akan diteliti, kemudian dilanjutkan dengan (b) perencanaan secara keseluruhan, (c) implementasi tindakan dan observasi, dan (d) refleksi. Memasuki siklus berikutnya dimulai dengan (1) tahap perencanaan lanjut sebagai revisi atas perencanaan yang disusun sebelumnya dengan memanfaatkan hasil refleksi, (2) pelaksanaan tindakan dan observasi lanjut, dan (3) refleksi lanjut.

 Model McKernan (Hopkins, 1993) PTK dilakukan siklus demi siklus dan dimulai dengan tahapan siklus pertama yang diawali dengan (a) menetapkan permasalahan, (b) need assessment untuk mencari akar masalah, (c) perumusan gagasan hipotesis, (d) implementasi tindakan, (e) evaluasi tindakan, dan diakhiri dengan (f) pengambilan keputusan. Setelah siklus pertama dilanjutkan ke siklus berikutnya yang diawali kembali dengan: (a) menetapkan kembali permasalahan, (b) need assesment untuk mencari kembali akar permasalahan (c) perumusan hipotesis baru, (d) implementasi rencana, (e) evaluasi tindakan, dan diakhiri dengan (f) pengambilan keputusan.

 Model Ebbutt (Hopkins, 1993; McNiff, 1992) PTK dilakukan siklus demi siklus. Pada siklus pertama diawali dengan (a) penetapan gagasan umum, (b) melakukan penyidikan (c) menyusun perencanaan secara keseluruhan, (d) pelaksanaan tindakan pertama, (e) monitoring dan penyidikan. Hasil monitoring dan penyidikan untuk (a) merevisi perencanaan secara keseluruhan yang sudah disusun, atau (b) untuk membehani gagasan umum, atau (c) untuk memasuki tindakan berikutnya. Menurut Elliot (Hopkins, 1993; McNiff, 1992) PTK dilakukan siklus demi siklus, (a) diawali dengan menemukenali gagasan awal, (b) penyidikan dengan mencari fakta dan menganalisisnya, (c) menyusun perencanaan umum yang terdiri dari beberapa tahapan tindakan, (d) melaksanakan tindakan tahap pertama, (e) memonitor pelaksanaan tahapan tindakan pertama dan melihat efeknya, (f) melakukan penyidikan untuk menemukan kegagalan/ kesalahan tindakan dan efeknya. Hasil penyidikan dipakai untuk merevisi gagasan umum beserta tahapan-tahapan tindakannya, dan dilanjutkan dengan melaksanakan tahap-tahap tindakan yang sudah direvisi, dilanjutkan kembali dengan memonitor pelaksanaan tahapan-tahapan tindakan dan melakukan penyidikan kembali sebagai dasar untuk memasuki siklus berikutnya.

BAB III METODE PENELITIAN

 A.     Pendekatan Penelitian

 Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi dengan paradigma definisi sosial yang bergerak pada kajian mikro. Fenomenologi dengan paradigma definisi sosial ini akan memberi peluang individu sebagai subjek penelitian melakukan interpretasi, dan kemudian peneliti melakukan interpretasi terhadap interpretasi itu sampai mendapatkan pengetahuan tentang; (1) Identifikasi permasalahan peningkatan kualitas pembelajaran psikologi umum dengan pendekatan lesson study pada Program Studi PGSD0FKIP-UMS (2) langkah-langkah lesson study yang efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran mata kuliah psikologi umum pada Program Studi PGSD-FKIP-UMS (3) model pembelajaran inovatif dengan menggunakan pendekatan lesson study untuk meningkatkan kualitas pembelajaran mata kuliah psikologi umum pada Program Studi PGSD-FKIP-UMS.

 Jenis penelitiannya menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan secara individual, yakni seorang dosen yang melakukan PTK berkedudukan sebagai peneliti sekaligus sebagai praktisi. Sebagai peneliti, dosen harus mampu bekerja pada jalur penelitiannya, yakni jalur menuju perbaikan dengan langkah-langkah yang dapat dipertanggung jawabkan dalam arti dosen yang bersangkutan harus menjamin kesahihan data yang dihimpun sehingga mendukung objektivitas penelitian yang dilakukan serta ketepatan dalam mengiterpretasi dan menarik kesimpulan hasil penelitian. Untuk itu dalam PTK yang dilakukan secara individual harus didukung oleh critical friend.

 Critical friend yang tepat sangat membantu saat peneliti melakukan refleksi. Selain itu, critical friend juga dapat sebagai observer saat peneliti melakukan praktik pembelajaran sebagai praktisi. Bila tanpa critical friend ada yang mempertanyakan objektivitas penelitiannya. Critical friend dipilih sesuai dengan keahlian atau kebutuhan. Oleh karena itu, critical friend dapat berganti-ganti orang sepanjang penggantian fungsional untuk membantu keberhasilan program lesson study yang dilaksanakan. Jika seorang pelaksana program lesson study sudah senior atau sudah terbiasa melakukan dan didukung sarana prasarana untuk peliputan data yang memadai seperti alat perekam dalam bentuk audio visual, maka dapat saja melibatkan critical friend untuk mengkritisi hasil-hasil yang dilaksanakan setelah ia menganalisis hasil perekaman.

 Dengan demikian, critical friend hanya dilibatkan pada saat refleksi dan sekaligus mengkritisi lesson study yang dilakukan. Bahkan, diharapkan critical friend juga mau mengadop bila hasilnya dinilai positif. Sebaliknya, bagi pemula, maka dapat melibatkan critical friend di setiap tahapan lesson study yang dilaksanakan, mulai dari pemilihan permasalahan, perencanaan, pelaksanaan, refleksi, sampai pada pelaporan.

 B.     Latar Penelitian, Informan Penelitian

 Yang menjadi latar penelitian ini adalah dosen pengampu mata kuliah psikologi umum dan mahasiswa penempuh mata kuliah psikologi umum semester I PGSD-FKIP-UMS tahun ajaran 2009/2010, Informan penelitian ini adalah; Pimpinan Struktural, Dosen, Mahasiswa PGSD.

 Melalui Pimpinan Struktural, Dosen dan Mahasiswa PGSD akan diperoleh informasi/interpretasi tentang; Identifikasi permasalahan peningkatan kualitas pembelajaran psikologi umum dengan pendekatan lesson study pada Program Studi PGSD-FKIP-UMS, langkah-langkah lesson study yang efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran mata kuliah psikologi umum pada Program Studi PGSD-FKIP-UMS, dan model pembelajaran inovatif dengan menggunakan pendekatan lesson study untuk meningkatkan kualitas pembelajaran mata kuliah psikologi umum pada Program Studi PGSD-FKIP-UMS.

 C.     Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian

 Data tentang Identifikasi permasalahan peningkatan kualitas pembelajaran psikologi umum dengan pendekatan lesson study pada Program Studi PGSD-FKIP-UMS dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara mendalam.

 Observasi dilakukan untuk mengamati perkuliahan psikologi umum, sedangkan wawancara dilakukan baik kepada pimpinan, dosen dan mahasiswa, untuk memperoleh data tentang masalah-masalah perkuliahan. Untuk itu, instrumen penelitian ini berupa: pedoman observasi, dan angket-semi terbuka. Proses wawancara sampai memperoleh interpretasi dari informan, dan kemudian peneliti menginterpretasikan interpretasi informasi tersebut sampai memperoleh bahasa ilmiah yang tidak merubah makna dari interpretasi pertama. Dalam hal ini Berger (dalam Santoso, 2004) menyebutkan dengan first order understanding dan second order understanding. Sehubungan dengan hal tersebut di atas peneliti perlu mempersiapkan antara lain; (1) instrumen penelitian, instrumen penelitian ini berupa: pedoman observasi, angket semi terbuka, (2) model pembelajaran.

 D.     Analisis Data

 Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif. Analisis data ini menggunakan pendekatan proses alur; data dianalisis sejak tindakan pembelajaran/ perkuliahan dilaksanakan, dikembangkan selama proses perkuliahan berlangsung sampai diperoleh perkuliahan yang berkualitas / profesional. Teknis analisis data tersebut di atas mengacu pendapat Miles (1992), Pertama, analisis data yang muncul berwujud kata-kata, data ini dikumpulkan dari survey/observasi, wawancara mendalam dan model perkuliahan. Kedua, analisis ini terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu; reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan/verifikasi (Miles dan Huberman, 1992: 15-21).

 Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data “kasar” yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan, dalam hal ini peneliti mencatat hasil observasi dan wawancara dengan informan berkaitan dengan permasalahan penelitian yang telah dirumuskan pada bagian latar belakar tersebut di atas.

 Alur penting yang kedua dari kegiatan analisis data adalah penyajian data. Penyajian data di sini sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian data ini berbentuk teks naratif, teks dalam bentuk catatan-catatan hasil wawancara dengan informan penelitian sebagai informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan.

                   Kegiatan analisis ketiga yang penting adalah menarik kesimpulan dan verifikasi. Dari permulaan pengumpulan data, seseorang penganalisis (peneliti) mulai mencari makna peningkatan kualitas pembelajaran melalui lesson study. Dengan demikian, aktifitas analisis merupakan proses interaksi antara ketiga langkah analisis data tersebut, dan merupakan proses siklus sampai kegiatan penelitian selesai.

E.     Keabsahan Data

 Data merupakan fakta atau bahan-bahan keterangan yang penting dalam penelitian. Sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan (aktivitas), dan selebihnya, seperti dokumen (yang merupakan data tambahan). Kesalahan data berarti dapat dipastikan menghasilkan kesalahan hasil penelitian. Karena begitu pentingnya data dalam penelitian kualitatif, maka keabsahan data dalam penelitian ini melalui teknik pemeriksaan keabsahan yang disarankan oleh Lincoln dan Guba, yang meliputi: kredibilitas (credibility), tranferabilitas (transferability), dependabilitas (dependability), konfirmabilitas (confirmability) (Lincoln dan Guba, 1985: 298-331).

 F.      Indikator Kinerja

Indikator kinerja ini diarahkan pada pencapaian produk yakni (1) Identifikasi permasalahan peningkatan kualitas pembelajaran psikologi umum dengan pendekatan lesson study pada Program Studi PGSD-FKIP-UMS (2) langkah-langkah lesson study yang efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran mata kuliah psikologi umum pada Program Studi PGSD-FKIP-UMS (3) model pembelajaran inovatif dengan menggunakan pendekatan lesson study untuk meningkatkan kualitas pembelajaran mata kuliah psikologi umum pada Program Studi PGSD-FKIP-UMS.

 Indikator peningkatan kualitas pembelajaran tersebut di atas tercapai apabila dosen sudah mampu mempraktekkan dengan benar 9 ketrampilan mengajar sebagai berikut: (1) Ketrampilan mengelola kelas (2) ketrampilan membuka pelajaran (3) ketrampilan bertanya (pre test, saat menerangkan, dan post test) (4) ketrampilan menerangkan (5) ketrampilan menggunakan multi media (6) ketrampilan menggunakan multi metode (7) ketrampilan memberikan motivasi (8) ketrampilan memberikan ganjaran (9) ketrampilan menutup pelajaran.

G.    Perancangan Produk

 Perancangan produk yang berupa model peningkatan kualitas dosen dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dengan dosen lain (dosen tim pengampu mata kuliah psikologi umum). Di samping itu dibantu oleh 3 orang berstatus sebagai anggota peneliti dari mahasiswa S1 yang dilibatkan dalam diskusi-diskusi dalam pengembangan instrumen penelitian, pengumpulan data, pelatihan penyusunan model pembelajaran, lokakarya penyusunan model, dan penyuntingan.

 Kegiatan kolaboratif ini dilakukan dalam jangka waktu 6 bulan berupa; pengumpulan data tentang (1) Identifikasi permasalahan peningkatan kualitas pembelajaran psikologi umum dengan pendekatan lesson study pada Program Studi PGSD-FKIP-UMS (2) langkah-langkah lesson study yang efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran mata kuliah psikologi umum pada Program Studi PGSD-FKIP-UMS (3) model pembelajaran inovatif dengan menggunakan pendekatan lesson study untuk meningkatkan kualitas pembelajaran mata kuliah psikologi umum pada Program Studi PGSD-FKIP-UMS.

 H.     Spesifikasi Produk

 Produk yang berupa identifikasi masalah-masalah pengembangan model peningkatan kualitas dosen yang dihasilkan dengan spesifikasi sbb:

 Gambar: Masalah Perkuliahan Dosen Mata Kuliah Psi. Umum

 Masalah-masalah Perkuliahan Dosen Mata Kuliah Psikologi Umum

  1. Kemampuan dosen dalam pengembangan kurikulum menjadi perkuliahan berkualitas.
  2. Ketersediaan sumber belajar yang dimiliki dan pemanfaatannya.
  3. Pola interaksi perkuliahan.
  4. Pola pemanfataan potensi alam dan manusia sekitar kampus dalam mendukung kegiatan perkuliahan.
  5. Kesulitan mahasiswa dalam penguasaan kompetensi.
  6. Kesulitan dosen dalam mengembangkan perkuliahan berkualitas.
  7. Kemampuan dosen mengembangkan instrumen penilaian.
  8. Peran pimpinan dalam pengembangan perkuliahan berkualitas.
  9. Aktivitas mahasiswa dalam perkuliahan.
  10. Kreatifitas mahasiswa dalam perkuliahan.
  11. Rasa senang mahasiswa dalam perkuliahan.
  12. Faktor-faktor pendukung (potensial) untuk pengembangan perkuliahan berkualitas.
  13. Faktor-faktor penghambat pengembangan perkuliahan berkualitas bagi dosen PGSD.
  14. Lesson study baru dikembangkan di SD, SLP, SLA dan belum dikembangkan di Perguruan Tinggi.

  Sedangkan spesifikasi produk yang berupa langkah-langkah lesson study yang efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran mata kuliah psikologi umum pada Program Studi PGSD-FKIP-UMS dan model pembelajaran inovatif dengan menggunakan pendekatan lesson study untuk meningkatkan kualitas pembelajaran mata kuliah psikologi umum pada Program Studi PGSD-FKIP-UMS berupa model perkuliahan yang berkualitas dan seperangkat program semester perkuliahan, silabus, jaringan tema, dan (MRP) Model Rencana Perkuliahan.

 I.        Produk Yang Akan Dihasilkan

 Produk yang akan dihasilkan dari penelitian ini, untuk tahun pertama; model peningkatan kualitas kooperatif (improvement model of quality of co-operative). Produk untuk tahun kedua; model peningkatan kualitas berdasar masalah (improvement model of quality of based on problem). Dan untuk tahun ketiga; model peningkatan kualitas langsung (improvement model of quality of direct).

 Tahun Pertama: Model Peningkatan Kualitas Kooperatif (Improvement Model of Quality of Co-Operative)

 Model kooperatif ini memiliki beberapa unsur yaitu; (1) Mahasiswa belajar dalam kelompok kecil yang beranggotakan 4 sampai 5 orang untuk efektifitas kelompok dalam belajar. (2) Setiap anggota kelompok memiilki rasa ketergantungan dalam kelompok, keberhasilan kelompok sangat ditentukan oleh kekompakan anggota-anggota dalam kelompok tersebut (3) Diperlukan tanggung jawab masing-masing anggota kelompok, kesadaran tanggung jawab masing-masing anggota kelompok dalam belajar sangat mendukung keberhasilan kelompok (4) Terdapat kegiatan komunikasi tatap muka baik antar anggota kelompok dalamkelompok maupun antar kelompok. Adanya komunikasi ini dapat mendorong terjadinya interaksi positif, sesama mahasiswa dapat lebih saling mengenal, masing-masing mahasiswa saling menghargai pendapat teman, menerima kelebihan dan kekurangan teman ada adanya, menghargai perbedaan pendapat yang selalu terjadi dalam kehidupan. Mahasiswa saling asah, saling asih dan saling asuh (5) Anggota-anggota kelompok berlatih untuk mengevaluasi pendapat teman, melalui adu argumentasi, belajar menerima hasil evaluasi dari teman sesama anggota kelompok, pada akhirnya dapat menumbuhkan rasa toleransi pendapat dan bergaul dalam hidup bermasyarakat.

 Dari ke 5 unsur tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa lewat perkuliahan kooperatif, di samping diperoleh pencapaian aspek akademik yang tinggi di kalangan mahasiswa, juga bermakna dalam membantu dosen dalam mencapai tujuan perkuliahan yang berdimensi sosial dalam hubungannya dengan sesama. Adapun dalam model perkuliahan kooperatif ini peran guru/dosen yang dapat ditampilkan antara lain;

 Gambar : Fase Model Peningkatan Kualitas Kooperatif

Fase pembelajaran

Peran Guru

1

Rumuskan tujuan, apersepti dan motivasi

Menyapaikan tujuan pembelajaran, mengaitkan dengan manfaat mempelajari materi dan memotivasi siswa

2

Ceramah dan menyajikan informasi lewat media yang sesuai

Menyajikan informasi lewat media yang sesuai kepada siswa. Misalnya bahan bacaan, demonstrasi, menggali pemahaman siswa.

3

Organisasi kelompok-kelompok belajar siswa

Bentuk kelompok, menjelaskan tujuan, bentuk dan macam kegiatan serta membantu kelompok-kelompok agar trasisi antara informasi dan belajar berlangsung prosedural.

4

Bimbingan kelompok siswa untuk bekerja dan belajar

Memberikan bimbingan saat mengerjakan tugas dan menampung kesulitan siswa untuk dipecahkan bersama.

5

Asesmen

Melakukan asesmen terahdap tugas, lewat tampilan siswa dalam kelompok besar dan seterusnya bersama siswa melakukan refleksi.

6

Memberikan penghargaan

Memilih cara yang sesuai untuk menghargai setiap hasil karya kelompok dan tampilan individual saat presentasi.

Tahun Kedua: Model Peningkatan Kualitas Berdasar Masalah (Improvement Model of Quality of Based on Problem)

 Model peningkatan kualitas dosen ini bertumpu pada pengembangan kemampuan berpikir di kalangan mahasiswa lewat latihan penyelesaian masalah, oleh sebab itu mahasiswa dilibatkan dalam proses maupun perolehan produk penyelesaiannya. Dengan demikian model ini juga akan mengembangkan mahasiswa keterampilan berpikir lewat fakta empiris maupun kemampuan berpikir rasional, sehingga latihan yang berulang-ulang ini dapat membina mahasiswa keterampilan intelektual dan sekaligus dapat mendewasakan mahasiswa. Mahasiswa berpean sebagai self-regulated learner, artinya lewat perkuliahan model ini mahasiswa harus dilibatkan dalam pengalaman nyata atau simulasi sehingga dapat bertindak sebagai seorang ilmuwan atau orang dewasa.

 Model ini tentu tidak dirancang agar dosen memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada mahasiswa, tetapi dosen perlu berperan sebagai fasilitator perkuliahan dengan upaya memberikan dorongan agar mahasiswa bersedia melakukan sesuatu dan mengungkapkannya secara verbal. Adapun dalam model perkuliahan ini peran guru/dosen yang dapat ditampilkan antara lain:

Gambar : Fase dan Peran Dosen Peningkatan Kualitas Berdasar Masalah

No

Fase pembelajaran

Peran Guru

1

Rumuskan tujuan dan orientasi masalah

Menjelaskan tujuan pembelajaran dan segala hal yang berkaitan dengan masalah dan penyelesaiannya, memotivasi siswa untuk terlibat dalam aktivitas penyelesaian masalah.

2

Orientasi siswa untuk belajar

Membantu dan membimbing mendefinisikan tugas-tugas serta mengorganisasikan tugas-tugas siswa untuk penyelesaian masalah.

3

Bimbingan penyelidikan individual dan kelompok

Mendorong dalam merancang dan melaksanakan eksperimen, mengukur, mengamati, mengumpulkan informasi yang sesuai.

4

Sajian hasil karya dan pengembangannya

Membantu rencana dan penyajian karya yang sesuai, melakukan pengecekan ulang dengan eksperimen untuk mendapatkan penyelesaian masalah yang dimaksud.

5

Analisis dan evaluasi proses penyelesaian masalah

Membantu siswa dalam refleksi dan evaluasi penyelidikan dan proses-proses penyelesaian masalah yang telah dilakukan.

Tahun Ketiga: Model Peningkatan Kualitas Langsung (Improvement Model of Quality of Direct)

 Perkuliahan seringkali dianggap lebih sesuai dengan sifat ilmu yang dipelajari, seperti halnya kelompok mata pelajaran Basic Science. Hal ini di dasarkan pada asumsi bahwa pengetahuan ilmiah tersusun secara terstruktur yang memuat materi prasyarat dalam setiap langkah penyajiannya. Perkuliahan langsung pada umumnya dirancang secara khusus untuk mengembangkan aktivitas belajar di pihak mahasiswa berkaitan dengan aspek pengetahuan prosedural serta pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik yang dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Fokus utama dari perkuliahan ini adalah adanya pelatihan-pelatihan yang dapat diterapkan dari keadaan nyata yang sederhana sampai yang lebih kompleks. Adapun dalam model langsung ini peran guru/dosen yang dapat ditampilkan antara lain :

 Gambar : Fase Pembelajaran dan Peran Dosen Dalam Model Peningkatan Kualitas Langsung

No

Fase pembelajaran

Peran Guru

1

Rumuskan tujuan dan orientasikan kepada kegiatan siswa

Menjelaskan tujuan pembelajaran, informasi latar belakang, pentingnya materi ini dipelajari dan mempersiapkan siswa untuk belajar lewat pola latihan.

2

Demonstrasikan pengetahuan dan keterampilan

Menampilkan kegiatan dengan demonstrasi keterampilan atau menyajikan materi pembelajaran setahap demi setahap dengan mempertimbangkan strukturnya.

3

Bimbingan latihan

Menampilkan bentuk atau model untuk pelatihan awal.

4

Kontrol penguasaan di pihak siswa dan berikan umpan balik

Mengecek keberhasilan pelaksanaan tugas latihan apakah siswa telah berhasil dengan baik diteruskan dengan kegiatan untuk memperoleh balikan (tes, wawancara, pengamatan dan sebagainya).

5

Berikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan hasil latihan

Memberi kesempatan untuk pelatihan lanjutan yang fokusnya adalah penerapan pada situasi yang lebih kompleks dalam kehidupan nyata.

 

 Untuk semua model di atas beberapa catatan yang penting antara lain :

 1.       Pendalaman materi secara individual dapat dilakukan di luar jam pelajaran, hal tersebut memilik dua keuntungan: (a) mahasiswa dapat mencari sumber belajar lebih luas (internet atau buku bacaan yang lain), b) waktu yang disediakan untuk kerja terstruktur dapat dimanfaatkan untuk diskusi kelompok dan presentasi hasil, sehingga lebih longgar.

 2.       Untuk, Lesson Study beberapa dosen dapat memonitor dan mengevaluasi seluruh kegiatan dari awal sampai akhir, untuk selanjutnya dilakukan diskusi di luar jam sebagai bahan masukan untuk merevisi perencanaan program selanjutnya.

 J.       Pelaporan dan Seminar Hasil Penelitian

 Hasil penelitian ini sebelum dijilid (dilaporkan) akan diseminarkan terlebih dahulu, hal ini penting untuk menambah keabsahan hasil penelitian.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 A.     Permasalahan Peningkatan Kualitas Pembelajaran Psikologi Umum dengan Pendekatan Lesson Study pada Program Studi PGSD-FKIP-UMS.

 Peneliti mengidentifikasi permasalahan peningkatan kualitas pembelajaran (perkuliahan) Psikologi Umum di PGSD-FKIP-UMS adalah sebagai berikut.

 1.       Pengembangan kurikulum menuju perkuliahan berkualitas. Beban tugas dosen yang cukup banyak, Silabus yang disusun masih berorientasi pada referensi (buku-buku lama), visi dan misi mata kuliah psikologi tidak dirumuskan secara jelas.

 2.       Ketersediaan sumber/media pembelajaran untuk meningkatkan kualitas perkuliahan. Masalah utama yang dihadapi dosen terhadap ketersediaan sumber pembelajaran sebagai Perguruan Tinggi yang ideal masih kurangnya referensi, LCD, akses internet, sedangkan sumber media yang ada belum dimanfaatkan secara optimal.

 3.       Dalam pola interaksi (pembelajaran) mahasiswa masih sangat beragam, informasi yang meneliti kumpulan dari beberapa dosen dan mahasiswa bahwa masih ada jarak antara yang pandai dan kurang pandai, masih banyak mahasiswa yang mengalami kesulitan interaksi akademik (pasif dan hanya mendengarkan saja), masih ada jarak hubungan akademik antara dosen dan mahasiswa, dosen belum banyak menggunakan teknik kuliah (pembelajaran) aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAIKEM).

 4.       Kesulitan dosen dalam mengembangkan pembelajaran berkualitas. Masalah utama yang dihadapi oleh dosen-dosen dalam mengembangkan pembelajaran berkualitas disebabkan karena faktor kompleksitas tingkat kecerdasan mahasiswa (perbedaan kecerdasan antara mahasiswa yang satu dengan mahasiswa yang lain). Terbatasnya sarana dan prasarana yang tersedia yang berbasis IT, akses internet di masing-masing ruang kuliah.

 5.       Keaktifan dan kreatifitas mahasiswa dalam pembelajaran. Masalah yang dihadapi dosen untuk menciptakan Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAIKEM) karena kebanyakan dari mahasiswa masih berorietnasi pada nilai dan bukan pada pengembangan ilmu, yang berdampak pada ketergantungan mahasiswa kepada dosen.

 6.       Rasa Senang Mahasiswa dalam Pembelajaran. Dalam permasalahanini sangat beraneka ragam, kebanyakan berorientasi pada dosen dan pada subtansi mata kuliah dan keilmuan. Mahasiswa lebih cenderung senang kepada dosen yang humoris, agak longgar (toleransi), santai, dan kurang senang kepada sistem kuliah yang ideal, disiplin, diskusi, kreatif, inovatif.

 7.       Faktor-faktor penghambat pengembangan perkuliahan berkualitas dengan pendekatan lesson study bagi dosen PGSD, karena pemahaman bahwa pendekatan lesson study baru dikembangkan di SD, SLP. SLA dan belum dikembangkan di Perguruan Tinggi.

 Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa permasalahan yang dihadapi dosen dalam peningkatan kualitas perkuliahan Psikologi Umum melalui pendekatan lesson study ada 2 faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Pembahasan tentang permasalahan yang dihadapi dosen dalam mengembangkan model peningkatan kualitasnya tidak jauh berbeda dengan penelitian Chokshi  (2005) yang judul: Reaping the Systemic Benefits of Lesson Study, berkesimpulan bahwa pelaksanaan pembelajaran perlu adanya motivator dan visi yang jelas, maka permasalahan yang bersumber dari siswa yaitu kurangnya motivasi untuk belajar, harus segera dicarikan solusinya agar tercipta pembelajaran yang menyenangkan. Permaslahan eksternal terbatasnya sarana dan prasarana juga sejalan dengan hasil penelitiannya Chokshi (2004) yang berjudul: Challenges to Importing Japanese Lesson Study, bahwa pembelajaran dengan metode praktek lebih cepat bisa mendukung pemahaman anak terhadap suatu pelajaran, karena didukung dengan sarana dan prasarana. Oleh karena itu permasalahan sarana dan prasarana harus segera dicari solusinya.

 Permasalahan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif dan    menyenangkan, saran dari Thompson (2007) dalam penelitiannya yang berjudul: Inquiry in the Life Sciences: The Plant-in-a-Jar as a Catalys for Learning berkesimpulan bahwa: (1) Adanya usaha guru untuk mengubah pola     pembelajaran, ini berati guru/dosen dituntut lebih kreatif dan inovatif. (2) Guru mencari terobosan untuk menyampaikan materi pelajaran pada KD tertentu agar pembelajaran menjadi lebih menyenangkan. (3) Usaha guru membuat modul pembelajaran untuk referensi siswa. Lebih lanjut Thompson menyarankan bahwa pentingnya pengembangan profesional para pendidik yang lebih kreatif dan    inovatif yang dapat mempengaruhi pembelajaran sehingga menjadi pembelajaran yang menyenangkan dan demokratis. Apabila pembahasan tetnang permasalahan yang dihadapi dosen dalam mengembangkan model peningkatan kualitasnya dihubungkan dengan penelitian Stewart (2005), dengan judul : A Model for   Teacher Collaboration, maka saling melengkapi dan ada kesesuaian. Hasil penelitian Stewart menunjukkan bahwa cara yang terbaik untuk menyempurnakan perbaikan yang sifatnya positif di setiap tingkatan kelas pada suatu sekolah adalah dengan mengadopsi suatu model. Tjipto Subadi (2009) dalam penelitiannya yang berjudul Pengembangan Model Peningkatan Kualitas Guru Melalui Lesson Study Bagi Guru SD Se-Karesidenan Surakarta, berkesimpulan bahwa Model      konseptual lesson study dalam meningkatkan kualitas guru SD yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah Model Lesson Study Berbasis Riset PTK Modifikasi. Robinson (2006) dalam penelitiannya yang berjudul: Prospective Teacher’s Perspectives On Microteaching Lesson Study) berkesimpulan bahwa pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan micro-teaching yang melibatkan beberapa guru mendukung hubungan pembelajaran yang berupa teori dan praktik sejalan dengan pembahasan hasil penelitian tersebut di atas.

 B.     Langkah-langkah Pendekatan Lesson Sstudy Yang Efektif Untuk Meningkatkan Kualitas Perkuliahan Psikologi Umum

 Langkah-langkah Lesson Study yang efektif dalam penelitian ini menggunakan model modifikasi (lihat gambar 9) di bawah ini, yang disesuaikan dengan kondisi permasalahan yang ada terdiri 4 tahap yaitu; (1) Tahap Kajian Akademik/Orientasi Akademik. Dalam tahap ini dosen dengan mahasiswa mengadakan kajian silabus, SK, KD, indikator dan pengembangan tujuan pembelajaran, pengembangan materi, media pembelajaran, metode pembelajaran, sumber belajar, strategi pembelajaran, dan pengembangan alat evaluasi yang berkualitas. Selain kegiatan pengkajian akademik juga menyiapkan perangkat observasi, dan lembar kerja mahasiswa. (2) Tahap Perencanaan (Plan). Pada tahap ini dosen membuat RPP, mempersiapkan sarana dan prasarana (sumber dan media pembelajaran, lembar kerja mahasiswa, soal-soal tes). (3) Tahap Pelaksanaan, danobservasi dengan Model Peningkatan Kualitas Kooperatif (Improvement Model of Quality of Co-operative) dengan teknik Bertukar Pasangan dan Jigsaw. (4) Tahap (Refleksi). Pada tahap ini dilakukan diskusi (penyampaian dan tanggapan atas masukan pelaksanaan pembelajaran disampaikan oleh observer)

 Langkah-langkah tersebut di atas modifikasi dari modelnya Mc Taggart (1991) dan McKernan (Hopkins, 1993) yang menjelaskan bahwa pembinaan guru (dosen) dengan lesson study tidak bisa lepas dengan sistem siklus.

 C.     Model Pembelajaran Aktif Inovatif Kreatif Efektif dan Menyenangkan untuk Meningkatkan Pembelajaran Psikologi Umum

 Banyak model atau strategi pembelajaran yang dikembangkan oleh para ahlu dalam usaha meningkatkan kualias guru, diantaranya adalah Model Pembelajaan Kontektual, Model Pembelajaran Quantum, Model Pembelajaran Terpadu, Model Pembelajaran Berbasis Masalah, dan Model Pembelajaran Kooperatif. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model kooperatif dalam mata kuliah psikologi umum dengan dua teknik yaitu (1) Jigsaw Modifikasi dan (2) Jigsaw.

 Langkah-langkah Kuliah Psikologi Umum PGSD-FKIP-UMS adalah sebagai berikut:

 1.      Minggu pertama, dosen kontrak kuliah dengan mahasiswa, yaitu dosen menyampaikan SK, KD, Indikator, Tujuan, pokok-pokok bahasan, strategi kuliah kooperatif dengan teknik Jigsaw Modifikasi dan Jigsaw, menganjurkan buku wajib dan buku tambahan, sistem penilaian (aktifitas di kelas, Ujian Mid, Tugas Kelompok (Makalah), Tugas Individu (Makalah) dan Ujian Semester, kontrak kuliah ini dengan persetujuan mahasiswa. Dosen menyampaikan reorientasi Psikologi Umum dan sebelum kuliah diakhiri dosen menyampaikan 7 sub pokok bahasan untuk dipelajari di rumah dan akan didiskusikan pada kuliah berikutnya, kuliah selesai.

 2.      Minggu ke dua. Kuliah dengan teknik Jigsaw Modifikasi, yaitu suatu teknik pembelajaran dengan menggunakan langkah-langkah sebagai berikut: Pertama, Dosen membuka kuliah psikologi umum, apersepsi dan pre-test dan menjelaskan secara singkat pokok bahasan dan sub pokok bahasan yang akan dikaji. Kedua, Dosen membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 6 orang. Jika jumlah mahasiswa 42 berarti akan ada 7 kelompok yaitu kelompok A, B, C, D, E, F, dan G, maka sebelumnya dosen harus juga menyediakan 7 sub topik yang berbeda, Ketiga, Setiap kelompok mendapatkan 1 sub topik untuk didiskusikan, setelah selesai diskusi kelompok, masing-masing kelompok mengeluarkan 5 anggotanya untuk bertukar pasangan dengan anggota kelompok yang lainnya (misalnya kelompok A, 5 anggotanya tersebut 1 anggota ke kelompok B, 1 anggota ke kelompok C, 1 anggota ke kelompok D, 1 anggota ke kelompok E, 1 anggota ke kelompok F, dan 1 anggota ke kelompok G), sehingga terbentuk kelompok baru yang anggotanya dari 7 kelompok tersebut. Keempat, Kelompok yang baru ini keanggotaannya harus berasal dari kelompok yang berbeda, dan masing-masing anggota kelompok ini harus membawa hasil diskusi dari kelompok yang semula (sub topik yang berbeda pula, ini harus dikros-cek, ketentuan ini harus betul-betul ditaati). Kelima, Kemudian secara bergantian masing-masing anggota menjelaskan hasil diskusi dari kelompok lama, dan yang lain mencatatnya. Keenam, Anggota kelompok ini kemudian kembali bergabung dengan anggota kelompok yang lama, mendiskusikan ke tujuh sub topik dan hasilnya dilaporkan pada diskusi kelas. Ketujuh, Pelaporan (dosen menunjuk salah satu kelompok agar membacakan hasilnya), Kedelapan, Dosen menyimpulkan, dan memberi kesempatan mahasiswa untuk bertanya, Kesembilan, Sebelum kuliah diakhiri dosen menyampaikan PR (Pekerjaan Rumah) topik yang akan di bahas pada kuliah berikutnya, kuliah selesai.

 3.      Minggu ke tiga dosen memberi kuliah dengan teknik Jigsaw Modifikasi, pada prinsipnya teknik ini tidak jauh berbeda dengan teknik bertukar pasangan yang dimodifikasi, perbedaannya ada kelompok pakar. Dalam penelitian ini Jigsaw modifikasi diartikan suatu pendekatan kooperatif yang setiap timnya beranggotakan 7 mahasiswa yang akan mempelajari bahan pembelajaran yang telah dibagi atas tujuh sub pokok bahasan. Dalam Jigsaw setiap kelompok akan mempelajari materi yang telah dibagi atas tujuh bagian tersebut.

 4.      Langkah-langkah Jigsaw antara lain: (1) Kelas dibagi menjadi beberapa kelompok dengan karakteristik mahasiswa heterogen (2) Setiap kelompok memperoleh materi yang berbeda tetapi masih dalam satu topik (3) Setiap kelompok mengirimkan anggotanya untuk bergabung dalam kelompok pakar (4) Setelah berdiskusi dalam kelompok pakar kemudian setiap anggota kelompok tadi kembali pada kelompok semula (5) Setiap anggota kelompok pakar menjelaskan materi pada kelompoknya, terjadi diskusi kelompok (6) Setiap kelompok secara bergantian presentasi materi dan ditanggapi oleh kelompok lain (7) Sebelum kuliah diakhiri dosen menyampaikan PR (Pekerjaan Rumah) topik yang akan dibahas pada kuliah berikutnya, kuliah selesai.

 5.      Minggu ke emapt dan seterusnya menggunakan teknik tersebut di atas secara bergantian.

 Produk yang dihasilkan dari validitas konsep lesson study pada tahun 1. adalah Model Peningkatan Kualtias Kooperatif (Improvement Model of Quality of Co-operative). Implementasi Model Peningkatan Kualitas Kooperatif menuntut peran dosen dalam 6 fase pembelajaran, antara lain: (a) Rumusan tujuan, apersepsi dan motivasi. (b) Penjelasan dan penyajian informasi lewat IT (c) Organisasi kelompok-kelompok belajar. (d) Keterlibatan dosen dalam bimbingan kelompok mahasiswa untuk bekerja dan belajar. (e) Evaluasi/penilaian, dan (f) Memberikan hadiah (rewards).

 Peran dosen dalam pembelajaran kooperatif, antara lain; (1) Kontrak pembelajaran dengan menyampaikan SK dan KD, tujuan pembelajaran, pokok bahasan, referensi, sistem pembelajar, dan sistem evaluasi. (2) Memberikan informasi melalui media misalnya; kotak informasi, IT, internet, jika perlu email, demonstrasi. (3) Membentuk kelompok belajar, dan menjelaskan macam-macam kegiatan kelompok. (4) Memberikan bimbingan saat mahasiswa mengerjakan tugas dan menampung kesulitan mahasiswa untuk dipecahkan bersama. (5) Memberikan evaluasi atas apa yang sudah dihasilkan oleh kelompok dan masing-masing anggota kelompok. (6) Memilih cara yang sesuai untuk memberi penghargaan.

 Kuliah dengan model pembelajaran kooperatif, di samping diperoleh pencapaian aspek akademik yang tinggi di kalangan mahasiswa, juga bermakna membantu dosen dalam mencapai tujuan pembelajaran yang berdimensi paedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional, sebagaimana tuntutan Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tantang Guru dan Dosen. Undang-undang ini menuntut penyesuaian penyelenggaraan pendidikan dan pembinaan guru agar menjadi profesional yang menguasai “kompetensi paedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesi (Pasal 10 ayat (1)).

 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A.     Kesimpulan

 1.      Permasalahan yang dihadapi dosen dalam peningkatan kualitas perkuliahan Psikologi Umum dengan pendekatan lesson study adalah (1) permasalahan internal dan (2) permasalahan eksternal. Permasalahan internal (permasalahan yang timbul dari dosen itu sendiri) yaitu kemampuan dosen untuk menciptakan dan mengubah pola pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan). Sedangkan permasalahan eksternal (permasalahan yang timbul dari luar dosen) yaitu permasalahan yang bersumber dari mahasiswa, oimpinan, kurikulum, sarana dan prasarana. Peneliti sependapat saran dari Thompson (2007) dalam penelitiannya: Inquiry in the Life Sciences: The Plant-in-a-Jar as a Catalyst for Learning berkesimpulan bahwa pentingnya pengembangan profesional para pendidik yang lebih kreatif dan inovatif yang dapat mempengaruhi pembelajaran sehingga menjadi pembelajaran yang menyenangkan dan demokratis.

 2.      langkah-langkah pendekatan lesson study yang efektif untuk meningkatkan kualitas perkuliahan Psikologi Umum adalah menggunakan Model Lesson Study Berbasis PTK Modifikasi. Model modifikasi ini disesuaikan dengan kondisi permasalahan yang ada, terdapat 4 tahap yaitu (1) Tahap kajian akademik/orientasi akademik (2) Tahap perencanaan (3) Tahap pelaksanaan dan observasi dan (4) Tahap refleksi. (lihat Gambar 11 Model Lesson Study Berbasis PTK Modifikasi). Model ini dimodifikasi dari modelnya Mc Taggart (1991) dan McKernan (Hopkins, 1993). Model modifikasi ini sesuai penelitian Stewart (2005), yang berjudul judul: A Model for Teacher Collaboration, yang menjelaskan bahwa; cara yang terbaik untuk menyempurnakan perbaikan yang sifatnya positif di setiap tingkatan kelas pada suatu sekolah adalah dengan mengadopsi suatu model. Subadi (2009) dalam penelitiannya yang berjudul; Pengembangan Model Peningkatan Kualitas Guru Melalui Lesson Study Bagi Guru SD Se-Karesidenan Surakarta, berkesimpulan; Model konseptual lesson study dalam meningkatkan kualitas guru SD yang efektif menggunakan Model Lesson Study Berbasis Riset PTK Modifikasi.

  3.      Model Pembelajaran Aktif Inovatif Kreatif Efektif dan Menyenangkan (PAIKEM) untuk meningkatkan pembelajaran Psikologi Umum (1) Terdapat tiga tahap; pendahuluan, inti kuliah, dan penutup (2) Menggunakan Model peningkatan kualitas kooperatif (Improvement Model of Quality of Co-operative) (3) Teknik yang digunakan Jigsaw Modifikasi.

 Implementasi Model Peningkatan Kualiats Kooperatif menuntut peran  dosen dalam 6 fase pembelajaran, antara lain: (a) Rumusan tujuan, apersepsi dan motivasi. (b) Penjelasan dan penyajian informasi lewat IT (c) Organisasi   kelompok-kelompok belajar. (d) Keterlibatan dosen dalam bimbingan kelompok mahasiswa bekejar dan belajar. (e) Evaluasi/penilaian, dan (f) Memberikan hadiah (rewards).

                                    Gambar : Fase Pembelajaran dan Peran Dosen Dalam Model Peningkatan Kualitas Kooperatif

No

Fase pembelajaran

Peran Guru

1

Rumusan tujuan, apersepsi dan motivasi

Kontrak pembelajaran dengan menyampaikan SK dan KD, tujuan pembelajaran, pokok bahasan, referensi, sistem pembelajar, dan sistem evaluasi.

2

Penjelasan dan penyajian informasi lewat IT

Memberikan informasi melalui media misalnya; kotak informasi, IT, internet, jika perlu email, demonstrasi

3

Organisasi kelompok-kelompok belajar

Membentuk kelompok belajar, dan menjelaskan macam-macam kegiatan kelompok

4

Keterlibatan dosen dalam bimbingan kelompok mahasiswa untuk bekerja dan belajar

Memberikan bimbingan saat mahasiswa mengerjakan tugas dan menampung kesulitan mahasiswa untuk dipecahkan bersama

5

Evaluasi

Memberi kesempatan untuk pelatihan lanjutan yang fokusnya adalah penerapan pada situasi yang lebih kompleks dalam kehidupan nyata.

6

Memberikan hadiah (rewards)

Memberi kesempatan untuk pelatihan lanjutan yang fokusnya adalah penerapan pada situasi yang lebih kompleks dalam kehidupan nyata.

 

 

 Adapun langkah-langkah perkuliahan psikologi umum sebagai berikut;

 Pertmuan pertama;

 a.       Dosen kontrak kuliah dengan mahasiswa, yaitu dosen menyampaikan  Silabus (SK, KD, Indikator, Tujuan, pokok-pokok bahasan yang akan  dipelajari dalam satu semester, strategi kuliah yang digunakan dengan model pembelajaran kooperatif, teknik pembelajaran Jigsaw, menganjurkan buku wajib dan buku tambahan, sistem penilaian antara lain aktifitas di kelas, ujian tengah semester, tugas kelompok (makalah), tugas individu (makalah), tugas mandiri, dan ujian semester). Kontrak kuliah ini dengan persetujuan mahasiswa.

 b.       Dosen menyampaikan reorientasi Psikologi Umum (mendiskusikan tujuan psikologi umum, pentingnya mahasiswa PGSD mempelajari psikologi umum, konsep, konsep dasar, ruang lingkup dan lain-lain).

 c.       Rangkuman, post-test, pesan-pesan akademik.

 d.      Sebelum kuliah diakhiri dosen menyampaikan PR (Pekerjaan Rumah) pokok bahasan ke 2 untuk dipelajari, pokok bahasan ini akan didiskusikan pada kuliah berikutnya, kuliah selesai.

 Pertemuan kedua, teknik Jigsaw Modifikasi.

 1)      Dosen membuka kuliah psikologi umum, apersepsi dan pre-test dan menjelaskan secara singkat pokok bahasan dan sub pokok bahasan yang akan di kaji.

 2)      Dosen membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 6 orang.

 3)      Setiap kelompok mendapatkan 1 sub topik yang berbeda untuk didiskusikan, setelah selesai diskusi kelompok masing-masing kelompok mengeluarkan 5 anggotanya untuk bertukar dengan anggota kelompok yang lain dan membantu kelompok baru.

 4)      Kelompok yang baru ini keanggotaannya harus berasal dari kelompok yang berbeda, dan masing-masing anggota kelompok ini harus membawa hasil diskusi dari kelompoknya.

 5)      Secara bergantian masing-masing anggota menjelaskan hasil dikusi dari kelompok lama, dan yang lain mencatatnya.

 6)      Setelah selesai, masing-masing anggota kelompok baru kembali bergabung dengan anggota kelompok lama, mendiskusikan ke tujuh sub topik dan hasilnya dilaporkan pada diskusi kelas.

 7)      Pelaporan (dosen menunjuk salah satu kelompok agar membacakan hasilnya).

 8)      Dosen menyimpulkan, dan memberi kesempatan mahasiswa untuk bertanya,

 9)      Sebelum kuliah diakhiri dosen menyampaikan PR (Pekerjaan Rumah) topik yang akan dibahas pada kuliah berikutnya, kuliah selesai.

 Pertemuan ketiga, teknik Jigsaw

 a)        Kelas dibagi beberapa kelompok dengan karakteristik mahasiswa heterogen.

 b)       Setiap kelompok memperoleh materi berbeda tetapi masih dalam satu topik.

 c)        Setiap kelompok mengirim anggota untuk bergabung dalam kelompok  pakar.

 d)       Setelah berdiskusi dalam kelompok pakar kemudian setiap anggota kelompok tadi kembali pada kelompok semula.

 e)        Setiap anggota kelompok pakar menjelaskan materi pada kelompoknya, terjadi diskusi kelompok.

 f)        Setiap kelompok secara bergantian presentasi materi dan ditanggapi oleh kelompok lain.

 g)       Sebelum kuliah diakhiri dosen menyampaikan PR (Pekerjaan Rumah) topik yang akan dibahas pada kuliah berikutnya, kuliah selesai.

 Pertemuan keempat dan seterusnya.

 Kuliah keempat, kelima dan seterusnya dilaksanakan seperti pertemua nkedua, dan ketiga, dan setiap akhir perkuliahan dosen wajib menyampaikan tugas/PR pokok bahasan yang akan didiskusikan minggu yang akan datang, hal ini dilakukan agar mahasiswa mempersiapkan materi-materi kuliah minggu berikutnya.

 B.     Saran-saran

 Disarankan kepada pengambil kebijakan hendaknya dalam menyusun strategi kebijakan penataan pendidikan diarahkan pada; (1) Pengembangan Model Peningkatan Kualitas dosen melalui pelatihan, misalnya lesson study, (2) Pengembangan model pembelajaran kooperatif dengan teknik Bertukar Pasangan dan Jigsaw melalui program workshop dan pelatihan. Hal ini penting mengingat kondisi pendidikan kita masih memprihatinkan. Data Balitbang (2003) mencatat bahwa dari 146.052 SD di Indonesia ternyata hanya 8 sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Primary Years Program (PYP). Dari 20.918 SMP di Indonesia ternyata juga hanya 8 yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Middle Years Program (MYP), dan dari 8.036 SMA ternyata hanya tujuh sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Diploma Program (DP). Secara khusus kualitas guru (2002-2003) yang layak mengajar, untuk SD hanya 21,07 % (negeri) dan 28,94 % (swasta), untuk SMP 54,12 % (negeri) dan 60,09 % (swasta), untuk SMA 65,29 % (negeri) dan 64,73 % (swasta), serta untuk SMK 55,49 % (negeri) dan 58,26 % (swasta).

 Data-data tersebut di atas maknanya terdapat masalah dalam sistem pendidikan Indonesia, pertama; masalah mendasar yakni kekeliruan paradigma pendidikan yang mendasari keseluruhan penyelenggaraan sistem pendidikan, kedua; masalah-masalah lain, yaitu berbagai problem yang berkaitan dengan aspek praktis/teknis penyelenggaraan pendidikan misalnya; biaya pendidikan, rendahnya prestasi siswa, rendahnya kualitas guru, rendahnya sarana fisik, rendahnya kesejahteraan guru dan sebagainya.

 Kepada dosen, disarankan agar berusaha mengembangkan profesinya dengan workshop dan pelatihan “teknik dan strategi pembelajaran yang inovatif”, selanjutnya untuk diimplementasikan di perguruan tingginya sebagai upaya peningkatan kualitas diri sebagai dosen yang profesional. Lesson study sebagai media belajar mengajar secara kolaboratoris untuk pembinaan dosen profesional yang dikembangkan di Jepang dan kemudian juga berkembang mendunia perlu direspon dan disikapi secara positif. Lesson study sebagai media untuk belajar dari pembelajaran diharapkan menjadi; (1) Inisiatif suatu perguruan tinggi (dosen) untuk meningkatkan diri atau untuk memperoleh masukan atas pembelajaran inovatif yang telah dipikirkan/dilakukan, dengan cara membuka kelas bagi dosen lain atau pengamat lain. (2) Wahana belajar bagi dosen/peserta lain (3) Wahana bersejawat, berdiskusi/sharing pikiran untuk meningkatkan keprofesionalan mereka. (4) Wahana berkolaborasi antara universitas dengan sekolah atau lembaga lain, kolaborasi antara dosen dan guru atau pemikir pendidikan lainnya guna menghasilkan inovasi pembelajaran.

 

 DAFTAR PUSTAKA

 Bambang Subali dkk. 2006. Prinsip-prinsip Monitoring dan Evaluasi Program Lesson Study. Makalah Pelatihan Lesson Study Bagi Guru-Guru Berprestasi dan Pengurus MGMP Se-Indonesia.

  Berger, P.and T. Luckman. 1967. The Social Construction of Reality. London. Allen Lane.

 ____________, 1990. Tafsir Sosial atas Kenyataan. Risalah Tentang Sosiologi Pengetahuan. Jakarta. LP3ES.

  DGSE. 2002. Report on Validation and Socialization of the Guideline of Syllabi and Evaluation System of Competent-Based Curriculum for Mathematics in Manado North Sulawesi. Jakarta: Depdiknas.

  Denzin K. N. Lincoln S. Y. 1994. Hand Book of Qualitative Research. London- New Delhi: Sage Publications.

  Fandy Tjiptono & Anastasia Diana 1996. Total Quality Management. Yogyakarta: Andi.

  Fernandez, C and Yoshida M. 2004. Lesson Study : A Japanese Approach to Improving Mathematics Teaching and Learning. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates. Publishers.

  Garfield, J. 2006. Exploring the Impact of Lesson Study on Developting Effective Statistics Curriculum. (Online): diambil tanggal 19-6-2006 dari: www.stat.auckland.ac.nz/-iase/publication/-11/Garfield.doc.

  Harta, I dan Djumadi, 2009, Pendalaman Materi Metode Pembelajaran, Modul PLPG, Departemen Pendidikan Nasional, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Panitia Sertifikasi Guru Rayon 41, Surakarta.

  Lewis, Catherine C. 2002. Lesson Study: A Handbook of Teacher-Led Instructional Change. Philadelphia, PA: Research for Better Schools, Inc.

  Lincoln, Y.S., Guba, E.G., 1984, Naturalistic Inquiry, California: Sage Publication.

  Marsidi, A., dkk (2006), Pengembangan Model Sekolah Unggulan Sekolah Dasar di Propinsi Sulawesi Selatan (Laporan Penelitian tidak Terbit)

  Miles, B. M., Michael, H., 1984, Qualitative Data Analisys, dalam H.B. Sutopo, Taman Budaya Surakarta dan Aktivitas Seni di Surakarta, Laporan Penelitian, FISIPOL UNS.

  Morgan, S. 2001. Teaching Math the Japanese Way (Online). Diambil tanggal 16 Mei 2005 dari: http://www.as1.org/alted/lessonstudy.htm.

  Mulyasa, 2004. Menjadi Kepala Sekolah Profesional, Remaja Rosda Karya, Bandung.

  Nung M. 1996. Metodologi Penelitian Kualitatif, (edisi III), Yogyakarta: Penerbit Rakesarasin.

  Paidi. 2005. Implementasi Lesson Study Untuk Peningkatan Kompetensi Guru dan Kualitas Pembelajaran yang Diampunya. Makalah disampaikan pada acara Diskusi Guru-guru MAN 1 Yogyakarta tanggal 10 Desember 2005.

 Robinson N. 2006. Lesson Study: An example of its adaptation to Israeli middle school teachers. (Online): stwww.weizmann.ac.il/G-math/ICMI/Robinson proposal.doc

 Roger A. Stewart, Jonathan L. Brenderfur, 2005, Phi Delta Kappan, Bloomington: May 2005. Vol. 86. Iss. 9, pg.681, 7 pgs.

 Richardson J. 2006. Lesson Study: Teacher Learn How to Improve Instruction. Nasional Staff Development Council. (Online): www.nsdc.org. 03/05/06.

 Sagor, R. (1992), How to Conduct Collaborative Action Research, Association for Supervision and Curriculum Development, Alexandria.

 Saito. E. Imansyah. H. dan Ibrohim. 2005. Penerapan Studi Pembelajaran di Indonesia: Studi Kasus dari IMSTEP. Jurnal Pendidikan “Mimbar Pendidikan. No.3. Th. XXIV: 24-32.

  Saito. E. 2006. Development of school based in-service teacher training under the Indonesian Matheamtics and Science Teacher Education Project. Imroving Schools. Vol. 9 (1): 47-59

 Sa’dun dkk, 2006, Pengembangan Model Pembelajaran Tematik untuk Kelas 1 dan 2 SD. (Laporan Penelitian itdak Terbit)

 Sonal Chokshi, Clear Fermandez, 2004, Phi Delta Kappan, Bloomington: Mar 2004. Vol. 85. Iss. 7, pg.520, 6 pgs.

 ________________, 2005, Phi Delta Kappan, Bloomington: May 2005. Vol. 86. Iss. 9, pg.674, 7 pgs.

 Stephen L. Thompson, 2007, Science Activities, Washington: Winter 2007. Vol. 43. Iss. 4, pgs.27, 7 pgs.

 Subadi T, (2009), Pengembangan Model Peningkatan Kualitas Guru Melalui Pelatihan Lesson Study Bagi Guru SD Se-Karesidenan Surakarta. (Laporan Penelitian, DP3M Dirjen Dikti, Depdiknas, Jakarta.

 Sukirman, 2006. Peningkatan Profesional Guru Melalui Lesson Study. Makalah pelatihan Lesson Study Bagi Guru-Guru Berprestasi dan Pengurus MGMP Se-Indonesia.

 Suparwoto dkk 2006. Inovasi Pembelajarn MIPA di Sekolah dan Alternatif Implementasinya. Makalah Pelatihan Lesson Study Bagi Guru-Guru Berprestasi dan Pengurus MGMP Se-Indonesia.

 Tim Piloting. 2002. Laporan Kegiatan Piloting. Yogkayakarta: IMSTEP-JICA FMIPA UNY.

  _____________. 2003. Laporan Kegiatan Piloting. Yogyakarta: IMSTEP-JICA FMIPA UNY.

  _____________. 2003. Laporan Kegiatan Piloting. Yogyakarta: IMSTEP-JICA FMIPA UNY.

  Tim Pengembang Sertifikasi Kependidikan. 2003. Pedoman Sertifikasi Kompetensi Tenaga Kependidikan (draft). Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi Ditjen Dikti Depdiknas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Standard

Penelitian Kolaborasi STRATEGI PEMBELAJARAN MATEMATIKA SEKOLAH ALAM (Studi Situs Sekolah Alam Ar Ridho Semarang)

STRATEGI PEMBELAJARAN MATEMATIKA SEKOLAH ALAM 

(Studi Situs Sekolah Alam Ar Ridho Semarang)

 

 Dr. Tjipto Subadi, M.Si (NIK/NID: 150/0607065302). Prodi: Pendidikan Geografi

Email tjiptosubadi@yahoo.com

Eve Nelindhy, (A 410060166). Prodi Pendidikan Matematika

 

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta

 

ABSTRAK

 Tujuan penelitian ini adalah mengkaji strategi pembelajaran matematika di Sekolah Alam Ar Ridho Semarang terutama strategi pengorganisasian materi pembelajaran matematika dan strategi pengorganisasian interaksi pembelajaran matematika di Sekolah Alam Ar Ridho Semarang. Jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan situs. Informan adalah kepala sekolah, guru, dan siswa SMP Alam Ar Ridho Semarang. Teknik pengumpulan data dengan wawancara, observasi dan dokumentasi, sedangkan teknik analisis data menggunakan first order understanding  dan second order understanding. Hasil dari penelitian adalah (1) Strategi pengorganisasian materi pembelajaran mengacu pada tiga aspek yaitu; pemilihan isi, penataan urutan isi, dan penyajian. (2) Strategi pengorganisasian interaksi pembelajaran berlangsung interaksi antara guru dengan siswa, peran guru sebagai organisator, motivator, konselor, moderator, motor, pelopor, katalisator dan evaluator, terjadi hubungan interaksi timbal balik-baik di dalam dan di luar kelas. Kerjasama antar siswa terjadi saat ada siswa yang mengalami kesulitan, teman yang lain berlaku sebagai guru membantu mangajari teman yang mengalami kesulian sehingga terjadi diskusi dan semangat belajar.

 

Kata Kunci : Sekolah Alam, Pengorganisasian, materi, interaksi.

BAB I   PENDAHULUAN

 A.    Latar Belakang

Matematika sering dikeluhkan sebagai mata pelajaran yang sulit, membingungkan, dan sederet kata lain yang menunjukkan ketidaksenangan pada pelajaran ini. Banyak kritik yang ditujukan pada cara guru mengajar yang terlalu menekankan pada penguasaan sejumlah informasi atau konsep belaka. Dalam (Trianto 2007: 65) banyak kritik yang ditujukan pada cara guru mengajar yang terlalu menekankan pada penguasaan sejumlah informasi atau konsep belaka. Penumpukan informasi atau konsep pada subjek didik dapat saja kurang bermanfaat bahkan tidak bermanfaat sama sekali kalau hal tersebut hanya dikomunikasikan searah oleh guru kepada siswa. Sehingga tidak dapat disangkal, bahwa konsep merupakan suatu hal yang sangat penting, namun bukan terletak pada konsep itu sendiri, tetapi bagaimana konsep itu dipahami oleh siswa.

 

Pentingnya pemahaman konsep dalam proses belajar mengajar sangat mempengaruhi sikap, keputusan dan cara-cara memecahkan masalah. Kenyataan di lapangan siswa hanya menghafal konsep dan kurang mampu menggunakan konsep tersebut jika menemui masalah dalam kehidupan nyata yang berhubungan dengan konsep yang dimiliki serta menimbulkan kurang minatnya siswa dalam membelajari matematika. Untuk menciptakan situasi yang menyenangkan,  seorang guru harus mempunyai syarat-syarat apa yang diperlukan dalam mengajar dan membangun pembelajaran siswa agar efektif dikelas, saling bekerjasama dalam belajar.

Strategi pembelajaran yang di gunakan sangat mempengaruhi dalam proses pembelajaran. Strategi  pembelajaran yang menyenangkan dan variasi metode pembelajaran akan memberikan dampak yang positif bagi diri siswa khususnya dalam hal penguasaan materi dan suasana yang terjadi akan lebih menyenangkan. Strategi pembelajaran adalah perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai pendidikan tertentu (Sanjaya,  2008: 126).

Pembelajaran adalah suatu proses interaksi siswa dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar (Rohani, 2004: 1). Tujuan dari pembelajaran di sekolah dapat tercapai dengan baik apabila terdapat kerjasama yang baik antara guru, siswa dan sumber belajar. Oleh karena itu kerjasama antara guru, siswa, dan sumber belajar ini sangat penting untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Kerjasama tersebut akan terwujud jika terdapat pengelolaan pembelajaran yang baik. Hal terpenting yang terdapat dalam pengelolaan pembelajaran, salah satunya adalah tentang sistem pembelajaran yang digunakan antara guru dengan siswa.

Berhasil tidaknya proses belajar mengajar tergantung ada tidaknya interaksi timbal balik antara siswa dan guru. Interaksi akan timbul apabila guru menggunakan strategi pembelajaran yang menyenangkan, tidak hanya dengan memberikan materi yang ada tetapi juga mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kenyataannya banyak sekolah yang hanya memberikan materi pembelajaran saja. Pembelajaran yang menyenangkan tidak hanya memberikan materi saja akan tetapi menyangkutkan materi yang ada dalam kehidupan sehari-hari dan di adakan tidak hanya di dalam kelas saja akan tetapi mengajak siswa turut serta dalam merencanakan dan mengeksplorasi kemampuan yang ada di dalam diri siswa yaitu dengan belajar dari alam. Belajar dari alam mengajak siswa untuk bekerja dalam tim, melatih sportivitas, menanamkan kedisiplinan, belajar mandiri dan juga mereka dapat lebih mencintai alam. Mereka akan menemukan sendiri dan dapat menemukan hal yang baru yang terdapat dalam sekolah alam.

Sekolah Alam terinspirasi oleh pemanfaatan alam, kehidupan, dan lingkungan sebagai media pembelajaran. Dengan adanya pemaduan itu siswa akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan secara utuh sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi siswa. Bermakna disini memberikan arti bahwa siswa akan dapat memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan nyata yang menghubungkan antar konsep dalam intra mata pelajaran maupun antar mata pelajaran.

Jika dibandingkan dalam konsep konvensional, maka pembelajaran sekolah alam tampak lebih menekankan keterlibatan siswa dalam belajar, sehingga siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran untuk pembuatan keputusan.  Setiap siswa memerlukan bekal pengetahuan dan kecakapan agar dapat hidup di masyarakat dan bekal ini diharapkan diperoleh melalui pengalaman belajar di sekolah. Oleh karena itu pengalaman belajar di sekolah sedapat mungkin memberikan bekal siswa dalam mencapai kecakapan untuk berkarya. Kecakapan ini disebut kecakapan hidup yang cakupannya lebih luas dibanding hanya sekedar keterampilan.

B.     Fokus Penelitian

Penelitian ini difokuskan pada bagaimana strategi pembelajaran matematika di  Sekolah Alam Ar Ridho Semarang. Fokus penelitian ini di rinci menjadi dua sub fokus. 1) Bagaimana  strategi pengorganisasian materi pembelajaran matematika di Sekolah Alam Ar Ridho Semarang? 2) Bagaimana strategi pengorganisasian interaksi  pembelajaran matematika di Sekolah Alam Ar Ridho Semarang?

C.    Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mendiskrepsikan strategi pembelajaran matematika di Sekolah Alam Ar Ridho Semarang. Secara khusus dijabarkan menjadi; 1) Memaparkan strategi pengorganisasian materi pembelajaran matematika di Sekolah Alam Ar Ridho Semarang. 2)Memaparkan bagaimana strategi pengorganisasian interaksi  pembelajaran matematika di Sekolah Alam Ar Ridho Semarang.

D.    Manfaat Penelitian

         Secara teoritis penelitian ini memberikan sumbangan keilmuan di bidang pendidikan matematika utamanya dalam strategi pembelajaran matematika. Strategi pembelajaran yang berkualitas akan berdampak pada peningkatan mutu pendidikan melalui peningkatan hasil belajar. Sedangkan secara praktis penelitian ini memberi sumbangan tentang alternatif strategi pembelajaran matematika yang inovatif berkaitan dengan strategi pengorganisasian materi pembelajaran matematika dan strategi pengorganisasian interaksi pembelajaran matematika

 

BAB II  STUDI KEPUSTAKAAN

 A.    Pembahasan Teori

Pengelolaan Sekolah Alam

 

Sekolah menjadi tempat yang penting untuk menciptakan dan melaksanakan sebuah sistem pembelajaran pentingnya pemeliharaan alam. Disinilah berbagai pembelajaran tersebut dapat dilaksanakan dengan intens dan dalam jangka waktu yang lama. Dasar pemikirannya, pemahaman tentang pemeliharaan alam adalah sebuah gaya hidup bagian dari kebudayaan yang harus dipelajari sebagai bagian dari keseharian sejak usia kanak-kanak. Semestinya hasilnya akan menjadi lebih baik jikapemahaman tersebut sudah tertanam sejak kecil dan menjadi bagian tak terpisahkan dari pola pikir masyarakat. Sekolah dapat menjadi tempat ideal untuk menanamkan pengertian tersebut sejak kanak-kanak.

Penyusunan Kurikulum dilandasi dengan pemikiran bagaimana menciptakan sistem pembelajaran yang menyenangkan dan menarik minat anak didik untuk mempelajarinya. Ada beberapa hal yang semestinya diperhatikan dalam menciptakan pembelajaran tersebut agar siswa betul-betul menyenangi, menghayati, melaksanakan, dan terlibat dalam proses pelestarian alam ini yaitu:

 

a.         Pembelajaran itu harus membentuk jiwa eksploratif siswa

 

Siswa yang memiliki jiwa eksploratif akan menemukan jalan untuk setiap persoalan yang ia jumpai termasuk setiap persoalan dalam pelestarian alam.

 

b.        Kegiatan Kreatif

 

Kegiatan kreatif merupakan sisi lain dari satu mata uang jiwa eksploratif. Jika siswa eksploratif maka dia akan kreatif. Siswa kreatif tidak mudah putus asa dan selalu memikirkan cara baru dalam melestarikan alam ini.

 

c.         Kegiatan Integral

 

Ditandai oleh keberhasilan siswa yang utuh jiwanya artinya siswa tersebut mengerti betul apa yang akan dia lakukan terhadap alam ini.

 

Sekolah alam adalah sekolah yang menggunakan alam semesta sebagai pembelajaran. Dalam sekolah alam rasa keingintahuan anak dapat tersalurkan. Anak diberikan kebebasan untuk memuaskan keingintahuan mereka tanpa dihalangi oleh ruang kelas, pakaian, peraturan sekolah yang “mematikan” daya kreativitas maupun guru yang terlalu mengatur sehingga mereka dapat menemukan sesuatu yang penting dan berarti tentang mereka dan dunia yang mengelilinginya dalam kegiatan belajar mereka. Siswa tidak hanya belajar dari teori-teori belaka yang diberikan oleh guru, mereka justru memperoleh pengetahuan dari apa yang mereka amati dan mereka perhatikan melalui proses belajar mereka. Kemampuan dasar yang ingin ditumbuhkan pada anak-anak di sekolah alam adalah kemampuan membangun jiwa, keinginan melakukan observasi, membuat hipotesa, serta kemampuan berfikir ilmiah.

 

Belajar di alam terbuka secara naluriah akan menimbulkan suasana senang, tanpa tekanan dan jauh dari kebosanan. Dengan demikian akan tumbuh kesadaran pada anak-anak bahwa learning is fun, dan sekolah pun menjadi identik dengan kegembiraan. Siswa belajar tidak hanya dengan mendengar penjelasan guru, tetapi juga dengan melihat, menyentuh, merasakan dan mengikuti keseluruhan proses dari setiap pembelajaran.

 

Didalam sekolah alam anak juga di arahkan untuk memahami potensi dasarnya sendiri. Setiap anak di hargai kelebihannya dan di pahami kekurangannya. Mereka diarahkan untuk belajar secara aktif. Di mana guru berperan sebagai fasilitator. Siswa belajar tidak untuk mengejar nilai, tetapi untuk memanfaatkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari. Menjadikan anak memiliki logika berpikir yang baik, mencermati alam lingkungannya menjadi media belajarnya dengan metode action learning dan diskusi. Anak-anak  tidak hanya belajar di kelas, tetapi mereka belajar dari mana saja dan dari siapa saja. Mereka tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga belajar dari alam sekelilingnya.

 

Menurut teori Belajar Rogers mengatakan bahwa:

 

a.         Keinginan untuk belajar Anak diberikan kebebasan untuk memuaskan keingintahuan mereka tanpa dihalangi oleh ruang kelas, pakaian, peraturan sekolah yang “mematikan” daya kreativitas maupun guru yang terlalu mengatur.

 

b.        Belajar secara signifikan proses belajar ditujukan bukan untuk mengejar nilai, tapi untuk bisa memanfaatkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari. Menjadikan anak memiliki logika berpikir yang baik, sehingga dapat digunakan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.

 

c.         Belajar tanpa ancaman  belajar di alam terbuka, secara naluriah akan menimbulkan suasana fun tanpa tekanan dan jauh dari kebosanan.

 

d.        Belajar atas inisiatif sendiri Anak-anak belajar tidak hanya selama jam belajar sekolah.

 

e.         Belajar dan berubah sehingga mereka diharapkan akan mampu beradaptasi dengan situasi lingkungan yang selalu dinamis.

 

Konsep Teori Penerapan pada Sekolah Alam adalah:

 

a.         Determinis resiprokal

 

Anak-anak melalui sekolah alam akan belajar melalui lingkungan , diajarkan untuk mengenal dan mencintai alam sehingga mereka akan menghargai dan menjaga alam.

 

b.        Tanpa reinforcement

 

Anak-anak belajar melalui observasi di dalam secara langsung, yang membuat mereka mendapatkan kesenangan dalam belajar dan tidak membutuhkan reinforcement dari luar untuk memacu mereka untuk belajar.

 

c.         Anak-anak memilih sendiri apa yang ingin diketahuinya dari lingkungan sekitar dan mengatur cara belajarnya sendiri. (Indoskripsi: 2008)

 

2.         Pengelolaan Pembelajaran

 

Dalam pengelolaan pembelajaran ada beberapa tahap yaitu diantaranya adalah perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan. Merencanakan yaitu mempelajari masa mendatang dan menyusun rencana kerja, mengorganisasikan yaitu membuat organisasi usaha, manajer, tenaga kerja, dan bahan, mengkoordinasikan yaitu menyatukan dan mengkorelasikan semua kegiatan, mengawasi dan memeriksa merupakan segala sesuatu yang dikerjakan sesuai dengan peraturan yang digariskan dan instruksi-instruksi yang diberikan (Ahmad dan Joko Prasetya, 2007 : 34).

 

Ada sejumlah variabel yang berpengaruhi dalam merancang sebuah pembelajaran. Variabel-variabel tersebut adalah sebagai berikut:

 

a.         Guru

 

Pengaruh guru dapat beranjak dari pendapat mereka tentang apa yang seharusnya dipelajari oleh siswa, kapasitas mereka untuk memfasilitasi pembelajaran (penguasaan psikologi pendidikan dan metode mengajar), komitmen mereka terhadap profesi, keyakinan akan kemampuan siswa menangkap pelajaran, hingga latar belakang bidang keilmuan mata pelajaran yang diampu.

 

b.        Siswa

 

Berbagai keputusan yang diambil guru dan dimuat dalam perencanaan pembelajaran juga sangat dipengaruhi oleh usia, tingkat kematangan berpikir, latar belakang pengetahuan yang telah mereka miliki, tingkat motivasi, hingga minat mereka.

 

c.         Materi Pelajaran (Konten)

 

Saat merancang sebuah pembelajaran, sudah barang tentu harus mempertimbangkan dari sisi konten, terkait dengan tipe materi pelajaran yang akan dibelajarkan, apakah materi pelajaran berupa konsep, prinsip, fakta, atau keterampilan.

 

d.        Material dan Sumber Daya yang Tersedia

 

Kelengkapan material dan sumber daya di sekolah sangat membantu guru untuk mempermudah perancangan pembelajaran.

 

e.         Waktu

 

Waktu yang tersedia mempengaruhi proses peracangan pembelajaran. Kemampuan guru untuk memilah-milah berbagai kegiatan pembelajaran dan materi pelajaran esensial sangatlah penting, sehingga waktu yang ada dapat bermanfaat semaksimal mungkin bagi proses pembelajaran (Suhadi: 2009).

 

Ada prinsip khusus dalam pengelolaan pembelajaran,sebagai berikut:
a.    Interaktif

 

Prinsip interaktif mengandung makna bahwa mengajar bukan hanya sekadar menyampaikan pengetahuan dari guru ke siswa, akan tetapi mengajar dianggap sebagai proses mengatur lingkungan yang dapat merangsang siswa untuk belajar.

 

b.    Inspiratif

 

Proses pembelajaran adalah proses yang inspiratif, yang memungkinkan siswa untuk mencoba dan melakukan sesuatu.

 

c.    Menyenangkan

 

Proses pembelajaran adalah proses yang dapat mengembangkan seluruh potensi siswa maka perlu diupayakan agar proses pembelajaran merupakan proses yang menyenangkan.

 

d.        Menantang

 

Proses pembelajaran adalah proses yang menantang siswa untuk mengembangkan kemampuan berfikir, yakni merangsang kerja otak secara maksimal, apapun yang diberikan dan dilakukan harus dapat meransang siswa untuk berfikir dan melakukan.

 

c.         Motivasi

 

Motivasi adalah aspek yang sangat penting untuk membelajarkan siswa. Tanpa adanya motivasi,tidak mungkin siswa memiliki kemauan untuk belajar. Membangkitkan motivasi adalah salah satu peran dan tugas guru dalam setiap proses pembelajaran.

 

3.         Strategi Pembelajaran Matematika

 

Menurut Kozna (Uno, 2007: 1) secara umum menjelaskan bahwa strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap kegiatan yang dipilih, yaitu yang dapat memberikan fasilitas atau bantuan kepada peserta didik menuju tercapainya tujuan pembelajaran tertentu.

 

Menurut Dick dan Carey (Uno, 2007: 1) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran terdiri atas seluruh komponen materi pembelajaran dan prosedur atau tahapan kegiatan belajar yang/ atau digunakan oleh guru dalam rangka membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Strategi pembelajaran bukan hanya terbatas prosedur atau tahapan kegiatan belajar saja, melainkan termasuk juga pengaturan materi atau peket program pembelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik.

 

Aspek dalam strategi pembelajaran yaitu memuat perencanaan, pengorganisasian, penyampaian dan pengevaluasian. Pengorganisasian materi pembelajaran memuat tiga aspek yaitu pemilihan isi, penataan urutan isi dan penyajian. Pemilihan isi mencakup ilmiah, relevan, memadai, aktual dan konseptual, fleksibel, menyeluruh. Penataan urutan isi mencakup sistematis, konsisten, Penyajian mencakup konkrit-abstrak, sederhana-kompleks, bermakna.

 

a.         Ilmiah

 

Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.

 

b.        Relevan

 

Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional peserta didik.

 

c.         Sistematis

 

Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi.

 

d.        Konsisten

 

Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara indikator, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, serta  teknik dan  instrumen penilaian dan diarahkan semata-mata dalam pencapaian pembelajaran.

 

e.         Memadai

 

Cakupan indikator, materi pembelajaran kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.

 

f.         Aktual dan Kontekstual

 

Cakupan indikator, materi pembelajaran, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi dan untuk menanamkan kebiasaan mencari informasi yang lebih luas kepada peserta didik.

 

g.        Fleksibel

 

Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan kebutuhan masyarakat.

 

h.        Menyeluruh

 

Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi, baik kognitif, afektif, maupun psikomotor. ( Hanafiah, 2009: 114-115)

 

Konsep dasar strategi belajar mengajar ini meliputi hal-hal:

 

a.         Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan perilaku pembelajaran.

 

b.        Menentukan pilihan berkenaan dengan pendekatan terhadap masalah belajar mengajar, memilih prosedur, metode dan teknik belajar mengajar.

 

c.         Norma dan kriteria keberhasilan kegiatan belajar mengajar.

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan strategi belajar-mengajar ialah: tujuan, bahan pelajaran, alat dan sumber, siswa, dan guru.

 

Joni (2009) mengemukakan suatu kerangka acuan yang dapat digunakan untuk memahami strategi belajar-mengajar, sebagai berikut:

 

a.         Pengaturan guru-siswa

 

1)        Dari segi pengaturan guru dapat dibedakan antara pengajaran yang diberikan oleh seorang guru atau oleh tim.

 

2)        Hubungan guru-siswa, dapat dibedakan hubungan guru-siswa melalui tatap muka secara langsung ataukah melalui media cetak maupun media audio visual.

 

3)        Dari segi siswa, dibedakan antara pengajaran klasikal (kelompok besar) dan kelompok kecil (antara 5 – 7 orang) atau pengajaran Individual (perorangan).

 

b.        Struktur peristiwa belajar-mengajar

 

Struktur peristiwa belajar, dapat bersifat tertutup dalam arti segala sesuatunya telah ditentukan secara ketat. Tujuan khusus pengajaran, materi serta prosedur yang ditempuh ditentukan selama pelajaran berlangsung menentukan apa yang akan dipelajari dan bagaimana langkah langkah yang akan ditempuh.

 

c.         Peranan guru-siswa dalam mengolah pesan

 

Tiap peristiwa belajar-mengajar bertujuan untuk mencapai suatu tujuan tertentu, ingin menyampaikan pesan, informasi, pengetahuan dan keterampilan tertentu kepada siswa.

 

d.        Proses pengolahan pesan

 

Dalam peristiwa belajar-mengajar, dapat terjadi bahwa proses pengolahan pesan bertolak dari contoh-contoh konkret atau peristiwa-peristiwa khusus kemudian diambil suatu kesimpulan (generalisasi atau pnnsip-pnnsip yang bersifat umum). Strategi belajar-mengajar yang dimulai dari hal-hal yang khusus menuju ke umum tersebut, dinamakan strategi yang bersifat induktif.

 

Interaksi antara guru dengan siswa antara lain yaitu :

 

a.         Guru sebagai informator

 

Seorang guru harus siap memberi informasi yang berupa aspek kognitif, afektif, maupun ketrampilan.

 

b.        Guru sebagai organisator

 

Guru bertugas mengorganisasikan kelas sehingga kelas lebih kondusif, dinamis dan interaktif.

 

c.         Guru sebagai motivator

 

Guru memberikan motivasi kepada siswanya seperti memberikan pujian, memberi hadiah, menciptakan persaingan sehat, memberi ulangan, memberikan quis mendadak, memajang hasil kerja siswa.

 

d.        Guru sebagai konselor

 

Guru bertugas membimbing siswa-siswanya dalam mengatasi kesulitan belajar.

 

e.         Guru sebagai moderator

 

Guru sebagai penengah bila terjadi perdebatan atau perbedaan pendapat antar siswa.

 

f.         Guru sebagai motor

 

Guru sebagai penggerak bagi siswanya untuk lebih maju.

 

g.        Guru seagai pelopor

 

Guru hendaknya aktif dalam kegiatan, kreatif dalam menciptakan ide-ide, dan produktif dalam berkarya.

 

h.        Guru sebagai katalisator

 

Guru hendaknya dapat mempercepat proses terjadinya komunikasi dan interaksi di dalam kelas.

 

i.          Guru sebagai evaluator

 

Guru mengevaluasi hasil belajar siswa.

 

j.          Guru sebagai pendidik

 

Guru sebagai pendidik, menjadi tokoh panutan, identifikasi bagi para siswa dan lingkungannya.

 

 

 

B.     Hasil Penelitian yang Relevan

 

Sebuah pelitian akan mengacu pada penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Hal ini dapat sebagai titik tolak dalam melakukan penelitian dan untuk mengetahui relevansinya .

 

Penelitian Wicaksono (2007) yang berjudul “Strategi Pembelajaran Matematika Sekolah Alternatif Qarriyah Thayibah Kalibening Salatiga” memberikan kesimpulan bahwa (1) Setiap guru harus membuat kesempatan untuk menghargai setiap kerja dari siswanya dan guru adalah teman belajar dari siswanya, (2) Dalam penyampaian materi belajar haruslah dimulai dari peristiwa atau kejadian yang sesuai dengan realitas siswa dalam lingkungannya, sehingga materi benar-benar dapat dipahami dan dimengerti, (3) Pengambilan keputusan dalam bentuk angka, hal seperti itu adalah penghakiman terhadap siswa dalam kerangka pintar dan bodoh dalam satu materi. Penghakiman dengan nilai yang tertera dalam raport maka hanya akan membuat siswa tidak bisa mengembangkan kreatifitasnya.

 

Penelitian Triyanto (2005) yang berjudul “Pengaruh Strategi Pembelajaran dan Kemampuan Awal Siswa Terhadap Prestasi Belajar Matematika” memberikan kesimpulan bahwa (1) proses pembelajaran perlu adanya penigkatan strategi pembelajaran guru yang meliputi pemilihan media dan sumber belajar yang disesuaikan dengan karakteristik kemampuan siswa dan materi ajar, (2) Guru menyesuaikan strategi pembelajaran dilakukan dengan kemampuan awal siswa, (3) Dalam melaksanakan proses pembelajaran guru hendaknya menekankan pada pemahaman siswa akan materi ajar, (4) Strategi pembelajaran yang akan digunakan harus disesuaikan dengan kemampuan awal siswa dalam rangka peningkatan prestasi belajar siswa khusus pelajaran matematika, (5) Guru memegang peranan penting dalam meningkatkan prestasi belajar siswa dan strategi pembelajaran guru berpengaruh terhadap prestasi belajar matematika.

 

Penelitian Rahayu (2007) yang berjudul “Pengaruh Strategi Pembelajaran dan Morivasi Belajar Terhadap Prestasi Belajar Matematika Pada Siswa Kelas VII SLTP Muhammadiyah 10 Surakarta Tahun Ajaran 2006/2007” memberikan kesimpulan bahwa (1) Penggunaan strategi pembelajaran dengan kelas mandiri dan kelas penuh dapat memberikan pengaruh positif pada peningkatan pembelajaran matematika sehingga dapat digunakan sebagai sarana yang dapat memotivasi siswa belajar sehingga siswa tidak bosan, (2) hasil belajar siswa yang diberikan strategi pembelajaran kelas mandiri memiliki rata-rata lebih baik dari siswa yang diberi strategi pembelajaran dengan kelas penuh dan dapat dipengaruhi oleh motivasi.

 

Dengan demikian strategi pembelajaran, aktifitas belajar dan suasana kelas akan mempengaruhi hasil prestasi belajar siswa. Guru dalam pembelajaran matematika memberikan peranan penting dalam proses belajar. Penggunaan strategi pembelajaran yang tepat dan menyenangkan yang tidak hanya dikelas, sangat mendukung keberhasilan proses belajar mengajar.

 

Pada penelitian Wicaksono yang berjudul “Strategi Pembelajaran Matematika Sekolah Alternatif Qarriyah Thayibah Kalibening Salatiga” memfokuskan pada hubungan strategi pembelajaran matematika, penyampaian materi bahan ajar yang dimulai dari peristiwa kehidupan sehari-hari dan guru adalah teman bagi siswanya. Penelitian yang dilakukan Rahayu yang berjudul “Pengaruh Strategi Pembelajaran dan Morivasi Belajar Terhadap Prestasi Belajar Matematika Pada Siswa Kelas VII SLTP Muhammadiyah 10 Surakarta Tahun Ajaran 2006/2007” memfokuskan pada hubungan anatara strategi pembelajaran dan kemampuan awal siswa terhadap prestasi belajar matematika. Sedangkan penulis pada penelitian ini akan memfokuskan pada strategi pembelajaran yang efektif dalam pembelajaran matematika.

 

 

 

 BAB III

 

METODE PENELITIAN

 

 

 

A.    Jenis Penelitian

 

Jenis penelitian ini adalah kualitatif. Menurut Nasution (Sugiyono, 2008 : 205) penelitian kualitatif pada hakekatnya adalah mengamati orang dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, berusaha memahami bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya.

 

Dalam penelitian ini menggunakan studi kasus. Studi kasus merupakan penyelidikan mendalam mengenai suatu unit sosial sedemikian rupa sehingga menghasilkan gambar yang terorganisasikan dengan baik dan lengkap mengenai unit sosial tersebut (Azwar, 2005:8). Dalam penelitian ini yang diamati adalah strategi, yaitu suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dengan digunakan penelitian kualitatif, maka data yang didapatkan akan lebih lengkap, lebih mendalam dan bermaka sehingga tujuan dari penelitian ini akan tercapai.

 

B.     Tempat dan Waktu Penelitian

 

Penelitian ini di lakukan di SLTP Alam Ar Ridho Semarang yang berlokasi di Jalan Kelapa Sawit I Blok AA Bukit Kencana Jaya Tembalang Semarang, Jawa Tengah. Sejarah sekolah alam di awali dengan didirikannya Taman Kanak-kanak islam Ar Ridho tahun 1995, kemudian terdapat gagasan untuk mendirikan sekolah alam yaitu di Jalan Kelapa Sawit I Blok AA Bukit Kencana Jaya Tembalang Semarang, maka pada tahun 2000 berdirilah Sekolah Alam Ar Ridho. TK Islam Ar Ridho berganti nama menjadi TK Alam Ar Ridho, bersamaan dengan itu didirikan pula SD Alam Ar Ridho. Respon masyarakat terhadap sekolah alam sangat bagus, sehingga pada tahun 2006 SMP Alam Ar Ridho didirikan. Secara umum, sekolah ini didirikan dengan tujuan pemanfaat alam sebagai sumber belajar  dan mengeksplorasi daya kreativitas siswa dalam pembelajaran.

 

Sekolah ini berdiri pada tahun 2006 atas prakarsa dari direktur sekolah alam yaitu ibu Mia Inayati. Sekolah Alam ini satu komplek dengan TK Alam dan SD Alam Ar Ridho. Lingkungan yang kondusif dan desain bangunan yang berbeda dengan sekolah pada umumnya sangatlah memberikan inspirasi dan mengeksplorasi daya fikir siswa dalam pembelajaran. Dinamakan sekolah alam karena dalam kegiatan pembelajarannya menggunakan alam sekitar. Terdapat berbagai tempat yang sangat menarik dan menyenangkan yaitu pada daerah sekitarnya dikelilingi oleh hutan, tanah yang luas, bangunan-bangunan yang berstruktur terbuka dan taman yang asri .

 

Kepala sekolah SMP alam ini bernama ibu  Susanti. Sekolah ini berlantai dua dan penyekatnya tembok yang terbuka sehingga udara dan angin dapat masuk dengan bebas. Sekolah ini dilengkapi dengan hotspot area sehingga dapat sewaktu-waktu mengakses internet dan  perpustakaan yang menyenangkan, masjid dan kegiatan out bond. Jumlah siswa di sekolah ini adalah 51 dan gurunya berjumlah 9 yang setiap guru mengampu tidak hanya satu mata pelajaran.

 

Pelaksanaan penelitian dimulai bulan februari 2010 sampai dengan bulan april 2010,  secara terperinci sebagai berikut:

 

1.                  Tahap perencanaan mencakup pengajuan judul, pembuatan proposal, permohonan izin riset serta survei di sekolah yang direncanakan sebagai tempat penelitian yang dilaksanakan pada bulan januari 2010

 

2.                  Tahap pelaksanaan, yaitu kegiatan-kegiatan yang berlangsung di sekolah yang berupa pengambilan data-data yang dilaksanakan pada bulan januari sampai maret 2010

 

3.                  Tahap analisis data, yaitu proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil penelitian. Tahap ini dilaksanakan pada bulan maret 2010

 

4.                  Tahap pelaporan, yang dilaksanakan bulan maret 2010

 

C.    Data, Sumber Data dan Nara Sumber

 

Data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari subjek penelitian yaitu tentang strategi pemebelajaran di Sekolah Alam Ar Ridho Semarang. Data primer ini diambil dengan mengenakan alat pengambilan data langsung pada subjek sebagai sumber informasi yang dicari.Data sekunder adalah data yang diperoleh lewat pihak lain,  tidak langsung diperoleh peneliti dari subjek penelitinnya. Dalam penelitian ini data sekundernya adalah berupa dokumen-dokumen atau data laporan yang telah tersedia yang mendukung dalam penelitian (Sugiyono, 2008: 308-309).

 

Sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen, Data-data dan tindakan orang-orang yang diamati atau di wawancarai merupakan sumber data utama dicatat melalui catatan tertulis atau melaui perekaman dan pengambilan foto. Pencatatan sumber utama melalui wawancara atau pengamatan merupakan hasil gabungan dari kegiatan melihat, mendengar dan bertanya. Data dalam penelitian ini diperoleh dari sumber data yaitu siswa, guru yang mengajar, dan kepala sekolah.

 

Informasi dalam penelitian ini dapat diperoleh dari berbagai kejadian.Peneliti dapat melakukan observasi langsung dilapangan baik dalam proses belajar mengajar di kelas maupun di luar kelas. Objek penelitian ini adalah strategi pembelajaran matematika yang diterapkan di Sekolah Alam Ar Ridho Semarang.

 

D.    Metode Pengumpulan Data

 

Metode pengumpulan data dala penelitian disesuaikan dengan fokus dan tujuan penelitian (Sugiyono, 2008: 206). Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui metode wawancara, observasi dan dokumetasi.  

 

1.      Wawancara 

 

Wawancara mempunyai definisi suatu proses komunikasi interaksional antara dua pihak (Rizky, 2009). Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam yaitu wawancara yang dilakukan dengan cara yang tidak terstruktur. Wawancara dilakukan berupa pertanyaan yang mengarah pada pendalaman informasi, serta dilakukan dengan cara yang tidak secara formal tersetruktur, guna menggali pandangan subjek yang diteliti tentang banyak hal yang sangat bermanfaat (Afriani, 2009).

 

2.      Observasi

 

Metode observasi adalah suatu usaha sadar untuk mengumpulkan data yang dilakukan secara sistematis dengan prosedur yang terstandar       (Arikunto, 2002: 197). Dalam hal ini observasi yang dilakukan adalah turut mengawasi berlangsungnya proses belajar mengajar di SMP Sekolah Alam  Ar Ridho Semarang. Pada waktu observasi dilakukan, penelitian mengamati proses pembelajaran dan mengumpulkan data mengenai segala sesuatu yang terjadi pada proses pembelajaran tersebut baik yang terjadi pada guru, siswa maupun situasi kelas.

 

Teknik pengumpulan data dengan observasi digunakan peneliti berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar (Sugiyono, 2008: 203).

 

3.      Dokumentasi

 

Dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data melalui peninggalan tertulis pada  arsip, buku-buku tentang pendapat, teori, dalil yang berhubungan dengan masalah peneliti (Margono, 2004 : 181).

 

Dokumentasi tertulis dan arsip merupakan sumber data yang sering memiliki posisi penting dalam penelitian kualitatif. Sebagai catatan formal arsip sering memiliki peran sebagai sumber informasi yang sangat berharga bagi pemahaman suatu peristiwa.

 

E.     Kehadiran Peneliti

 

Peneliti bertindak sebagai instrument dan sebagai siswa. Peneliti sebagai instrumen tidak terlibat langsung dalam penelitian dan hanya sebagai pengamat dan peneliti sebagai siswa yaitu terlibat langsung dengan kegiatan yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian        ( Sugiyono, 2008: 204).

 

F.     Teknik Analisis Data

 

Teknik analisis data kualitatif bersamaan dengan pengumpulan data tekniknya menggunakan first order understanding (meminta peneliti untuk menanyakan kepada pihak yang diteliti guna mendapatkan penjelasan yang benar) dan second order understanding (peneliti memberikan penjelasan dan interpretasi terhadap interprestasi pihak yang diteliti sampai memperoleh suatu makna yang baru dan benar (Subadi, 2004: 70).

 

Teknik analisis data ini juga mengikuti konsep yang diberikan Miles and Huberman mengemukakan aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus-menerus pada setiap tahapan penelitian sehingga sampai tuntas dan datanya sampai jenuh. (Sugiyono, 2008 : 207)

 

Aktifitas dalam analisis data, yaitu pengumpulan data, penyajian Data, teduksi data, dan kesimpulan-kesimpulan penarikan/ verifikasi. Langkah-langkah analisis data ditunjukkan gambar I berikut.

 

Langkah-langkah analisis data model interaktif diatas dapat dijelaskan sebagai berikut:

 

1.         Pengumpulan data

 

                       Data-data yang diperoleh dilapangam dicatat atau direkam dalam bentuk naratif, yaitu uraian data yang diperoleh dari lapangan apa adanya tanpa adanya komentar peneliti yang berbentuk catatan kecil. Dari catatan deskriptif ini, kemudian dibuat catatan refleksi yaitu catatan yang berisi komentar, pendapat atau penafsiran peneliti/ fenomena yang ditemui dilapangan.

 

2.         Reduksi data

 

                       Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian, pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan lapangan. Reduksi data dilakukan terus menerus selama penelitian dilaksanakan. Reduksi data merupakan wujud analisis yang menajamkan, menglarifikasikan, mengarahkan, membuang data yang tidak berkaitan dengan pokok persoalan. Selanjutnya dibuat ringkasan, pengkodean, penelusuran tema-tema, membuat catatan kecil yang dirasakan penting pada kejadian seketika yang dipandang penting berkaitan dengan pokok persoalan.

 

3.         Penyajian data

 

                       Pada tahapan ini disajikan data hasil temuan di lapangan dalam bentuk teks deskriptif naratif

 

4.         Penarikan kesimpulan dan verifikasi

 

                       Penarikan kesimpulan dan verifikasi merupakan upaya memaknai data yang disajikan dengan mencermati pola-pola keteraturan, penjelasan, konfigurasi, dan hubungan sebab akibat. Dalam melakukan penarikan kesimpulan dan verivikasi selalu dilakukan peninjauan terhadap penyajian data dan catatan di lapangan melalui diskusi tim peneliti, Miles and Huberman (Sugiyono, 2008: 207). 

 

G.    Keabsahan Data

 

Data dalam penelitian ini disahkan melaui teknik triangulasi. Triangulasi adalah teknik  pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu  yang lain (Moleong, 2006 :  256). Triangulasi dilakukan  dengan cara triangulasi teknik, dan sumber data

 

Triangulasi sumber data diterapkan dengan mengambil data dari beberapa sumber, dalam penelitian ini sumber datanya adalah siswa, guru, kepala sekolah dan masyarakat sekitar.

 

Triangulasi teknik dilakukan dengan cara menanyakan hal yang sama dengan teknik yang berbeda, yaitu dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi ( Sugiyono, 2008 : 209) .

 

H.    Prosedur Penelitian

 

Prosedur penelitian dalam penelitian ini menggunakan tiga langkah yaitu studi persiapan, studi eksplorasi umum, dan studi eksplorasi khusus. Studi persiapan dilakukan untuk menentukan tempat dan objek serta fokus penelitian. Hal ini didasarkan pada:

 

1.                  Isu-isu umum sekolah alam

 

2.                  Kajian pustaka yang relevan, dan

 

3.                  Orientasi sekolah alam melalui studi pendahuluan, penetapan tempat dan objek, serta fokus penelitian.

 

Studi eksplorasi umum, dilakukan untuk penjagaan umum berkaitan dengan fokus penelitian melalui wawancara maupun observasi secara global. Studi eksplorasi khusus dilakukan untuk pengumpulan data dan analisis data, pengecekan hasil penelitian dan penulisan laporan penelitian.

 

 

 BAB IV

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

 

 

A.    Deskripsi Data Penelitian

 

1.      Strategi Pengorganisasian Materi Pembelajaran

 

Strategi pengorganisasian materi pembelajaran sebagai metode untuk mengorganisasikan isi bidang studi yang telah dipilih dalam pembelajaran yang mengacu pada tiga aspek yaitu pemilihan isi, penataan urutan isi, dan penyajian. Pada aspek pemilihan isi meliputi ilmiah, relevan, memadai, aktual dan konseptual, fleksibel, menyeluruh.

 

Strategi pengorganisasian materi pembelajaran matematika di sekolah alam dapat dikatakan ilmiah. Hal ini sesuai dengan observasi bahwa:

 

“Materi dan kegiatan yang di laksanakan menyangkut dalam silabus yang telah di buat hal ini ditunjukkan pada saat materi aritmatika sosial yang pada kegiatan tersebut ada dalam rencana kegiatan yang ada dan menyangkut dengan materi yang telah ada, mereka menanam, menganalisis semua perkembangan, memasarkan sendiri dan semua itu dapat di pertanggung jawabkan karena sesuai dengan KTSP yang ada”.

 

Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional peserta didik (relevan). Hal ini di dukung dengan wawancara bersama bapak Sigit Cayantoro selaku guru matematika. Beliau mengatakan:

 

“Pada pembentukan akidah akhlak dilakukan setiap pagi yang diawali dengan dzikir pagi, pembiasaan sholat dhuha, dan hafalan al qur’an. Untuk membentuk siswa agar berfikir secara ilmiah dilakukan dengan pengaktifkan siswa dalam pembudidayaan jamur dengan setiap mengamati, terjadi tindakan apa, apa ada perubahan dan penganalisaan. Dalam mata pelajaran kelas satu tetap diberikan pada kelas satu dan begitu juga dengan kelas dua dan kelas tiga”.(wawancara 11- 2- 2010)

 

 

Pernyataan ini didukung dengan hasil observasi peneliti bahwa: “Dalam pembelajaran yang dilakukan di sekolah alam memberikan kegiatan dzikir, baca al qur’an dan shalat dhuha. Siswa juga di bekali dengan pelatihan berbisnis. Dalam kegiatan tersebut dalam hal penanaman, pengelolaan, biaya, dan pemasarannya siswa sendiri yang melakukan di bantu dengan guru sebagai pembimbing. Metode yang di gunakan juga bervariasi yaitu kontekstual, ceramah, diskusi. Pembelajaran yang tertera pada kelas satu di ajarkan pada kelas satu begitu juga dengan kelas dua dan tiga agar siswa tidak bingung dengan pembelajaran tersebut.

 

Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi. Hal ini sesuai dengan observasi bahwa: “Dalam penyampaian materi deret aritmatika disesuaikan dengan kegiatan pembelajaran, penilaian alokasi waktu maupun sumber belajar mengacu pada silabus dengan tujuan mencapai indikator pencapaiannya “.

 

Cakupan indikator, materi pembelajaran kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar. Hal ini sesuai dengan wawancara bersama bapak Sigit Cayantoro. Beliau mengatakan:

 

“Cara palaksanaannya dengan media pendatangan guru tamu dan ceramah. Pada kelas bisnis didatangkan para ahli atau pengusaha yang mengerti tentang seluk beluk budidaya jamur dan pemasarannya. Guru melakukan penugasan ( yaitu siswa di tugasi untuk mengamati setiap hari perkembangan jamur, ada pembuatan struktur organisasi, ada pembentukan manajemen produksi, manajemen pembentukan sumber daya manusia (kebutuha orang), menejemen marketing, (dalam hal pemasaran) dan manajemen financial. Untuk kelas yang khusus pengelolaan ilmu pengetahuan seperti pada umumnya sekolah-sekolah lain yaitu dengan ceramah dan diskusi. Lokasi yang di gunakan dalam kegiatan bisnis tersebut pada daerah sekitar sekolah alam. Dalam hal pengevaluasian kita menggunakan tes tertulis seperti pada sekolah konvensional dan penilaian sikap siswa. Untuk buku acuan kita mengambil dari SOU (school of univers) yang berada di Parung Bogor. Materi yang ada dikembangkan sendiri oleh guru”.(Wawancara 11- 2- 2010).

 

 

Pernyataan ini didukung dengan hasil observasi peneliti bahwa: “Dalam hal kegiatan pembelajaran di bekali dengan kelas bisnis. Dalam hal ini media yang di gunakan adalah pendatangan guru tamu, lingkungan yang digunakan untuk penanaman jamur di daerah sekolah alam. Pada kelas UAN dan bimbel diberikan buku teks dan LKS. Dalam hal penilaian yang di lakukan dengan tes tertulis dan penilaian sikap pada saat kegiatan pembelajaran yang hasilnya tersebut di laporkan kepada orang tua murid”.

Cakupan indikator, materi pembelajaran, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi dan untuk menanamkan kebiasaan mencari informasi yang lebih luas kepada peserta didik. Hal ini di dukung dengan observasi bahwa: “Sekolah ini disediakan komputer dan hotspot area yang bebas digunakan siapa saja. Siswa juga dapat mengakses sendiri apa saja yang ingin dicari dan tanpa batas dan dalam sistem penilaian tergantung pada keaktifan siswa dan hasil belajar yang di hasilkan”.(observasi 11- 2- 2010)

Pernyataan ini di dukung dengan hasil observasi peneliti bahwa:“Dalam sekolah alam di biasakan mencari informasi dengan menggunakan internet dan buku acuan yang ada. Siswa dapat setiap saat mencari bahan pelajaran dengan menggunakan internet tanpa batas dan gratis karena area di sekolah alam hotspot area. Dalam hal penilaian, keaktifan siswa dalam pembelajaran dan hasil test yang di capai siswa.”.

 

Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan kebutuhan masyarakat. Hal ini didukung dengan observasi bahwa: “Pada kelas bisnis di bekali dengan keahlian berbisnis, dan pembiasaan sholat dhuha, dzikir bersama dan baca Al Qur’an setiap hari serta pembiasaan antri wudhu supaya membekali siswa dan melatih keahliaan, intelektual, dan melatih kedisplinan serta guru berpotensi dalam hal ini karena kebanyakan lulusan sarjana”.

 

Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi, baik kognitif, afektif, maupun psikomotor. Hal ini selaras dengan penuturan ibu Susanti. Beliau mengatakan bahwa:

 

“Pada pengenalan konsep guru menjelaskan konsep tersebut sedetail mungkin. Siswa yang kurang berhasil diberikan tambahan jam pelajaran supaya dapat paham dengan materi tersebut. Seting tempat dalam pembelajaran mereka pilih sendiri   supaya mereka tidak jenuh, senang dan nyaman dalam pembelajaran. Pada kelas bisnis siswa menganalisis sendiri. Dari segi penanaman mereka melakukan sendiri, melakukan pengamatan, dan pendistribusian sendiri”. (wawancara 11-2-2010).

 

 Pernyataan didukung dengan hasil peneliti bahwa: “Pada ranah kognitif yaitu menyangkut dalam pengenalan konsep, bagaimana siswa mengerti tentang konsep yang diberikan guru pada siswa. seperti pada pengenalan deret aritmatika, guru menerangkan sedetail mungkin tentang deret aritmatika tersebut. Terjadi kegiatan timbal balik antara siswa dan guru”.

 

“Pada ranah afektif yaitu tentang bagaimana siswa menyenangi tentang pelajaran matematika dengan seting tempat yang mereka sukai. Siswa memilih tempat sendiri melalui demokrasi. Dengan pemilihan tempat tersebut siswa merasa nyaman dan senang dengan pembelajaran yang diberikan. Pemilihan tempat dapat dimana saja yang mereka suka”.

 

“Ranah psikomotor yaitu siswa aktif dalam pembelejaran seperti pada kelas bisnis mereka melukukan penanaman sendiri, melakukan penganalisaan, melakukan pendistribusian sendiri”.

Materi pelajaran hendaknya disusun secara logis dan sistematis, sehingga mudah dipelajari anak. Hal ini di dukung dalam observasi bahwa: “Pada urutan bahan pelajaran di susun sesuai dengan kadar kesulitan materi yang ada sehingga dalam pelaksanaannya tidak membinggungkan dan mudah di mengerti. Materi yang ada dirinci dan dalam penyunsunan kegiatannya sistematis dan logis”.

Pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan silabus yang telah dirancang sebelumnya. Serta masing-masing aspek dalam silabus seperti standar kompetensi, kompetensi dasar, kegiatan pembelajaran, indikator penyampaian, penilaian, alokasi waktu maupun sumber belajar saling mendukung  satu sama lain.

 

Pada kegiatan pembelajaran menyangkut dalam keidupan sehari-hari serta siswa menyimpulkan sendiri tentang kegiatan tersebut. Hal ini selaras dengan wawancara bersama bapak Sigit Cayantoro. Beliau mengatakan bahawa:

 

“Kegiatan pembelajaran yang dilakukan untuk membekali siswa dalam kehidupannya nanti dan menyangkut dalam kehidupan sehari-hari. Seperti pada pembudidayaan jamur yang kaitannya dengan arimatika sosial”.(Wawancara 11-2-2010)

 

 

Urutan penyajian materinya urut sesuai dengan tingkat kesukaran. Hal ini sesuai dengan observasi bahwa: “Urutan dalam penyajian materi yang ada urut sesuai dengan tingkat kesukaran siswa seperti pada pokok bahasan lingkaran yaitu tidak langsung dalam penyelesaian persoalan yang diberikan namun sesuai dengan tingkat kesukaran materi yaitu pengenalan tentang unsur-unsur lingkaran yang sesuai tertera pada silabus yang ada”.

 

Kegiatan dalam pembelajaran yang disajikan bermakna. Hal ini didukung observasi bahwa: “Pada kegiatan market day yaitu kegiatan jual beli siswa dituntut untuk berpikir tentang laba atau rugi dan menganilisa kegiatan tersebut. Disini menggunakan aritmatika sosial yang ada pembelajaran sehingga pembelajaran ini lebih bermakna dan menjadi perhatian siswa.”

 

2.      Strategi Pengorganisasian Interaksi Pembelajaran

 

Strategi pengorganisasian materi pembelajaran terdiri dari dua aspek yaitu interaksi guru dengan siswa dan interaksi siswa dengan siswa. Interaksi guru dengan siswa mencakup guru sebagai guru sebagai informator, guru sebagai organisator, guru sebagai motivator, guru sebagai konselor, guru sebagai moderator, guru sebagai motor, guru sebagai pelopor, guru sebagai katalisator, guru sebagai evaluator, dan guru sebagai pendidik.

 

Guru sebagai tempat bertanya bagi siswa. Hal ini di dukung dengan observasi bahwa: “Dalam pembelajaran matematika sekolah alam guru menjawab pertanyaan sebaik mungkin kepada siswa dan setiap kali guru memberikan pertanyaan siswa dengan antusias menjawab pertanyaan tersebut dengan sebaik-baiknya”.

 

Guru dapat menumbuhkan kelas yang kondusif, menumbuhkan kelas yang dinamis, menumbuhkan kelas yang interaktif. Hal ini di dukung dengan observasi bahwa: “Setiap kali guru dalam persiapan pelajaran mengkondisikan siswa terlebih dahulu kemudian baru memulai pelajaran. Terjadi interaksi guru dengan siswa dengan pemberian pertanyaan oleh siswa yang ditujukan untuk guru”.

 

Guru memberikan pujian, memberikan hadiah, menciptakan persaingan sehat, memberikan tugas, memajang hasil kerja siswa. Hal ini di dukung dengan observasi bahwa: “Dalam kelas bisnis guru memberikan hadiah pada siswa yang berhasil untung dalam kegiatan tersebut, dalam kelas biasa siapa yang dapat menjawab pertanyaan guru memuji, dan guru memajang hasil karya siswa di sekitar sekolah alam”.

 

Guru bertugas membimbing siswa dalam mengatasi kesulitan belajar. Dalam hal ini di dukung dengan observasi bahwa:“Guru memberikan perhatian yang lebih kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar, semacam privat yang di lakukan antara siswa yang bersangkutan dengan guru secara perorangan”.

 

            Guru dapat mengarahkan jalannnya diskusi dengan baik. Hal ini di dukung dengan observasi bahwa: “Pada kelas bisnis saat pelaporan hasil perkembangan guru mengarahkan  jalannya diskusi sehingga tidak terjadi perdebatan antar siswa”.

 

Guru sebagai penggerak bagi siswanya untuk lebih maju dalam belajar dan guru terlibat langsung dalam pengerjaannya. Hal ini didukung dengan wawancara dengan Bapak Sigit Cayantoro. Beliau mengatakan bahwa:

 

“Dalam hal kelas bisnis guru sebagai penggerak yaitu pemberian arahan dan selalu menyemangati siswa. Dalam pembudidayaan jamur mengundang guru tamu, pengusaha atau ahli jamur untuk meningkatkan motivasi siswa dan siswa merasa terinspirasi dari tokoh tersebut, karena mereka berpengalaman”(wawancara 11- 2- 2010).

 

 

Guru aktif dalam kegiatan, kreatif dalam menciptakan ide-ide baru, produktif dalam berkarya. Hal ini didukung dengan observasi bahwa: “Setiap dalam kegiatan apapun penciptaan ide-ide dan gagasan semua diciptakan guru, dengan ide-ide yang cemerlang, seperti mencetusan kelas UAN, kelas bimbel dan kelas bisnis, yang semua itu tidak ada dalam sekolah konvensional. Setiap satu pekan sekali diadakan rapat guna mengevaluasi semuanya dan perencanaan kegiatan tambahan”.

Guru dapat mempercepat interaksi dan komunikasi di dalam kelas dan menghindari penalaran yang berbelit-belit. Hal ini didukung dengan observasi bahwa: “Dalam proses belajar yang berlangsung di kelas terjadi interaksi yang baik antara guru dengan siswa, dengan pertanyaan yang mengarah dengan materi yang disampaikan dan guru memberikan materi yang dikritisi siswa. Setiap kali terdapat pertanyaan tentang materi guru menjawabnya dengan sedetail mungkin, sehingga siswa merasa puas dengan jawaban tersebut”.

Guru dalam hal penilaian dilakukan dengan tepat evaluasi menggunakan prosedur yang ada. Hal ini di dukung dengan wawancara dengan Bapak Sigit Cayantoro selaku guru matematika. Beliau mengatakan bahwa:

 

“Dalam mengevaluasi menggunakan evaluasi perkembangan anak melalui lembar kerja siswa dan penilaian deskripsi yang langsung dilaporkan kepada orang tua siswa”(wawancara 11- 2- 2010).

 

 

Guru menjadi tokoh, panutan, memiliki kualitas, tanggungjawab, wibawa dan displin. Hal ini di dukung dengan observasi bahwa: “Di sekolah alam guru sebagai panutan bagi siswa, mempunyai wibawa, memiliki tanggung jawab yang tinggi, memiliki kualitas karena kebanyakan lulusan sarjana yang berpengalaman”.

 

Aspek ke dua yaitu dalam hal interaksi siswa dengan siswa mencakup diskusi dalam kelas, diskusi kelompok, kerjasama siswa secara berpasangan dan belajar mandiri. Pada saat diskusi di kelas siswa bersama-sama memecahkan masalah yang diberikan oleh guru. Hal ini di dukung dengan observasi bahwa: “Pada saat diskusi kelas siswa memberikan saran dan ide yang dimilikinya yang secara langsung dan tanpa dipaksa oleh guru”.

 

Sebagai sekolah alam di SMP Alam Ar Ridho Semarang guru diperankan sebagaimana mestinya, yaitu sebagai teman atau sahabat yang memfasilitasi siswa dalam proses pembelajaran. Hal ini terlihat dari hasil observasi peneliti bahwa: “Guru dan siswa berdiskusi layaknya teman dengan teman. Hal ini sangat membantu sekali dalam memotivasi untuk belajar terutama dalam memahami materi dalam matematika.Terkadang jika siswa merasa belum jelas tentang sebuah materi, mereka tidak segan untuk mendatangi guru untuk bertanya tentang materi yang belum jelas. Di sini guru selalu siap jika dibutuhkan oleh para siswanya”.

 

Namun demikian pertemanan antara guru dengan siswa juga ada etika dan batasannya sendiri. Mereka juga dibiasakan untuk berbicara dengan sopan kepada orang yang lebih tua. Pernyataan ini selaras dengan kepala sekolah Ibu Susanti yang menyatakan bahwa:

 

“Di sekolah ini memang interaksi antara guru dengan siswa seperti dengan teman mereka sendiri. Tetapi dari itu semua etika terhadap guru dengan pendamping tetap mereka perhatikan.”

 

 

B.     Pembahasan Hasil Penelitian

 

1.      Strategi Pengorganisasian Materi Pembelajaran

 

Berdasarkan hasil penelitian bahwa dalam kesuluhan materi dan kegiatan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Hal ini di dukung kegiatan kelas bisnis yang dilakukan secara berkelompok dan hasil yang telah dicapai di laporkan kepada guru yang bersangkutan. Mengenai laba atau rugi itu tergantung dari kreatifitas siswa. siswa menanam, menganalisis perkembangan dan mendistribusikan. Mereka harus berfikir kritis dan ilmiah dalam penganalisis dan pendistribusiannnya. Materi yang diajarkan telah sesuai dengan kurikulum yang ada

 

Hal ini selaras dengan Susilo (2007: 123) materi pembelajaran adalah pokok-pokok materi pelajaran yang harus dipelajari sebagai sarana pencapaian kemampuan dasar yang akan dinilai dengan menggunakan instrument. Kegiatan dalam pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antar siswa, siswa dengan guru, lingkungan dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar. Pengalaman belajar yang di maksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada siswa. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu di kuasai oleh siswa. (Hanafiah dan Cucu Suhana, 2009: 117)

 

Menurut Tohar (2006) kreativitas akan muncul dari interaksi yang unik dengan lingkungannya. Kreativitas adalah proses merasakan dan mengamati adanya masalah, membuat dugaan tentang kekurangan (masalah) ini, menilai dan mengujinya. Proses kreativitas dalam perwujudannya memerlukan dorongan (motivasi intristik) maupun dorongan eksternal.

 

Berdasarkan hasil penelitian cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional peserta didik. Hal ini di tujukkan dengan adanya kegiatan dzikir bersama, pembiasaan sholat dhuha, dan hafalan al qur’an yang membentuk sikap religiusitas. Semua yang dilakukan tidak terlepas dari basik sekolah alam yaitu menanam sikap intelektual dalam diri siswa. siswa juga di bekali dengan ilmu pengetahuan yang ditunjang dengan buku dan LKS serta latihan soal yang setiap saat di berikan. Daerah sekitar sekolah alam juga sangat mendukung dengan kesunyian dan di dukung dengan guru-guru yang berkualitas dan penduduk setempat yang selalu mendukung dengan pelaksanaan kegiatan tersebut.

 

Hal ini selaras dengan Hanafiah dan Cucu Suhana (2009:116- 117) bahwa dalam mengidentifikasi materi pembelajaran mempertimbangkan potensi peserta didik, relevansi dengan karakteristik daerah, tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional dan spiritual peserta didik, kebermanfaatan bagi peserta didik, struktur keilmuwan, aktualisasi kedalaman dan keluasan materi pembelajaran, relevansi dengan kebutuhan peserta didik dengan tuntutan lingkungan.

 

Menurut Rustantiningsih (2008) dampak dari pembiasaan perilaku religius tersebut berpengaruh pada tiga hal yaitu: (1) Pikiran, siswa mulai belajar berpikir positif (positif thinking). (2) Ucapan, perilaku yang sesuai dengan etika adalah tutur kata siswa yang sopan, (3) Tingkah laku, tingkah laku yang terbentuk dari perilaku religius tentunya tingkah laku yang benar, yang sesuai dengan etika. Tingkah laku tersebut di antaranya empati, hormat, kasih sayang, dan kebersamaan.

 

Berdasarkan hasil penelitian pada sekolah alam dalam penyampaian materi disesuaikan dengan kegiatan pembelajaran, penilaian alokasi waktu maupun sumber belajar mengacu pada silabus dengan tujuan mencapai indikator pencapaian. Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi.

 

Kurikulum yang di gunakan juga di rancang khusus yaitu kurikulum KTSP dan pengembangan kurikulum yang di buat oleh guru guna mengeksplorasi diri siswa seutuhnya. Menurut Tohar (2006) untuk menunjang kemajuan peserta didik diperlukan modifikasi kurikulum. Kurikulum secara umum mencakup semua pengalaman yang diperoleh peserta didik di sekolah, di rumah, dan didalam masyarakat dan yang membantunya mewujudkan potensi-potensi dirinya.

 

Kurikulum umum bertujuan untuk dapat memenuhi kebutuhan pendidikan pada umumnya, maka saat ini haruslah diupayakan penyelenggaraan kurikulum yang berdiferensi untuk memberikan pelayanan terhadap perbedaan dalam minat dan kemampuan peserta didik. Dalam melakukan kurikulum yang berbeda terhadap peserta didik yang mempunyai potensi keberbakatan yang tinggi, guru dapat merencanakan dan menyiapkan materi yang lebih kompleks, menyiapkan bahan ajar yang berbeda, atau mencari penempatan alternatif bagi siswa. Sehingga setiap peserta didik dapat belajar menurut kecepatannya sendiri.

 

Cakupan indikator, materi pembelajaran kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar. Kegiatan pembelajaran dalam SMP Alam Ar Ridho dapat mengembangkan pengalaman belajar siswa melalui pendekatan yang bervariasi, sumber belajar siswa dengan buku teks, LKS dan pendatangan nara sumber  serta dalam hal evaluasi penilaian yang dilakukan adalah perilaku siswa atau sikap dan test.

 

Hal ini selaras dengan penuturan Muslich (2007: 29-30) mengatakan bahwa dalam mengembangkan pengalaman belajar siswa dilakukan dengan interaksi dengan sumber belajar melalui pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan mengaktifkan siswa. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai. Dalam menentukan sumber belajar dapat berupa media cetak dan elektronik, narasumber serta lingkungan fisik, alam, sosial dan budaya serta dalam penentuan jenis penilaian siswa dalam bentuk test dan non test dalam bentuk maupun lisan, pengamatan kinerja, sikap, peggunaan portofolio, dan penilaian diri.

 

Berdasarkan hasil penelitian cakupan indikator, materi pembelajaran, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi untuk menanamkan kebiasaan mencari informasi yang lebih luas kepada siswa guna menperlancar proses belajar mengajar dan sesuai dengan perkembangan zaman.

 

Hal ini selaras dengan Sanaky (2009: 4) mengatakan bahwa tujuan dalam media pembelajaran adalah mempermudah proses belajar  mengajar, peningkatkan efisiensi proses pembelajaran, menjaga relevansi antara materi pelajaran dengan tujuan belajar, dan membantu konsentrasi pembelajar dalam proses pembelajaran.

 

Menurut Trimo (2008) keberadaan sumber belajar berfungsi untuk mengembangkan pengalaman dan pengetahuan siswa. Melalui pemanfaatan sumber belajar, maka pengalaman dan pengetahuan siswa akan lebih berkembang. Fungsi sumber belajar yang membuat proses belajar-mengajar lebih bermakna, berhubungan dengan aktivitas guru dalam memanfatakan sumber belajar. Melalui pemanfaatan sumber belajar yang tepat, maka guru dapat membuat proses belajar-mengajar lebih bermakna. Artinya, guru mampu mengelola proses belajar-mengajar yang berpusat pada siswa, bukan proses belajar-mengajar yang berpusat pada guru.

 

Berdasarkan hasil penelitian keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan kebutuhan masyarakat. Pada hal ini siswa dibekali dengan sikap intelektual, pengetahuan, kesabaran yang dapat berguna dalam masyarakat nantinya. Guru yang mengajar berkompeten dalam hal itu dan mempunyai wawasan yang tinggi dalam kegiatan tersebut.

 

Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi, baik kognitif, afektif, maupun psikomotor. Berdasarkan hasil penelitian bahwa dalam ranah kogitif  guru mengajar sedetail mungkin dalam pembelajaran sehingga siswa dapat memahami tentang pembelajaran yang diajarkan. Pada ranah afektif guru dan siswa memilih tempat sesuai dengan keinginan yang di lakukan secara demokrasi sehingga dalam pembelajaran tersebut menjadi menyenangkan dan menimbulkan rasa nyaman bagi siswa. Serta pada ranah psikomotor dalam pembelajarannya mengaktifkan siswa dengan melakukan kegiatan penanaman jamur, menganilisa perkembangan, dan memasarkan hasilnya.

 

Hal ini selaras dengan Rohani (2004, 106) bahwa dalam ranah kognitif adalah tujuan yang berhubungan dengan pengertian dan pengetahuan, ranah afektif adalah tujuan yang berhubungan dengan usaha merubah minat, setiap nilai dan alasan serta dalam ranah psikomotor adalah tujuan yang berkaitan dengan ketrampilan terbuat atau menggunakan telinga, tangan, mata, alat indra.

 

Berdasarkan penelitian materi pelajaran disusun secara logis dan sistematis, sehingga mudah dipelajari anak. Urutan bahan pelajaran menunjang proses belajar mengajar. Bahan-bahan materi dirinci dan kegiatan-kegiatannya disusun secara sistematis dan logis sehingga mudah untuk dipelajari siswa.

 

Hal ini selaras dengan Ibrahim dan Nana Syaodih (2003:31) mengatakan bahwa dalam pelaksanaan pengajaran agar belajar secara efisien dan efektif maka diperlukan perencanaan yang tersusun secara sistematis, dengan proses belajar mengajar yang lebih bermakna dan mengaktifan siswa serta dirancang dalam suatu skenario yang jelas.

 

Sesuai dengan pembahasan di atas tempat penelitian sudah dapat menciptakan pengajaran dan pembelajaran yang efektif. Pengajaran dan pembelajaran adalah merupakan suatu aktivitas yang dilaksanakan oleh seorang guru. Program pengajaran yang telah dilaksanakan itu baik atau tidak perlu dilaksanakan suatu penilaian, yang sering dikenal dengan evaluasi program pengajaran. Evaluasi program pengajaran ini meliputi 1) Input (masukan) 2) materi atau kurikulum 3) Guru 4) Metode atau pendekatan dalam mengajar 5) Sarana alat pelajaran atau media pendidikan 6) lingkungan.

 

a.      Input
Pembuatan program pengajaran guru telah memperhatikan aspek-aspek individu tersebut.

 

b.      Materi atau kurikulum

 

Sasaran yang perlu dievaluasi dari komponen kurikulum ini antara lain, kejelasan pedoman untuk dipahami, kejelasan materi yang terantum dalam GBPP, urutan penyajian materi, kesesuaian antara sumber yang disarankan dengan materi kurikulum.

 

c.       Guru

 

Guru dapat meciptakan suasana kelas yang kondusif untuk pembelajaran.

 

d.      Metode atau pendekatan dalam mengajar

 

Metode mengajar, pendekatan, atau strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam menyampaikan materi kurikulum kepada siswa bervariasi dan tidak membosankan.

 

e.       Sarana

 

Sarana pendidikan yang meliputi alat pelajaran dan media pendidikan, kecocokan dengan materi yang diajarkan telah sesuai.

 

f.       Lingkungan

 

Kepala sekolah, guru-guru, dan pegawai tata usaha, siapa saja yang yang sengaja berpengaruh terhadap tingkat hasil belajar siswa, sekolah, halaman sekolah, keadaan gedung dan sarana telah menciptakan suasana belajar yang kondusif.(Afdee, 2007)

 

2.      Strategi Pengorganisasian Interaksi Pembelajaran

 

Berdasarkan hasil penelitian interaksi antara guru dengan siswa sangat terjalin dengan baik. Peran guru dalam pembelajaran dapat terealisasikan dengan baik. Peran guru sebagai organisator, guru sebagai motivator, guru sebagai konselor, guru sebagai moderator, guru sebagai motor, guru sebagai pelopor, guru sebagai katalisator dan guru sebagai evaluator dapat tercapai dengan baik dan terjadi hubungan timbal balik.

 

Hal ini selaras dengan Suwarna (2006: 11-15) mengemukakan peran yang disandang dan dimainkan oleh guru dalam kelas meliputi: guru sebagai informator, guru sebagai organisator, guru sebagai motivator, guru sebagai konselor, guru sebagai moderator, guru sebagai motor, guru sebagai pelopor dan guru sebagai katalisator.

 

Guru sebagai informator (seorang guru harus siap memberi informasi yang berupa aspek kognitif, afektif, maupun ketrampilan), Guru sebagai organisator (guru bertugas mengorganisasikan kelas sehingga kelas lebih kondusif, dinamis dan interaktif), guru sebagai motivator (guru memberikan motivasi kepada siswanya seperti memberikan pujian, memberi hadiah, menciptakan persaingan sehat, memberi ulangan, memberikan kuis mendadak, memajang hasil kerja siswa.

 

Guru sebagai konselor (guru bertugas membimbing siswa-siswanya dalam mengatasi kesulitan belajar, guru sebagai moderator (guru sebagai penengah bila terjadi perdebatan atau perbedaan pendapat antar siswa, guru sebagai motor (guru sebagai penggerak bagi siswanya untuk lebih maju/ memotivasi), guru sebagai pelopor (guru hendaknya aktif dalam kegiatan, kreatif dalam menciptakan ide-ide, dan produktif dalam berkarya), guru sebagai katalisator (guru hendaknya dapat mempercepat proses terjadinya komunikasi dan interaksi didalam kelas).

 

Hal ini selaras dengan  Rustantiningsih (2008) sikap dan perilaku guru yang profesional adalah mampu menjadi teladan bagi para peserta didik, mampu mengembangkan kompetensi dalam dirinya, dan mampu mengembangkan potensi para peserta didik. Sikap dan perilaku guru yang profesional mencakup enam belas pilar dalam pembangun karakter. Keenam belas pilar tersebut, yakni kasih sayang, penghargaan, pemberian ruang untuk mengembangkan diri, kepercayaan, kerjasama, saling berbagi, saling memotivasi, saling mendengarkan, saling berinteraksi secara positif, saling menanamkan nilai-nilai moral, saling mengingatkan dengan ketulusan hati, saling menularkan antusiasme, saling menggali potensi diri, saling mengajari dengan kerendahan hati, saling menginsiprasi, saling menghormati perbedaan.

 

Keberhasilan di sekolah bukan hanya ditentukan oleh usaha murid secara individual, tetapi juga berkat interaksi murid dengan guru dalam proses belajar mengajar. Interaksi yang baik antara guru dan siswa dalam proses belajar mengajar sangat menentukan terhadap pencapaian tujuan belajar maupun tujuan pendidikan itu sendiri (Slameto, 2003: 47)

 

Berdasarkan hasil penelitian kegiatan interaksi dengan yang dilakukan siswa dengan siswa terjalin dengan baik yang berlangsung dalam diskusi kelas, diskusi kelompok, kerjasama siswa secara berpasangan dan belajar mandiri.

 

 

 

 BAB V

 

KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

 

 

 

A.      Kesimpulan

 

1.         Strategi Pengorganisasian Materi Pembelajaran

 

Strategi pengorganisasian materi pembelajaran mengacu pada tiga aspek yaitu; pemilihan isi, penataan urutan isi, dan penyajian.

 

Pada aspek pemilihan isi yang meliputi aspek ilmiah, relevan, memadai, aktual, konseptual, fleksibel, dan menyeluruh dapat dikategorikan amat baik karena dari segi silabus yang ada, perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian telah berfungsi sesuai prinsip-prinsip akademik. Pada aspek urutan isi  mencakup konsisten dan kebermaknaan. Sedangkan pada aspek penyajiannya memenuhi standart akademik psikologis yakni dari konkret-abstrak, sederhana-komplek dan bermakna telah terealisasikan dengan baik. Kegiatan pembelajaran yang terjadi sangat konsisten karena terjadi hubungan yang ajek dan taat asas. Dikatakan kebermaknaan karena guru dalam memilih materi dan kegiatan pembelajaran selalu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari

 

2.         Strategi Pegorganisasian Interaksi Pembelajaran

 

Strategi pengorganisasian interaksi pembelajaran berlangsung interaksi antara guru dengan siswa, peran guru sebagai organisator, motivator, konselor, moderator, motor, pelopor, katalisator dan evaluator, terjadi hubungan interaksi timbal balik-baik di dalam dan di luar kelas. Kerjasama antar siswa terjadi saat ada siswa yang mengalami kesulitan, teman yang lain berlaku sebagai guru membantu mangajari teman yang mengalami kesulian sehingga terjadi diskusi dan semangat belajar.

 

Interaksi antara guru dengan siswa terjadi sangat baik. Hal ini di tunjukkan bahwa dalam peran guru sebagai organisator, guru sebagai motivator, guru sebagai konselor, guru sebagai moderator, guru sebagai motor, guru sebagai pelopor, guru sebagai katalisator dan guru sebagai evaluator dapat tercapai dengan baik dan terjadi hubungan timbal balik sangat berfungsi dengan baik.

 

Kegiatan yang ada menimbulkan interaksi yang baik pula antara siswa dengan siswa yang terjadi di dalam kelas maupun di luar kelas. Kerjasama antar siswa dalam kelas terjadi saat ada salah satu siswa yang sulit dalam menguasai materi teman yang lain membantu mangajari teman tersebut. Diskusi yang terjadi, menimbulkan semangat dalam pembelajaran.

 

B.       Implikasi

 

Kesimpulan butir pertama memberikan implikasi bahwa dalam pemilihan isi, penataan urutan isi dan penyajian telah memberikan pengaruh positif dalam kelangsungan proses pembelajaran. Secara praktis pemilihan isi, penataan urutan isi dan penyajian telah sesuai dengan pengembangan kurikulum. Dengan adanya pemilihan isi yang sesuai, penataan urutan isi yang terstruktur serta penyajian yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, siswa lebih tereksplorasi dirinya, tidak jenuh dalam pembelajaran, kreatif dalam berfikir, serta tanggap terhadap lingkungan.

 

Kesimpulan butir ke dua memberikan implikasi bahwa dalam interaksi yang terjadi antara guru dengan siswa serta siswa dengan siswa terjalin dengan baik. Terjadi hubungan timbal balik antara guru dengan siswa serta siswa dengan siswa. Kegiatan yang dilakukan, penataan tempat yang sesuai dengan keinginan siswa membuat siswa merasa senang dan tidak jenuh dalam pembelajaran. Guru dianggap sebagai teman dan dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi siswa.

 

Penelitian ini dapat memberikan hasil yang memuaskan dan dapat menjawab semua permasalahan yang telah dirumuskan. Strategi pengorganisasian materi  dan stategi pengorganisasian interaksi pembelajaran matematika lebih efektif apabila digunakan dalam proses pembelajaran.

 

C.      Saran

 

1.         Kepada Kepala Sekolah setidaknya memikirkan pengadaan alat peraga dan sumber belajar, sarana prasaran, guru yang berkompeten dalam bidangnya sehingga siswa tidak jenuh dengan pembelajaran dan dapat memperlancar kegiatan belajar mengajar yang berlangsung.

 

2.         Kepada para guru, hendaknya menggunakan  metode-metode yang lebih bervariasi lagi, serta dari segi sumber belajar yang digunakan perlu ditambahkan agar siswa lebih bersemangat lagi dalam pembelajaran.

 

3.         Kepada siswa dalam pembelajaran haruslah terdapat prioritas disiplin ilmu yang ingin di dalami tetapi harus tetap mengembangkan potensi yang ada serta mempelajari pembelajaran yang belum ada dan tetap terus mencari yang belum ada.

 

4.         Peneliti yang akan datang selanjutnya diharapkan dapat melakukan penelitian serupa tetapi dengan strategi penyampaian pembelajaran matematika yang dapat menjadikan pembelajaran matematika yang efektif, efisien dan menyenangkan.

 


DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

Afdee, 2009. Evaluasi Program Pengajaran. http//artikelpendidikannetwork.htm di akses pada tanggal 17 Maret 2010.

 

 Afriani, Iyan. Metode Penelitian Kualitatif. http//jurnalpendidikannnetwork.htm Diakses pada tanggal 20 Februari 2009.

 

 Ahmad, Abu dan Joko Tri Prasetya. 2005. Stategi Belajar Mengajar.. Bandung. Pustaka Setia

 

 Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Seri Revisi IV. Jakarta: Rineka Cipta.

 

 Azwar, Saifuddin.2005. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

 Hanafiah, Nanang dan Cucu Suhana  ,2009. Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung: Refika Aditama.

 

 Ibarahim, R dan Nana Syaodih. 2003. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

 

 Indoskripsi. Penerapan Teori Belajar Pada Pendidikan Alam. www. Google. Com di akses pada tanggal 26 Desember 2009.

 

 Jono, T. Raka. 2009. Strategi Pembelajaran Matematika. www. Google. Com. Di akses pada tanggal 26 Desember 2009.

 

 Muslich, Mashur. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar Pemahaman dan Pengembangan. Jakarta: Bumi Aksara.

 

 Moleong, Lexy. 2006. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

 

 Rizky.Pengertian Interview/Wawancara. www. Google . com  di akses pada tanggal 16 Desember 2009.

 

 Rohani, ahmad. 2006. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta.

 

Rustantiningsih, 2008. Dampak Perilaku Religius dalam Membentuk Etika Siswa. Jurnal Pendidikan. www. Google. Com. Di akses pada tanggal 17 Maret 2010.

 

 Sanaky, Hujair Ah. 2009. Media Pembelajaran. Yogyakarta: Safiria Insania press

 

 Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Predana Media Group.

 

 Slameto, 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

 

 Subadi, Tjipto, 2004. Mobilitas Penduduk Masyarakat Tegalombo Sragen. Kartasura: ZIE.

 

 Sugiyono. 2008. Memahami Penelitian Kualitatif. Alfabeta: anggota Ikatan Penerbit Indonesia.

 

 Suhadi, 2009.Pengelolaan dan Pelaksanaan Pembelajaran.www.Google.com. di akses pada tanggal 5 januari 2010.

 

 Susilo, Muhammad Joko, 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

 Suwarna. 2006. Pengajaran Mikro. Yogyakarta: Tiara Wacana.

 

 Rahayu, Saptaning Dani. 2007. Pengaruh Strategi Pembelajaran dan Motivasi Belajar terhadap Prestasi Belajar Matematika pada Siswa Kelas VIII SMP Muhammadiyah 10 Surakarta Tahun Ajaran 2006/ 2007. Skripsi. Surakarta: FKIP. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

 

 Tohar, Kumaidi, 2006. Menejemen Peserta Didik dalam Menghadapi Kreatifitas Anak. Jurnal Pendidikan. www. Google. Com. Diakses pada tanggal 17 Maret 2010.

 

 Trianto, 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik Konsep, Landasan Teoritis, Praktis dan Implementasinya. Jakarta: Prestasi Pustaka.

 

 Trimo, 2007. Evaluasi Program Pengajaran. Jurnal Pendidikan. www. Google.com. diakses pada tanggal 17 Maret 2010.

 

 Triyanto, Joko. 2005. Pengaruh Strategi Pembelajaran dan Kemampuan Awal Siswa Terhadap Prestasi Belajar Matematika. Skripsi. Surakarta: FKIP Universitas Muhammdiyah Surakarta.

 

 Uno, B. Hamzah. 2007. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara.

 

 Wicaksono, Imam. 2008. Strategi Pembelajaran Matematika di SLTP Alternatif Qaryah Thayyibah Kalibening Salatiga. Surakarta: Skripsi FKIP UMS (Tidak diterbitkan)

 

Standard

MODEL PEMBINAAN PENDIDIK PROFESIONAL (Suatu Penelitian dengan Pendekatan Lesson Study pada Guru-Guru Sekolah Muhammadiyah Kabupaten Sukoharjo) Tahun 1 (2012)

MODEL PEMBINAAN PENDIDIK PROFESIONAL (Suatu Penelitian dengan Pendekatan Lesson Study pada Guru-Guru Sekolah Muhammadiyah Kabupaten Sukoharjo) Tahun 1  (2012)

Oleh :

Tjipto Subadi, Rita Pramujiyanti Khatimah, Sri Sutarni (FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta).         email: tjiptosubadi@yahoo.com

 Abstract

This study aims at describing 1) problems with improving the teachers’ professional of Sukoharjo Muhammadiyah schools through lesson study; 2) effective implementation to improve the teachers’ professional; 3) a model validation of the teachers’ professional development in a limited scope; and 4) an active, innovative, creative, effective, and comfortable learning model with lesson study for improving the teachers’ professional. The study used a qualitative-phenomenological approach. The paradigm referred to a social definition with micro analysis. The subject of the study included the heads of National Education, principals, teachers, and members of the Regional House of Representatives. The techniques of gathering data were observation, documentation, and interview. The data analysis used a first order understanding and second order understanding. It could be concluded that 1) there were four problems with improving the teachers’ professional, including internal, external, and commitment and willingness of the teachers. 2) The effective implementation of lesson study was a class action research-based with plan-do-see stages, coordinated by the principals’ work association, and a course teacher association-based. 3) The model validation of lesson study was associated with such other validations as lesson study team, schedule, consistency and continuity, documentation, teachers’ and students’ responses, and experts’ validation as a consultant. 4) The active, innovative, creative, effective, and comfortable learning model with lesson study was a collaborative and cooperative based, and the effective lesson study as a model for developing the teachers was a course teacher association-based, implemented by model teachers in each school.

 Keywords: lesson study, K3S, KKG, first and second order understanding, MOU

A.   Latar Belakang

Dalam meningkatkan kualitas pendidik banyak faktor yang harus diperhatikan, antara lain;guru, siswa, metode, strategi,  media, sarana dan prasarana, perpustakaan, laboratorium, sistem yang digunakan, lingkungan dan manajemennya, serta model pembelajarannya.Peningkatan kualitas pembelajaran guru dengan model pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan pada setiap jenjang pendidikan akan berpengaruh pada prestasi akademik para siswa yang pada gilirannya berimplikasi pada peningkatan kualitas pendidikan Indonesia yang sekarang ini kualitas berada pada posisi sangat memprihatinkan, jika dibandingkan dengan kualitas pendidikan di negara lain(Subadi dkk, 2010:2).

Balitbang (2003) dalam Subadi (2009) mencatat bahwa dari 146.052 SD di Indonesia ternyata hanya 8 sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Primary Years Program (PYP). Dari 20.918 SMP di Indonesia ternyata juga hanya 8 yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Middle Years Program (MYP), dan dari 8.036 SMA ternyata hanya 7 sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Diploma Program (DP). Khusus  kualitas guru (2002-2003) data guru yang layak mengajar, untuk SD hanya 21,07 % (negeri) dan 28,94% (swasta), untuk SMP 54,12 % (negeri) dan 60,09 % (swasta), untu SMA 65,29 % (negeri) dan 64, 73 % (swasta), serta untuk SMK 55,49% (negeri) dan 58,26 % (swasta). Data rendahnya mutu pendidikan tersebut menunjukkan ada masalah dalam sistem pendidikan di Indonesia. Pertama; masalah mendasar adalah kesalahan paradigma pendidikan yang mendasari keseluruhan penyelenggaraan sistem pendidikan. Kedua; masalah yang berkaitan dengan model pembinaan guru dan strategi pembelajaran. Ketiga; masalah lain yang berkaitan dengan aspek praktis penyelenggaraan pendidikan, antara lain; biaya, sarana dan prasarana, kesejahteraan guru.

Upaya pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan antara lain pemerintah telah menetapkan UU RI, Nomor 14 Tahun 2005 tantang Guru dan Dosen. UU ini menuntut penyesuaian penyelenggaraan pendidikan dan pembinaan guru atau dosen, agar guru atau dosen menjadi profesional. Pada satu pihak, pekerjaan sebagai guru atau dosen akan memperoleh penghargaan yang lebih tinggi, tetapi pada pihak lain pengakuan tersebut mengharuskan guru atau dosen memenuhi sejumlah persyaratan standar minimal sebagai seorang professional yaitu kualifikasi akademik, sertifikat pendidik, dan kompetensi.

Kualifikasi akademik harus diperoleh melalui pendidikan tinggi program S1 atau D4. Sertifikat pendidik harus diperoleh melalui pendidikan profesi. Sedangkan jenis kompetensi yang dimaksud pada UU tersebut meliputi, Kompetensi pedagogik, Kompetensi kepribadian, Kompetensi sosial, dan Kompetensi professional.

Selain perangkat UU, lesson studyyang dikembangkan di Jepang tersebut bisa dijadikan sebagai anternatif model pembinaan guru di Indonesia. Lesson studydalam penelitian ini dimaksudkansuatu proses pelatihan guru yang bersiklus, diawali dengan guru berkolaborasi dengan guru lain melakukan kegiatan pembelajaran bersiklus melalui tiga tahap yaitu plan-do-see.

Penelitian ini bertujuan mendiskripsikan; 1) identifikasi permasalahan peningkatan profesional guru-guru sekolah Muhammadiyah Kabupaten Sukoharjo melalui lesson study, 2) langkah-langkah lesson study yang efektif untuk meningkatkan profesionalitas guru tersebut, 3) validasi model pembinaan profesinal guru dalam sekala terbatas, 4) model pembelajaran aktif inovatif kreatif efektif dan menyenangkan dengan menngunakan pendekatan lesson study untuk meningkatkan profesional guru.

 

B.   Kajian Pustaka

Yang dimaksud peningkatan profesionalitas pendidik adalah peningkatan kualitas tugas guru utamanya pembelajaran yaitu usaha untuk menjadikan pembelajaran lebih baik sesuai dengan keadaan yang diinginkan ciptakan, kriterianya bersifat normatif yaitu hasil tindakan yang lebih baik dibandingkan dengan keadaan sebelumnya. Peningkatan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah peningkatan kualitas pembelajaran  yang berpengaruh positif kepada prestasi akademik. Pembelajaran seperti  ini pada hakikatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungan, sehingga terjadi perubahan perilaku yang lebih baik (Mulyasa, 2002: 100). Dalam upaya guru meningkatkan profesionalisme dalam proses pembelajaran menurut Harta (2009: 9-14) seorang guru memiliki perang sebagai sumber belajar, fasilitator, organisator, demonstrator, canselor, motivator dan evaluator.

Untuk menjadi guru professional diperlukan pembinaan secara intensif, model pembinaan guru yang telah berhasil adalah lesson study. Lesson Study merupakan model pembinaan guru profesional yang dikembangkan di Jepang sejak tahun 1900-an, Di Jepang lesson study bisa dilaksanakan oleh kelompk guru-guru di suatu distrik atau diselenggarakan oleh kelompok guru sebidang pelajaran sejenis (seperti MGMP di Indonesia). Kelompok guru dari beberapa sekolah berkumul untuk melaksanakan lesson study.Lesson Study yang sangat populer di Jepang adalah yang diselenggarakan oleh suatu sekolah dan dikenal sebagai konaikenshu. Konaikenshu juga dibentuk oleh dua kata yaitu konai yang berarti di sekolah dan kata kenshu yang berarti tranning. Jadi istilah konaikenshu berarti school-based in-service training atau in service education within the school atau in house workshop.

Pada tahun 1970-an pemerintah Jepang merasakan manfaat dari konaikenshu dan sejak itu pemerintah Jepang mendorong sekolah-sekolah untuk melaksanakan konaikenshu dengan menyediakan dukungan biaya dan insentif bagi sekolah yang melaksanakan.  Kebanyakan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di Jepang melaksanakan konaikenshu. Walaupun pemerintah Jepang telah menyediakan dukungan biaya bagi sekolah untuk melaksanakan konaikenshu tetapi kebanyakan sekolah melaksanakan secara sukarela karena sekolah merasakan manfaatnya.(Tim LS UPI, 2007: 20-21).

Lesson study di Indonesia. Lesson study berkembang di Indonesia melalui IMSTEP (Indonesia Mathematics and Science Teacher Education Project) yang diimplemantasikan sejak Oktober tahun 1998 di tiga IKIP yaitu IKIP Bandung (sekarang bernama Universitas Pendidikan Indonesia/UPI), IKIP Yogjakarta (sekarang bernama Universitas Negeri Yogyakarta/UNY) dan IKIP Malang (sekarang bernama Universitas Negeri Malang /UNM) bekerja-sama dengan JICA (Japan International Cooperation Agency). Tujuan Umum dari IMSTEP adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan matematika dan IPA di Indonesia, sementara tujuan khususnya dalah untuk meningkatkan mutu pendidikan matematika dan IPA ditiga IKIP yaitu IKIP Bandung, IKIP Yogyakarta, dan IKIP Malang. Pada permulaan implementasi IMSTEP, UPI, UNY, dan UM, dulu bernama IKIP Bandung, IKIP Yogyakarta, dan IKIP Malang.

Lesson studydalam perkebangan ilmu dan teknologi di Indonesia terutama dalam hal research oleh para peneliti digunakan sebagai desain penelitian lesson study berbasis PTK (Penelitian Tindakan Kelas)yang dapat dilaksanakan dalam beberapa macam. Mengacu pendapat Kemmis dan McTaggart (1997) ada tiga macam lesson study berbasis PTK, yakni (1) lesson study berbasis PTK yang dilakukan secara individual(2) lesson study berbasis PTK yang dilakukan secara kolaboratif, dan (3) lesson study berbasis PTK yang dilakukan secara kelembagaan

Lesson studyberbasis PTK yang dilakukan secara individual dimaksudkan seorang guru yang melakukan PTK berkedudukan sebagai peneliti sekaligus sebagai praktisi. Sebagai peneliti, guru harus mampu bekerja pada jalur penelitiannya, yakni jalur menuju perbaikan dengan langkah-langkah yang dapat dipertanggung jawabkan dalam arti guru yang bersangkutan harus menjamin kesahihan data yang dihimpun sehingga mendukung objektivitas penelitian yang dilakukan serta ketepatan dalam menginterpretasi dan  menarik kesimpulan hasil penelitian.

Lesson Study  berbasis PTK yang dilakukan secara kolaboratif, melibatkan sekelompok guru sehingga ada guru sebagai peneliti dan ada guru sebagai praktisi, dapat pula dilakukan kolaborasi antara guru dengan dosen. Dalam kolaborasi antara guru dan dosen, permasalahan digali bersama di lapangan, dosen dapat sebagai inisiator untuk menawarkan pemecahan atas dasar topik area yang dipilih. Dalam hal ini validitas penelitian lebih terjamin karena ada posisi sebagai peneliti dan posisi sebagai praktisi.

Lesson Study berbasis PTK yang dilakukan secara kelembagaan, dilakukan dalam bentuk PTK individualataupun dalam bentuk kolaboratif dan memiliki skop terbatas atau berfokus pada topik area yag sempit, misalnya; penelitian hanya berfokus pada hubungan antara proses pembelajaran dan hasil yang ingin dicapai.  PTK yang dilakukan secara kelembagaan memiliki skop penelitian yang lebih luas dan ditujukan untuk perbaikan lembaga. Dengan demikiandalam satu penelitian dapat ditetapkan beberapa topik area. Dalam PTK yang dilakukan secara kelembagaan melibatkan kolaborasi secara luas  melibatkan banyak pihak yang terkait, sisalnya melibatkan siswa, guru, karyawan, orang tua, kepala sekolah, dinas, dan dosen  perguruan tinggi, dan stakeholder ataupun yang lainnya.

Tujuan utama PTK yang dilakukan secara kelembagaan adalah untuk memajukan lembaga. Oleh karena itu, dapat dibuat kelompok-kelompok peneliti menurut topik-topik area yang relevan dengan kelompok yang bersangkutan. Menurut Kemmis dan McTaggart (1997) dalam PTK bentuk ini kelompok-kelompok kecil yang ada di dalamnya dapat melakukan kegiatan eksperimen untuk menguji beberapa inovasi untuk permasalahan yang ada.

C.  Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis, paradigmanya definisi sosial yang bergerak pada kajian mikro, subjek penelitiannya kepala dinas pendidikan, kepala sekolah, guru, anggota DPRD. Teknik pengumpulan data dengan observasi, dokumentasi, dan wawancara, sedangkan teknik analisis datanya menggunakan fist order understanding dan second order understanding. Analisis data menggunakan tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu; reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan/verifikasi (Miles dan Huberman, 1992:15-21).

E.   Kesimpulan Penelitian

Kesimpulan penelitian ini: 1) terdapat empat masalah dalam upaya meningkatkan profesionalitas pendidik yaitu: permasalahan internal, eksternal, komitmen dan kemauan guru 2) Langkah-langkah lesson study yang efektif adalah lesson study berbasis research PTK (Penelitian Tindakan Kelas); dengan tahapan paln-do-see; dioordinasikan melelui MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah), implentasi lesson study berbasis MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran. 3) Validasi lesson study sebagai model berkaitan dengan banyakvalidasi antara lain; validasi tim lesson study, jadwal pelaksanaan, konsistensi dan kontinuitas, dokumentasi, peningkatan mutu pembelajaran, tanggapan kepala sekolah dan siswa, dan validasi pakar sebagai pendamping. 4) Model pembelajaran aktif inovatif kreatif efektif dan menyenangkan dalam lesson study adalah model pembelajaran berbasis kolaboratif dan kooperatif, sedangkan efektifitas lesson study sebagai model pembinaan guru berbasis MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) implemantasinya oleh guru model di sekolah masing-masing.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Standard

MIGRSI MASYARAKAT DESA TEGALOMBO SRAGEN (Kajian Migrasi Sirkuler dari Perspektif Fenomenologi)

Migrasi Masyarakat Desa Tegalombo Sragen

Dr. Tjipto Subadi, M.Si1*

 1 Dosen Pendidikan Geografi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Kartasura

*tjiptosubadi@yahoo.com

 ABSTRAK

 Secara umum penelitian ini bertujuan; memahami fenomena migrasi sirkuler sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial dari proses dan makna yang dilihat sebagai realitas subjektif. Secara khusus penelitian  ini bertujuan; memahami struktur masyarakat desa, pelaku migrasi sirkuler dan sebab-sebab mereka melakukan migrasi sirkuler. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang berfokus pada analisis pemahaman dan pemaknaan, paradigmanya definisi sosial yang bergerak pada kajian mikro. Metode analisis data menggunakan first order understanding yakni meminta peneliti aliran ini menanyakan kepada subjek penelitian guna mendapatkan penjelasan yang benar, informasi inilah yang disebut eksternalisasi menurut pemahaman Berger. Selanjutnya peneliti melakukan second order understanding yakni peneliti memberikan interpretasi terhadap interpretasi subjek penelitian guna memperoleh suatu makna baru mengenai alasan yang mendasari tindakan mereka melakukan migrasi sirkuler, konstruksi sosial proses migrasi sirkuler dan maknanya, informasi inilah yang disebut objektivasi menurut pemahaman Berger. Penelitian ini berkesimpulan bahwa;  struktur masyarakat desa terdiri dari; kuli kenceng, kuli setengah kenceng dan, kuli ngindung. Migrasi sirkuler dilakukan oleh sebagian masyarakat kuli setengah kenceng yang memiliki kesadaran jaringan, memiliki sedikit modal untuk beralih mata pencaharian dari petani ke pedagang di daerah tujuan, memiliki jaringan sosial dengan migran lama, ada jaminan keamanan dan kesehatan bagi keluarga yang ditinggalkan. Proses migrasi sirkuler menganut sistem siklus dan hubungan sepesukuan. Migrasi sirkuler memiliki banyak makna (meaningfull) yaitu makna ekonomi (materi) dan makna non-ekonomi, seperti; makna relegiusitas, makna kesadaran akan jaringan dan jaminan sosial, makna kesadaran akan ilmu pengetahuan, dan makna stratifikasi sosial.

 Keywoeds : Migrasi sirkuler, banyak makna, first order understanding dan second order understanding.

 

 BAB   I     PENDAHULUAN

 A.       Latar Belakang Masalah

 Secara formal  migrasi penduduk di Indonesia telah dimulai pada tahun 1905 dengan motif memenuhi permintaan akan kebutuhan pekerjaan perkebunan. Pemerintah Belanda waktu itu telah memindahkan 155 Kepala Keluarga dari Jawa ke Gedong Tataan Sumatra Selatan (Mantra, 1988: 160).

 Di Jawa Tengah, berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 1980 menunjukkan bahwa migrasi ke luar Jawa sebanyak 2.402.557 jiwa dan migrasi masuk ke Jawa sebanyak 1.804.115 jiwa. Sedangkan pada tahun 1990, migrasi ke luar Jawa sebanyak 3.416.923 jiwa dan migrasi masuk ke Jawa 3.058.725 jiwa (Firman, 1994: 6). Pada tahun 2002 terdapat eksodan sejumlah 6.536 KK (25.239 jiwa) di Jawa Tengah.

 Data migrasi di pedesaan Jawa Tengah, misalnya data yang penulis peroleh dari desa Tegalombo (Sragen) tahun 2002 adalah; 3 orang ke Batam, 3 orang ke Kalimantan, 111 orang ke Sumatra, 2 orang ke Malaysia, dan 3 orang ke Taiwan. (dalam tulisan ini migrasi disebut migrasi sirkuler)

 Fenomena migrasi sirkuler yang dilakukan oleh sebagian penduduk di desa Tegalombo tidak dilakukan oleh seluruh anggota keluarga. Jika pelaku migrsi suami maka istri dan anak-anak tinggal di rumah (desa) atau jika yang migrasi istri maka suami dan anak-anak tinggal di rumah (desa), begitu juga jika yang migrsi anak, ayah dan ibu tinggal di rumah (desa). Pelaku migrsi ini pada saat tertentu kembali ke desa Tegalombo dan melakukan aktivitas sosial sebagaimana anggota masyarakat lainnya. Kemudian setelah kurun waktu tertentu (1-2 minggu) mereka kembali ke daerah migran lagi. Begitu seterusnya migrasi dilakukan oleh masyarakat desa Tegalombo.

 Ada banyak hal yang menarik seputar fenomena migrasi di desa Tegalombo. Pertama, jumlah migran dari tahun ke tahun cenderung meningkat, pada tahun 1990 terdapat 47 orang dan pada tahun 2000 jumlah tersebut menjadi 122 orang, yang berarti ada kenaikan 200% lebih. Padahal pada beberapa tahun terakhir ini, perkembangan industrialisasi di daerah penelitian (Sragen) cukup menjanjikan sebagai upaya pemerintah di bidang tenaga kerja. Kedua, migrasi diikuti dengan perpindahan pekerjaan dari buruh tani ke pedagang. Ketiga, fenomena migrsi yang lebih menarik adalah migrasi untuk mencari pengalaman, demi anak-anak, ingin meningkatkan status sosial di desa dan sebagainya, ini berarti bahwa migrasi memiliki makna lain selain kepentingan ekonomi.

 Dominasi faktor ekonomi dianggap sebagai penyebab utama seseorang bermigrasi, seperti penelitian Todaro (1992) yang populer dengan studi mobilitas desa-kota melihat kesenjangan distribusi geografis dari faktor-faktor produksi (tenaga kerja, modal, sumber daya alam, dan tanah) sebagai apriori yang diberikan dan mengasumsikan kesenjangan pengupahan sebagai faktor yang menentukan. Akibat dari kesenjangan pengupahan tersebut menurut Todaro terjadi mobilitas tenaga kerja dari daerah yang berlimpah tenaga kerjanya dengan modal rendah ke daerah dimana tenaga kerjanya jarang dengan modal yang berlimpah. Dengan asumsi bahwa faktor-faktor sumber daya alam terdistribusi merata. Pendekatan ini mengasumsikan pola bentuk ekonomi rasional sebagai pilihan para migran yang menyebabkan adanya transfer tenaga kerja.

 Penelitian lain adalah penelitian Hugo (1982), yang juga menyoroti dampak migrasi terhadap perekonomian keluarga. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa besarnya remitan migran akan menentukan tingkat kesejahteraan suatu rumah tangga. Kebanyakan remitan dari migran untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok, disimpulkan bahwa 40% remitan dari migran  dipergunakan untuk membeli beras, sedangkan 60% dari remitan untuk biaya pendidikan saudara dan anak-anaknya.

 Penelitian Mantra dan Sumantri (1988), berkesimpulan bahwa perpindahan penduduk di daerah penelitian mempunyai peranan cukup besar di dalam mengubah kehidupan ekonomi daerah pedesaan. Juga dalam penelitiannya terhadap perantau Minangkabau, menghasilkan bahwa dari segi ekonomi merantau memperhatikan efek positif sebagai sumber tambahan ekonomi keluarga.

 Penelitian Mulyantoro (1991) tentang Migran Asal Lamongan dan Keadaan Ekonominya diperoleh temuan bahwa Kota Kupang menjadi faktor penarik utama migran asal Lamongan karena penghasilan dan pendapatan yang lebih besar. Sedangkan faktor pendorong migran (di daerah asal) adalah penghasilan rendah, tidak memiliki lahan pertanian, tidak ada lapangan kerja. Adapun faktor penarik (di daerah tujuan) adalah penghasilan besar, mudah mencari pekerjaan, persaingan belum banyak.

 Dari beberapa hasil penelitian yang diuraikan di atas, menjelaskan bahwa faktor ekonomilah yang menjadi penyebab utama seseorang melakukan migrasi. Penelitian-penelitian tersebut mengabaikan faktor lain selain faktor ekonomi. Di samping itu penelitian-penelitian tersebut di atas  menggunakan metode kuantitatif yang hanya melihat fenomenologi sebagai realitas objektif, padahal migrasi di samping sebagai mobilitas penduduk juga sebagai fenomena sosial, yang di dalamnya ada pengalaman manusia yaitu makna migrasi dan prosesnya belum dikaji, makna dan proses migrasi ini juga bisa dikaji secara kualitatif yang dilihat sebagai realitas subjektif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi.

 B.       Rumusan Masalah

 Permasalahan utama yang menjadi fokus penelitian ini adalah; (1) bagaimana struktur masyarakat desa di desa penlitian? (2) siapakah pelaku migrasi sirkuler di desa Tegalombo? mengapa mereka melakukan migrasi sirkuler? (3) bagaimana konstruksi sosial proses migrasi sirkuler sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial, (4) bagaimana konstruksi sosial makna migrasi sirkuler oleh pelaku migrasi sirkuler?

 C.      Tujuan Penelitian

 Secara umum penelitian ini bertujuan; memahami fenomena migrasi sirkuler sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial dari proses dan makna yang dilihat sebagai realitas subjektif. Secara khusus penelitian  ini bertujuan; (1) memahami struktur masyarakat desa di desa penlitian (2) memahami pelaku migrasi sirkuler di desa Tegalombo? memahami sebab-sebab mereka melakukan migrasi sirkuler (3) memahami konstruksi sosial proses migrasi sirkuler sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial, dan (4) memahami konstruksi sosial makna migrasi sirkuler oleh pelaku migrasi sirkuler?

 D.      Manfaat Penelitian

 Manfaat dari penelitian ini adalah; (1) Secara teoritis, penelitian ini bermanfaat memberikan sumbangan ilmu pengetahuan sosial tentang; struktur masyarakat desa,  pelaku migrasi sirkuler di desa Tegalombo, sebab-sebab mereka melakukan migrasi sirkuler, konstruksi sosial proses migrasi sirkuler sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial, dan konstruksi sosial makna migrasi sirkuler oleh pelaku migrasi sirkuler? (2) Secara praktis, penelitian ini bermanfaat memberikan sumbangan pemikiran bagi pemerintah dalam menyusun strategi kebijakan penataan kependudukan, strategi dalam menciptakan kesempatan kerja dan pengembangannya yakni sistem informasi kesempatan kerja, jaringan sosial dan jaminan sosial daerah potensi migrasi sirkuler kepada calon-calon migrasi sirkuler (masyarakat pedesaan) dalam menghadapi persoalan ketenaga kerjaan, persoalan mobilitas penduduk dan gejala sosial bagi masyarakat pedesaan.   Hal ini mengingat masalah menciptakan kesempatan kerja dan pengembangannya di Indonesia sangat mendesak lebih-lebih dalam menghadapi krisis ekonomi yang berkepanjangan, dalam hal ini isyarat dari Mc. Gee, dalam Abu-Lughod dan Hay eds., dalam Sutomo, (1993: 16) bahwa di masa mendatang kebanyakan negara berkembang terutama yang penduduknya cukup besar seperti India dan Indonesia akan menghadapi masalah genting, kecuali bila berhasil dalam menyusun strategi dalam menciptakan kesempatan kerja dan pengembangannya.

BAB  II  PENDEKATAN TEORITIK

BAB III  METODE PENELITIAN

BAB IV  ANALISIS ASPEK WILAYAH

BAB V ANALISIS PROSES MIGRASI SIRKULER

BAB VI ANALISIS MAKNA MIGRASI SIRKULER

BAB  VII PEMBAHASAN MIGRASI SIRKULER

BAB VIII KESIMPULAS DAN SARAN

A.      Kesimpulan

 1.        Struktur Masyarakat Desa

 Setelah peneliti melakukan identifikasi struktur masyarakat desa, sebagaimana layaknya karakteristik daerah tradisional-agraris struktur masyarakat desa tersebut masih dipengaruhi oleh struktur kepemilikan tanah yang terdiri dari; (1) kuli kenceng, (2) kuli setengah kenceng dan, (3) kuli ngindung.

 Kuli kenceng adalah anggota masyarakat yang mempunyai tanah sawah, tanah pekarangan dan tanah tegalan. Kuli setengah kenceng adalah anggota masyarakat yang hanya memiliki tanah pekarangan dan tidak memiliki tanah sawah dan tanah tegalan. Sedangkan kuli ngindung adalah anggota masyarakat yang tidak meliliki tanah pekarangan, tanah sawah, dan tanah tegalan.

 2.        Pelaku Migrasi sirkuler

 Migrasi sirkuler dilakukan oleh sebagian kelompok masyarakat “kuli setengah  kenceng” yang (1) memiliki kesadaran jaringan dengan orang yang sedang migrasi sirkuler (2) memiliki sedikit modal untuk beralih mata pencaharian petani ke pedagang di daerah tujuan migrasi sirkuler (3) memiliki jaringan sosial dengan migran lama, jaminan keamanan dan jaminan kesehatan bagi keluarga yang ditinggalkan.

 3.      Proses Migrasi Sirkuler

 Kelompok Kuli Setengah Kenceng à menghadapi kesulitan ekonomi (penghasilan rendah, susah mencari pekerjaan, gagal panen)à mempunyai jaringan sosial (hubungan dengan migran lama), sedikit modal, dan jaminan sosial seperti keamanan dan kesehatan bagi keluarga yng ditinggalkan à mengikutu saudara/migran yang sukses (diharapkan dapat mencarikan pekerjaan, memenuhi kebutuhan makan, tempat tinggal pada hari-hari pertama di daerah migran) à menjadi migran mandiri à mengajak saudaranya di desa untuk migrasi sirkuler, dan seterusnya

Migrasi sirkuler dilakukan tidak hanya dodorong oleh kepentingan ekonomi saja melainkan juga kepentingan-kepentingan non ekonomi seperti; (1) keinginan mengikuti perintah agama (relegiusitas) (2) menambah wawasan dan ilmu pengetahuan dan (3) meningkatkan status sosial di tengah masyarakat.

 Selain itu migrasi sirkuler dianggap sebagai alat yang mampu mendorong mobilitas vertikal untuk menjadi elit atau tokoh masyarakat. Mobilitas vertikal ini tidak hanya didorong keberhasilan individu pelaku migrasi sirkuler tetapi juga oleh pandangan masyarakat desa yang melihat pelaku migrasi sirkuler memiliki status sosial lebih tinggi dibandingkan dengan anggota masyarakat yang tinggal di desanya, dengan kata lain ada konstruksi sosial yang turut mendorong mobilitas vertikal tersebut.

 4.      Konstruksi Sosial Proses Migrasi sirkuler

 (1) Migrasi sirkuler dilakukan dengan mengikuti orang yang sudah lama migrasi dan berhasil.

 Orang yang akan melakukan migrasi sirkuler telah memiliki jaringan atau kedekatan dengan orang yang telah migrasi sirkuler dan sukses di daerah tujuan, atau sebaliknya, orang yang telah sukses di daerah tujuan mengajak kerabatnya/familinya untuk ikut melakukan migrasi sirkuler, proses migrasi sirkuler ini menggunakan sistem siklus yang teratur dan sistem sepesukuan.

 “Sistem siklus”menjelaskan bahwa migrasi sirkuler dilakukan dengan mengikuti migran berhasil, sedangkan sistem sepesukuan menjelaskan bahwa antara migran baru dengan migran lama masih memiliki hubungan keluarga atau sedesa.

 (2) Proses pengambilan keputusan seseorang melakukan migrasi sirkuler tergantung pada ada dan tidaknya kesadaran (kesadaran akan jaringan sosial, kesadaran keuntungan ekonomis, dan kesadaran jaminan sosial).

 Adanya jaringan dengan kerabat yang telah lebih dulu berada di tempat tujuan akan meningkatkan motivasi dan keberanian seseorang untuk meninggalkan daerah asalnya karena mereka (migran lama) diharapkan bisa menolong mencarikan pekerjaan di tempat tujuan dan memberikan bantuan ekonomi, tempat tinggal pada hari-hari pertama.

 (3) Keberadaan migrasi sirkuler lama manjadi sumber informasi yang berharga bagi pelaku migrasi sirkuler yang baru.

 Sekalipun calon migrasi sirkuler di daerah asal telah menerima dan mempertimbangkan berbagai informasi mengenai daerah tujuan. Informasi yang positif dari migrasi sirkuler yang terdahulu tentang peluang kerja, tempat tinggal sementara dan hasil yang memadai akan menjadi pertimbangan mereka dalam memutuskan untuk melakukan migrasi sirkuler. (dan sebaliknya).

 (4) Proses penyesuaian diri migrasi sirkuler di temapt tujuan tidak lepas dari keberadaan migrasi sirkuler terdahulu, khususnya dalam hal informasi mengenai  adat-istiadat, norma, atau kebiasaan masyarakat sekitar.

 Adaptasi migrasi sirkuler terhadap lingkungan tempat tujuan menjadi sangat penting mengingat mereka memasuki kondisi sosial baru yang berbeda dengnan daerah asal.

 4.  Makna Migrasi sirkuler bagi Pelaku Migrasi sirkuler

 Migrasi sirkuler memiliki banyak makna (meaningfull), tidak hanya makna ekonomi (materi) tetapi juga makna non-ekonomi, seperti makna;(1) relegiusitas, (2) kesadaran akan jaringan., dan jaminan sosial (3) kesadaran akan ilmu pengetahuan, dan (5) stratifikasi sosial.

 Migrasi sirkuler yang dilakukan dengan maksud merubah kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan agar menjadi lebih baik sehingga dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari, biaya pendidikan anak, kesehatan dan lain sebagainya menunjukkan makna ekonomi dalam migrasi sirkuler. Tetapi migrasi sirkuler ingin merubah nasib yang dikaitkan dengan keyakinan agama bahwa Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum kalau kaum itu sendiri tidak merubahnya, migrasi sirkuler sebagai pedagang dikaitkan dengan pekerjaan Nabi bahwa pada masa hidupnya beliau bekerja sebagai pedagang, berdagang merupakan sebuah simbol dalam melaksanakan ajaran agama, hal ini berarti bahwa migrasi sirkuler memiliki makna kesadaran religiusitas. Sedangkan migrasi sirkuler dengan mengikuti anggota keluarga yang telah melakukan migrasi sirkuler atau sebaliknya migrasi sirkuler yang sukses di daerah tujuan mengajak anggota keluarga lain di daerah asal untuk melakukan migrasi sirkuler menunjukkan migrasi sirkuler memiliki makna kesadaran jaringan sosial. Selain itu migrasi sirkuler yang dilakukan dengan pertimbangan keamanan dan kesehatan anak-anak dan keluarga yang ditinggalkan menunjukkan migrasi sirkuler memiliki makna kesadaran jaminan sosial.

 Makna yang lain dari migrasi sirkuler adalah migrasi sirkuler ingin mencari ilmu (pengalaman) yang dikaitkan dengan figur Hamka yang meninggalkan kota Minang ke Jakarta dengan tujuan ingin menuntut ilmu kemudian beliau menjadi ulama dan intelektual yang sangat dikagumi dan dihormati menunjukkan migrasi sirkuler memiliki makna kesadaran ilmu pengetahuan dan status sosial.

 6. Implikasi Temuan Penelitian

 Pertama, migrasi sirkuler yang dilakukan oleh masyarakat kuli setengah kenceng sebagaimana di uraikan di atas berimplikasi bahwa fenomena migrasi sirkuler oleh masyarakat kuli setengah kenceng dapat menjadi alat “mobilitas vertikal” untuk menjadi “elite”. Mobilitas vertikal ini tidak hanya didorong keberhasilan individu pelaku migrasi sirkuler tetapi juga oleh pandangan masyarakat desa yang melihat pelaku migrasi sirkuler memiliki status sosial lebih tinggi dari pada anggota masyarakat yang tidak melakukan migrasi sirkuler. Dengan kata lain, ada konstruksi sosial yang turut mendorong mobilitas vertikal bahwa pelaku migrasi sirkuler status sosialnya lebih tinggi dari pada warga masyarakat yang tidak melakukan migrasi sirkuler. Sedangkan implikasi terhadap falsafah hidup jawa “mangan ora mangan anggere kumpul” (makan tidak makan asalkan berkumpul) adalah bahwa tindakan migrasi sirkuler mampu mempengaruhi masyarakat desa dari berpikir irasional menjadi berpikir rasional. Aliran irasional mengatakan bahwa “mangan ora mangan anggere kumpul” mereka ini tetap tinggal di desa tidak migrasi sirkuler dan tidak berani meninggalkan falsafah hidup jawa tersebut. Sedangkan aliran rasional mengatakan bahwa “kumpul ora bakal mangan menowo ora obah” (berkumpul tidak akan makan jika tidak bekerja) mereka ini rela meninggalkan desa, anak-anak dan keluarganya untuk melakukan migrasi sirkuler. Dengan kata lain bahwa falsafah hidup jawa tersebut sudah ditinggalkan oleh pelaku migrasi sirkuler.

 Kedua, terkait dengan kajian yang dikemukakan oleh Husserl di atas maka imlpikasi dari temuan penelitian ini bahwa tidaklah berlebihan jika analisis terhadap masyarakat yang melakukan migrasi sirkuler tersebut sudah dapat dikatakan mempunyai tingkat kesadaran tetap yang dinamis dalam keinginan dan kebutuhan hidup. Oleh karena itu, kajian selanjutnya merujuk pada perilaku migrasi sirkuler yang dimaknai sebagai suatu proses kesadaran yang berkelanjutan (ego transendental) menuju pada keinginan dan kebutuhan untuk melakukan perubahan hidup.

 Ketiga, terkait dengan banyak faktor yang mendasari tindakan  seseorang melakukan migrasi sirkuler (faktor ekonomi dan non-ekonomi) dan banyak makna seseorang melakukan migrasi sirkuler (makna ekonomi, makna kesadaran jaringan sosial dan makna kesadaran jaminan sosial, makna  kesadaran religiusitan, makna kesadaran ilmu pengetahuan dan meningkatkan status sosial), maka implikasi hasil penelitian ini adalah memodifikasi teori migrasi kuantitatif Everett S. Lee yang dilihat sebagai realitas objektif menjadi teori migrasi yang kualitatif yang dilihat sebagai realitas subjektif. Implikasi hasil penelitian ini sama sekali tidak menolak teori migrasi Lee yang kuantitatif tetapi lebih pada menambah khasanah teori migrasi yang telah ada. Harapan dari penelitian ini terhadap kajian-kajian migrasi selanjutnya bisa sampai pada kajian kuantitatif-kaulitatif.

 B.       Saran-Saran

 Berdasarkan hasil penelitian yang berkaitan dengan proses migrasi sirkuler dan makna migrasi sirkuler tersebut di atas yang dilihat sebagai realitas subjektif dengan menggunakan pendekatan kualitatif maka dapat disarankan sebagai berikut:

 1.           Metode kualitatif dianjurkan untuk terus dilakukan dalam penelitian mobilitas penduduk, karena jenis metode kualitatif ini menyentuh kehidupan nyata, dan pendekatan yang objektif. Hal ini terutama disebabkan pendekatan yang emik, menyeluruh, serempak dan menyentuh makna yang terkandung di dalamnya.  Perspektif fenomenologi juga dianjurkan untuk terus digunakan dalam mengkaji fenomena sosial karena perspektif ini akan mampu mengkaji makna sebagai realitas subjektif, fisrt order understanding dan second order understanding yang dikemukakan oleh Berger juga relevan digunakan untuk memperoleh informasi atau interpretasi migran terhadap makna migrasi sirkuler, dan kemudian dari penjelasan tersebut peneliti melakukan interpretasi dari interpretasi itu sampai diperoleh pengetahuan yang ilmiah berkaitan dengan makna itu.

 2.           Kepada para peneliti kependudukan, khususnya peneliti  yang  ingin berkonsentrasi pada kajian mobilitas penduduk/migrasi, untuk dapat mempertimbangkan kajiannya pada proses dan makna yang harus dilihat sebagai realitas subjektif, kerena pada kenyataannya kebanyakan dari penelitian migrasi yang ada hanya mengkaji dampak dan sebab migran melakukan migrasi, yang hasilnya sangat kental dengan persoalan-persoalan ekonomi dan kurang menyentuh dimensi sosialnya. Padahal mobilitas penduduk/migrasi tidak bisa lepas dengan persoalan-persoalan sosial. Maka aspek-aspek sosial juga menjadi permasalahan tersendiri dari penelitian migrasi.

 3.           Kepada pemerintah, agar diupayakan penyusunan strategi kebijakan penataan kependudukan, strategi dalam menciptakan kesempatan kerja dan pengembangannya, yakni sistem informasi kesempatan kerja, jaringan sosial dan jaminan sosial daerah potensi migrasi sirkuler kepada calon-calon migrasi sirkuler (masyarakat pedesaan) dalam menghadapi persoalan ketenaga kerjaan, persoalan mobilitas penduduk dan gejala sosial bagi masyarakat pedesaan, mengingat masalah ini di Indonesia sangat mendesak lebih-lebih dalam menghadapi krisis multi-dimensional yang berkepanjangan, dalam hal ini isyarat bahwa di masa mendatang kebanyakan negara berkembang terutama yang penduduknya cukup besar seperti India dan termasuk Indonesia akan menghadapi masalah besar, kecuali bila berhasil dalam menyusun strategi dalam menciptakan kesempatan kerja dan pengembangnnya.

 4.           Kepada Pemda, disarankan agar ada kebijakan untuk menfasilitasi pelaku migrasi sirkuler dan keluarganya, misalnya; perbankan (koperasi simpan pinjam), asuransi jaminan sosial pelaku migrasi sirkuler dan keluarganya atau fasilitas lain yang bisa meringankan beban keluarga migrasi sirkuler.

  DAFTAR PUSTAKA

 Abu-Loghod and Richard Hay  Jr. (eds.). Strid  World Urbanization.London: Longman.

 Ardhana, W., dkk. 2001. Metodologi Penelitian Pendidikan. Malang. Departemen Pendidikan Nasional. Universitas Negeri Malang, Fakultas Ilmu Pendidikan.

 Berger, P. and  T. Luckmann, 1967, The Social Construction of Reality, London, Allen Lane.

 —————————————–, 1990, Tafsir Sosial atas Kenyataan, Risalah Tentang Sosiologi Pengetahuan, Jakarta,  LP3ES.

 —————————————–, Langit Suci: Agama Sebagai Realitas Sosial, Jakarta, LP3ES.

Collin F., 1991, Social Reality,  New York, London, Routledge.

 Daeng H., 1987, Teori Migrasi, terjamahan A Theory of Migration, Yogjakarta, Pusat Penelitian Kependudukan, UGM.

 Faisal S., 1990, Penelitian Kualitatif: dasar-dasar dan Aplikasi, Malang: YA3.

 Firman T., 1994, Migrasi Antar Propinsi dan Pengembangan Wilayah di Indonesia, dalam Prisma No. 7 tahun XXIII Juli, LP3ES.

 Gordon, S., 1991, The History and Philosopy of Science, London-New York : Routledge.

 Hugo, Graeme,J., 1975, Population Mobility in West Jawa, Indonesia, Ph.D. Dissertation, Departement of Demogaphy, The Australia National  University , Canberra (Unpublished).

 ———————– , 1977, Communiting, Circulation, and Migration in West Java: Policy Implication. Paper Presented at the Eighth Summer Seminar in Population, Honolulu.

 ———————–  , 1982, Circulation Migration in Indonesia, Population and Development Review, 8 (1):59-88. New York : The Population Cauncil.

 ———————– , 1982, Evaluation of the Impact of Migration on Individuals, House holds and Communities, dalam National Migration  Survey: Guidelines for Analysis, New York, United Nations.

 ———————– , Ida Bagoes Mantra, and  Hazel V.J Moir, 1979, Population Mobility and Development in Indonesia: dalam Population and Development Policy  Research Proposal on Migration in Development  Countries, Yogyakarta.

 Lee, E. S., 1966, A Theory of Migration, Demography  3 (1) 47-57. Alexandria: Population Association of America.

 ————— , 1984, Teori migrasi, Seri Terjemahan No. 3, Yogjakarta, Pusat Peneitian Kependudukan, Universitas Gajah Mada.

 ————— , 1992, Teori Migrasi: Seri Terjemahan di Terjemahkan oleh Hans Daeng, ditinjau Kembali oleh Ida Bagus Mantra, Yogyakarta, Pusat Penelitian Kependudukan, Universitas Gajah Mada

 Lincoln, Y. S., Guba, E.G., 1984, Naturalistic Inquiry, California: Sage Publication.

 Mabogunje, A.L., 1970, System Approach to a Theory of Rural-Urban Migration, Geography Analysis.

 Mardiyanto, 2003, Peraturan Daerah Propinsi Jawa Tengah No. 14 Tahun 2002 Tentang REPETADA Prop. Jateng, Semarang, Pemerintah Daerah Propinsi Jateng.

 Mantra, I. B., 1981, Population Mobility  in West Java, Ph.d  Thesis. Yogyakarta: GajahMada  University Press.

 —————————–, Population Movement In West Rice Communities: A Case Study of Two Dukuh In Yogyakarta Special Region, Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

 —————————–, dan Sumantri, 1988, Migrasi Penduduk Aceh Berdasarkan Data Supas 1985, Jakarta, Kerjasama LDFE Universitas Syah Kuala dan Kantor Menteri Negara KLH.

 Miles, B. M., Michael, H., 1984, Qualitative Data Analisys, dalam H.B. Sutopo, Taman Budaya Surakarta dan Aktivitas Seni di Surakarta, Laporan Penelitian, FISIPOL UNS.

 Muhadjir, N., 1996, Metodologi Penelitian Kualitatif, (edisi III), Yogyakarta: penerbit Rakesarasin.

 —————-, 1989, Metodologi Penelitian Kualitatif: telaah Positivistik Rasionalistik dan Phenomenologik, Yogyakarta: Rake Sarasin.

 Mulyantoro, A., 1991, Migran Asal Lamongan dan Keadaan Sosial Ekonominya, Kupang: Penelitian FKIP, Undana.

 Parsons, T, 1977, Society, Evolutionary and Comparative Perspective, New    Jersey Englewood Cliffs, Prentice-Hall.

Ross, J. L., 1997, Controlling State Crime. An Introduction , dalam  The Journal of Conflict Studies, Journal of The Centre for Conflict Studies University of New Brunswick, Spring.

Sanderson S. K., 1991,  Sosiologi Makro: Sebuah Pendekatan terhadap Realita Sosial,  Jakarta, Rajawali Press.

Sanderson, 2000, Dalam Ekosistem dan Kesejahteraan Manusia; Suatu Kerangka Pikir  untuk Penilaian, Laporan Kelompok Kerja  Conceptual Framework Millenium Ecosystem Assesment 2000.

Santoso, T., 2002, Kekerasan Politik-Agama: Suatu Studi Konstruksi Sosial tentang Perusakan Gereja di Situbondo, 1996, Ringkasan Disertasi, Surabaya, Pascasarjana UNAIR.

 Sutomo, H., 1993, Hubungan Antara Mobilitas Horizontal dan Mobilitas Vertikal Migran Sirkuler Sektor Informal di Kota Wonosobo dan Cilacap, Yogyakarta, Disertasi, UGM.

 Todaro, Michael, P., 1992, Kajian Ekonomi Migrasi Internal di Negara Berkembang : Telaah Atas Beberapa Model, Seri Terjemahan No. 25, Pusat Penelitian Kependudukan, Yogyakarta, UGM.

 ——————– ,  1976, Internal Migration in Developing Countries A Review of Theory, Evidence, Methodology, and Research Priorities, Geneva International Labour office.

————————–  , 1979, Economic For A Developing  World an Introduction  to A Principle, Problems and Policies  for Development, Longman, London.

Waters, M., 1994, Modern Sociologycal Theory, SAGE Publication, London Thausand Oaks, New Delhi.