Standard

Laporan Penelitian 2005. MIGRSI MASYARAKAT DESA TEGALOMBO SRAGEN (Kajian Migrasi Sirkuler dari Perspektif Fenomenologi)

LAPORAN PENELITIAN

MIGRASI MASYRAKAT DESA TEGALOMBO SRAGEN

(Kajian Migrasi Sirkulerdari Perspektif Fenomenologi)

Peneliti

FAKUTLAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2005

KATA PENGANTAR

 

Pertama-tama peneliti panjatkan puji syukur kehadirat Allah Yang Maha Pengasih tak pilih kasih dan Maha Penyayang tak pilih sayang, atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penelitian ini dapat diselesaikan. Penelitian ini tidak akan selesai apabila tidak mendapatkan bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini, peneliti ingin menyampaikan terima kasih kepada:

Yang kami hormati Pemerintah c.q Mentri Pendidikan Nasional, yang telah memberi kesempatan peneliti untuk memperoleh biaya penelitian dari BPPS yang sangat membantu dan meringankan beban keuangan peneliti.

Yang kami hormati Kopertis Wilayah Jawa Tengah yang telah memperi rekomendasi dan kemudahan peneliti untuk mengajuan permohonan biaya penelitian ini samapai mendapat persetujuan.

Terima kasih tak terhingga juga peneliti sampaikan kepada Bapak Prof. Drs. H. Dochak Latief selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada peneliti.

Kepada sahabat-sahabat dosen FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta yang telah memperikan masukan melalui diskusi rutin yang bisa menambah khasanah akademik penelitian ini.

Penelitian ini pasti ada kekurangan, oleh karena itu kepada semua pihak diharapkan memberikan kritik yang konstruktif demi kesempurnaan penelitian ini pada masa-masa yang akan datang. Semoga penelitian ini bermanfaat, amien ya robbal ‘alamien.

 

 

                                                                                                                                                                           Surakarta  Januari 2005

                                                                                                                                                                             Peneliti

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                             Dr. Tjipto Subadi

 

 

 MIGRASI MASYRAKAT DESA TEGALOMBO SRAGEN

(Kajian Migrasi Sirkulerdari Perspektif Fenomenologi)

Peneliti

TJIPTO SUBADI

Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Surakarta

Jl. A. Yani. Tromol Pos 1 Pabelan Surakarta

Email: tjiptosubadi@yahoo.com

 

ABSTRAK

 Secara umum penelitian ini bertujuan memahami fenomena boro sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial dari proses dan makna yang dilihat sebagai realitas subjektif. Sedangkan secara khusus bertujuan (1) memahami dan memperoleh pengetahuan sosial yang sistematis mengenai; alasan yang mendasari tindakan mereka melakukan boro, konstruksi sosial proses boro dan maknanya sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial oleh pelaku boro itu sendiri (2) memodifikasi teori migrasi kuanlitatif Averett S. Lee sebagai realitas objektif menjadi teori migrasi kualitatif sebagai realitas subjektif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang berfokus pada analisis pemahaman dan pemaknaan, paradigmanya definisi sosial yang bergerak pada kajian mikro. Metode analisis data menggunakan first order understanding yakni meminta peneliti aliran ini menanyakan kepada subjek penelitian guna mendapatkan penjelasan yang benar, informasi inilah yang disebut eksternalisasi menurut pemahaman Berger. Selanjutnya peneliti melakukan second order understanding yakni peneliti memberikan interpretasi terhadap interpretasi subjek penelitian guna memperoleh suatu makna baru mengenai alasan yang mendasari tindakan mereka melakukan boro, konstruksi sosial proses boro dan maknanya, informasi inilah yang disebut objektivasi menurut pemahaman Berger. Penelitian ini menghasilakan temuan; (1) boro dilakukan oleh kelompok masyarakat kuli setengah kenceng, boro ini memiliki konstruksi sosial yang beragam berkaitan dengan alasan yang mendasari tindakan mereka melakukan boro. Pada satu sisi boro bertindak karena alasan ekonomi, pada sisi lain boro bertindak karena alasan non ekonomi, mereka melakukan boro karena kesadaran jaringan sosial dan kesadaran jaminan sosial. (2) Proses boro menganut sistem siklus dan hubungan sepesukuan. Boro memiliki banyak makna, selain makna ekonomi boro juga memiliki makna non-ekonomi seperti; makna kesadaran jaringan sosial dan kesadaran jaminan sosial, kesadaran religiusitas, makna kesadaran ilmu pengetahuan dan status sosial. (3) Boro untuk memperbaiki kondisi perekonomian keluarga menunjukkan makna ekonomi dalam boro, sedangkan boro karena keyakinan agama menunjukkan makna kesadaran religiusitas dalam boro, boro karena hubungan kekerabatan antara boro lama dengan boro baru menunjukkan makna kesadaran jaringan sosial dalam boro, dan boro karena pertimbangan keamanan dan kesehatan keluarga yang ditinggalkan menunjukkan makna kesadaran jaminan sosial dalam boro. boro ingin mencari pengalaman menunjukkan makna kesadaran ilmu pengetahuan dan status sosial dalam boro.

 

Keywoeds : Boro, migrasi, banyak makna, first and order understanding

 

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL  ………………………………………………………….    i

HALAMAN PENGESAHAN ………………………………………………        ii

KATA PENGANTAR …………………………………………………………  iii

ABSTRAK ……………………………………………………………………..   iv

DAFTAR ISI …………………………………………………………………..         v

BAB I  PENDAHULUAN ……………………………………………………..   1

A. Latar Belakang Masalah ……………………………………………    1

B. Rumusan Masalah …………………………………………………..    3

C. Tujuan Penelitian …………………………………………………..     4

D. Manfaat Penelitian …………………………………………………     4

BAB II PENDEKATAN TEORITIK ………………………………………….       6

A. Teori Migrasi Everett S. Lee ……………………………………….    6

B. Kritik Teori Migrasi Lee ……………………………………………     9

C. Fenomenologi yang Digunakan ……………………………………    10

D. Penggunaan Fenomenologi untuk Memahami Migrasi ……………    11

BAB III METODE PENELITIAN …………………………………………….     12

A. Pendekatan Studi …………………………………………………..   12

B. Pemilihan Lokasi Penelitian……………………………………….     12

C. Strategi dan Teknik Penelitian …………………………………….    13

D. Metode Pengumpulan Data ……………………………………….   18

E. Teknik Analisis Data ………………………………………………   22

F. Keabsahan Data ……………………………………………………   26

BAB IV ANALISIS ASPEK WILAYAH …………………………………….     28

A. Wilayah Jawa Tengah …………………………………………….    28

B. Wilayah Kabupaten Sragen ……………………………………….     29

C. Siklus Aktivitas Pertanian dan Kemiskinan ………………………     36

D. Diskripsi Lokasi Penelitian ……………………………………….      38

BAB V  ANALISIS PROSES MIGRASI SIRKULER ………………………       42

A. Fisrt Order Understanding ……………………………………….    43

1.  Struktur Masyrakat Desa ……………………………………..      43

2.  Proses Migrasi Sirkuler Masyarakat Desa …………………….      45

3.  Efek Migrasi Sirkuler …………………………………………      65

B. Second Order Understanding …………………………………….      70

BAB VI ANALISIS MAKNA MIGRASI SIRKULER ……………………..   75

A. First Order Understanding ………………………………………..    76

1. Migrasi Sirkuler Ingin Merubah Nasib ………………………..         77

2. Migrasi Sirkuler Ingin Mencari Ilmu ………………………….         81

3. Migrasi Sirkuler Ingin Meningkatkan Status Sosial …………..         84

B. Second Order Understanding ……………………………………..     87

BAB VII PEMBAHASAN MIGRASI SIRKULER …………………………  90

A. Struktur Masyarakat Desa Tegalombo …………………………..       90

B. Migran Sirkuler Masyarakat Desa ………………………………..      91

C. Pemahaman Migran Sirkuler Terhadap Proses Migrasi …………..      92

D. RumusanTeori yang Dihasilkan dari…………………..………….      104

1. Proses Migrasi Sirkuler………………………………………..      104

2. Makna Migrasi Sirkuler ……………………………………….     106

BAB VIII KESIMPULAN DAN SARAN …………………………………… 109

A. Kesimpulan ………………………………………………………..    109

B. Saran-saran ………………………………………………………..     115

Daftar Putaka

BAB I    PENDAHULUAN

 

  1.  Latar Belakang Masalah

Secara formal  migrasi penduduk di Indonesia telah dimulai pada tahun 1905 dengan motif memenuhi permintaan akan kebutuhan pekerjaan perkebunan. Pemerintah Belanda waktu itu telah memindahkan 155 Kepala Keluarga dari Jawa ke Gedong Tataan Sumatra Selatan (Mantra, 1988: 160).

Di Jawa Tengah, berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 1980 menunjukkan bahwa migrasi ke luar Jawa sebanyak 2.402.557 jiwa dan migrasi masuk ke Jawa sebanyak 1.804.115 jiwa. Sedangkan pada tahun 1990, migrasi ke luar Jawa sebanyak 3.416.923 jiwa dan migrasi masuk ke Jawa 3.058.725 jiwa (Firman, 1994: 6). Pada tahun 2002 terdapat eksodan sejumlah 6.536 KK (25.239 jiwa) di Jawa Tengah.

Data migrasi di pedesaan Jawa Tengah, misalnya data yang penulis peroleh dari desa Tegalombo (Sragen) tahun 2002 adalah; 3 orang ke Batam, 3 orang ke Kalimantan, 111 orang ke Sumatra, 2 orang ke Malaysia, dan 3 orang ke Taiwan. (dalam tulisan ini migrasi disebut migrasi sirkuler)

Fenomena migrasi sirkuler yang dilakukan oleh sebagian penduduk di desa Tegalombo tidak dilakukan oleh seluruh anggota keluarga. Jika pelaku migrsi suami maka istri dan anak-anak tinggal di rumah (desa) atau jika yang migrasi istri maka suami dan anak-anak tinggal di rumah (desa), begitu juga jika yang migrsi anak, ayah dan ibu tinggal di rumah (desa). Pelaku migrsi ini pada saat tertentu kembali ke desa Tegalombo dan melakukan aktivitas sosial sebagaimana anggota masyarakat lainnya. Kemudian setelah kurun waktu tertentu (1-2 minggu) mereka kembali ke daerah migran lagi. Begitu seterusnya migrasi dilakukan oleh masyarakat desa Tegalombo.

Ada banyak hal yang menarik seputar fenomena migrasi di desa Tegalombo. Pertama, jumlah migran dari tahun ke tahun cenderung meningkat, pada tahun 1990 terdapat 47 orang dan pada tahun 2000 jumlah tersebut menjadi 122 orang, yang berarti ada kenaikan 200% lebih. Padahal pada beberapa tahun terakhir ini, perkembangan industrialisasi di daerah penelitian (Sragen) cukup menjanjikan sebagai upaya pemerintah di bidang tenaga kerja. Kedua, migrasi diikuti dengan perpindahan pekerjaan dari buruh tani ke pedagang. Ketiga, fenomena migrsi yang lebih menarik adalah migrasi untuk mencari pengalaman, demi anak-anak, ingin meningkatkan status sosial di desa dan sebagainya, ini berarti bahwa migrasi memiliki makna lain selain kepentingan ekonomi.

Dominasi faktor ekonomi dianggap sebagai penyebab utama seseorang bermigrasi, seperti penelitian Todaro (1992) yang populer dengan studi mobilitas desa-kota melihat kesenjangan distribusi geografis dari faktor-faktor produksi (tenaga kerja, modal, sumber daya alam, dan tanah) sebagai apriori yang diberikan dan mengasumsikan kesenjangan pengupahan sebagai faktor yang menentukan. Akibat dari kesenjangan pengupahan tersebut menurut Todaro terjadi mobilitas tenaga kerja dari daerah yang berlimpah tenaga kerjanya dengan modal rendah ke daerah dimana tenaga kerjanya jarang dengan modal yang berlimpah. Dengan asumsi bahwa faktor-faktor sumber daya alam terdistribusi merata. Pendekatan ini mengasumsikan pola bentuk ekonomi rasional sebagai pilihan para migran yang menyebabkan adanya transfer tenaga kerja.

Penelitian lain adalah penelitian Hugo (1982), yang juga menyoroti dampak migrasi terhadap perekonomian keluarga. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa besarnya remitan migran akan menentukan tingkat kesejahteraan suatu rumah tangga. Kebanyakan remitan dari migran untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok, disimpulkan bahwa 40% remitan dari migran  dipergunakan untuk membeli beras, sedangkan 60% dari remitan untuk biaya pendidikan saudara dan anak-anaknya.

Penelitian Mantra dan Sumantri (1988), berkesimpulan bahwa perpindahan penduduk di daerah penelitian mempunyai peranan cukup besar di dalam mengubah kehidupan ekonomi daerah pedesaan. Juga dalam penelitiannya terhadap perantau Minangkabau, menghasilkan bahwa dari segi ekonomi merantau memperhatikan efek positif sebagai sumber tambahan ekonomi keluarga.

Penelitian Mulyantoro (1991) tentang Migran Asal Lamongan dan Keadaan Ekonominya diperoleh temuan bahwa Kota Kupang menjadi faktor penarik utama migran asal Lamongan karena penghasilan dan pendapatan yang lebih besar. Sedangkan faktor pendorong migran (di daerah asal) adalah penghasilan rendah, tidak memiliki lahan pertanian, tidak ada lapangan kerja. Adapun faktor penarik (di daerah tujuan) adalah penghasilan besar, mudah mencari pekerjaan, persaingan belum banyak.

Dari beberapa hasil penelitian yang diuraikan di atas, menjelaskan bahwa faktor ekonomilah yang menjadi penyebab utama seseorang melakukan migrasi. Penelitian-penelitian tersebut mengabaikan faktor lain selain faktor ekonomi. Di samping itu penelitian-penelitian tersebut di atas  menggunakan metode kuantitatif yang hanya melihat fenomenologi sebagai realitas objektif, padahal migrasi di samping sebagai mobilitas penduduk juga sebagai fenomena sosial, yang di dalamnya ada pengalaman manusia yaitu makna migrasi dan prosesnya belum dikaji, makna dan proses migrasi ini juga bisa dikaji secara kualitatif yang dilihat sebagai realitas subjektif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi.

B.       Rumusan Masalah

Permasalahan utama yang menjadi fokus penelitian ini adalah; (1) bagaimana struktur masyarakat desa di desa penlitian? (2) siapakah pelaku migrasi sirkuler di desa Tegalombo? mengapa mereka melakukan migrasi sirkuler? (3) bagaimana konstruksi sosial proses migrasi sirkuler sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial, (4) bagaimana konstruksi sosial makna migrasi sirkuler oleh pelaku migrasi sirkuler?

  1. C.      Tujuan Penelitian

Secara umum penelitian ini bertujuan; memahami fenomena migrasi sirkuler sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial dari proses dan makna yang dilihat sebagai realitas subjektif. Secara khusus penelitian  ini bertujuan; (1) memahami struktur masyarakat desa di desa penlitian (2) memahami pelaku migrasi sirkuler di desa Tegalombo? memahami sebab-sebab mereka melakukan migrasi sirkuler (3) memahami konstruksi sosial proses migrasi sirkuler sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial, dan (4) memahami konstruksi sosial makna migrasi sirkuler oleh pelaku migrasi sirkuler?

  1. D.      Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah; (1) Secara teoritis, penelitian ini bermanfaat memberikan sumbangan ilmu pengetahuan sosial tentang; struktur masyarakat desa,  pelaku migrasi sirkuler di desa Tegalombo, sebab-sebab mereka melakukan migrasi sirkuler, konstruksi sosial proses migrasi sirkuler sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial, dan konstruksi sosial makna migrasi sirkuler oleh pelaku migrasi sirkuler? (2) Secara praktis, penelitian ini bermanfaat memberikan sumbangan pemikiran bagi pemerintah dalam menyusun strategi kebijakan penataan kependudukan, strategi dalam menciptakan kesempatan kerja dan pengembangannya yakni sistem informasi kesempatan kerja, jaringan sosial dan jaminan sosial daerah potensi migrasi sirkuler kepada calon-calon migrasi sirkuler (masyarakat pedesaan) dalam menghadapi persoalan ketenaga kerjaan, persoalan mobilitas penduduk dan gejala sosial bagi masyarakat pedesaan.   Hal ini mengingat masalah menciptakan kesempatan kerja dan pengembangannya di Indonesia sangat mendesak lebih-lebih dalam menghadapi krisis ekonomi yang berkepanjangan, dalam hal ini isyarat dari Mc. Gee, dalam Abu-Lughod dan Hay eds., dalam Sutomo, (1993: 16) bahwa di masa mendatang kebanyakan negara berkembang terutama yang penduduknya cukup besar seperti India dan Indonesia akan menghadapi masalah genting, kecuali bila berhasil dalam menyusun strategi dalam menciptakan kesempatan kerja dan pengembangannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PENDEKATAN TEORITIK

 

  1. A.    Teori Migrasi Everett S. Lee

Mobilitas penduduk dari desa ke kota baik yang permanen (migrasi) maupun yang non-permanen (sirkulasi), pada hakekatnya memiliki kesamaan terutama tentang daya dorong dan dalam hal proses pengambilan keputusan untuk melakukan mobilitas (Mantra, 1987: 140-144;). Ketetapan menjadi migran permanen atau non-permanan tersebut sangat tergantung pada kemampuan kota dalam mengembangkan  industrialisasi (Mc.Gee, 1977: dalam Abu-Lughod dan Hay, eds., 1977: 209-211; dalam Sutomo 1993: 22) termasuk di dalamnya kesempatan kerja sektor perdagangan, dan sektor-sektor yang lain. Suatu mobilitas akan terjadi apabila individu memutuskan lebih baik pindah dari pada menetap tinggal karena kepindahan tersebut dirasa akan lebih menimbulkan keuntungan. Untuk menjelaskan mekanisme migrasi perlu dikaitkan dengan proses pengambilan keputusan. Konsep yang paling membantu untuk memahami mekanisme tersebut adalah teori dorong-tarik (push-pull theory).

Teori dorong-tarik (push-pull theory) mengasumsikan bahwa setiap fenomena  migrasi selalu berkaitan dengan daerah asal, daerah tujuan, dan bermacam-macam rintangan yang menghambat. Menurut Lee ada empat faktor yang berpengaruh orang mengambil keputusan untuk melakukan migrasi, yaitu; (1) Faktor-faktor yang terdapat di daerah asal,(2) faktor-faktor di daerah tujuan, (3) faktor rintangan, dan (4) faktor pribadi.

Faktor-faktor di daerah asal dan daerah tujuan dapat bersifat positif, negatif atau bersifat netral. Faktor-faktor di daerah asal dikatakan positif kalau sifatnya mendorong migran, negatif kalau menghambat migran, dan netral kalau tidak berpengaruh terhadap migran. Sedangkan faktor-faktor di daerah tujuan dikatakan positif jika menarik calon migran, negatif kalau menghambat masuknya calon migran, dan netral kalau tidak berpengaruh terhadap migran (Lee, 1966, diterjemahkan oleh Daeng, ditinjau kembali oleh Mantra, 1987: 5).

Dari keempat kelompok faktor tersebut yang terutama adalah faktor pribadi, karena pada akhirnya keputusan bermigrasi atau tidak bermigrasi tergantung kepada yang bersangkutan. Apakah sesuatu faktor bersifat positif, negatif, atau netral dan seberapa jauh mendorong, menghambat, atau menarik calon migran bergantung kapada pribadi yang  mempersepsikannya.

Lee menjelaskan bahwa tiga hal yang pertama dari faktor-faktor tersebut secara skematis terlihat pada gambar 2.1. Dalam setiap daerah banyak sekali faktor yang mempengaruhi orang menetap di situ atau menarik orang untuk pindah ke situ ada pula faktor-faktor lain yang memaksa mereka meninggalkan daerah itu.

 

+ 0 – + + 0 – + 0                                     – - + 0 + 0  0

- – + 0 – + 0 – - 0                                     – - + 0 + 0  0

- + 0 – +0 – 0+ 0                                                – +0-+0—0+0

- 0 -+ 0 – - + 0-+    Penghalang Antara     +0-+0–+0-+

- – + 0 – + 0 – - 0                                     – -+ 0 – +0—0

Faktor daerah asal                              Faktor daerah tujuan

 

Gambar 2.1. Teori Dorong-tarik (Push-Pull Theory) Lee

Faktor-faktor itu terlihat dalam diagram sebagai tanda + (positif) dan – (negatif), faktor lain yang ditunjukkan dengan tanda 0 (netral) ialah faktor yang pada dasarnya tidak ada pengaruhnya sama sekali pada penduduk. Beberapa faktor itu mempunyai pengaruh yang sama terhadap beberapa orang, sedangkan ada faktor yang mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap seseorang.

Pada gambar 2.1 tersebut di atas dapat dijelaskan bahwa orang akan membuat kalkulasi kualifikasi faktor-faktor (+) dan faktor-faktor (-) untuk menentukan sesuatu daerah memuaskan atau tidak sehingga diperoleh nilai kefaedahan (place utility) daerah tersebut. Proses mobilitas akan terjadi apabila neraca perbandingan faktor-faktor tersebut menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh pada keinginan berpindah lebih banyak dari pada faktor-faktor yang berpengaruh pada penghambat. Kedua faktor tersebut mempunyai peran yang berbeda dalam proses mobilitas.

Faktor-faktor (+) di daerah asal berpengaruh sebagai penahan agar seseorang tetap tinggal di daerahnya, faktor-faktor (-) di daerah asal berpengaruh sebagai pendorong  (push factors) agar seseorang pindah ke daerah lain, sebaliknya faktor-faktor (+) di daerah tujuan berpengaruh sebagai penarik (pull factors) agar seseorang melakukan pindah ke daerah tersebut, faktor-faktor (-) di daerah tujuan berpengaruh agar seseorang tidak datang di daerah tersebut, faktor-faktor (0) baik di daerah asal maupun di daerah tujuan merupakan faktor netral (neutral factors) yang berarti tidak berpengaruh dalam proses mobilitas.

Kesimpulan yang diambil dari penelitian migrasi Lee ini adalah: (1) Migrasi berkait erat dengan jarak, (2) Migrasi bertahap, (3) Migrasi arus dan migrasi arus balik. (4) Terdapat perbedaan antara desa dan kota mengenai kecendungan melakukan migrasi. (5) Wanita lebih suka bermigrasi ke daerah-daerah yang dekat. (6) Mengikat teknologi dengan migrasi. (7) Motif ekonomi merupakan dorongan utama orang bermigrasi.

  1. Kritik Teori Migrasi Lee

Penelitian migrasi Lee ini hanya didsarkan atas fenomena objektif (material) dan hubungan kausal daerah asal dan daerah tujuan, dan tidak sampai memahami migrasi sebagai fenomena subjektif (non materi) seperti proses dan makna dalam arti tidak sampai pada kajian alasan dibalik tindakan

Penelitian Lee ini melihat dorongan utama bermigrasi adalah dorongan ekonomi, belum sampai pada kajian soiologis. Padahal motif ekonomi dan dorongan sosiologi orang melakukan migrasi sangat erat hubungannya.

Pdahal penelitian migrasi dapat dijelaskan sebagai fenomena subjektif (non materi) dan tidak semata didasarkan pertimbanganekonomi rasional atau kesenjangan hubungan desa-kota (daerah asal-tujuan). Berbagai faktor non ekonomi menjadi faktor pendorong migrasi masyarakat desa. Banyak faktor yang tidak disebut oleh Lee sebagai faktor pendorong migrasi tetapi justru menjadi faktor penting mendorong migrasi oleh masyarakat desa. Faktor non materi yang mempengaruhi migrasi antara lain; (1) hubungan kekeluargaan (kekrabatan) yang terjalin dalam masyarakat. Migrasi dilakukan dengan mengikuti anggota keluarga yang telah melakukan migrasi atau diajak oleh anggota keluarga yang telah berhasil di daerah migrasi, (2) Keinginan untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan, (3) kesadaran akan jaringan, ajaran agama (religiusitas), dan status sosial

D.    Fenomenologi yang Digunakan

Fenomenologi yang digunakan adalah fenomenologi Berger.  Fenomenologi Berger dalam penelitian ini, untuk mengkaji pengetahuan pemahaman tentang pemahaman para migran terhadap makna migrasi dan prosesnya sebagai realitas subjektif, dengan pertimbangan bahwa: pendekatan ini dengan paradigma definisi sosial yang bergerak pada kajian mikro akan memberi peluang individu sebagai subjek penelitian melakukan interpretasi, dan kemudian peneliti melakukan interpretasi terhadap interpretasi itu sampai mendapatkan pengetahuan tentang makna migrasi.

Berger menyebutnya dengan first order understanding (meminta peneliti untuk menanyakan kepada pihak yang diteliti guna mendapatkan penjelasan yang benar), dan second order understanding (dalam hal ini peneliti memberikan penjelasan dan interpretasi terhadap interpretasi itu sampai memperoleh suatu makna yang baru) sebagaimana telah dijelaskan di atas.

Selain itu penggunaan perspektif ini tidak bisa lepas dari pandangan moralnya, baik taraf mengamati, menghimpun data, menganalisis, ataupun dalam membuat kesimpulan. Tidak dapat lepas, bukan berarti keterpaksaan, melainkan adanya makna etika. Perspektif fenomenologi bukan hendak menampilkan teori dan konseptualisasi yang sekedar berisi anjuran atau imperatif, melainkan mengangkat makna etika dalam berteori dan berkonsep.

E.     Penggunaan Fenomenologi untuk Memahami Migrasi

Perspektif fenomenologi ini digunakan untuk memahami pemahaman para migran terhadap makna migrasi dan prosesnya. Pemahaman tentang pemahaman ini diharapkan menghasilkan suatu temuan yang dapat memperbaiki teori tentang migrasi. Penggunaan fenomenologi juga untuk memahami makna migrasi dan prosesnya sebagai kebenaran empirik etik yang memerlukan akalbudi untuk melacak dan menjelaskan serta berargumentasi. Akalbudi disini mengandung makna bahwa kita perlu menggunakan kriteria lebih tinggi lagi dari sekedar truth or false (benar atau salah) (Muhadjir, 1996: 83). Nilai moral yang digunakan pendekatan ini tidak terbatas pada nilai moral tunggal yaitu truth or false. Tetapi nilai moral yang digunakan pada pendekatan ini mengacu pada nilai moral ganda yang herarkik yang berarti ada kebermaknaan tindakan.

Berikutnya penggunaan fenomenologi ini terkait dengan suatu alasan dari kebermaknaan tindakan untuk status konstruksi sosial bahwa suatu aksi itu diilhami makna subjektif.

Aksi migrasi juga diilhami makna subjektif, dan aksi migrasi ini tidak sekedar gerakan fisik (mobilitas fisik) tetapi juga memiliki sesuatu inside (kedalaman) yang terdiri dari proses mental pelaku migrasi. Oleh karena itu penggunaan fenomenologi untuk memahami aksi migrasi bukan dilihat dari aspek materi tetapi dari aspek non materi, bukan dari aspek dampak tetapi dari aspek proses, bukan realitas objektif tetapi dari realitas subjektif, dan bukan dari perspektif positivistik tetapi dari perspektif fenomenologi.

 

BAB III

METODE PENELITIAN

 

  1. A.      Pendekatan Studi

Untuk mencapai tujuan penelitian yang telah dirumuskan pada bab pendahuluan, pendekatan yang digunakan adalah perspektif fenomenologi dengan paradigma definisi sosial yang bergerak pada kajian mikro. Perspektif fenomenologi dengan paradigma definisi sosial ini akan memberi peluang individu sebagai subjek penelitian melakukan interpretasi, dan kemudian peneliti melakukan interpretasi terhadap interpretasi itu sampai mendapatkan pengetahuan tentang proses dan makna migrsi sirkuler, dalam hal ini Berger menyebutnya dengan first order understanding dan second order understanding.

Penelitian ini juga menggunakan metode kualitatif, dengan alasan karena penelitian ini berfokus pada analisis pemahaman dan pemaknaan. Melalui metode kualitatif ini, realitas sosial yang hendak dikaji adalah realitas subjektif berupa pemahaman dan pemaknaan, melalui metode ini peneliti meminta interpretasi subjek penelitian, kemudian peneliti melakukan interpretasi terhadap interpretasi subjek penelitian itu sampai mendapatkan makna. Metode penelitian kualitatif ini berupaya menelaah esensi, memberi makna pada migrasi sirkuler dan prosesnya di desa Tegalombo.

  1. B.       Pemilihan Lokasi Penelitian

Tegalombo dipilih sebagai lokasi penelitian dengan alasan di desa ini ada fenomena migrasi sirkuler, 3 orang ke Batam, 3 orang ke Kalimantan, 111 orang ke Sumatra, dan 5 orang Malaysia. Dengan pemilihan daerah penelitian ini peneiti dapat memahami proses migrasi sirkuler dan maknanya sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial dari realitas subjektif.

Untuk membatasi migran sirkuler yang dijadikan subjek penelitian, maka semua migran sirkuler di desa penelitian ini sebagai populasi. Sedangkan sampel yang dipilih sebagai subjek penelitian (informan) atas dasar pertimbangan kualitas keterandalan sang informan ini sebagai sumber yang sungguh informatif. Informan dipilih secara purposif (bukan secara acak), yaitu atas dasar apa yang peneliti ketahui tentang variasi-variasi yang ada atau elemen-elemen yang ada. Dalam hubungan ini, maka dalam proses pengumpulan data tentang suatu topik, bila variasi informasi tidak muncul maka peneliti tidak perlu lagi melanjutkannya dan kemudian mencari informasi  (informan) baru, artinya jumlah informan bisa sangat sedikit (beberapa orang saja), tetapi bisa juga sangat banyak. Hal itu sangat tergantung pada; (1) pemilihan informan itu sendiri, dan (2) kompleksitas dan keragaman fenomena yang diteliti.

Setelah ditentukan informan penelitian sebagai subjek penelitian, untuk memperlancar peneliti dalam pengambilan data, dibutuhkan informan lain yang dianggap memiliki/kaya informasi, dan  dapat memberikan informasi yang benar, yaitu  tetangga migran sirkuler, pimpinan formal, seperti Kepala Desa, Ketua RT dan RW, pimpinan informal, seperti pemuka agama, tokoh masyarakat.

  1. C.      Strategi dan Taktik Penelitian

Strategi dan taktik penelitian yang digunakan adalah:

Pertama-tama peneliti berusaha mengenal kondisi desa penelitian yang telah ditetapkan baik secara geografis, keadaan ekonomi, sosial, budaya dan adat-istiadat masyarakat serta keadaan pelaku migrasi sirkuler dan keluarganya di desa Tegalombo. Strategi dan taktik penelitian ini hanya dapat diperoleh jika peneliti sebelumnya telah menyatu dan mampu berinteraksi dengan masyarakat setempat (informan penelitian), maka langkah yang ditempuh berikutnya adalah: penciptaan “rapport”.

Menurut Faisal (1990) penciptaan rapport ini merupakan prasyarat yang amat penting. Peneliti tidak akan dapat berharap untuk memperoleh informasi secara produktif dari informan apabila tidak tercipta hubungan harmonis yang saling mempercayai antara pihak peneliti dengan pihak yang diteliti. Terciptanya hubungan harmonis satu dengan yang lain saling mempercayai, tanpa kecurigaan apapun untuk saling membuka diri, merupakan permasalahan yang berkaitan dengan penciptaan rapport (Faisal, 1990: 53-54).

Selanjutnya peneliti melakukan pengumpulan data penelitian kualitatif dengan langkah-langkah sebagai berikut:   

Pertama, pada awal penelitian pendahuluan peneliti mengontrak sebuah rumah sederhana untuk ditempati peneliti. Dengan cara ini peneliti bisa berinteraksi dengan masyarakat dalam segala aktivitasnya, misalnya; mendatangi undangan manten, syukuran kelahiran anak, melayat, gotong royong kampung, ikut ronda, mendatangi orang sakit, membantu mencarikan obat dan lain sebagainya.

Dengan telah diterimanya peneliti  di masyarakat, maka langkah selanjutnya peneliti mendatangi warga masyarakat yang ada, seperti; mbah Wiro, mbah Wongso, Tukimin (sesepuh/tokoh masyarakat), Sri Hartini (Sekretaris Desa), Padmo (Kaur Kesra), dan Sudarna, Jumari, Salimin, Sunarto, Priyo Hartono, Supardi, Supadi, Suyanto (pelaku migran sirkuler), dan pelaku migran sirkuler yang lain; Sarmidi dan Samijo. Demikian sebaliknya peneliti setiap saat dapat menerima kunjungan mereka.

 

Kedua, langkah berikutnya, peneliti segera melanjutkan berkonsultasi kepada Kepala Desa menyampaikan keinginan akan mengadakan penelitian disertasi dan sekaligus memohon bantuannya agar penelitian berjalan dengan lancar. Selanjutnya, peneliti segera mengadakan pencatatan data-data keadaan geografis desa Tegalombo, dan data-data lainnyayang dibutuhkan dalam penelitian ini.

Ketiga, langkah selanjutnya peneliti menemui beberapa informan dan ditambah informan yang lain, yang memiliki karakteristik sebagai informan yang bisa memberikan informasi berkaitan dengan struktur masyarakat desa Tegalombo, proses migrasi sirkuler, dan efeknya. Maka hal yang harus dilakukan terlebih dulu adalah peneliti menemui perangkat desa lagi, guna menanyakan kembali; bagaimana struktur masyarakat desa Tegalombo? Pertanyaan berikutnya adalah siapa diantara penduduk desa Tegalombo ini yang pertama kali melakukan mugrasi sirkuler ke Sumatra (sebagai perintis)? dan siapa saja yang bisa di temui untuk mendapatkan data tentang proses migrasi sirkuler?

Untuk mendapatkan informasi mengenai hal ini, peneliti berusaha menemui beberapa orang perangkat desa, Ketua RW dan RT,  dan beberapa tokoh masyarakat serta beberapa keluarga migran sirkuler. Hal ini peneliti lakukan guna cross check data untuk mendapatkan informasi yang sebenarnya mengenai struktur masyarakat, perintis migrasi sirkuler dan data  yang lain.

Adapun pertanyaan-pertanyaan yang digunakan untuk bahan wawancara dalam rangkan mendapatkan informasi struktur masyarakat dan  proses migrasi sirkuler, antara lain sebagai berikut:

 

  1. Bagaimana struktur masyarakat di desa Tegalombo ini?
  2. Siapa warga desa Tegalombo yang melakukan migrasi sirkuler?
  3. Kemana saja mereka melakukan?
  4. Siapa diantara bapak-bapak yang bisa disebut sebagai perintis migrasi sirkuler desa Tegalombo ini?
  5. Apa aktivitas, dan pekerjaan bapak sebelum bapak melakukan migrasi?
  6. Bagaimana prosesnya bapak melakukan?
  7. Bagaimana peran istri ?

Beberapa pertanyaan tersebut di atas belum cukup untuk menjawab permasalahan penelitian, oleh karena itu diperlukan pertanyaan lain yang mampu menggali permasalahan lebih mendalam sebagai berikut: (1) siapakah pelaku migrasi sirkuler sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial di desa Tegalombo, mengapa mereka bermigrasi, bagaimana pelaku migrasi mengkonstruksikan alasan yang mendasari tindakan mereka melakukan migrasi sirkuler? (2) bagaimana konstruksi sosial proses migrasi sirkuler sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial, apakah ada keterkaitan antara proses migrasi itu itu dengan kesadaran akan jaringan sosial, apakah juga ada keterkaitan antara proses migrasi sirkuler dengan jaminan sosial seperti jaminan keamanan, kesehatan terhadap keluarga (istri dan anak-anak) yang ditinggalkan?

Keempat, langkah selanjutnya peneliti bertemu beberapa informan antara lain; Sudarna (perintis migrasi sirkuler) dan beberapa orang yang memiliki karakteristik sebagai pelaku migrasi sirkuler itu yakni; Sudarna, Jumari, Sunarto, Priyo Hartono, Supadi, Supardi, dan pelaku yang lain; Sarmidi dan Samijo, serta keluarganya, untuk mengadakan wawancara mendalam berikutnya dalam upaya menggali informasi lebih mendalam. Wawancara dengan mereka itu tidak hanya sekali dua kali, tetapi peneliti lakukan beberapa kali sampai peneliti bisa mendapatkan informasi yang benar dan sampai peneliti bisa menyusun laporan disertasi ini,

Kelima, dalam langkah ini peneliti mengadakan wawancara mendalam kepada pelaku migrasi sirkuler tentang makna migrasi sirkuler. Dalam langkah ini juga  peneliti lakukan untuk mengkaji migrasi sirkuler dari realitas subjektif, ada makna apa migran melakukan migrasi? Bagiamana makna migrasi bagi migran itu sendiri? Adapun pertanyaanya sebagai berikut:

  1. Mengapa bapak melakukan migrasi sirkuler?
  2. Ada makna apa bapak melakukan migrasi sirkuler?
  3. Bagaimana makna migrasi sirkuler bagi migran?
  4. Bagaimana maknanya migrasi demi anak-anak?
  5. Bagaimana maknanya migrasi mencari ilmu?
  6. Bagaimana maknanya migrasi meningkatkan status sosial seseorang di desanya?
  7. Bagaimana maknanya migrasi merubah nasib?
  8. Bagaimana efek migrasi sirkuler terhadap lingkungan, tenaga kerja, dan kehidupan masyarakat?

Pertanyaan-pertanyaan itu juga belum cukup untuk menjawab permasalahan penelitian berkaitan dengan makna migrasi, maka selanjutnya peneliti menyampaikan pertanyaan kepada subjek penelitian, bagaimana konstruksi sosial makna migrasi sirkuler sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial bagi migran itu sendiri?

Wawancara mendalam tersebut peneliti lakukan tidak hanya sekali tetapi peneliti lakukan beberapa kali dalam kurun waktu selama 6 bulan. Hal ini peneliti lakukan untuk mendapatkan data yang benar dan data yang bisa  dipertanggungjawabkan secara ilmiah sampai peneliti dapat membuat laporan disertasi ini secara tertulis.

Setelah laporan penelitian ini secara tertulis selesai, peneliti masih melanjutkan komunikasi dengan informan tersebut untuk pengecekan kebenaran data tersebut di atas, peneliti bertemu lagi dengan informan yakni Sudarna, Jumari, Priyo Hartono, Supadi, Supardi dan beberapa pelaku migrasi sirkuler yang lain.

Untuk memperkaya data dan validitas data maka selain mendapatkan informasi data dari pelaku migrasi sirkuler tersebut di atas peneliti juga bertemu dengan perangkat desa dan tokoh masyarakat.  Dalam hal ini peneliti juga bertemu dan memperoleh informasi dari ibu Sekretaris Desa dimana suaminya sampai sekarang masih boro ke Sumatera. Langkah ini terus dikembangkan sampai diperoleh gambaran yang benar tentang proses dan makna migrasisirkuler. Setelah diperoleh kebenaran data, dan informasi yang  ada kaitannya dengan migrasi sirkuler tersebut di atas, peneliti masih perlu  harus melakukan pengecekan data sampai diperoleh data yang benar sampai bisa menyusun laporan penelitian ini dengan benar.

  1. D.    Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan langsung terjun ke kancah terutama untuk mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan mobilitas migrasi sirkuler di Sragen, khusus di desa Tegalombo dihimpun data yang lebih detail, untuk  itu  dibutuhkan  metode  (1)  observasi  dan  dokumentasi, (2) wawancara mendalam.

  1. 1.      Metode Observasi dan Dokumentasi

Observasi dan dokumentasi ini digunakan untuk mempertahankan kebenaran ilmiah, sebagaimana ditegaskan oleh Gordon (1991), bahwa; “dasar-dasar pembatasan secara luas diterima oleh ilmuwan itu sendiri adalah kesaksian empirik, sebuah pernyataan adalah ilmiah jika diuji oleh observasi dan eksperimen (Gordon, 1991).

Observasi dan Dokumentasi dalam suatu penelitian kualitatif lazimnya berkaitan dengan situasi sosial tertentu. Setiap situasi sosial setidaknya mempunyai tiga elemen utama, yaitu: (1) lokasi/fisik tempat suatu situasi sosial itu berlangsung (2) manusia-manusia pelaku atau actors yang menduduki status/posisi tertentu dan memainkan peranan-peranan tertentu, dan (3) kegiatan atau aktivitas peran pelaku pada lokasi/ tempat berlangsungnya sesuatu situasi sosial.

Metode observasi dan dokumentasi ini digunakan dalam rangka mengumpulkan data yang memberikan gambaran tentang situasi setempat atau social setting yang menjadi konteks mobilitas migrasi sirkuler. Social setting diperoleh melalui observasi dan dokumentasi yaitu melihat data lapangan dan mendengar informasi dari informan, dan cerita warga setempat.

Metode observasi ini peneliti gunakan untuk memperoleh data yang berkaitan dengan: Aspek wilayah yang meliputi (1) potensi daerah yang dapat dikembangkan (2) siklus aktivitas pertanian dan kemiskinan (3)  analisis  pasar  kerja  (4)  lowongan  kerja  dan  penempatan  kerja (5) deskripsi ringkas lokasi penelitian.

Sedangkan Metode dokumentasi, digunakan untuk memperoleh data-data antara lain: (1) keadaan geografis daerah penelitian, (2) data jumlah pelaku migrasi sirkuler,  (3) data pribadi pelaku migrasi sirkuler, dan  catatan-catatan lainnya yang relevan dengan  permasalahan penelitian.

Relevansi penggunaan metode observasi dan dokumentasi dengan permasalahan adalah, dalam rangka peneliti memperoleh data pelengkap, metode ini digunakan juga untuk mencocokkan beberapa informasi dengan data yang ada di lapangan.

  1. 2.       Metode Wawancara Mendalam

Wawancara ini peneliti gunakan dalam situasi dialogis maupun wawancara mendalam (in-depth) dengan subjek penelitian (pelaku migrasi sirkuler) secara bertahap. Pertama, kepada Sudarna (perintis migrasi sirkuler), Jumari (migran yang sukses), Sunarto (migran berdagang kain), Priyo Hartono (migran suami Carik  Desa), Supadi (migran yang berhasil menyekolahkan anak-anaknya), Supardi (migran yang anaknya menjadi Sarjana). Kedua, peneliti wawancara dengan pelaku migrasi sirkuler yang sukses dan merintis usaha mebeler di desanya yakni Sarmidi dan Samijo. Ketiga, peneliti juga wawancara dengan tokoh masyarakat dan sesepuh desa yakni  Sri Hartini, dan Supatmo (perangkat desa) dan kepada informan lain yang bisa memberikan informasi tentang proses dan makna migrasi. Keempat, peneliti wawancara dengan pelaku migrasi yang tidak sukses (Dalimin)  dan pelaku migrasi yang gagal (Sungadi).

Peneliti melakukan wawancara mendalam dengan subjek penelitian tersebut dengan alasan karena penelitian ini ingin memperoleh realitas senyatanya (emic-factors), karena itu peneliti harus memperoleh data langsung dari subjek penelitian agar diperoleh data yang benar dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Hasil dari wawancara mendalam tersebut kemudian berikutnya dilakukan transkripsi, dan pemahaman agar ada kejelasan perbedaan antara bahasa sehari-hari dengan bahasa literatur sehingga dapat diperoleh bahasa ilmiah yang tepat.

Dalam pelaksanaanya, peneliti menyampaikan beberapa pertanyaan kepada informan penelitian tentang hal-hal yang berkaitan struktur masyarakat desa Tegalombo, proses migrasi sirkuler, dan makna nya, antara lain: Bagaimana srtuktur masyarakar desa Tegalombo dan bagaimana cara mengelompokkannya ? Siapa warga desa Tegalombo yang melakukan migrasi sirkuler? Kemana saja mereka melakukan? Siapa diantara bapak-bapak yang bisa disebut sebagai perintis migrasi sirkuler desa Tegalombo ini? Apa aktivitas, dan pekerjaan bapak sebelumnya? Bagaimana prosesnya ? Mengapa bapak melakukan? Ada makna apa bapak melakukan migrasi? Bagaimana makna migrasi bagi bapak? Bagaimana maknanya migrasi sirkuler demi anak-anak? Bagaimana maknanya, migrasi sirkuler mencari ilmu? Bagaimana maknanya, migrasi sirkuler meningkatkan status sosial seseorang di desanya? Bagaimana maknanya migrasi sirkuler merubah nasib? Bagaimana efeknya terhadap lingkungan, tenaga kerja, dan kehidupan masyarakat?

Selain pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, masih ada beberapa pertanyaan yang lebih terfokus untuk menjawab permasalahan penelitian ini, antara lain (1) siapakah pelaku migrasi sirkuler sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial di desa Tegalombo, mengapa mereka bermigrasi, bagaimana migran mengkonstruksikan alasan yang mendasari tindakan mereka melakukan migrasi? (2) bagaimana konstruksi sosial proses migrasi sirkuler sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial, apakah ada keterkaitan antara proses migrasi itu dengan kesadaran akan jaringan sosial, apakah juga ada keterkaitan antara proses migrasi dengan jaminan sosial seperti jaminan keamanan, kesehatan terhadap keluarga (istri dan anak-anak) yang ditinggalkan?(3) bagaimana konstruksi sosial makna migrasi sebagai mobilitas dan gejala sosial bagi migran itu sendiri.

  1. E.     Teknik Analisis Data

Pada tahap analisis data ini menurut Dilthey, sebagaimana dikemukakan juga oleh pemikir fenomenologi, mengatakan bahwa peristiwa sejarah dapat dipahami dalam tiga proses yaitu: (1) memahami sudut pandang atau gagasan para pelaku asli; (2) memahami arti atau makna kegiatan-kegiatan mereka pada hal-hal yang secara langsung berhubungan dengan peristiwa sejarah; dan (3) menilai peristiwa-peristiwa tersebut berdasarkan gagasan yang berlaku pada saat sejarawan itu hidup. Proses (1) dan (2) merupakan fist order understanding dan proses (3) merupakan second order understanding.

Perspektif fenomenologi untuk memperoleh first order underdstanding adalah:

Pertama, meminta peneliti aliran ini untuk menanyakan kepada pihak yang diteliti guna mendapatkan penjelasan yang benar terkait dengan; (1) bagaimana struktur masyarakat desa Tegalombo? (2) siapakah pelaku migrasi sirkuler sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial di desa Tegalombo, mengapa mereka bermigrasi?

Kedua, informasi-informasi itu belum cukup bagi peneliti, maka selanjutnya peneliti harus menanyakan lebih lanjut; (1) bagaimana migran mengkonstruksikan alasan yang mendasari tindakan mereka melakukan migrasi? (2) bagaimana konstruksi sosial proses migrasi sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial, apakah ada keterkaitan antara proses migrasi itu dengan kesadaran akan jaringan sosial, apakah juga ada keterkaitan antara proses migrasi dengan jaminan sosial seperti jaminan keamanan, kesehatan terhadap keluarga (istri dan anak-anak) yang ditinggalkan? dan (3) bagaimana konstruksi sosial makna migrasi sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial bagi pelaku migrasi itu sendiri?

First order underdstanding, jika pihak yang diteliti itu mengatakan, migrasi demi anak-anak, maka informasi tersebut belum cukup bagi peneliti. Peneliti harus menanyakan kembali bagaimana ia bermigrasi demi anak-anak, mengapa migrasi demi anak-anak dan bagaimana maknanya migrasi demi anak-anak. Begitu juga informasi dari informan bahwa migrasi ingin mencari pengalaman/ilmu, migrasi ingin merubah nasib. Informasi-informasi itu belum cukup bagi peneliti, maka berikutnya peneliti harus menanyakan kembali, bagaimana ia melakukan migrasi?  mengapa melakukan migrasi? Apa yang mendorong melakukan migrasi? bagaimana maknanya bagi mereka? bagaimana konstruksi sosial proses dan makna migrasi sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial bagi pelaku migrasi itu sendiri?

Beberapa pertanyaan di atas perlu disampaikan untuk memperoleh informasi tentang fenomena migrasi sirkuler yang dilihat sebagai realitas subjektif. Informasi seperti inilah yang disebut ekternalisasi menurut pandangan Berger.

Ketiga, informasi-informasi itu belum cukup untuk menjawab permasalahan penelitian ini, kemudian peneliti berkewajiban untuk melakukan rekonstruksi dan interpretasi agar informasi yang satu dapat dijelaskan dalam pertaliannya dengan informasi yang lain sehingga akan diperoleh suatu makna yang baru. Makna yang baru inilah yang disebut second order understanding dalam fenomenologi atau objektivasi menurut pemahaman Berger.

Teknis  analisis data tersebut dilakukan di lapangan atau bahkan bersamaan dengan proses pengumpulan data dan sesudahnya. Menurut Milles (1992) ada dua  hal yang penting dalam analisis tersebut;  Pertama, analisis data yang muncul berwujud kata-kata dan bukan rangkaian angka. Data itu mungkin telah dikumpulkan dalam aneka macam cara (observasi, wawancara, intisari dokumen, pita rekaman), dan yang biasanya “diproses” kira-kira sebelum siap digunakan (melalui pencatatan, pengetikan, penyuntingan, atau alih tulis, tetapi analisis ini tetap menggunakan kata-kata, yang biasanya disusun ke dalam teks yang diperlukan. Kedua, analisis ini terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu; reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan/verifikasi (Miles dan Huberman, 1992:15-21).

Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data “kasar” yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan, dalam hal ini peneliti mencatat hasil wawancara dengan informan berkaitan dengan struktur masyarakat, pelaku igrasi sirkuler,  prosesnya, dan maknanya, bagaimana makna migrasi bagi migran itu sendiri? bagaimana maknanya, migrasi demi anak-anak? bagaimana maknanya, migrasi mencari ilmu? bagaimana maknanya, migrasi meningkatkan status sosial seseorang di desanya? bagaimana maknanya migrasi merubah nasib? bagaimana efek migrasi terhadap lingkungan, tenaga kerja, dan kehidupan masyarakat? bagaimana pelaku migrasi mengkonstruksikan alasan yang mendasari tindakan mereka melakukan migrasi? bagaimana konstruksi sosial proses migrasi sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial, apakah ada keterkaitan antara proses migrasi itu dengan kesadaran akan jaringan sosial, apakah juga ada keterkaitan antara proses migrasi dengan jaminan sosial seperti jaminan keamanan, kesehatan terhadap keluarga (istri dan anak-anak) yang ditinggalkan? dan bagaimana konstruksi sosial makna migrasi sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial bagi pelaku migrasi itu sendiri?

Alur penting yang kedua dari kegiatan analisis data adalah penyajian data. Penyajian data di sini sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian data ini berbentuk teks naratif, teks dalam bentuk catatan-catatan hasil wawancara dengan informan penelitian sebagai informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan tentang fenomena migrasi sirkuler tersebut di atas.

Kegiatan analisis ketiga yang penting adalah menarik kesimpulan dan verifikasi. Dari permulaan pengumpulan data, seseorang penganalisis (peneliti) mulai mencari makna migrasi sirkuler dan prosesnya. Dengan demikian, aktifitas analisis merupakan proses interaksi antara ketiga langkah analisis data tersebut, dan merupakan proses siklus sampai kegiatan penelitian selesai.

F. Keabsahan Data

Data merupakan fakta atau bahan-bahan keterangan yang penting dalam penelitian. Sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan (aktivitas), dan selebihnya, seperti dokumen (yang merupakan data tambahan).

Kesalahan data berarti dapat dipastikan menghasilkan kesalahan hasil penelitian. Karena begitu pentingnya data dalam penelitian kualitatif, maka keabsahan data perlu diperoleh melalui teknik pemeriksaan keabsahan, seperti disarankan oleh Lincoln dan Guba, yang meliputi: kredibilitas (credibility), transferabilitas (transferability), dependabilitas (dependability), konfirmabilitas (confirmability) (Lincoln, dan Guba, 1985: 298-331).

Adapun penerapannya dalam praktek adalah bahwa untuk memenuhi nilai kebenaran penelitian yang berkaitan dengan fenomena migrasi sirkuler (proses dan maknanya) maka hasil penelitian ini harus dapat dipercaya oleh semua pembaca dan dari responden sebagai informan secara kritis, maka paling tidak ada beberapa  teknik yang diajukan, yaitu:

Pertama, perpanjangan kehadiran penelitian, dalam hal ini peneliti memperpanjang waktu di dalam mencari data di lapangan, mengadakan wawancara mendalam kepada (Sudarna) sebagai perintis migrasi sirkuler dan kepada migran yang lain tidak hanya dilakukan satu kali tetapi peneliti lakukan berulang kali, berhari-hari, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Hal ini peneliti lakukan dengan tujuan untuk memperoleh data yang benar, perlu diadakan ceking data sampai mendapatkan data yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Selanjutnya harus dilakukan pengamatan secara terus-menerus termasuk kegiatan pengecekkan data melalui informan lain untuk menanyakan kebenaran informasi dari Sudarna tersebut dan data yang lain yang penting. Dan kemudian data yang benar tersebut dilakukan triangulasi. Kebenaran data juga bisa diuji melalui diskusi dengan teman-teman sejawat, diskusi ini di samping sebagai koreksi terhadap kebenaran data yang merupakan hasil dari interpretasi informan penelitian juga untuk mencari kebenaran bahasa ilmiah dalam interpretasi terhadap interpretasi tersebut. Kemudian dilakukan analisis kasus negatif, pengecekan atas cakupan  referensi, dan pengecekan informan.

Kriteria kedua, untuk memenuhi kriteria bahwa; hasil penelitian yang berkaitan dengan fenomena migrasi yang dilihat sebagai realitas subjektif  dari perspektif fenomenologi, dapat diaplikasikan atau ditransfer kepada konteks atau setting lain yang memiliki tipologi yang sama.

Kriteria ketiga, digunakan untuk menilai apakah proses penelitian kualitatif bermutu atau tidak, dengan melakukan evaluasi apakah si peneliti sudah cukup hati-hati dalam mencari data, terjadi bias atau tidak? apakah membuat kesalahan dalam mengkonseptualisasikan rencana penelitiannya, pengumpulan datanya dan, penginterpretasiannya.

Sedangkan kriteria keempat, untuk menilai mutu tidaknya hasil penelitian, jika dependabilitas digunakan untuk menilai kualitas dari proses yang ditempuh oleh peneliti, maka konfirmabilitas digunakan untuk menilai kualitas hasil penelitian itu sendiri, dengan tekanan pertanyaan apakah data dan informasi, serta interpretasi dan lainnya didukung oleh materi yang cukup.

 

Leave a Reply