Standard

BUKU AJAR PLPG PENDALAMAN MATERI SOSIOLOGI

MODUL PLPG
PENDALAMAN MATERI SOSIOLOGI
 
vi + 107 hal., 21,5 x 29,5 cm
ISBN: 978-602-8649-07-0
 
 Penulis                          : Dr. Tjipto Subadi, M.Si
Penyelaras Bahasa        : Laboratorium Pelayanan bahasa
                                        Program Study PBSID-FKIP-UMS
Desain Cover                : Catur Budi
Setting/Lay Out             : Andi Widagdo
Penerbit                         : Badan Penerbit FKIP-UMS
KATA PENGANTAR
 
Assalamu”alaikum warahmaullahi wa barokatuh.
Alhamdulillahirobbil’alamin, segala puji bagi Allah SWT atas segala rakmat taufiq dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan Buku Materi LPG Mata Pelajaran Sosiologi Jenjang SMA.
Buku ini merupakan materi Sertifikasi Guru Rayon 41 Surakarta Tahun 2011 yang merupakan bagian tak terpisahkan dari sistem peningkatan mutu pendidik di Indonesia yang diamatkan oleh Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Di dalam buku ini disajikan materi pendalaman Sosiologi yang menjelaskan; Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan; Sosialisasi sebagai proses dalam pembentukan kepribadian; Perilaku penyimpangan; Interasi sosial dan pola struktur sosial; Pengendalian Sosial; Perubahan Sosial; Teori Sosiologi Makro dan Mikro; Rancangan Penelitian Sosial; dan Penulisan Penelitian Sosial.
Buku ini insya Allah  bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan para guru soiologi pada khususnya yang ingin mengembangkan ilmu pengetahuan, terlebih bagi pemerhati pendidikan yang tidak luput dengan persoalan-persoalan fundamental pendidikan yang berkaiatan dengan masalah sosial.
Buku ini dapat terbit atas bantuan akademik dan dorongan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:
Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta, Dekan FKIP-UMS, Panitia Sertifikasi Guru (PSG) Rayon 41 FKIP-UMS dan Panitia Penyelenggara PLPG tahun 2011, yang telah memberi tugas dan kepercayaan kepada penulis untuk menyusun Buku Materi PLPG Mata Pelajaran Sosiologi untuk Janjang SMA.
Terima kasih juga penulis sampaikan kepada teman-teman dosen dan karyawan FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta yang tidak bisa disebut namanya satu per-satu, yang telah memberikan dorongan dan harapan sekaligus do’a sehingga buku ini dapat selesai.  
Buku ini disusun dan dikembangkan melalui berbagai sumber, namun demikian masih ada kekurangan, oleh karena itu kepada semua pihak diharapkan memberikan kritik yang konstruktif demi kesempurnaan buku ini pada masa-masa yang akan datang. Semoga buku ini bermanfaat, amien ya robbal ‘alamien.
 
Wassamu’alaikum Warahmatullahi wa barokatuh.
                                                                                                                                               Surakarta, Juni 2011
                                                                                                                                   Penyuyusun
                                                                                                                TJIPTO SUBADI
 
Kata Pengant

BAB I
ORIENTASI SOSIOLOGI 
 
Indikator
1.   Menjelaskan cirri-ciri sosiologi sebagai ilmu pengetahua 
2.   Memahami pentingnya nilai dan norma dalam masyarakat
 
A.      Pendahuluan
Sosiologi pada dasarnya mempunyai dua pengertian dasar yaitu sebagai ilmu, dan sebagai metode. Sebagai ilmu, sosiologi merupakan kumpulan pengetahuan ilmiah tentang masyarakat dan kebudayaan yang disusun secara sistematis berdasarkan analisis berpikir logis. Sebagai metode, sosiologi adalah cara berpikir untuk mengungkapkan realitas sosial dan budaya yang ada dalam masyarakat dengan prosedur dan teori yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang obyeknya manusia, yang berdiri sendiri sebab telah memenuhi unsur-unsur ilmu pengetahuan, yaitu  logis, objektif, sistematis, andal, dirancang, akumulatif, dan empiris, teoritis, kumulatif, non etis.
Sosiologis bersifat logis artinya sosiologi disusun secara masuk akal, tidak bertentangan dengan hukum-hukum logika sebagai pola pemikiran untuk menarik kesimpulan. Sosiologi bersifat obyektif artinya sosiologi selalu didasarkan pada fakta dan data yang ada tanpa ada manipulasi dari data. Sosiologi bersifat sistematis artinya sosiologi disusun secara rapi, sesuai dengan kaidah keilmuan. Sosiologi bersifat andal artinya sosiologi dapat dibuktikan kembali, dan untuk suatu keadaan terkendali harus menghasilkan hasil yang sama. Sosiologi bersifat dirancang/direncanakan artinya sosiologi didesain lebih dahulu sebelum melaksanakan aktivitas penyelidikan. Sosiologi bersifat akumulatif artinya sosiologi merupakan ilmu yang akan selalu bertambah dan berkembang seiring dengan perkembangan keinginan dan hasrat manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Sosiologi bersifat empiris, artinya sosiologi didasarkan pada observasi terhadap kenyataan dan akal sehat serta hasilnya tidak bersifat spekulatif. Sosiologi bersifat teoritis, artinya sosiologi selalu berusaha untuk menyusun abstraksi dari hasil-hasil penelitian. Sosiologi bersifat kumulatif, artinya sosiologi dibentuk atas dasar teori-teori yang sudah ada dalam arti memperbaiki, memperluas, serta memperhalus teori-teori lama. Sosiologi bersifat non-ethnis, artinya sosiologi yang dibahas dan dipersoalkan bukanlah buruk baiknya fakta tertentu, akan tetapi tujuannya adalah untuk menjelaskan fakta tersebut secara analitis. (Tjipto Subadi, 2009:1-2)  

Soerjono Soekanto (1986: 11) menjelaskan bahwa: 1) Sosiologi bersifat empiris, yang berarti bahwa ilmu pengetahuan tersebut didasarkan pada observasi terhadap kenyataan dan akal sehat serta hasilnya tidak bersifat spekulatif. 2) Sosiologi bersifat teoritis, yaitu ilmu pengetahuan tersebut selalu berusaha untuk menyusun abstraksi dari hasil-hasil penelitian. 3) Sosiologi bersifat kumulatif, yang berarti bahwa teori-teori sosiologi dibentuk atas dasar teori-teori yang sudah ada dalam arti memperbaiki, memperluas, serta memperhalus teori-teori lama. 4) Sosiologi bersifat non-ethis, yakni yang dipersoalkan bukanlah buruk baiknya fakta tertentu, akan tetapi tujuannya adalah untuk menjelaskan fakta tersebut secara analitis.

Namun yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana untuk membedakan sosiologi dengan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya yang tergabung pula dalam ilmu-ilmu sosial? Mengenai persoalan ini masih banyak tumpang tindih oleh karena pembedaannya tidak tegas dan bukan hanya menyangkut perbedaan dalam isi atau objek penyelidikan, akan tetapi juga menyangkut perbedaan tekanan pada unsur-unsur objek yang sama, atau lebih jelasnya pendekatan yang berbeda terhadap objek yang sama. Untuk lebih memberikan gambaran yang jelas dipersilahkan membaca secara cermat dan teliti uraian berikut ini..

1.         Pengetian Sosiologi

a.         Sosiolog De Saint Simon, bapak perintis sosiologi (1760-1825) menjelaskan bahwa sosiologi itu mempelajari masyarakat dalam aksi-aksinya, dalam usaha koleksinya, baik spiritual maupun material yang mengatasi aksi-aksi para peserta individu dan saling tembus menembus (lihat “Traite de Sociologie 1962, dari Georges Gurvitch Jilid I hal. 32).

b.        Bapak sosiologi adalah Auguste Comte (1789-1853). Kata sosiologi mula-mula digunakan oleh Auguste Comte, dalam tuliasannya yang berjudul Cours de Philosopie Positive (Positive Philosophy) tahun 1842. Sosiologi berasal dari bahasa latin yang dari dua kata; Socius dan Logos. Secara harfiah atau etimologis kata socius berarti teman, kawan, sahabat, sedangkan logos berarti ilmu pangetahuan.

Jadi sosiologi berarti ilmu pengetahuan tentang bagaimana berteman, berkawan, bersahabat atau suatu ilmu yang membicarakan tentang bagaimana bergaul dengan masyarakat, dengan kata lain sosiologi mempelajari tentang masyarakat, atau ilmu pengetahuan tentang hidup masyarakat.

Secara operasional Auguste Comte menjelaskan bahwa sosiologi merupakan ilmu pengetahuan kemasyarakatan umum yang merupakan pula hasil terakhir perkembangan ilmu pengetahuan, didasarkan pada kemajuan-kemajuan yang telah dicapai oleh ilmu-ilmu pengetahuan lainnya, dibentuk berdasarkan observasi dan tidak pada spekulasi-spekulasi perihal keadaan masyarakat serta hasilnya harus disusun secara sistematis.

c.         Emile Durkheim (1858-1917) pernah menamakan sosiologi adalah ilmu tentang lembaga-lembaga sosial, yakni pikiran-pikiran dan tindakan-tindakan yang sudah “tertera” yang sedikit banyak menundukkan para warga masyarakat.

d.        Pitirim Sorokin (terjemahan bebas dari Sorokin, Contemporary Sociological Theories, 1928: 760-761) menjelaskan bahwa sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala-gejala sosial, misalnya antara gejala ekonomi dengan agama, keluarga dengan moral, hukum dengan ekonomi, gerak masyarakat dengan politik dan lain sebagainya.

e.         William F. Ogburn dan Meyer F. Nimkoff dalam bukunya yang berjudul “Sociology” Edisi Keempat, halaman 39 dijelaskan bahwa sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya berupa organisasai sosial.

f.         J.A.A. Van Doorn dan C.J. Lammers, dalam bukunya yang berjudul  Modern Sociology, Systematic en Analyse, (1964: 24) dijelaskam bahwa sosiologi ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil. (Soerjono Soekanto, 1986:15-16).

g.        Pengertian sosiologi dari ilmuwan sosial lain (Mayor Polak, 1979: 4-8) menjelaskan bahwa; sosiologi adalah: 1) Suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat. 2) Sosiologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat sebagai keseluruhan yakni antar hubungan diantara manusia dengan manusia, manusia dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok. 3) Sosiologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat sebagai keseluruhan yakni antara hubungan diantara manusia dengan manusia, manusia dengan kelompok, kelompok dengan kelompok baik formal maupun material. 4) Sosiologi adalah suatu ilmu prengetahuan yang mempelajari masyarakat sebagai keseluruhan, yakini antar-hubungan diantra manusia dengan manusia, manusia dengan kelompok, kelompok dengan kelompok, baik formal maupun material, baik statis maupun dinamis.

Dari beberapa definisi tentang sosiologi tersebut di atas terdapat dua hal yang penting dalam memahami sosiologi. Pertama, masyarakat sebagai keseluruhan.  Kedua, masyarakat sebagai jaringan antar hubungan sosial. Tugas sosiologi adalah untuk menyelami, menganalisa dan memahami jaringan-jaringan antar hubungan itu.

2.         Penerapan Teori Sosiologi.

            Penerapan teori sosiologi dalam lingkungan masyarakat ditunjukkan adanya hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala-gejala non-sosial, misalnya gejala geografis, biologis dan sebagainya. Dan ciri umum dari pada semua jenis gejala-gejala sosial. Roucek dan Warren (terjemahan bebas dari Roucek dan Werren, Socuology an Introduction, 1962: 3) bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok.

3.      Obyek Sosiologi

Meyer F. Nimkoff, dalam M. Nata Saputra (1982: 30-31) membagi objek sosiologi ke dalam 7 objek, yaitu: (1) faktor dalam kehidupan sosial manusia, (2) kebudayaan, (3) sifat hakiki manusia (human nature), (4) kelakuan kolektif, (5) persekutuan hidup, (6) lembaga sosial, dan (7) perubahan sosial (social change). Dalam garis besarnya ada 3 pendapat tentang objek sosiologi, yaitu;

a.         Objek sosiologi adalah individu (individualisme).

Tokohnya George Simmel, yang memandang masyarakat dari sudut individu; kresatuan kelompok itu asalnya semata-mata dari kesatuan yang nyata berwujud yang terdiri dari manusia-manusia perorangan. George Simmel menitik beratkan pada daya pengaruh mempengaruhi antara individu-individu yang merupakan sumbar segala pembentukan kelompok.

b.        Objek sosiologi adalah kelompok manusia / masyarakat (kolektivisme).

Tokohnya Ludwik Gumplowicz. Baginya masyarakat atau kelompok manusia merupakan satu-satunya objek sosiologi. Dalam peristiwa sejarah, individu adalah pasif dimana kehidupan kerokhaniannya ditentukan oleh kehendak masyarakat. Perhatian Ludwik terutama dicurahkan pada perjuangan antara golongan-golongan.

c.         Objek sosiologi adalah realitas sosial.

Pandangan yang individualistis dan kolektivistis tersebut di atas itu biasanya dipandang sebagai berat sebelah, karena itu pandangan ketiga ini ingin menjauhi kelemahan itu. Pandangan ini melihat kehidupan sosial dari sudut saling mempengaruhi dan bersikap tidak memihak terhadap pertentangan antara kedua faham tersebut. Bahkan ada yang tidak mengakui pertentangan yang ada antara kedua faham itu.

Ada dua tokoh dalam pandangan ini; Pertama, Ch. H. Cooley berpendapat sosiologi ditujukan kepada realitas sosial. Ia mengembangkan konsepsi dari saling tergantung dan ketidak terpisahanya individu dan masyarakat. “Diri sendiri dan masyarakat itu adalah dua anak kembar”. Begitu pula kesadaran sosial tak terpisah dari kesadaran sendiri. Teori Cooley berdasarkan pendapat bahwa pergaulan hidup masyarakat merupakan suatu keseluruhan. Individu dan masyarakat tak dapat ada sendiri-sendiri, tetapi kedua-duanya merupakan segi-segi dari suatu kenyataan. Satu hal yang penting dari teori ini adalah pengertian tentang “primary group” seprti keluarga, lingkungan tetangga, lingkungan sahabat dan sebagainya. Primary group dengan hubungan face to face yang akrab, merupakan tempat mencetak semua sikap pribadi seseorang dan sikap-sikap sosial.

Kedua, L. Von Wiese. Ia menamakan sosiologi Beziehunglehre, yaitu ilmu pengetahuan mengenai perhubungan antara sesama manusia, atau hubungan sosial. Sosiologi dipandang sebagai ilmu pengetahuan empiris dan objeknya adalah perhubungan manusia membentuk sosial. Dasar penyelidikan sosiologi adalah hubungan sosial/proses sosial, yaitu perubahan-perubahan dalam social distance (perubahan-perubahan dalam jarak hubungan sosial). Ia terutama memperhatikan proses-proses sosial dari “assosiasi” (perkaitan) dan “disasosiasi” (perpecahan). Dalam suasana sosial, ia hanya melihat proses-proses dan rangkaian peristiwa-peristiwa yang tentunya juga melibatkan individu.

Menurut Jabal Tarik Ibrahim (2002: 2) obyek sosiologi adalah masyarakat, masyarakat yang dimaksud adalah hubungan antar manusia dan proses yang timbul dari hubungan antar manusia dalam masyarakat. Masyarakat (society) adalah sejumlah orang yang bertempat tinggal hidup bersama menjadi satu kesatuan dalam sistem kehidupan bersama. Sistem hidup bersama ini kemudian menimbulkan kebudayaan termasuk siatem hidup itu sendiri.

4.         Ruang Lingkup

Ruang lingkup mata pelajaran sosiologi adalah sebagai berikut:  1) Sosiologi sebagai ilmu dan metode 2)Interaksi sosial 3)Sosialisasi 4) Struktur sosial, 5)Kebudayaan, 6)Perubahan sosial budaya

5.    Fungsi dan Tujuan

1.    Fungsi

Pengajaran Sosiologi di Sekolah Menengah berfungsi untuk meningkatkan kemampuan siswa mengaktualisasikan potensi-potensi diri mereka dalam mengambil dan mengungkapkan status dan peran masing-masing dalam kehidupan sosial dan budaya yang terus mengalami perubahan.

2.    Tujuan

Tujuan pengajaran sosiologi di Sekolah Menengah pada dasarnya mencakup dua sasaran yang bersifat kognitif dan bersifat praktis. Secara kognitif pengajaran Sosiologi dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan dasar Sosiologi agar siswa mampu memahami dan menelaah secara rasional komponen-komponen dari individu, kebudayaan dan masyarakat sebagai suatu sistem. Sementara itu sasaran yang bersifat praktis dimaksudkan untuk mengembangkan keterampilan sikap dan perilaku siswa yang rasional dan kritis dalam menghadapi kemajemukan masyarakat, kebudayaan, situasi sosial serta berbagai masalah sosial yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

B.       Sejarah Lahirnya Sosiologi sebagai Suatu Ilmu

Subadi dalam bukunya yang berjudul Sosiologi dan Sosiologi pendidikan (2009: 6-12) menulis sejarah lahirnya sosiologi bahwa sebagai suatu disiplin akademis yang mandiri, sosiologi masih berumur relatif muda yaitu kurang dari 200 tahun. Istilah sosiologi untuk pertama kali diciptakan oleh Auguste Comte dan oleh karenanya Comte sering disebut sebagai bapak sosiologi. Istilah sosiologi ia tuliskan dalam karya utamanya yang pertama, berjudul The Course of Positive Philosophy, yang diterbitkan dalam tahun 1838. Karyanya mencerminkan suatu komitmen yang kuat terhadap metode ilmiah. Menurut Comte ilmu sosiologi harus didasarkan pada observasi dan klasifikasi yang sistematis bukan pada kekuasaan dan spekulasi. Hal ini merupakan pandangan baru pada saat itu.

Di Inggris Herbert Spencer menerbitkan bukunya Principle of Sociology dalam tahun 1876. Ia menerapkan teori evolusi organik pada masyarakat manusia dan mengembangkan teori besar tentang “evolusi sosial” yang diterima secara luas beberapa puluh tahun kemudian. Seorang Amerika Lester F. Ward yang menerbitkan bukunya “Dynamic Sociology” dalam tahun 1883, menghimbau kemajuan sosial melalui tindakan-tindakan sosial yang cerdik yang harus diarahkan oleh para sosiolog. Seorang Perancis, Emile Durkheim menunjukkan pentingnya metodologi ilmiah dalam sosiologi. Dalam bukunya Rules of Sociological Method yang diterbitkan tahun 1895, menggambarkan metodologi yang kemudian ia teruskan penelaahannya dalam bukunya berjudul Suicide yang diterbitkan pada tahun 1897. Buku itu memuat tentang sebab-sebab bunuh diri, pertama-tama ia merencanakan disain risetnya dan kemudian mengumpulkan sejumlah besar data tentang ciri-ciri orang yang melakukan bunuh diri dan dari data tersebut ia menarik suatu teori tentang bunuh diri.

Kuliah-kuliah sosiologi muncul di berbagai universitas sekitar tahun 1890-an. The American Journal of Sociology memulai publikasinya pada thun 1895 dan The American Sociological Society (sekarang bernama American Sociological Association) diorganisasikan dalam tahun 1905. Sosiolog Amerika kebanyakan berasal dari pedesaan dan mereka kebanyakan pula berasal dari para pekerja sosial; sosiolog Eropa sebagian besar berasal dari bidang-bidang sejarah, ekonomi politik atau filsafat.

Urbanisasi dan industrialisasi di Amerika pada tahun 1900-an telah menciptakan masalah sosial. Hal ini mendorong para sosiolog Amerika untuk mencari solusinya. Mereka melihat sosiologi sebagai pedoman ilmiah untuk kemajuan sosial. Sehingga kemudian ketika terbitnya edisi awal American Journal of Sociology isinya hanya sedikit yang mengandung artikel atau riset ilmiah, tetapi banyak berisi tentang peringatan dan nasihat akibat urbanisasi dan industrialisasi. Sebagai contoh suatu artikel yang terbit di tahun 1903 berjudul “The Social Effect of The Eight Hour Day” tidak mengandung data faktual atau eksperimental. Tetapi lebih berisi pada manfaat sosial dari hari kerja yang lebih pendek.

Namun pada tahun 1930-an beberapa jurnal sosiologi yang ada lebih berisi artikel riset dan deskripsi ilmiah. Sosiologi kemudian menjadi suatu pengetahuan ilmiah dengan teorinya yang di dasarkan pada obeservasi ilmiah, bukan pada spekulasi-spekulasi. Para sosiolog tersebut pada dasarnya merupakan ahli filsafat sosial. Mereka mengajak agar para sosiolog yang lain mengumpulkan, menyusun, dan mengklasifikasikan data yang nyata, dan dari kenyataan itu disusun teori sosial yang baik.

Sejarah lahirnya sosiologi sebagai suatu ilmu pengetahuan adalah sebagai berikut;

1.         Sejak tahun 1800-an ketika Auguste Comte pertama kali menggunakan kata sosiologi dalam bukunya yang berjudul; Positive Philosophy pada tahu 1842, sosiologi kemudian diakui sebagai ilmu pengetahuan dan Comte kemudian disebut sebagai bapak sosiologi karena Comte-lah yang pertama mengusulkan sosiologi sebagai ilmu pengetahuan berdasarkan pengamatan empiris, disusun secara sistematis, dan ilmiah.

2.         Kemudian pada tahun 1876, Herbert Spencer (Inggris) menerbitkan teks sosiologi pertama.

3.         Pada tahun 1883 di Amerikan, Lester F Ward menerbitkan buku yang berjudul Dynamic Sociology.

4.         Disusul sosiolog yang lain, Max Weber di Jerman, Emile Durkheim di Perancis, dan kemudian diikuti William Graham Sumner, Charles Horton Coooley, dan Albion W Small di Amerika Serikat.

5.         Pada tahun 1890 kalangan Universitas di Amerika memunculkan sosiologi dan menerbitkan American Journa of Sociology tahun 1895. Dalam perkembangannya kemudian di Amerika membentuk organisasi American Sociological Association  pada tahun 1905.

6.         Selanjutnya dijelaskan bahwa sejarah perkembangan sosiologi menurut Bouman dalam Saputra (1982: 8) membagi dalam 4 fase yaitu;

(a)      Fase pertama, sosiologi sebagai bagian dari pandangan filsafat umum, terutama mengenai negara, hukum, dan moral dalam sel-sel etika atau norma keagamaan.

(b)     Fase kedua, sosiologi yang berdasarkan ajaran ketentuan hukum kodrat yang meliputi segalanya.

(c)      Fase ketiga, sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri tetapi dengan metode ilmu pengetahuan lainnya.

(d)     Fase keempat, sosiologi yang berdiri sendiri dengan objek, metode, dan pembentukan pengertian sendiri.

7.         Sedangkan menurut Ary. H. Gunawan (2000: 8-9) mazhab-mazhab sosiologi setelah Comte adalah;

b.        Mazhab geografi dan lingkungan, ajaran (teori) yang menghubungkan faktor keadaan alam (lingkungan) dengan struktur serta organisasi social, lingkungan mempengaruhi struktur dan organisasi sosial. Jadi lingkungan mempengarui struktur serta organisasi social.

c.         Mazhab organis dan Evolusioner, membandingkan masyarakat manusia dengan organisme manusia dan beranggapan bahwa organisasi secara evolusi akan semakin sempurna sifatnya.

d.        Mazhab formil, masyarakat merupakan wadah saling hubungan (interaksi) antara individu dengan kelompok, dan seseorang tidak mungkin menjadi pribadi yang bermakna tanpa menjadi warga masyarakat, (4) mazhab psikologi, masyarakat adalah proses imitasi (La societe’ c’est l’imitation), yaitu proses kejiwaan, semua interaksi sosial&seluruh pergaulan antar manusia, masyarakat menjadi masya rakat sebenarnya apabila manusia mulai mengimitasi orang lain.

e.         Mazhab ekonomi, Karl Marx mempergunakan metode sejarah dan filsafat untuk membentuk suatu teori tentang perubahan perkembangan manusia menuju suatu keadaan yang berkeadilan social.

f.         Mazhab hukum, hukum itu adalah kaidah-kaidah yang memiliki sanksi dimana berat ringannya sanksi tergantung pada sifat pelanggaran.

8.         Di Indonesia pada tahun 1948 ilmuwan sosial yang pertama kali mengajarkan sosiologi adalah Soenario Kolopaking di Akademi Ilmu Politik sekarang bernama UGM. perkembangan sosiologi di Indonesia, menurut Selo Soemardjan, sosiologi telah dibicarakan oleh Sri Paku Buwono IV dari Surakarta dalam karyanya “Wulang Reh” antara lain mengajarkan tata hubungan para anggota berbagai golongan dalam intergroup relations.

9.         Ki Hajar Dewantara juga telah memberikan sumbangannya kepada sosiologi dengan konsepsi kepemimpinan, pendidikan serta kekeluargaan di Indonesia dan sekarang dikenal dengan istilah “Ing ngarso sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tut Wuri Handayani.

10.     Sosiolog yang lain yang memberikan sumbangan ilmu pengetahuan sosiologi adalah Mr. Djody Gondokoesoemo dengan bukunya yang berjudul Sosiologi Indonesia.

11.     Hasan Shadily dengan bukunya Sosiologi untuk Masyarakat Indonesia telah memuat bahan-bahan sosiologi modern.

12.     Drs. JBAF Mayor Polak (tamatan Universitas Leiden Belanda) telah menerbitkan buku Sosiologi Suatu Pengantar Ringkas. Selo Soemarjan dengan bukunya Social Changes In Yogyakarta (1962) tentang perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat Yogyakarta sebagai akibat revolusi politik dan sosial pada waktu pusat revolusi masih di Yogyakarta, dan Setangkai Bunga Sosiologi yang merupakan buku wajib beberapa perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia.

C.      Sosiologi Sebagai Ilmu Pengetahuan

“Ilmu” (Bahasa Arab) berarti “pengetahuan” Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui seseorang dengan jalan apapun. Ilmu atau ilmu pengetahuan ialah pengetahuan seseorang yang diperoleh dengan penelitian yang mendalam, yang diperoleh dengan mempergunakan metode-metode ilmuah. Metode ilmiah adalah segala cara yang dipergunakan oleh sesuatu ilmu untuk sampai kepada pembentukan ilmu menjadi suatu kesatuan yang sistematis, organis dan logis.

Syarat-syarat yang harus dipenuhi sosiologi agar dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan, yang disebut LOSADA

a.         Logis (masuk akal, dan tidak bertentangan dengan hokum-hukum logika sebagai pola pemikiran menarik kesimpulan)

b.         Objektif (yang dibahas adalah masyarakat)

c.         Sistematis (disusun secara benar dan rapi sesuai dengan bahasa yang benar).

d.        Andal (dapat dibuktikan kembali, dan untuk keadaan terkendali harus menghasilkan hasil yang sama)

e.         Dirancang atau direncanakan (datangnya ilmu tidak tiba-tiba, tetapi harus didesain lebih dahulu sebelum melaksanakan aktivitas penelidikan)

f.          Akumulatif (ilmu akan selalu bertambah dan berkembang seiring dengan perkembangan keinginan dan hasrat manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (M Fatah Santoso, 2009: 300).

D.      Kegunaan dan Ciri-Ciri Sosiologi

Kegunaan sosiologi dalam kehidupan sehari-hari yaitu :

a.         Untuk pekerjaan sosial, seperti memberikan gambaran tentang pelbagai problem sosial, asal usul, sumber terjadinya, prosesnya dsb.

b.         Untuk pembangunan pada umumnya, yaitu dengan memberikan pengertian tentang masyarakat secara luas, sehingga para perencana dan pelaksana pembangunan dapat mencari pola pembangunan yang paling sesuai agar berhasil.

Sedangkan ciri-ciri sosiologi adalah sebagai berikut:

(1)      Sosiologi termasuk kelompok ilmu sosial. Maksudnya sosiologi adalah ilmu yang mempelajari peristiwa/gejala sosial.

(2)      Sosiologi bersifat kategoris (deskriptif), tidak normative, artinya bahwa sosiologi membicarakan objeknya secara apa adanya.

(3)      Sosiologi termasuk ilmu murni (pure science), bahwa sosiologi bukan ilmu praktis, artinya tujuan penelitian ilmu sosiologi semata-mata demi perkembangan ilmu itu sendiri, bukan untuk kepentingan kehidupan praktis.

(4)      Sosiologi bersifat generalis (nometetis), sosiologi meneliti prinsip-prinsip umum saling hubungan manusia, bukan ideografis, yakni meneliti secara khusus peristiwa demi peristiwa.

(5)      Sosiologi bersifat abstrak, hampir sama dengan generalis, perbedaan terletak pada penekanannya, yaitu pada wujud kesatuan yang bersifat umum atau terpisah-pisah.

(6)      Sosiologi bersifat rasional sekaligus empiris, artinya menyandarkan pada pemikiran logika sekaligus berdasarkan fakta/kenyataan yang ada dalam masyarakat.

(7)      Sosiologi merupakan ilmu yang umum (general), artinya sosiologi mempelajari gejala umum yang ada pada setiap interaksi manusia, bukan mempelajari ilmu dengan gejala khusus.

BAB II

SOSIALISASI DAN PEMBENTUKAN

KEPRIBADIAN

 

Indikator: 

1.         Menganalisis fungsi, faktor yang mempengaruhi  sosialisasi

2.    Mengidentifikasi peran agen/media sosialisasi

A.      Pengertian Sosialisasi

Sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat. Sejumlah sosiolog menyebut sosialisasi sebagai teori mengenai peranan (role theory). Karena dalam proses sosialisasi diajarkan peran-peran yang harus dijalankan oleh individu. Kebiasaan-kebiasaan pada manusia/masyarakat diperoleh melalui proses belajar, yang disebut sosialisasi. Berikut beberapa definisi mengenai sosialisasi.

1)        Peter L. Berger: 

Sosialisasi adalah proses dalam mana seorang anak belajar menjadi seseorang yang berpartisipasi dalam masyarakat. Yang dipelajari dalam sosialisasi adalah peran-peran, sehingga teori sosialisasi adalah teori mengenai peran (role theory).

2)        Robert M.Z. Lawang:

Sosialisasi adalah proses mempelajari nilai, norma, peran dan persyaratan lainnya yang diperlukan untuk memungkinkan seseorang dapat berpartisipasi secara efektif dalam kehidupan sosial.

3)        Horton dan Hunt:

Sosialisasi adalah suatu proses yang terjadi ketika seorang individu menghayati nilai-nilai dan norma-norma kelompok di mana ia hidup sehingga terbentuklah kepribadiannya.

Dalam proses sosialisasi terjadi paling tidak ada tiga proses, yaitu: (1)  Belajar nilai dan norma (sosialisasi).

(2) Menjadikan nilai dan norma yang dipelajari tersebut sebagai milik diri (internalisasi). dan

(3) Membiasakan tindakan dan perilaku sesuai dengan nilai dan norma yang telah menjadi miliknya (enkulturasi).

B.       Macam-macam dan Fungsi Sosialisasi

1.         Macam-Macam Sosialisasi

a.         Berdasarkan Jenisnya, sosialisasi dibagi menjadi 2 (dua) yaitu; sosialisasi primer (dalam keluarga) dan sosialisasi sekunder (dalam masyarakat). Menurut Goffman kedua proses tersebut berlangsung dalam institusi total, yaitu tempat tinggal dan tempat bekerja. Dalam kedua institusi tersebut, terdapat sejumlah individu dalam situasi yang sama, terpisah dari masyarakat luas dalam jangka waktu kurun tertentu, bersama-sama menjalani hidup yang terkungkung, dan diatur secara formal.

1)        Sosialisasi Primer, menurut Peter L. Berger dan Luckman sosialisasi primer sebagai sosialisasi pertama yang dijalani individu semasa kecil dengan belajar menjadi anggota masyarakat dalam keluarga. Sosialisasi primer berlangsung saat anak berusia 1-5 tahun atau saat anak belum masuk ke sekolah. Anak mulai mengenal anggota keluarga dan lingkungan keluarga. Secara bertahap dia mulai mampu membedakan dirinya dengan orang lain di sekitar keluarganya. Dalam tahap ini, peran orang-orang yang terdekat dengan anak menjadi sangat penting sebab seorang anak melakukan pola interaksi secara terbatas di dalamnya. Warna kepribadian anak akan sangat ditentukan oleh warna kepribadian dan interaksi yang terjadi antara anak dengan anggota keluarga terdekatnya.

2)        Sosialisasi sekunder, adalah suatu proses sosialisasi lanjutan setelah sosialisasi primer yang memperkenalkan individu ke dalam kelompok tertentu dalam masyarakat. Salah satu bentuknya adalah resosialisasi dan desosialisasi. Dalam proses resosialisasi, seseorang diberi suatu identitas diri yang baru. Sedangkan dalam proses desosialisasi, seseorang mengalami ‘pencabutan’ identitas diri yang lama.

b.        Berdasarkan Berlangsungnya, sosialisasi dibedakan menjadai 2 (dua) sosialisasi yaitu sosialisasi yang disengaja (disadari) dan sosialisasi yang tidak disengaja (tidak disadari)

1)        Sosialisasi yang disengaja (disadari) adalah sosialisasi yang dilakukan secara sadar/disengaja seperti pendidikan, pengajaran, indoktrinasi, dakwah, pemberian petunjuk, nasehat, dll.

2)        Sosialisasi yang tidak disengaja (tidak disadari) adalah perilaku/sikap sehari-hari yang dilihat/dicontoh oleh pihak lain, misalnya perilaku sikap seorang ayah ditiru oleh anak laki-lakinya, sikap seorang ibu ditiru oleh anak perempuannya, dst.

c.         Menurut Status pihak yang terlibat, sosialisasi dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu; sosialisasi equaliter dan sosialisasi otoriter.

1)      Sosialisasi equaliter adalah sosialisasi yang berlangsung di antara orang-orang yang kedudukan atau statusnya relatif sama, misalnya di antara teman, sesama murid, dan lain-lain.

2)      Sosialisasi otoriter adalah sosialisasi yang berlangsung di antara pihak-pihak yang status/kedudukannya berbeda misalnya berlangsung antara orang tua dengan anak, antara guru dengan murid, antara pimpinan dengan pengikut, dan lain-lain.

d.        Menurut prosesnya, sosialisasi dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu; sosialisasi primer dan sosialisasi sekunder

1)      Sosialisasi primer adalah sosialisasi yang dijalankan individu pada masa kanak-kanak berfungsi mengantar mereka memasuki kehidupan sebagai anggota masyarakat. Sosialisasi ini terjadi dalam lingkungan keluarga, teman bermain dan sekolah, individu tidak mempunyai hak untuk memilih agen sosialisasinya, individu tidak dapat menghindar untuk menerima dan menginternalisasi cara pandang keluarga.

2)      Sosialisasi sekunder adalah sosialisasi lanjutan di mana seseorang menjalani sosialisasi di sektor-sektor kehidupan nyata di masyarakat seperti tempat kerja, akademi militer dan sebagainya.

e.         Menurut caranya, sosialisasi dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu; sosialisasi represif dan sosialisasi partisipatoris.

1)        Sosialisasi represif adalah sosialisasi yang menekankan pada: penggunaan hukuman, memakai materi dalam hukuman dan imbalan, kepatuhan anak pada orang tua, komunikasi satu arah (perintah), bersifat nonverbal, orang tua sebagai pusat sosialisasi sehingga keinginan orang tua menjadi penting, keluarga menjadi significant others.

2)        Sosialisasi partisipatoris adalah sosialisasi yang menekankan pada: individu diberi imbalan jika berkelakuan baik, hukuman dan imbalan bersifat simbolik, anak diberi kebebasan, penekanan pada interaksi, komunikasi terjadi secara lisan/verbal, anak pusat sosialisasi sehingga keperluan anak dianggap penting, keluarga menjadi generalized others.

2.         Fungsi Sosialisasi

Sedikitnya ada 2 (dua) fungsi sosialisasai, yaitu; fungsi bagi individu dan fungsi bagi masyarakat. (1) Bagi individu: agar dapat hidup secara wajar dalam kelompok/ masyarakatnya, sehingga tidak aneh dan diterima oleh warga masyarakat lain serta dapat berpartisipasi aktif sebagai anggota masyarakat. (2) Bagi masyarakat: menciptakan keteraturan sosial melalui pemungsian sosialisasi sebagai sarana pewarisan nilai dan norma serta pengendalian sosial.

C.      Tipe Sosialisasi

Ada dua tipe sosialisasi yaitu: tipe sosialisasi formal dan tipe sosialisasi informal.

1.         Sosialisasi Formal. Sosialisasi tipe ini terjadi melalui lembaga-lembaga yang berwenang menurut ketentuan yang berlaku dalam negara, seperti pendidikan di sekolah dan pendidikan militer.

2.         Sosialisasi Informal. Sosialisasi tipe ini terdapat di masyarakat atau dalam pergaulan yang bersifat kekeluargaan, seperti antara teman, sahabat, sesama anggota klub, dan kelompok-kelompok sosial yang ada di dalam masyarakat.

Baik sosialisasi formal maupun sosialisasi informal tetap mengarah kepada pertumbuhan pribadi anak agar sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di lingkungannya. Dalam lingkungan formal seperti di sekolah, seorang siswa bergaul dengan teman sekolahnya dan berinteraksi dengan guru dan karyawan sekolahnya. Dalam interaksi tersebut, ia mengalami proses sosialisasi. dengan adanya proses soialisasi tersebut, siswa akan disadarkan tentang peranan apa yang harus ia lakukan. Siswa juga diharapkan mempunyai kesadaran dalam dirinya untuk menilai dirinya sendiri. Misalnya, apakah saya ini termasuk anak yang baik dan disukai teman atau tidak? Apakah perliaku saya sudah pantas atau tidak?

Meskipun proses sosialisasi dipisahkan secara formal dan informal, namun hasilnya sangat sulit untuk dipisah-pisahkan karena individu biasanya mendapat sosialisasi formal dan informal sekaligus.

D.      Pola dan Proses Sosialisasi

1.         Pola Sosialisasi

Sosialisasi dapat dibagi menjadi dua pola: sosialisasi represif (repressive socialization) dan sosialisasi partisipatoris (participatory socialization).

Sosialisasi represif menekankan pada penggunaan hukuman terhadap kesalahan. Ciri lain dari sosialisasi represif adalah penekanan pada penggunaan materi dalam hukuman dan imbalan. Penekanan pada kepatuhan anak dan orang tua. Penekanan pada komunikasi yang bersifat satu arah, nonverbal dan berisi perintah, penekanan sosialisasi terletak pada orang tua dan keinginan orang tua, dan peran keluarga sebagai significant other.

Sosialisasi partisipatoris  merupakan pola di mana anak diberi imbalan ketika berprilaku baik. Selain itu, hukuman dan imbalan bersifat simbolik. Dalam proses sosialisasi ini anak diberi kebebasan. Penekanan diletakkan pada interaksi dan komunikasi bersifat lisan yang menjadi pusat sosialisasi adalah anak dan keperluan anak. Keluarga menjadi generalized other.

2     Proses Sosialisasi

Menurut George Herbert Mead, proses sosialisasi yang dilalui seseorang dapat menlalui tahap-tahap sebagai berikut.

a.         Tahap Persiapan (Preparatory Stage)

Tahap ini dialami sejak manusia dilahirkan, saat seorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya, termasuk untuk memperoleh pemahaman tentang diri. Pada tahap ini juga anak-anak mulai melakukan kegiatan meniru meski tidak sempurna. Contoh: Kata “makan” yang diajarkan ibu kepada anaknya yang masih balita diucapkan “mam”. Makna kata tersebut juga belum dipahami tepat oleh anak. Lama-kelamaan anak memahami secara tepat makna kata makan tersebut dengan kenyataan yang dialaminya.

b.        Tahap Meniru (Play Stage)

Tahap ini ditandai dengan semakin sempurnanya seorang anak menirukan peran-peran yang dilakukan oleh orang dewasa. Pada tahap ini mulai terbentuk kesadaran tentang nama diri dan siapa nama orang tuanya, kakaknya, dan sebagainya. Anak mulai menyadari tentang apa yang dilakukan seorang ibu dan apa yang diharapkan seorang ibu dari anak. Dengan kata lain, kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain juga mulai terbentuk pada tahap ini. Kesadaran bahwa dunia sosial manusia berisikan banyak orang telah mulai terbentuk. Sebagian dari orang tersebut merupakan orang-orang yang dianggap penting bagi pembentukan dan bertahannya diri, yakni dari mana anak menyerap norma dan nilai. Bagi seorang anak, orang-orang ini disebut orang-orang yang amat berarti (Significant other)

c.         Tahap Siap Bertindak (Game Stage)

Peniruan yang dilakukan sudah mulai berkurang dan digantikan oleh peran yang secara langsung dimainkan sendiri dengan penuh kesadaran. Kemampuannya menempatkan diri pada posisi orang lain pun meningkat sehingga memungkinkan adanya kemampuan bermain secara bersama-sama. Dia mulai menyadari adanya tuntutan untuk membela keluarga dan bekerja sama dengan teman-temannya. Pada tahap ini lawan berinteraksi semakin banyak dan hubunganya semakin kompleks. Individu mulai berhubungan dengan teman-teman sebaya di luar rumah. Peraturan-peraturan yang berlaku di luar keluarganya secara bertahap juga mulai dipahami. Bersamaan dengan itu, anak mulai menyadari bahwa ada norma tertentu yang berlaku di luar keluarganya.

d.        Tahap Penerimaan Norma Kolektif (Generalized Stage/Generalized other)

Pada tahap ini seseorang telah dianggap dewasa. Dia sudah dapat menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara luas. Dengan kata lain, ia dapat bertenggang rasa tidak hanya dengan orang-orang yang berinteraksi dengannya tapi juga dengan masyarakat luas. Manusia dewasa menyadari pentingnya peraturan, kemampuan bekerja sama–bahkan dengan orang lain yang tidak dikenalnya– secara mantap. Manusia dengan perkembangan diri pada tahap ini telah menjadi warga masyarakat dalam arti sepenuhnya.

E.       Agen, Media Sosialisasi

Agen/media sosialisasi adalah pihak-pihak yang melaksanakan atau melakukan sosialisasi. Ada empat agen/media sosialisasi yang utama, yaitu (1) keluarga (pendidikan in-formal), (2) kelompok pergaulan, teman bermain (pendidikan non-formal), (3) lingkungan sekolah (pendidikan formal), dan (4) media massa. Pesan-pesan yang disampaikan agen sosialisasi berlainan dan tidak selamanya sejalan satu sama lain. Apa yang diajarkan keluarga mungkin saja berbeda dan bisa jadi bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh agen sosialisasi lain. Misalnya, di sekolah anak-anak diajarkan untuk tidak merokok, meminum minman keras dan menggunakan obat-obatan terlarang (narkoba), tetapi mereka dengan leluasa mempelajarinya dari teman-teman sebaya atau media massa.

Proses sosialisasi akan berjalan lancar apabila pesan-pesan yang disampaikan oleh agen-agen sosialisasi itu tidak bertentangan atau selayaknya saling mendukung satu sama lain.

1.         Keluarga (Pendidikan In-formal)

Bagi keluarga inti (nuclear family) agen sosialisasi meliputi ayah, ibu, saudara kandung, dan saudara angkat yang belum menikah dan tinggal secara bersama-sama dalam suatu rumah. Sedangkan pada masyarakat yang menganut sistem kekerabatan diperluas (extended family), agen sosialisasinya menjadi lebih luas karena dalam satu rumah dapat saja terdiri atas beberapa keluarga yang meliputi kakek, nenek, paman, dan bibi di samping anggota keluarga inti. Pada masyarakat perkotaan yang telah padat penduduknya, sosialisasi dilakukan oleh orang-orabng yang berada diluar anggota kerabat biologis seorang anak. Kadangkala terdapat agen sosialisasi yang merupakan anggota kerabat sosiologisnya, misalnya pengasuh bayi (baby sitter). menurut Gertrudge Jaeger peranan para agen sosialisasi dalam sistem keluarga pada tahap awal sangat besar karena anak sepenuhnya berada dalam ligkugan keluarganya terutama orang tuanya sendiri.

2.         Kelompok Pergaulan, Teman Bermain (Pendidikan Non Formal)

Kelompok pergaulan (sering juga disebut teman bermain) pertama kali didapatkan manusia ketika ia mampu berpergian ke luar rumah. Pada awalnya, teman bermain dimaksudkan sebagai kelompok yang bersifat rekreatif, namun dapat pula memberikan pengaruh dalam proses sosialisasi setelah keluarga. Puncak pengaruh teman bermain adalah pada masa remaja. Kelompok bermain lebih banyak berperan dalam membentuk kepribadian seorang individu.

Berbeda dengan proses sosialisasi dalam keluarga yang melibatkan hubungan tidak sederajat (berbeda usia, pengalaman, dan peranan), sosialisasi dalam kelompok bermain dilakukan dengan cara mempelajari pola interaksi dengan orang-orang yang sederajat dengan dirinya. Oleh sebab itu, dalam kelompok bermain, anak dapat mempelajari peraturan yang mengatur peranan orang-orang yang kedudukannya sederajat dan juga mempelajari nilai-nilai keadilan.

3.         Lingkungan Sekolah (Pendidikan Formal)

Menurut Dreeben, dalam lembaga pendidikan formal seseorang belajar membaca, menulis, dan berhitung. Aspek lain yang juga dipelajari adalah aturan-aturan mengenai kemandirian (independence), prestasi (achievement), universalisme, dan kekhasan (specificity). Di lingkungan rumah seorang anak mengharapkan bantuan dari orang tuanya dalam melaksanakan berbagai pekerjaan, tetapi di sekolah sebagian besar tugas sekolah harus dilakukan sendiri dengan penuh rasa tanggung jawab.

4.         Media Massa.

Media massa merupakan salah satu agen sosialisasi yang paling berpengaruh Yang termasuk kelompok media massa di sini adalah media cetak (surat kabar, majalah, tabloid), media elektronik (radio, televisi, video, film). Besarnya pengaruh media sangat tergantung pada kualitas dan frekuensi pesan yang disampaikan.

Contoh:

·         Penayangan acara Smack Down! di televisi diyakini telah menyebabkan penyimpangan perilaku anak-anak dalam beberapa kasus.

·         Iklan produk-produk tertentu telah meningkatkan pola konsumsi atau bahkan gaya hidup masyarakat pada umumnya.

·         Gelombang besar pornografi, baik dari internet maupun media cetak atau tv, didahului dengan gelombang game eletronik dan segmen-segmen tertentu dari media TV (horor, kekerasan, ketaklogisan, dan seterusnya) diyakini telah mengakibatkan kecanduan massal, penurunan kecerdasan, menghilangnya perhatian/kepekaan sosial, dan dampak buruk lainnya. (Dikutip dari; http//id.wikipedia.org/wiki/sosialisasi….)

F.       Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian

Kepribadian atau personalitas dapat didefinisikan sebagai ciri watak seorang individu yang konsisten memberikan kepadanya suatu identitas sebagai individu yang khas. Menurut Koentjaraningrat, seorang ahli antropologi Indonesia menyatakan bahwa kepribadian sebagai susunan dari unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan tingkah laku atau tindakan seorang individu.

Kepribadian merupakan organisasi dari faktor-faktor biologis, psikologis dan sosiologis, yang unsur-unsurnya adalah

a.         Pengetahuan

Pengetahuan merupakan unsur yang mengisi akal-pikiran seseorang yang sadar, merupakan hasil dari pengalaman inderanya atau reseptor organismanya. Dengan pengetahuan dan kemampuan akalnya manusia menjadi mampu membentuk konsep-konsep, persepsi,  idea atau gagasan-gagasan.

b.         Perasaan

Kecuali pengetahuan, alam kesadaran manusia juga mengandung berbagai macam perasaan, yaitu keadaan dalam kesadaran manusia yang karena pengaruh pengetahuannya dinilainya sebagai positif  atau negatif. Perasaan bersifat subjektif dalam diri manusia dan mampu menimbulkan kehendak-kehendak.

c.         Dorongan naluri (drive)

Naluri merupakan perasaan dalam diri individu yang bukan ditimbulkan oleh pengaruh pengetahuannya, melainkan sudah terkandung dalam organisma atau gennya.

Faktor-faktor yang berpengaruh dalam pembentukan kepribadian, antara lain:

1)        Warisan biologis (misalnya bentuk tubuh, apakah endomorph/gemuk bulat, ectomorph/kurus tinggi, dan mesomorph/atletis. Dari beberapa penelitian diketahui bahwa mesomorph lebih berpeluang melakukan tindakan-tindakan, termasuk berperilaku menyimpang dan melakukan kejahatan).

2)        Lingkungan  fisik/alam (tempat kediaman seseorang, apakah seseorang berdiam di pegunungan, dataran rendah, pesisir/pantai, dst. akan mempengaruhi kepribadiannya)

3)        Lingkungan kultural (Kebudayaan masyarakat), dapat berupa:

a)    Kebudayaan khusus kedaerahan atau etnis (Jawa, Sunda, Batak, Minang, dst.)

b)   Cara hidup yang berbeda antara desa (daerah agararis-tradisional) dengan kota (daerah industri-modern)

c)    Kebudayaan khusus kelas sosial (ingat: kelas sosial bukan sekedar kumpulan dari orang-orang yang tingkat ekonomi, pendidikan atau derajat sosial yang sama, tetapi lebih merupakan gaya hidup)

d)   Kebudayaan khusus karena perbedaan agama (Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, dan lain-lain)

e)    Pekerjaan atau keahlian (guru, dosen, birokrat, politisi, tentara, pedagang,wartawan)

4)        Pengalaman kelompok (lingkungan sosial): dengan siapakah seseorang bergaul dan berinteraksi akan mempengaruhi kepribadiannya

5)        Pengalaman unik. misal, sensasi ketika orang dalam situasi jatuh cinta. (Dikutip dari http://agsasman3yk.files.wordpress.com/2009/ 08 /sosialisasi-dan-pembentukan-kepribadian.pdf

G.      Pengaruh Lingkungan Keluarga terhadap Pembentukan Kepribadian Anak

Secara psikososiologis, keluarga berfungsi sebagai:

1.         Pemberi rasa aman bagi anak dan anggota keluarga lainnya,

2.         Sumber pemenuhan kebutuhan, baik fisik maupun psikis,

3.         Sumber kasih sayang dan penerimaan,

4.         Model pola perilaku yang tepat bagi anak untuk belajar menjadi anggota masyarakat yang bak,

5.         Pemberi bimbingan bagi pengembangan perilaku yang secara sosial dianggap tepat,

6.         Pembentuk anak dalam memecahkan masalah yang dihadapinya dalam rangka menyesuaikan dirinya terhadap kehidupan,

7.         Pemberi bimbingan dalam belajar keterampilan motorik, verbal dan sosial yang dibutuhkan untuk penyesuaian diri,

8.         Stimulator bagi pengembangan kemampuan anak untuk mencapai prestasi, baik di sekolah maupun di masyarakat,

9.         Pembimbing dalam mengembangkan aspirasi, dan

10.     Sumber persahabatan/teman bermain bagi anak sampai cukup usia untuk mendapatkan teman di luar rumah.

Hubungan cinta kasih dalam keluarga tidak sebatas perasaan, akan tetapi juga menyangkut pemeliharaan, rasa tanggung jawab, perhatian, pemahaman, respek dan keinginan untuk menumbuh kembangkan anaka yang dicintainya. Keluarga yang hubungan antar anggotanya tidak harmonis, penuh konflik, atau gap communication dapat mengembangkan masalah-masalah kesehatan mental (mental illness) bagi anak.

Dilihat dari sudut pandang sosiologis, fungsi keluarga ini dapat diklasifikasikan ke dalam fungsi-fungsi sebagai berikut:

a)         Fungsi Biologis

Keluarga dipandang sebagai pranata sosial yang memberikan legalitas, kesempatan dan kemudahan bagi para anggotanya untuk memenuhi kebutuhan dasar biologisnya. Kebutuhan itu meliputi (a) pangan, sandang, dan pangan, (b) hubungan seksual suami-istri, dan (c) reproduksi atau pengembangan keturunan (keluarga yang dibangun melalui pernikahan merupakan tempat “penyemaaian” bibit-bibit insani yang fitrah).

b)        Fungsi Ekonomis.

Keluarga (dalam hal ini ayah) mempunyai kewajiban untuk menafkahi anggota keluarganya (istri dan anak). Maksudnya, kewajiban suami memberi makan dan pakaian kepada para istri dengan cara yang ma’ruf (baik). Seseorang (suami) tidak dibebani (dalam memberi nafkah), melainkan menurut kadar kesanggupannya.

c)         Fungsi Pendidikan (Edukatif)

Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak. Menurut UU No. 2 tahun 1989 Bab IV Pasal 10 Ayat 4: “Pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga dan yang memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral, dan keterampilan”.

d)        Fungsi Sosialisasi

Keluarga merupakan buaian atau penyemaian bagi masyarakat masa depan, dan lingkungan keluarga merupakan factor penentu (determinant factor) yang angat mempengaruhi kualitas generasi yang akan datang. Keluarga berfungsi sebagai miniatur masyarakat yang mensosialisasikan nilai-nilai atau peran-peran hidup dalam masyarakat yang harus dilaksanakan oleh para anggotanya. Keluarga merupakan lembaga yang mempengaruhi perkembangan kemampuan anak untuk menaati peraturan (disiplin), mau bekerjasama dengan orang lain dan lain-lain.

e)         Fungsi Perlindungan

Keluarga berfungsi sebagai pelindung bagi para anggota keluarganya dari gangguan, ancaman atau kondisi yang menimbulkan ketidakyamanan para anggotanya.

f)         Fungsi Rekreatif

Keluarga harus diciptakan sebagai lingkungan yang memberikan kenyamanan, keceriaan, kehangatan dan penuh semangat bagi anggotanya.

g)        Fungsi Agama (Religius)

Keluarga berfungsi sebagai penanaman nilai-ilai agama kepada anak agar mereka memiliki pedoman hidup yang benar. Keluarga berkewajiban mengajar, membimbing atau membiasakan anggotanya untuk mempelajari dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.

Bagi kebanyakan anak, lingkungan keluarga merupakan lingkungan pengaruh inti, setelah itu sekolah dan kemudian masyarakat. Keluarga dipandang sebagai lingkungan dini yang dibangun oleh orang tua dan orang-orang terdekat.

Karena begitu pentingnya keluarga dalam mempengaruhi anak, maka jadikanlan keluarga sebagai:

1.         Training Centre bagi penanaman nilai-nilai. Pengembangan fitrah atau jiwa beragama anak, seyogianya bersamaan dengan perkembangan kepribadiannya, yaitu sejak lahir bahkan lebih dari itu sejak dalam kandungan

2.         Pendidikan utama dan pertama, pendidikan dalam lingkungan keluarga sebaiknya diberikan sedini mungkin St. Franciscus Xaverius mengatakan: “Give me the children until are seven and anyone may have them afterward”. Sedangkan menurut Sayyidina Ali bin Abi Thalib (RA), seorang sahabat utama Rasulullah Muhammad (SAW), menganjurkan: Ajarlah anak pada usia sejak lahir sampai tujuh tahun bermain, ajarkan anak peraturan atau adab ketika meraka berusia tujuh sampai empat belas tahun, pada usia empat belas sampai dua puluh satu tahun, jadikanlah anak sebagai mitra orang tuanya.

Peran kedua orang tua dalam mewujudkan kepribadian anak antara lain:

a)        Kedua orang tua harus mencintai dan menyayangi anak-anaknya.

b)        Kedua orang tua harus menjaga ketenangan lingkungan rumah dan menyiapkan ketenangan jiwa anak-anak.

c)        Saling menghormati antara kedua orang tua dan anak-anak.

d)       Mewujudkan kepercayaan kepada anak-anak.

e)        Mengadakan perkumpulan dan rapat keluarga (kedua orang tua dan anak (dikutip dari: http://mustofaabihamid.blogspot.com/2010/pengaruh-lingkungan-keluarga-terhadap.htm.

Nasehat Luqman dalam Al Quran perlu dijadikan pegangan untuk membentuk kepribadian anak.

1.        Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar”. (Q.S. Luqman, ayat 13).

2.        Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.  Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu (Q.S. Luqman, ayat 14).

3.        Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Q.S. Luqman ayat 15).

4.        Lukman berkata: “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya).  Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Luqman, ayat 16).

5.        Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (Q.S. Luqman, ayat 17)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PERILAKU PENYIMPANGAN

 

 

Indikator

Menganalisis perilaku menyimpang dan bentuk pengendaliannya

Leave a Reply